DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penerapan Manajemen Pengetahuan (MP) Untuk Guru

SUNARYO

Abstrak


ABSTRAK

 

Sunaryo, 2016. Penerapan Manajemen Pengetahuan (MP) Untuk Guru. Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd, (II)Prof. Dr. Bambang Budi Wiyono, M.Pd, (III) Dr. Kusmintardjo, M.Pd.

 

Kata Kunci: manajemen pengetahuan (MP), tacit knowledge, explisit knowledge, strategi manajemen pendidikan, budaya sekolah, sekolah pembelajaran.

Guru berkualitas dalam menjalankan fungsi utamanya melakukan pembelajaran merupakan faktor penting dalam keberhasilan pendidikan. Kompetensi guru di Indonesia masih perlu ditingkatkan karena masih banyak guru yang masih belum memiliki kompetensi memadahi. Upaya pemerintah untuk meningkatkat kualitas dan kinerja guru telah dilaksanakan dalam bentuk program sertifikasi dengan cara melaksanakan Portfolio, Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) dan yang terakhir adalah program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang berlangsung sampai sekarang ini. Upaya ini masih kurang menjangkau semua guru. Memperhatikan masalah tersebut perlu ada upaya untuk meningkatkan kinerja guru melalui pemikiran teroboson atau pendekatan non-tradisional. Manajemen Pendidikan (MP) memberikan alternatif peningkatan kualitas guru dengan meningkatkan pengetahuan mereka melalui siklus atau tahapan MP. Ada korelasi positif antara profesionalisme guru dengan MP. Jika kemampuan MP seorang guru meningkat maka meningkat pula kemampuan profesionalismenya.

Penelitian berfokus pada dua hal yaitu Manajemen Pengetahuan dan faktor pendukungnya. MP membahas tentang siklus MP dengan tahapan (1) Memperoleh Pengetahuan, (2) Menyimpan Pengetahuan, (3) Berbagi Pengetahuan, (4) Memanfaatkan Pengetahuan. Sedangkan Aspek Pendukung MP terdiri dari (1) Strategi Manajemen Pengetahuan, (2) BudayaSekolah, (3) Sistem dan Teknologi, dan (4) Sekolah Pembelajaran atau “Learning Organization”.

Pendekatan Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus tunggal karena (1) ingin membuktikan sesuatu yang menentang, (2) menyetujui atau mengembangkan suatu teori, (3) kasus yang diteliti adalah unik atau ekstrem; dan (4) peneliti memiliki kesempatan untuk mengobservasi dan menganalisa sesuatu yang relatif sulit dijangkau. Lokasi penelitian berada di Sekolah Dasar Al Hikmah yang terletak di Jl. Gayung Kebonsari Tengah 10, Surabaya. Pengumpulan data dilaksanakan dengan mengadakan (1) wawancara mendalam; (2) Focus Group Interviewing; (3) observasi; (4) studi dokumen. Informasi yang digali yaitu tentang MP, kerangka kerja, dimensi MP, strategi MP, BudayaSekolah, Organisasi belajar dan siklus MP. Analisis data dilakukan dengan melakukan sintesa terhadap informasi yang diperoleh oleh peneliti yang berasal dari berbagai sumber yaitu observasi, interviu dan studi dokumen. Proses analisis melalui proses mereduksi data, menyajikan data dan mengambil kesimpulan. Keabsahan data dilakukan dengan melakukan triangulasi data dengan konvergensi data untuk meningkatkan validasi. Untuk memverifikasi data dilakukan member check.

Temuan yang diperoleh sebagai hasil penelitian ini meliputi (1) MP merupakan proses pembelajaran yang efektif bagi para guru melalui kegiatan memperoleh, menyimpan, berbagi dan memanfaatkan pengetahuan baik dalam bentuk laten atau eksplisit dengan memanfaatkan teknologi dan lingkungan budaya untuk membangun pengetahuan atau memori sekolah (2) siklus MP dibuat lebih sederhana disesuaikan dengan kondisi sekolah yang meliputi tahapan memperoleh, menyimpan, berbagi dan memanfaatkan pengetahuan (3). Aspek pendukung MP yang terdiri dari strategi, budaya, sistem dan teknologi serta  sekolah pembelajaran harus diperhatikan untuk keberhasilan penerapannya.Kendala penerapan MP yang terdiri dari pengertian MP yang kurang dapat dipahami, model nyata MP yang sudah diterapkan, dan peran teknologi dalam MP dapat diatasi dengan merumuskan masalah organisasi dan menerapkan total quality control dengan menggunakan ISO, mengembangkan visi, misi, tujuan dan program MP secara bersama,mengeksplorasi TI untuk kegiatan MP, dan melakukan perubahan secara evolusioner melalui MP disesuaikan dengan perubahan organisasi dan lingkungan sekolah.

Berdasarkan temuan-temuan tersebut maka peneliti menyarankan (1) SDH Surabaya agar dapat menjaga dan menerapkan MP di sekolah secara terus menerus untuk meningkatkan pengetahuan guru, mengembangkan diri, meningkat kepercayaan diri, profesionalisme guru, dan kemampuan guru, (2) bagi YPAI Surabaya dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan guru-guru dan menghindari adanya kebocoran (intelectual capital drainage) serta meningkatkan memori lembaga (intelectual capital), (3) Bagi SD-SD yang lain dapat dijadikan model pengembangan MP di sekolah masing-masing untuk meningkatkan pengetahuan guru-guru mereka, (4) bagi Dinas Pendidikan Kota Surabaya, sebagai model pengembangan peningkatan pengetahuan guru dan peningkatan kinerja guru dalam lingkungan wilayah kerja mereka, (5) Bagi Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, sebagai model pengembangan peningkatan pengetahuan guru dalam lingkungan Direktorat Jendral Pendidikan Dasar  dan Menengah dan dijadikan program nasional sebagaimana pemerintah pernah mengadopsi MBS di sekolah-sekolah pemerintah, (6) bagi peneliti berikutnya, sebagai dasar untuk mengadakan penelitian lebih lanjut  mengenai penerapan MP di lingkungan pendidikan, dan (7)bagi pengembangan ilmu, bermanfaat untuk dijadikan sebagai sumbangan dalam pengembangan ilmu manajemen pendidikan yang berhubungan dengan penerapan MP di lingkungan sekolah.