DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengembangan Model Manajemen Pendidikan Karakter dengan Teknik Pendampingan Guru pada Sekolah Menengah Pertama

AKHMAD - GAFURI

Abstrak


ABSTRAK

 

Gafuri, Akhmad. 2015. Pengembangan Model Manajemen Pendidikan Karakter dengan Teknik Pendampingan Guru pada Sekolah Menengah Pertama. Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Bambang Budi Wiyono, M Pd, (II) Prof. Dr. H.M. Huda AY, M.Pd, (III) Dr. H. Kusmintardjo, M.Pd.

 

Kata kunci: model manajemen, pendidikan karakter, pendampingan guru

 

Pendidikan merupakan upaya yang terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar berkembang dan tumbuh menjadi manusia yang mandiri, bertanggungjawab, kreatif, berilmu, sehat, dan berakhlak mulia baik dilihat dari aspek jasmani maupun rohani. Pengembangan karakter peserta didik dalam kurikulum KTSP maupun kurikulum 2013 dilakukan melalui model yang terintegrasi dalam semua mata pelajaran. Berdasarkan penelusuran peneliti, belum ditemukan model manajemen dalam menyelenggarakan pendidikan karakter di sekolah. Oleh karena itu pengembangan karakter peserta didik cenderung berupa harapan saja yang tertuang pada perencanaan pembelajaran guru. Atas dasar itu penelitian dan pengembangan model manajemen pendidikan karakter ini dilakukan.

Penelitian dan pengembangan ini bertujuan menghasilkan model manajemen pendidikan karakter dengan teknik pendampingan guru pada sekolah menengah pertama. Model penelitian dan pengembangan yang digunakan adalah model Borg dan Gall yang disederhanakan oleh Depdiknas RI menjadi 5 langkah. Kemudian 5 langkah tersebut melalui berbagai pertimbangan, peneliti menyederhanakan yaitu (1) penelitian awal, (2) pengembangan produk awal, (3) validasi ahli dan revisi produk, (4) ujicoba lapangan dan revisi produk, dan (5) produk akhir.

Sampel dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling (sampel pertimbangan) terdiri dari 31 orang guru dan 30 orang peserta didik di SMPN 2 Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dengan pertimbangan peneliti bertugas sebagai pengajar di sekolah tersebut sehingga memudahkan melakukan penelitian. Teknik pengumpulan data pada penelitian awal dilakukan dengan menggunakan angket yang diisi oleh 31 orang guru, dengan hasil tingkat pengetahuan, pemahaman, dan kebutuhan guru terhadap pembinaan pengembangan karakter peserta didik berada pada kategori “Tinggi” dan rata-rata nilai karakter peserta didik berada pada kategori “Mulai Terlihat (MT). Berdasarkan hasil penelitian awal tersebut produk awal yang dikembangkan meliputi gambar model pengelolaan dan perangkat manajemen pendidikan karakter dengan teknik pendampingan guru. Produk divalidasi oleh (1) Prof. H. A. Sonhadji, MA, Ph.D (Dosen Universitas Negeri Malang), (2) Drs. Ahmad Suriansyah, M.Pd, Ph.D. (Dosen Universitas Negeri Lambung Mangkurat Banjarmasin), dan (3) Dr. M. Saleh, M. Pd (Dosen Universitas Negeri Lambung Mangkurat Banjarmasin). Oleh ketiga ahli tersebut produk dinilai dengan tingkat kegunaan pada kategori “Tinggi”, dan tingkat kemudahan penggunaan, kelengkapan, serta keterbacaan model pada kategori “Sangat Tinggi”.

Uji coba penggunaan produk dilakukan oleh 8 orang responden dari kepala sekolah, wali kelas, guru pendamping di SMPN 2 Barabai. Hasil uji coba di lapangan menunjukkan bahwa (1) tingkat kegunaan, kemudahan penggunaan, kelengkapan, dan keterbacaan model pada kategori “Sangat Tinggi”, (2) tingkat pengetahuan, pemahaman, dan kebutuhan guru terhadap pembinaan pengembangan karakter peserta didik setelah penelitian masuk kategori “Sangat Tinggi”, (3) karakter peserta didik setelah dilakukan pendampingan oleh guru masuk kategori “Membudaya (M)”, (4) hasil uji t menunjukkan ada perbedaan tingkat pengetahuan, pemahaman, dan kebutuhan guru terhadap pembinaan pengembangan karakter peserta didik sebelum dan setelah penelitian.

Produk yang dihasilkan dalam penelitian dan pengembangan ini adalah model manajemen pendidikan karakter dengan teknik pendampingan guru yang dapat digunakan di sekolah lanjutan pertama untuk mengukur secara jelas dan efektif terhadap tumbuh dan berkembangnya karakter peserta didik.

Berdasarkan hasil penelitian di atas disarankan kepada: (1) Kepala SMPN 2 Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah kiranya dapat memprogramkan penyelenggaraan pendidikan karakter melalui model ini karena ternyata tingkat pengetahuan, pemahaman, dan kebutuhan guru SMPN 2 Barabai terhadap pembinaan pengembangan karakter peserta didik setelah penelitian masuk kategori “Sangat Tinggi”. Di samping itu karakter peserta didik setelah dilakukan pendampingan oleh guru masuk kategori “Membudaya (M)”; (2) Kepala-kepala Sekolah di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah disarankan dapat menggunakan model ini sebagaimana yang telah dilakukan di SMPN 2 Barabai agar pengetahuan, pemahaman, dan kebutuhan guru di sekolahnya terhadap pembinaan pengembangan karakter peserta didik dapat ditingkatkan; (3) Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Tengah hendaknya dapat mencetak, menggandakan, dan memberikan naskah model manajemen pendidikan karakter dengan teknik pendampingan guru ini kepada seluruh kepala SMP di Kabupaten Hulu Sungai Tengah untuk dapat dijadikan acuan dan pedoman bagi penyelenggaraan pendidikan karakter di masing-masing sekolah; (4) Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Tengah hendaknya dapat memprogramkan dan menyelenggarakan sosialisasi/bimtek/seminar khusus tentang manajemen pendidikan karakter kepada para Kepala SMP dan guru produk yang dihasilkan agar Kepala SMP dan guru dapat lebih mudah memahami tentang model ini sehingga akan lebih mudah untuk menyelenggarakannnya pada masing-masing sekolah dan dapat memberikan hasil serta dampak yang sebagaimana yang diharapkan; dan (5) Kepada para peneliti yang akan melakukan pengembangan lebih luas hendaknya dapat menggunakan produk ini sebagai acuan dan pedoman  melalui perencanaan yang lebih matang, waktu yang cukup, serta mengembangkan nilai karakter yang lebih spesifik  agar beberapa kelemahan yang mungkin ditemukan dapat semakin teratasi sehingga model ini akan semakin sempurna.