DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Manajemen Pendidikan Kecakapan Hidup Vokasional Unggulan (Vocational Life Skills) Studi Multi Kasus di SMA Negeri 1 Tempeh Lumajang dan SMA Muhammadiyah 03 Batu Malang. (Tesis)

Wara Endang Suprihatin

Abstrak


Perkembangan teknologi industri yang cepat telah mempengaruhi adanya tuntutan baru terhadap upaya peningkatan kompetensi sumberdaya manusia pendukungnya. Sebagai konsekuensinya lembaga pendidikan harus selalu menyesuaikan diri dan terus melakukan inovasi untuk memenuhi tututan perubahan perkembangan teknologi tersebut. Selama ini fakta menunjukan bahwa kompetensi lulusan SMA belum memenuhi tuntutan dunia kerja, ataupun kesiapan untuk mandiri. Yayasan Dana Sejahtera Mandiri sebagai lembaga independen telah ikut berpartisipasi untuk melakukan inovasi pendidikan melalui program pendidikan kecakapan hidup (PKH) vokasional yang dikhususkan untuk jenjang SMA. Pelaksanaan PKH di SMA ini melibatkan pihak-pihak terkait antara lain PT dan Diknas setempat. Tujuan penyelenggaraan PKH vokasional di SMA adalah untuk meningkatkan mutu lulusan melalui pembekalan keterampilan kejuruan bagi para siswanya terutama bagi siswa perempuan dari keluarga miskin yang berpotensi tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Fokus utama dari penelitian ini adalah: manajemen penyelenggaraan PKH vokasional unggulan di SMA N 1 Tempeh dan SMA Muhammadiyah 03Batu. Dari fokus tersebut dijabarkan menjadi sub fokus penelitian yakni: (1) manajemen kurikulum dan program pembelajaran  penyelenggaraan PKH di SMA N 1 Tempeh dan SMA Muhammadiyah 03 Batu; (2) manajemen ketenagaan yang ada di sekolah guna mendukung penyelenggaraan PKH di SMA N 1 Tempeh dan SMA Muhammadiyah 03 Batu; (3) manajemen sarana prasarana penunjang yang ada di sekolah guna mendukung penyelenggaraan PKH di SMA N 1 Tempeh dan SMA Muhammadiyah 03 Batu; (4) manajemen pembiayaan yang ada di sekolah guna mendukung penyelenggaraan PKH di SMA N 1 Tempeh dan SMA Muhammadiyah 03 Batu; (5) manajemen hubungan sekolah dan masyarakat guna mendukung penyelenggaraan PKH di SMA N 1 Tempeh dan SMA Muhammadiyah 03 Batu.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: (1) wawancara mendalam; (2) observasi berperan serta dan (3) studi dokumentasi. Pemilihan informan penelitian dilakukan secara purpoive sampling. Data yang terkumpul di analisis secara diskriptif dengan alur: (1) reduksi data; (2) penyajian data; (3) penarikan kesimpulan.  Agar memperoleh keabsahan data dilakukan dengan empat kriteria yaitu: (1) kredibilitas; (2) transferabilitas; (3) dependabilitas; dan (4) konfirmabilitas.

