DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

earners’ Speaking Anxiety (Studi Kasus Pembelajar Bahasa Jerman di Universitas Negeri Malang).

ROFI'AH

Abstrak


ABSTRAK

 

Rofi’ah. 2016. Learners’ Speaking Anxiety (Studi Kasus Pembelajar Bahasa Jerman di Universitas Negeri Malang). Tesis, Program Studi Magister Keguruan Bahasa, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Primardiana Hermilia Wijayati, M.Pd. (II) Dr. Furaidah, M.A.

 

Kata Kunci: Speaking Anxiety, kecemasan berbicara, Sozialform, Bahasa Jerman sebagai Bahasa Asing

Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk memahami permasalahan speaking anxiety yang terjadi pada mahasiswa angkatan 2013 Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Lebih spesifik, fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi pola interaksi (Sozialformen) yang menjadi pemicu speaking anxiety pembelajar dan faktor penyebabnya. Data dalam penelitian ini diperoleh dari observasi, kuesioner, dan wawancara. Kuesioner digunakan untuk mengetahui tingkat speaking anxiety, sementara observasi dan wawancara digunakan untuk mendapatkan data kondisi Sozialformen pemicu speaking anxiety serta faktor penyebabnya.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa speaking anxiety pembelajar muncul dalam Sozialformen pleno (Frontalunterricht), kerja berpasangan (Partner-arbeit), dan kerja kelompok (Gruppenarbeit). Dalam Frontalunterricht, speaking anxiety pembelajar muncul ketika topik pembicaraan tidak familiar dengan kehidupan sehari-hari pembelajar, ketika pembelajar ditunjuk untuk menjawab secara mendadak, ketika semua pembelajar diam (tidak ada yang mau atau berani berbicara), ketika dosen memasang ekspresi datar, dan ketika diajar oleh penutur asli bahasa Jerman. Dalam Partnerarbeit dan Gruppenarbeit, gejala speaking anxiety muncul ketika kemampuan bahasa Jerman mitra tutur tidak seimbang, ketika tidak cocok dengan partner berbicara, dan ketika tidak ada kerangka berbicara (Leitpunkte). Selain itu, speaking anxiety pembelajar dalam Gruppenarbeit juga muncul ketika frekuensi berbicara antar pembelajar tidak seimbang.

Speaking anxiety pembelajar di kelas disebabkan oleh aspek personal, lingkungan keluarga yang berkaitan dengan budaya dan kebiasaan di rumah, dan lingkungan kelas. Dalam aspek personal, speaking anxiety pembelajar disebabkan oleh perasaan takut salah, tidak percaya diri, takut diremehkan, takut berbicara di depan publik, persepsi mengenai bahasa Jerman yang berbeda, dan takut terhadap orang asing. Dalam aspek lingkungan keluarga yang berkaitan dengan budaya dan kebiasaan di rumah, speaking anxiety pembelajar muncul karena orang tua yang diktator, kurangnya budaya bebas berpendapat, sikap wedi (takut), manut (menuruti kemauan), sungkan, isin (malu) dan menghindari konflik, Seme

 

ABSTRAK

 

Rofi’ah. 2016. Learners’ Speaking Anxiety (Studi Kasus Pembelajar Bahasa Jerman di Universitas Negeri Malang). Tesis, Program Studi Magister Keguruan Bahasa, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Primardiana Hermilia Wijayati, M.Pd. (II) Dr. Furaidah, M.A.

 

Kata Kunci: Speaking Anxiety, kecemasan berbicara, Sozialform, Bahasa Jerman sebagai Bahasa Asing

Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk memahami permasalahan speaking anxiety yang terjadi pada mahasiswa angkatan 2013 Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Lebih spesifik, fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi pola interaksi (Sozialformen) yang menjadi pemicu speaking anxiety pembelajar dan faktor penyebabnya. Data dalam penelitian ini diperoleh dari observasi, kuesioner, dan wawancara. Kuesioner digunakan untuk mengetahui tingkat speaking anxiety, sementara observasi dan wawancara digunakan untuk mendapatkan data kondisi Sozialformen pemicu speaking anxiety serta faktor penyebabnya.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa speaking anxiety pembelajar muncul dalam Sozialformen pleno (Frontalunterricht), kerja berpasangan (Partner-arbeit), dan kerja kelompok (Gruppenarbeit). Dalam Frontalunterricht, speaking anxiety pembelajar muncul ketika topik pembicaraan tidak familiar dengan kehidupan sehari-hari pembelajar, ketika pembelajar ditunjuk untuk menjawab secara mendadak, ketika semua pembelajar diam (tidak ada yang mau atau berani berbicara), ketika dosen memasang ekspresi datar, dan ketika diajar oleh penutur asli bahasa Jerman. Dalam Partnerarbeit dan Gruppenarbeit, gejala speaking anxiety muncul ketika kemampuan bahasa Jerman mitra tutur tidak seimbang, ketika tidak cocok dengan partner berbicara, dan ketika tidak ada kerangka berbicara (Leitpunkte). Selain itu, speaking anxiety pembelajar dalam Gruppenarbeit juga muncul ketika frekuensi berbicara antar pembelajar tidak seimbang.

Speaking anxiety pembelajar di kelas disebabkan oleh aspek personal, lingkungan keluarga yang berkaitan dengan budaya dan kebiasaan di rumah, dan lingkungan kelas. Dalam aspek personal, speaking anxiety pembelajar disebabkan oleh perasaan takut salah, tidak percaya diri, takut diremehkan, takut berbicara di depan publik, persepsi mengenai bahasa Jerman yang berbeda, dan takut terhadap orang asing. Dalam aspek lingkungan keluarga yang berkaitan dengan budaya dan kebiasaan di rumah, speaking anxiety pembelajar muncul karena orang tua yang diktator, kurangnya budaya bebas berpendapat, sikap wedi (takut), manut (menuruti kemauan), sungkan, isin (malu) dan menghindari konflik, Sementara itu, penyebab speaking anxiety dalam lingkungan kelas adalah takut ditertawakan, takut mendapat nilai buruk, takut dikoreksi, keterampilan berbicara jarang dipraktikkan, dan tidak menyukai dosen serta metode mengajarnya.

ntara itu, penyebab speaking anxiety dalam lingkungan kelas adalah takut ditertawakan, takut mendapat nilai buruk, takut dikoreksi, keterampilan berbicara jarang dipraktikkan, dan tidak menyukai dosen serta metode mengajarnya.