DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengembangaan Bahan Ajar Mata Kuliah Reading Comprehension dengan menggunakan, C-ID Model R2D2.

Yudi Hari Rayanto

Abstrak


ABSTRAK

 

Rayanto, Yudi Hari, 2016. Pengembangaan Bahan Ajar Mata Kuliah Reading Comprehension dengan menggunakan, C-ID Model R2D2. Disertasi. Program Studi Teknologi Pembelajaran, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. I Nyoman S Degeng., (II) Prof. Dra. Utami Widiati, M.A, Ph.D., (III) Prof. Dr. Punaji Setyosari,M.Ed, M.Pd

 

Kata Kunci: pembelajaran,, r2d2, prosedur

Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara pembelajar dan pebelajar. Proses ini menitikberatkan pada upaya membelajarkan para pebelajar dalam mengaitkan unsur-unsur kognitif yang telah mereka miliki sebagai prior knowledgenya, Degeng (2013). Untuk ini pengembangan  bahan ajar sangat penting untuk dilakukan untuk mendukung pembelajaran yang akan diimplementasikan.  Bahan ajar merupakan sarana belajar yang berfungsi membantu membelajarkan  pebelajar secara sistematis, terarah sesuai dengan tujuan yang telah di tetapkan. Bahan ajar merupakan materi yang terus berkembang secara dinamis seiring dengan kemajuan dan tuntutan perkembangan  masayarakat. Oleh Karena itu, bahan ajar yang dipergunakan harus mampu merespon setiap perubahan atau  mengantisipasi setiap perkembangan yang akan terjadi di masa depan.  Ketersediaan bahan ajar yang di desain dengan konsep dan teori yang tepat dapat mendorong pebelajar untuk mampu  mencerna dan memahami isi bahan ajar secara maksimal.

Pembelajaran mata kuliah Reading Comprehension pada Program Studi Bahasa Inggris STKIP PGRI Pasuruan masih dirasa belum optimal.Hal ini dikarenakan belum adanya bahan ajar yang dikembangkan sendiri oleh pembelajar yang memperhatikan karakteristik pebelajar. Selain itu, pembelajaran mata kuliah membaca masih terpusat pada pembelajar dan belum  melakukan pendekatan yang komunikatif. Untuk memecahkan  permasalahan  tersebut di atas, maka perlu dikembangkan bahan ajar yang bisa memenuhi kebutuhan  pengguna, yaitu untuk pembelajar dan pebelajar.

Model R2D2 merupakan suatu  prosedur rancangan pembelajaran konstruktifistik yang menekankan kekreatifitasan pada proses pembelajaran itu sendiri. Dalam hal ini, R2D2 yang akan dikembangkan merupakan prosedur yang berada dalam R2D2 itu sendiri untuk mendesain dan  mengembangkan bahan ajar dengan yang akan diimplementasikan dalam pembelajaran di kelas. Hal ini dikarenakan,  Masalah-masalah yang sama mungkin dibahas berkali-kali melalui suatu proses. Selain itu, prosedur rancangan pembelajaran model R2D2 ini dipandang sebagai suatu pembelajaran yang mengarah  pada perbaikan-perbaikan didalam materi pembelajaran dalam pengembangannya.

Prosedur pengembangan bahan ajar ini terdiri dari 5 tahap. Pertama, tahap identifikasi yang terdiri dari (1) pengkajia teoritis melalui studi pustaka,(2) pengkajian empiris melalui observasi di kelas. Kedua, tahap define, yaitu membentuk suatu tim ( terdiri dari perwakilan pembelajar mata kuliah itu sendiri, pebelajar, dan pengembang). Ketiga, tahap desain dan pengembangan, yaitu (1) mendesain tempat atau lingkungan pengembangan,(2) pemilihan media dan formatnya, (3) prosedur evaluasi, dan (4) produk desain dan pengembangan (silabus, RPP, isi materi, test dan penilaian). Keempat, tahap uji coba yang terdiri dari uji ahli, kelompok dan lapangan. Kelima, tahap diseminasi.

 Data yang diperoleh dari para ahli, uji kelompok dan lapangan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis diskriptif kuantitatif dan kualitatif untuk mengetahui kevalidan, kepraktisan dan keefektifan dari buku ajar yang dihasilkan.

Secara kuantitatif, (1) kevalidan dari buku ajar yang dikembangkan memenuhi kriteria valid, yaitu 3,9. Nilai ini berada pada interval 3 ≤(V_k ) ̅≤ 4, (2) Kepraktisan berdasarkan data aktivitas pembelajar dalam pembelajaran menunjukkan kriteria praktis, yaitu dengan nilai 3,9 pada uji kelompok dan 4,0 pada uji lapangan. Nilai tersebut berada pada interval 3≤(P_k ) ̅≤4, sedangkan untuk (3) keefektifan dari buku ajar pada: (a) aktivitas pebelajar mendapat nilai 3,97 diuji kelompok dan 4,0 diuji lapangan. Nilai tersebut dapat dikategorikan aktivitas tinggi karena berada pada interval 3 ≤(a_k ) ̅≤4,(b) prosentase pebelajar yang merespon positif secara keseluruhan adalah 100% di uji kelompok dan 93,5% di uji lapangan, dan dapat dikatakan bahwa pebelajar telah memberikan respon positif terhadap pembelajaran yang telah dilakukan,(c) prosentase pebelajar yang sudah menguasai adalah 100% di uji kelompok dan 93,5% di uji lapangan dan secara kualitatif, berdasarkan saran, masukan dan komentar yang diberikan, produk buku ajar yang dikembangkan perlu dilakukan revisi. Revisi yang dilakukan oleh pengembang berdasarkan dari para ahli terkait pada cover, perpaduan  warna, istilah, penulisan chapter, judul perlu ditambahi, dan penulisan style dalam referensi.Sedangkan dari para observer pada uji kelompok langsung dilakukan revisi di pertemuan selanjutnya, yaitu terkait pada pengaturan tata letak kursi, dan pebelajar diberi kesempatan untuk bertanya. Sehingga pada uji lapangan, para observer sudah tidak memberikan saran, masukan maupun komentar lagi.

Berdasarkan produk yang dihasilkan,  pengembang memberikan saran agar produk buku ajar Reading Comprehension sebaiknya jangan digunakan pada pebelajar di semester awal, namun diberikan kepada pebelajar di semester II. Hal ini dikarenakan pebelajar di semester awal merupakan pebelajar transisi yang masih butuh adaptasi. Selain daripada ini, sebelum dibelajarkan, baik pebelajar maupun pembelajar, disarankan agar membaca terlebih dahulu cara menggunakan buku ajar Reading Comprehension yang telah tertulis di dalam buku ajar.