DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengembangan Bahan Ajar Apresiasi Legenda Responsif Budaya Lokal Kabupaten Malang untuk Siswa SMP

DIAH ERNA TRININGSIH

Abstrak


ABSTRAK

 

Triningsih, Diah Erna. 2016. Pengembangan Bahan Ajar Apresiasi Legenda Responsif Budaya Lokal Kabupaten Malang untuk Siswa SMP. Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd, (2) Dr. Yuni Pratiwi, M.Pd.

 

Kata kunci: responsif budaya lokal, apresiasi legenda, bahan ajar

Salah satu kekayaan budaya daerah berwujud cerita rakyat. Cerita rakyat di wilayah Kabupaten Malang yang berupa legenda sangat banyak bahkan dapat ditelusuri karena cagar budaya peninggalan masih terjaga. Dengan memanfaatkan legenda lokal tersebut pembelajaran apresiasi legenda dapat lebih bermakna karena lingkungan sekitar dimanfaatkan dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan bahan ajar yang ada belum memerinci kegiatan mengapresiasi sastra hanya terbatas pada membaca untuk menjawab soal-soal literal. Selain itu, material cerita belum memanfaatkan budaya lokal. Pengajaran responsif budaya lokal ini menyajikan kegiatan pembelajaran yang mengintensifkan peran siswa dalam pembelajaran untuk aktif dan secara mandiri mengidentifikasi, menguraikan, menyimpulkan, dan menyajikan hasil pembelajaran.

Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan produk bahan ajar apresiasi legenda responsif budaya lokal Kabupaten Malang untuk siswa SMP dan melaporkan hasil uji efektivitas bahan ajar tersebut. Bahan ajar ini terdiri atas tiga unit. Setiap unit terdiri atas empat kegiatan pembelajaran yaitu mengidentifikasi, menguraikan, menyimpulkan, dan menyajikan. Setiap kegiatan pembelajaran dilakukan latihan berupa tugas untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami indikator pembelajaran. Kompetensi yang dikembangkan pada setiap unit mengacu pada kurikulum 2013 yang sesuai dengan kurikulum KTSP, mata pelajaran bahasa Indonesia jenjang SMP kelas VII pada materi teks dongeng (fabel/legenda).

Model penelitian dan pengembangan yang digunakan yaitu Model pengembangan perangkat Four-D Model (4D) dari Thiagarajan, Dorothy, dan Melvyn. Model 4D terdiri atas empat tahap, yakni penetapan, perancangan, pengembangan, dan penyebarluasan. Tahap penetapan meliputi analisis tujuan, analisis kelas, telaah kurikulum, telaah buku teks, telaah teori, dan spesifikasi produk. Tahap perancangan meliputi mengumpulkan material bahan ajar, mengolah teks, mengonsep bahan ajar, dan menyusun bahan ajar. Tahap pengembangan meliputi validasi ahli, validasi praktisi, dan uji coba produk. Tahap penyebarluasan meliputi uji efektivitas dan pencetakan produk.

Bahan ajar apresiasi legenda responsif budaya lokal Kabupaten Malang untuk siswa SMP menyajikan materi apresiasi yang meliputi mengidentifikasi unsur pembentuk, menelaah ciri bahasa dan struktur isi, serta menceritakan kembali legenda yang dibaca atau didengar. Penyajian kegiatan pembelajaran berisi aktivitas mengidentifikasi, menguraikan, menyimpulkan, dan menyajikan. Kegiatan-kegiatan pembelajaran ini membimbing siswa untuk menguasai materi secara berproses. Selain itu, tugas yang diberikan melatih siswa secara mandiri untuk menemukan konsep dan menguasai materi. Pada akhir unit diuraikan nilai budaya lokal yang diperoleh siswa setelah memahami legenda yang dibaca.

Hasil validasi dan uji coba produk menunjukkan bahwa bahan ajar apresiasi legenda responsif budaya lokal Kabupaten Malang untuk siswa SMP dapat diimplementasikan. Dari segi substansi isi, bahan ajar ini memiliki nilai validitas sebesar 87,5%. Validitas sistematika penulisan dan kegrafikaan bahan ajar ini memiliki nilai sebesar 83,3%. Pada segi isi legenda sebagai budaya lokal Kabupaten Malang, respon validator ahli budaya lokal pada angket memberikan nilai validasi sebesar 96,6%. Sementara itu dari segi bahasa menunjukkan nilai validitas sebesar 75%. Hal tersebut menunjukkan bahwa bahan ajar tersebut tergolong layak untuk diimplementasikan di kelas. Meskipun demikian, sesuai dengan data verbal dari tahap validasi dilakukan revisi pada beberapa aspek dalam bahan ajar. Validator memberikan saran untuk mengemas kembali kegiatan pembelajaran dalam menceritakan kembali dengan mencantumkan contoh transliterasi naskah legenda menjadi cerita lisan. Selain itu, saran perbaikan juga dilakukan pada bahasa dalam menyajikan petunjuk tugas dan sapaan serta perbaikan pada tampilan beberapa tabel yang melampaui batas margin. Revisi sampul dilakukan pada pusat pandang dengan siswa belajar kelompok.

Efektivitas produk diuji melalui uji statistik menggunakan uji beda Paired Sample T-Test. Hasil uji beda kemampuan mengidentifikasi unsur pembentuk teks legenda menunjukkan nilai t = 14,745 dan p = 0,000. Artinya, terdapat peningkatan yang signifikan nilai kemampuan mengidentifikasi unsur pembentuk teks legenda sesudah perlakuan. Sementara itu, hasil uji beda kemampuan menelaah ciri bahasa dan struktur isi teks legenda menunjukkan nilai t = 10,317 dan p = 0,000. Artinya, terdapat peningkatan yang signifikan nilai kemampuan menelaah ciri bahasa dan struktur isi teks legenda sesudah perlakuan.

Produk bahan ajar yang dikembangkan memiliki karakteristik yang khas. Ditinjau dari segi pembelajaran, bahan ajar ini mengadopsi metode pengajaran responsif budaya dengan manajemen kelas yang responsif budaya. Legenda yang dijadikan sebagai bahan materi menyajikan legenda lokal Kabupaten Malang sehingga siswa dapat mengapresiasi legenda sekaligus mengeksplorasi legenda di wilayahnya. Selain itu, bahan ajar ini dapat dimanfaatkan dua kurikulum baik kurikulum KTSP maupun kurikulum 2013.