DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MENGEMBANGKAN SELF REGULATED LEARNING (PMSRL)

Dewi Asmarani

Abstrak


ABSTRAK

 

Asmarani, Dewi. 2015. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika untuk Mengembangkan Self Regulated Learning (PMSRL). Disertasi, Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Akbar Sutawidjaya, M.Ed., Ph.D. (II) Prof. Dr. Cholis Sa’dijah, M.Pd., M.A (III) Dr. I Nengah Parta, M.Si.

 

Kata Kunci: pengembangan model pembelajaran, Self Regulated Learning (SRL)

Self Regulated Learning (SRL) adalah kemampuan siswa dalam menetapkan tujuan belajarnya, merencanakan strategi yang sesuai dengan masalah yang sedang dihadapi, mengidentifikasi sumber daya yang diperlukan, memberikan umpan balik, dan mengevaluasi efektivitas setiap tindakannya dalam belajar. Akan tetapi seringkali kemampuan ini tidak digunakan secara optimal oleh siswa. Hal ini terjadi karena siswa tidak terbiasa menggunakan kemampuan SRLnya dalam belajar. Oleh sebab itu penelitian ini akan mengembangkan suatu model pembelajaran yang diharapkan dapat mengembangkan SRL siswa. Bagaimana proses dan hasil pengembangan model pembelajaran matematika untuk mengembangkan Self Regulated Learning siswa (model PMSRL) yang valid, praktis, dan efektif merupakan tujuan dari penelitian ini.

Produk yang dikehendaki dalam penelitian ini adalah sebuah model pembelajaran matematika untuk mengembangkan Self Regulated Learning siswa (model PMSRL) yang valid, praktis, dan efektif. Pengembangan dilakukan secara simultan, yaitu pada saat mengembangkan model, dikembangkan pula instrumen-instrumen dan perangkat-perangkat pembelajaran yang menopang model PMSRL.

Penelitian ini adalah penelitian pengembangan (developmental research) yang mengacu pada modifikasi model pengembangan pendidikan dari Tjeerd Plomp (2013) dengan 3 fase pengembangan, yaitu Fase-1 (Investigasi Awal), Fase-2 (Perancangan), dan Fase-3 (Penilaian). Pada Fase I dikaji tentang model-model pembelajaran, teori-teori pendukung model yang dikembangkan, materi, siswa, dan lingkungan belajar. Pada Fase-2 dirancang model PMSRL dengan 4 komponen (sintaks, sistem sosial, prinsip reaksi, dan sistem pendukung). Pada fase ini juga dirancang instrumen dan perangkat pembelajaran yang sesuai dengan model PMSRL kemudian uji kevalidan instrumen, model PMSRL, dan perangkat-perangkatnya, kemudian direvisi lalu divalidasi kembali dst, sampai dipenuhi kriteria kevalidan. Pada Fase-3 dilakukan uji kepraktisan dan keefektifan model PMSRL beserta perangkat-perangkatnya. Untuk  uji kepraktisan dilakukan   dua kegiatan, yaitu (a) dilakukan uji kelayakan penerapan model PMSRL dari para pakar pendidikan matematika dan guru-guru matematika, dan (b) melakukan uji coba pembelajaran model PMSRL di kelas sebanyak 3 kali, masing-masing di Kelas VII A, VII E, dan VII G pada SMP Negeri 1 Singosari. Kegiatan menganalisis dan merevisi model beserta perangkatnya dilakukan segera setelah uji coba. Kegiatan uji coba dihentikan apabila model PMSRL telah memenuhi kriteria kepraktisan dan keefektifan.

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan Model PMSRL yang telah memenuhi sifat valid, praktis dan efektif tersebut memiliki sintak yang terdiri atas 4 fase, yaitu (1) fase Perencanaan, (2) fase Menampilkan, (3) fase Refleksi, dan (4) fase Pemantapan. Hasil yang lain dalam penelitian ini juga menunjukkan: (1) hasil uji kevalidan dari para validator menunjukkan bahwa model PMSRL beserta instrumen-instrumen dan perangkat-perangkatnya memenuhi kriteria kevalidan. (2) hasil penilaian dari para validator menunjukkan bahwa, model PMSRL dinyatakan layak untuk diterapkan di kelas, dan (3) dari kegiatan ujicoba I, II, dan III diperoleh hasil sebagai berikut.

Hasil ujicoba I menunjukkan bahwa model PMSRL sudah memenuhi kriteria kepraktisan dengan skor rata-rata keterlaksanaan Model PMSRL dari 2 observer yaitu 3.05, akan tetapi keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran perlu ditingkatkan. Berdasarkan 3 kriteria kefektifan, hanya dua kriteria yang dipenuhi, yaitu aktivitas siswa sudah sesuai dengan harapan yaitu aktif dengan skor rata-rata aktivitas siswa dari 2 observer yaitu 2.76, dan respon siswa terhadap pembelajaran model PMSRL sudah positif dengan jumlah responden sebanyak 56.7%. Terdapat satu kriteria lainnya yang belum dipenuhi, yaitu Penguasaan bahan Ajar siswa belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal yaitu 71.5,

Hasil uji coba II menunjukkan bahwa model PMSRL sudah memenuhi kriteria kepraktisan dan keefektifan. Kriteria kepraktisan yang diperoleh adalah 3.2, sedangkan keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran juga masih perlu ditingkatkan lagi. Berdasarkan 3 kriteria kefektifan, aktivitas siswa sudah sesuai dengan harapan yaitu aktif dengan skor rata-rata aktivitas siswa dari 2 observer yaitu 2.9, dan respon siswa terhadap pembelajaran model PMSRL sudah positif dengan jumlah responden sebanyak 63.3% , dan Penguasaan bahan Ajar siswa telah memenuhi kriteria ketuntasan minimal yaitu 75.95. Akan tetapi, karena skor yang diperoleh dianggap masih perlu ditingkatkan lagi maka diputuskan untuk melaksanakan ujicoba yang ke III.

Hasil uji coba III menunjukkan model PMSRL telah memenuhi kriteria kepraktisan dan keefektifan. Kriteria kepraktisan yang diperoleh dari 2 observer adalah 3.3. Berdasarkan 3 kriteria kefektifan, aktivitas siswa sudah sesuai dengan harapan yaitu aktif dengan skor rata-rata aktivitas siswa dari 2 observer yaitu 3.1, dan respon siswa terhadap pembelajaran model PMSRL sudah positif dengan jumlah responden sebanyak 70% , dan Penguasaan bahan Ajar siswa telah memenuhi kriteria ketuntasan minimal yaitu 80.3. Jadi setelah uji coba III model PMSRL yang berkualitas telah diperoleh.