DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Model Pembelajaran Pendidikan Karakter Berbasis Kebudayaan Lokal . Studi Kasus Pada Tiga Sekolah Dasar di Kabupaten Bangkalan.

ACH SUBAIDI AF

Abstrak


Abstrak

 

Subaidi AF, Ach. 2015. Model Pembelajaran Pendidikan Karakter Berbasis Kebudayaan Lokal . Studi Kasus Pada Tiga Sekolah Dasar di Kabupaten Bangkalan. Disertasi. Program Studi Teknologi Pembelajaran, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd., (II) Prof. Dr. Punaji Setyosari, M.Pd., M.Ed., (III) Dr. Dedi Kuswandi, M.Pd.

 

 Kata kunci: model pembelajaran,  pendidikan karakter, kebudayaan lokal.

 

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan model pembelajaran pendidikan karakter berbasis kebudayaan lokal di tiga sekolah dasar di Kabupaten Bangkalan. Hasil deskripsi dilakukan untuk menemukan model pembelajaran yang diterapkan di tiga sekolah dasar di kabupaten Bangkalan.

Penelitian kualitatif dengan menggunakan studi kasus (case study) diterapkan untuk menggambarkan hal yang terkait dengan model pembelajaran pendidikan karakter di sekolah dasar dengan melakukan ekplorasi pada kegiatan  pembelajaran, di mana fokus diarahkan pada kondisi pembelajaran, strategi pembelajaran dan hasil pembelajaran yang digunakan. Jenis kajiannya adalah studi kasus intrinsik (intrinsic case study) yang ditempuh karena keinginan peneliti untuk memahami kasus tertentu dalam seluruh kekhususan dan aspek kesederhanaannya, mengarah kepada pilihan objek yang diteliti bukan pada pilihan metodologisnya.

Secara umum tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penggunaan kebudayaan lokal sebagai pendekatan dalam pembelajaran pendidikan karakter di tiga sekolah di Kabupaten Bangkalan. Variabel pembelajaran yang menjadi fokusnya adalah variabel kondisi, variabel strategi dan variabel hasil pembelajaran pendidikan karakter. Untuk menyusun jawaban terhadap variabel-variabel tersebut, maka penelitian ini secara rinci akan mendeskripsikan hal-hal sebagai berikut: (1) tujuan pembelajaran pendidikan karakter dengan pendekatan kebudayaan lokal di tiga sekolah di Kabupaten Bangkalan, (2) derajat keberhasilan pembelajaran pendidikan karakter dengan pendekatan kebudayaan lokal di tiga sekolah di Kabupaten Bangkalan, (3) karakteristik bidang studi pembelajaran pendidikan karakter dengan pendekatan kebudayaan lokal di tiga sekolah di Kabupaten Bangkalan, (4) kendala pembelajaran pendidikan karakter dengan pendekatan kebudayaan lokal di tiga sekolah di Kabupaten Bangkalan, (5) karakteristik si-belajar dalam pembelajaran pendidikan karakter dengan pendekatan kebudayaan lokal di tiga sekolah di Kabupaten Bangkalan, (6) strategi pengorganisasian isi pembelajaran pendidikan karakter dengan pendekatan kebudayaan lokal di tiga sekolah di Kabupaten Bangkalan, (7) strategi penyampaian dan pengelolaan materi pembelajaran pendidikan karakter dengan pendekatan kebudayaan lokal di tiga sekolah di Kabupaten Bangkalan, (8) efektifitas dan efisiensi pembelajaran pendidikan karakter dengan pendekatan kebudayaan lokal di tiga sekolah di Kabupaten Bangkalan, (9) daya tarik pembelajaran pendidikan karakter dengan pendekatan kebudayaan lokal di tiga sekolah di Kabupaten Bangkalan, dan (10) nilai-nilai pendidikan karakter dengan pendekatan kebudayaan lokal di tiga sekolah di Kabupaten Bangkalan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran karakter yang berbasis pada kebudayaan lokal memiliki lima tahapan di mana pebelajar bekerja dalam tiap tahapannya. Tahap 1: mengondisikan pebelajar dalam sebuah lingkungan pembelajaran berbasis kebudayaan lokal yang memungkinkan penanaman ajaran moral. Tahap 2: membuat program-program yang memungkinkan siswa untuk belajar mengimplementasikan pembelajaran konsep menjadi praktik. Tahap 3: melaksanakan pembelajaran pendidikan karakter dalam bentuk penanaman konsep. Tahap 4: melakukan pemodelan pada saat pembelajaran. Tahap 5: evaluasi. Sedangkan nilai-nilai kebudayaan lokal yang ditemukan adalah filosofi Tanian Lanjang menanamkan sikap egaliter (kekerabatan). Asapok angin abental ombek tidak mudah menyerah untuk mendapatkan impian. filosofi abanthal syahadat asapo’ iman (berbantal syahadat, berselimut iman), dalam pembelajaran merupakan refleksi dari pentingnya agama menjadi sandaran dalam hidup. Jhege pagharra dhibi’ ja’ parlo ajhege pagharra oreng laen (jaga pagar sendiri, jangan menjaga pagar orang lain) dalam pembelajaran adalah anjuran untuk selalu introspeksi dengan melihat kesalahan sendiri daripada mencari-cari kesalahan orang lain.Jhile reya ta’ atolang (lidah itu tidak bertulang) mengajarkan sikap kehati-hatian atau odhi’ e dunnya akantha nete obu’ (hidup di dunia ibarat meniti selembar rambut) juga mengajarkan sikap kehati-hatian. Rampa’ naong beringin korong adalah anjuran untuk saling tolong-menolong dan pentingnya solidaritas sosial. Penggunaan Besa Madureh dalam pembelajaran  yang mengenal  tingkatan bahasa,  Ja’- iya (sama dengan ngoko), Engghi-Enthen (madya) dan Engghi-Bunthen (krama) mengajarkan kepada siswa untuk menghargai orang lain berdasar usia. Penggunaan pola sikap andhap asor (rendah hati) dalam pergaulan di sekolah mengajarkan tentang kesantunan, kesopanan, penghormatan, dan nilai-nilai luhur yang harus dimiliki.