DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pemertahanan Bahasa Banjar di Kuala Tungkal Provinsi Jambi

Hj Ida Komalasari

Abstrak


ABSTRAK

 

Komalasari, Ida .2015. Pemertahanan Bahasa Banjar di Kuala Tungkal Provinsi Jambi. Disertasi, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Anang Santoso, M. Pd., (II) Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd., dan (III) Dr. H. Zulkifli, M. Pd.

 

Kata Kunci: pemertahanan bahasa, bahasa Banjar

Orang Banjar banyak merantau salah satunya ke Kuala Tungkal di Provinsi Jambi.  Dalam waktu yang cukup lama para perantau orang Banjar di Kuala Tungkal cukup banyak. Berdasarkan pengamatan awal mereka tetap menggunakan bahasa Banjar atau mempertahankan bahasa Banjar dalam hidup bermasyarakat. Oleh karena itu, penelitian Pemertahanan Bahasa Banjar di Kuala Tungkal Provinsi Jambi ini layak dilakukan.

Sejalan dengan uraian di atas, rumusan masalah ini adalah (1) bagaimana    kondisi pemertahanan bahasa Banjar pada penutur perantau Banjar di Kuala Tungkal Provinsi Jambi; (2) bagaimana faktor-faktor internal dalam pemertahanan bahasa  Banjar pada penutur perantau Banjar di Kuala Tungkal Provinsi Jambi; (3) bagaimana faktor-faktor eksternal dalam pemertahanan bahasa Banjar pada penutur perantau Banjar di Kuala Tungkal Provinsi Jambi; (4) bagaimana upaya-upaya pemertahanan Bahasa Banjar di Kuala Tungkal Provinsi Jambi.

Untuk mencapai tujuan di atas, digunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan pendekatan kualitatif sebagai pegangan utamanya, jenis penelitian deskriptif, dengan orientasi teoretisnya sosiolinguistik. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrumen aktif dalam upaya mengumpulkan data-data di lapangan. Lokasi penelitian yaitu di kota Kuala Tungkal. Kuala Tungkal merupakan  ibu kota Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang sebelumnya bernama Kabupaten Tanjung Jabung, sebagai salah satu kabupaten dalam Provinsi Jambi. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif, yaitu berupa kata-kata, kalimat, dan ungkapan-ungkapan dalam pemakaian Bahasa Banjar dalam berbagai ranah, faktor internal dan eksternal, faktor strategis pemertahanan bahasa. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah (1) teknik simak bebas libat cakap (SBLC), (2) teknik cakap semuka, (3) teknik cakap tansemuka (CTS). (4) teknik rekam, (5) teknik catat.

Berdasarkan analisis data, diperoleh temuan penelitian berikut ini. Pertama, kondisi pemertahanan Bahasa Banjar  di Kuala Tungkal Provinsi Jambi dapat dilihat dengan tetap digunakannya pemakaian Bahasa Banjar pada ranah keluarga, ranah tetangga, ranah pendidikan, ranah agama, ranah transaksi dan ranah pemerintah. 

Kedua, faktor-faktor internal pemertahanan bahasa Banjar di Kuala Tungkal adalah (a) faktor kesinambungan pengalihan bahasa ibu; (b) faktor loyalitas atau kesetiaan  warga Banjar di Kuala Tungkal terhadap bahasa Banjar; (c) faktor pemakaian bahasa Banjar oleh warga Banjar dalam berbagai ranah; (d) faktor pelestarian bahasa Banjar melalui faktor formal dan nonformal; (e) faktor budaya dalam tradisi lisan; (f) faktor pendakwah yang menggunakan bahasa Banjar; (g) faktor perkawinan; (h) faktor kesetiaan budayawan; (i) faktor keberadaan organisasi; dan (i) faktor konsentrasi penutur.

Ketiga, faktor-faktor eksternal pemertahanan bahasa Banjar di Kuala Tungkal adalah (a) lingkungan alam; (b) lingkungan masyarakat Banjar; dan (c) lingkungan masyarakat Kuala Tungkal.

Keempat, upaya-upaya pemertahanan Bahasa Banjar di Kuala Tungkal adalah: (a) pewarisan bahasa ibu kepada anak terutama dalam pengasuhan anak, (b) penanaman loyalitas atau kesetiaan dalam berbahasa Banjar, (c) pelestarian bahasa Banjar melalui jalur formal dan informal, (d) pelestarian  bahasa Banjar melalui tradisi lisan, (e) penggunaan bahasa Banjar pada pendakwah agama Islam, (f) pelestarian bahasa Banjar dalam perkawinan orang Banjar dengan suku lain, (g) penerapan kesetiaan dalam pemakaian bahasa Banjar pada budayawan Banjar dalam berkarya, (h) pembentukan kelompok organisasi orang Banjar (KBB atau Kumpulan Bubuhan Banjar), (i) pembentukan konsentrasi penutur dari pusat permukiman orang Banjar, (g) pembentukan sikap dan perilaku posiitf suku lain dalam menggunakan bahasa Banjar, dan (h) pemotivasian penggunaan bahasa daerah Banjar di berbagai ranah.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diharapkan agar pemerintah daerah di Kuala Tungkal menyusun dan menetapkan (a) kebijakan yang berpihak kepada penulis menggunakan bahasa Banjar; (b) program strategis untuk memetakan bahasa-bahasa di Kuala Tungkal; (c) kebijakan pemerintah daerah untuk pengembangan dan pelestarian bahasa yang lebih komprehensif; (d) media iklan yang menggunakan bahasa Banjar.  Masyarakat  Banjar terutama yang berprofesi pendidik dapat memasukkan bahasa Banjar sebagai mata pelajaran muatan lokal dan menggunakan bahasa Banjar dalam situasi non formal dengan para siswa.