DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kinerja Guru Kejuruan Bersertifikat Pendidik Ditinjau dari Standar Kompetensi Guru Profesional sesuai Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. (Tesis)

Arif Firdausi Ananda

Abstrak


Peranan guru memang sangat menentukan dalam usaha peningkatan mutu pendidikan. Untuk itu guru sebagai agen pembelajar­an dituntut untuk mampu menyelenggarakan proses pembelajaran dengan sebaik-baik­nya dalam kerangka pembangunan nasional. Guru memiliki peran strategis dalam bidang pendidikan, bah­kan sumber daya pendidikan lain yang memadai sering kali kurang berarti apa­bila tidak di­ser­tai kualitas guru yang memadai. Dengan kata lain, guru merupakan ujung tombak dalam upaya peningkatan kualitas layanan dan hasil pendidikan. Da­lam berbagai kasus, kualitas sistem pendidikan secara keseluruhan berkaitan dengan kualitas guru. Untuk itu, peningkatan kualitas pendidikan harus dibarengi dengan upaya peningkatan kualitas guru. Padahal masih banyak guru yang berada pada kualifikasi standar minimal.  Menurut data dari Human Development Index  tentang persentase guru yang belum layak mengajar di SD 60%, SMP 40%, SMU 43%, SMK 34%, dan bidang lainnya 17,2%.

Pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen tepatnya pada bagian kelima Pasal 32 ayat 2, menyatakan pembi­naan dan pengembangan profesi meliputi empat kompetensi: a) pedagogik, b) ke­pribadian, c) sosial, dan d) profesional. Untuk itu perlu diteliti apakah guru yang telah dinyatakan lulus sertifikasi (bersertifikat pendidik), benar-benar sudah memi­liki kompetensi sesuai dengan Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007. Sehingga para guru yang lulus dari uji sertifikasi dapat mengukur dirinya apakah mereka sudah layak sebagai guru yang mem­punyai empat kompetensi standar atau belum, terutama pada guru kejuruan yang mempunyai ciri utama pada keterampilannya.

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif, yang bertujuan untuk mengung­kap dan mendeskripsikan keadaan di lapangan tentang kinerja guru  yang berserti­fi­kat pendidik di SMK bidang teknologi industri se-Kodya Malang. Pokok masalah yaitu bagaimana kinerja dari guru yang sudah bersertifikat pendidik ditinjau dari empat kompetensi sesuai dengan Undang-Undang Guru dan Dosen yaitu; kompe­ten­si pedagogik, kepribadian, sosial, profesional.

Penelitian deskriptif ini dilakukan kepada para guru bersertifikat pendidik Tahun 2007 dan 2008 sebanyak 25 guru  di SMKN 4, SMKN 5, SMKN 6 di Kodya Malang. Instrumen penelitian ini menggunakan observasi yang dilakukan oleh 4353 responden, yang terdiri dari siswa yang diajar oleh guru bersertifikat pendidik, pe­ne­­liti sendiri, kolega rekan se-jurusan, dan pimpinan. Variabel penelitian ini adalah kinerja mengajar guru bersertifikat pendidik. Untuk sub variabel ada empat, yaitu; 1) kompetensi kepribadian, 2) kompetensi pedagogik, 3) kom­peten­si sosial,  4) kom­petensi profesional, hal ini sesuai dengan Undang-Undang Guru dan Dosen yang di­jabarkan lagi dalam  Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007.