Hasil penelitian menunjukkan: pertama manajemen kurikulum dan program pembelajaran bertujuan memberikan acuan bagi pelaksanaan PKH vokasional di SMA N 1 Tempeh dan SMA Muhammadiyah 03 Batu. Bagian ini berkaitan dengan pemilihan sekolah sasaran, penetapan bentuk kegiatan, tempat kegiatan, materi kegiatan, prosedur pelaksanaan, penetapan kurikulum PKH dan evaluasi kegiatan. Kedua, manajemen ketenagaan dilakukan dengan cara: (1)  SMA N 1 Tempeh mengirimkan siswa peserta program untuk magang pada 2 UKM batik ialah UD Makarti Jaya dan Gajah Mada Batik, (2) SMA Muhammadiyah 03 Batu mengirimkan beberapa orang guru dan siswa peserta program untuk magang pada home industry  pengolahan minuman sari apel yaitu CV Bagus Agriseta Mandiri, Ramayana dan M3. Adapun pelaksanaan PKH dengan sistem magang pada ke dua sekolah tersebut mengacu pada model diskret maksudnya secara teknis pelaksanaan kegiatan dilaksanakan secara terpisah dilepaskan dari mata pelajaran inti. Untuk kasus SMA N 1 Tempeh, PKH dilaksanakan pada hari sabtu setelah jam pelajaran selesai dan hari minggu sedangkan untuk kasus SMA Muhammadiyah 03 Batu PKH dilaksanakan setiap pagi dari jam 07-11 sebelum jam pelajaran sekolah. Penyusunan kurikulum PKH di serahkan kepada  UKM namun untuk kasus SMA N 1 Tempeh kurikulum di susun oleh sekolah. Ketiga, manajemen  sarana prasarana penunjang PKH untuk kasus SMA N 1 Tempeh melibatkan komite, pemda setempat, diknas dan dinas lingkungan hidup sedangkan kasus SMA Muhammadiyah 03 Batu melibatkan warga sekolah. Keempat, manajemen pembiayaan penunjang PKH berasal dari Damandiri, sementara pada kasus SMA N 1 Tempeh ada sharing dana yang berasal dari komite sekolah. Kelima, manajemen hubungan sekolah dan masyarakat meliputi pengelolaan hubungan dengan UKM terpilih, ex siswa magang, diknas, komite sekolah, dan masyarakat eksternal.

Berdasarkan hasil penelitian disarankan (1) untuk SMA N 1 Tempeh: perlu meninjau kembali materi kegiatan, perlu memagangkan guru pada UKM batik untuk mengatasi permasalahan ketidaktersediaan tenaga profesional bidang batik di sekolah,  perlu memilih profil UKM tempat magang berskala nasional yang setara dengan Gajah Mada Batik, penyusunan jurnal dilakukan bersama-sama dengan UKM dan jurnal dilengkapi dengan teknik evaluasi yang akan dilakukan; Untuk SMA Muhammadiyah 03 Batu: pihak sekolah dan pengelola home industry M3 perlu melakukan koordinasi dan komunikasi terbuka yang lebih intensif, menjadikan home industry M3 sebagai usaha sekolah yang dikelola bersama dengan pihak sekolah serta hasilnyapun dipergunakan untuk membiayai program-program sekolah, menjadikan home industry M3 sebagai  program unggulan untuk menarik minat calon siswa ke sekolah ybs, perlu menyusun kurikulum PKH secara tertulis, perlu membuat sistem pengadministrasian yang baik agar dapat dijadikan sebagai dokumentasi yang lengkap; (2) bagi diknas setempat, agar lebih peduli terhadap program-program sekolah baik program yang diselenggarakan atas biaya pemerintah maupun program yang diperoleh sekolah dari lembaga lainnya; (3) penelitian perlu ditindaklanjuti dengan topik: model penyelenggaraan PKH yang sesuai untuk jenjang pendidikan sekolah menengah atas umum.


ABSTRACT

Keywords: management, vocational life skill education.

The rapid growth of industrial technology development has affected the demand for new efforts to increase the competency of supporting human resources. As a Consequent institution must always adapt and continue to make innovations to meet the changes of development technologies. During this time the fact showed that the competence of high school graduates has not been meet the demands of work, or the readiness for self. Yayasan Dana Sejahtera Mandiri as an independent institutions have participated to make innovations in education through vocational life skill education program (VLSE) devoted to the high school level. The implementation of VLSE at high school (SMA) involves the related parties: industry, university and local education authority. The goal of VLSE at SMA is to delivery the quality improvement of graduates through vocational skills training for students, especially for female students from poor families which is potentially not to continue to the higher education level.