Hasil penelitian diperoleh bahwa, sebagian besar (77,77%) kinerja guru ber­ser­tifikat pendidik ditinjau dari standar kompetensi guru pada kompetensi  pedagogik adalah dalam kategori baik. Ada sebagian kecil guru bersertifikat pen­didik pada pelaksanaan pembelajaran yang kurang sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai siswa. Hal ini ber­kenaan dengan kompetensi guru itu sendiri yang memang masih rendah. Ada juga guru yang masih kesulitan dalam memberikan pen­jelasan pada pelajaran tertentu. Seba­gian besar (78,38%) kinerja guru ber­ser­tifikat pendidik ditinjau dari standar kompetensi guru pada kompetensi ke­pri­badian adalah dalam kategori baik. Ada sebagian kecil guru ber­sertifikat pen­didik yang kurang taat dalam menjalankan agama yang dianut. Hal ini dikarenakan ada beberapa guru SMK yang di saat pelajaran/kegiatan praktik, tidak dapat me­ning­galkan kelas untuk beribadah tepat waktu, hal ini berkenaan dengan aspek kontrol pada keselamatan kerja para peserta didiknya. Sebagian besar (77,42%) kinerja guru ber­ser­tifikat pendidik ditinjau dari standar kompetensi guru pada kompetensi sosial adalah da­lam kategori baik. Ada sebagian kecil guru bersertifikat pendidik yang bersikap kurang objektif terhadap peserta didik, teman, dan lingkungan sekitar. Hal ini ka­rena memang ada beberapa guru bersertifikat yang masih pilih-pilih terhadap pe­serta didik yang rajin, kaya, yang mau disuruh, hubungannya dalam hal penilaian. Untuk berteman ada juga guru yang memilih kolega, karena memang cocok dalam bekerja, tanpa bersosialisasi atau menjalin keakraban dengan rekan yang lain. Bah­kan ada juga yang sampai terjadi kelom­pok-kelompokan dari para guru itu. Seba­gian besar (78,36%)  kinerja guru bersertifikat pen­didik ditinjau dari standar kom­petensi guru pada kompetensi  profesional adalah da­lam kategori baik. Ada seba­gian kecil guru bersertifikat pendidik yang kurang dapat meng­­ikut­sertakan orang tua dan masyarakat dalam mengembangkan sarana pembe­lajaran. Hal ini dise­bab­kan karena orang tua yang memang berperan serta, tapi kebanyakan hanya masalah sumbangan keuangan saja. Hal lain yang terjadi adalah memang jarang sekali orang tua yang menangani pengembangan sarana di sekolah, apalagi sampai masuk pada kua­litas proses pembelajaran.

Dari kesimpulan yang ada dapat di­sarankan bagi guru pada kompetensi pe­da­gogik tentang aspek pelaksanaan pem­belajaran yang kurang sesuai dengan cara mengikuti pelatihan di lembaga pelatihan yang sesuai dengan kompetensi kejuruan yang akan diraih, contohnya di PPPPTK. Kesulitan pembelajaran  didiskusi­kan untuk dicari solu­si­nya pada perte­mu­an MGMP, sehingga ada sharing penge­ta­huan diantara guru. Pada kompetensi kepribadian tentang aspek kekurang­taat­an dalam menjalankan agama yang di­anut, sebaiknya guru membuat jadwal da­lam tim (team teaching), sehingga dapat ber­gantian dalam menjalankan ibadah dengan baik. Pada kompetensi sosial ten­tang  aspek si­kap yang kurang objektif ter­ha­dap peserta didik, teman, dan ling­kungan sekitar, se­baik­nya guru dalam me­­la­kukan penilaian berdasarkan dengan kriteria penilaian pada materi yang ada, sehingga tidak terjadi lagi subjektivitas da­ri guru. Para guru juga dapat lebih aktif lagi dalam bergaul, misalnya di kelom­pok kegiatan olahraga, seni, kelompok il­miah, sehingga akan terjadi hubungan yang erat antar guru dan siswa. Pada kom­peten­si profesional tentang aspek ke­i­kutsertaan orang tua dan masyarakat da­lam mengem­bangkan sarana pembela­jar­an, sebaiknya dibentuk komite sekolah, yang dipilih dari para orang tua yang kon­sisten dan kompeten dalam pe­ngem­bangan sekolah. Misalnya yang orang tua­­nya bekerja di bagian kontraktor dili­bat­kan dalam sarana, yang guru dili­bat­kan dalam pengembangan kurikulum, pe­ja­bat dilibatkan untuk Humas. Dengan di­ben­­tuk­nya komite sekolah yang aktif, maka tugas guru untuk menangani hal-hal ter­se­but bisa dialihkan pada kon­sen­trasinya untuk pembelajaran kepada pe­ser­ta didik. Senan­tiasa memperhatikan se­mua aspek pada kompetensi pedagogik, ke­pribadian, sosial, dan profesional se­suai Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007, sehingga selalu dapat memper­baiki kinerjanya sebagai guru yang profesional, dengan cara men­cermati aspek-aspek pada empat kompe­tensi ini dan selalu melaksanakan dengan baik.