The main focuses of this research are: providing management in VLSE at SMA N 1 Tempeh and SMA Muhammadiyah 03 Batu. The subs focus of research derived from the main focus are: (1) organization planning in the VLSE at SMA N 1 Tempeh and SMA Muhammadiyah 03 Batu, (2) management of school workforce  to support the delivery of  VLSE at SMA N 1 Tempeh and SMA Muhammadiyah 03 Batu ; (3) the management of facilities and school infrastructure in order to support  the implementation of VLSE at SMA N 1 Tempeh and SMA Muhammadiyah 03 Batu, (4) the management of financing of  the school to support VLSE in SMA N 1 Tempeh and SMA 03 Muhammadiyah Batu ; (5) the management of the school and community relations to support VLSE at SMA 1 Tempeh and SMA Muhammadiyah 03 Batu.
This research uses a multi-case study approach. Data collection techniques used is: (1) indepth interviews, (2) participative observation, (3) documentation study. The research informants are selected purposively. Data collected is diskriptifly analyzed  chronologically, as follows: (1) data reduction, (2) data description; (3) drawing conclusions. Data validity are basically done by the four criteria, namely: (1) credibility, (2) transferability; (3) dependability and (4) confirmbility.

The research result shows that: the first aims to provide planning guidance for the implementation of the VLSE at the SMA N 1 Tempeh SMA Muhammadiyah 03 Batu. Planning includes the selection of schools target, the determination of the forms of activity, where activity to be implemented, the activities, the implementation procedures, the determination of the VLSE curriculum and evaluation activities. The second, is the process of workforce management which is done by (1) internship program participation at "UD. Makartijaya "and "Batik Gajah Mada " for the SMA N 1 Tempeh students, (2) internship program participation at "Bagus Agriseta","Ramayana", "M3", and "CV. Mandiri" for the students of SMA Muhammadiyah 03 Batu. The implementation of the apprenticeship system in the two schools refer to the diskret model, meanly the implementation of the technical activities carried out separately from the core subjects. For the case of SMA N 1 Tempeh, VLSE conducted on every Saturday after school hours and at the weekend, in the otherhand, SMA Muhammadiyah 03 Batu conducted VLSE every schooldays  at 07.00 upto -11.00  in the morning.  The preparation of VLSE curriculum at SMA Muhammadiyah 03 Batu is designed by SMEs and school officers, but at SMA N 1 Tempeh the curriculum VLSE is designed by the school itself and involving school committees, local government, and the office of local education authority. Fourth, the funding of the VSLE program is supported by Damandiri. The implementation of PKH education at the SMA N 1 Tempeh is not only funded by Damandiri, but also funded by the school committee. Fifth, the management of the school and community relations include the management of relations with selected SMEs, ex student internships, local education authority, the school committee, and the community.
Based on the research results, it is suggested that: (1) Besides SMA N 1 Tempeh needs to review the material, to involve teachers to internship program for solving problem of school lack of batik teacher, it is also needs to consider having cooperation with national level SMEs such as Batik Gajahmada. Preparation of journals should be done with the SME, its not only about the material but also the implementation of evaluation techniques to be used. The SMA Muhammadiyah 03 Batu needs to review the agreement before the designing program of etreprise formation such as "M3"  and develop open communication with the implementation management. School is suggested to runs the "M3"  as a school entrprise, and use the benefit of the bussines to fund the school programs. School should use the "M3" as a main program of the school to attract prospective  students in the near fucture to joint to SMA Muhammadiyah 03 Batu. VLSE curriculum should be in writing in order to be used not only as a reference in conducting activities, but also to be used as guidance of the development system and school documentation. (2) The Education Local Authority (DIKNAS) should be more concerned with school programs, both programs are held on the cost of government or by the  other institutions; (3) for further research, This tipe of research is still needs to be developed and followed up with a topic in the model of providing VLSE for Public Senior High School.