DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

NILAI KEARIFAN LOKAL KERAJAAN KUTAI DALAM MANUSKRIP KROENIK VAN KUTAI

HETY DIANA SEPTIKA

Abstrak


ABSTRAK

 

Septika, Hety Diana. 2015. Nilai Kearifan Lokal Kerajaan Kutai dalam  Manuskrip Kroenik Van Kutai. Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Abdus Syukur Ghazali, M.Pd, (II) Dr. Hj. Yuni Pratiwi, M.Pd.

 

Kata kunci: Nilai kearifan lokal, Kroenik van Kutai

 

Manuskrip Kroenik Van Kutai (KVK) merupakan salah satu peningggalan penting dalam sejarah wilayah Provinsi Kalimantan Timur. KVK bercerita tentang silsilah kerajaan Kutai Kertanegara. Manuskrip KVK penting untuk diteliti sebab mengandung informasi nilai-nilai kearifan lokal yang harus dilestarikan dan diwariskan. Informasi yang berbentuk nilai-nilai kearifan masa lampau berupa pemikiran, sikap, dan prilaku penting untuk digali dan dipelajari dalam membangun karakter bangsa. Berdasarkan kenyataan tersebut penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan nilai kearifan lokal yang ada di dalam manuskrip KVK. Ada tiga hal yang dideskripsikan dan dijelaskan sehubungan dengan kearifan lokal dalam manuskrip KVK, yaitu (1) wujud kearifan lokal pada keyakinan dan pengetahuan (2) wujud kearifan lokal pada sikap, dan (3) wujud kearifan lokal pada perilaku.

Jenis penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dengan ancangan historis fenomenologi. Ancangan historis fenomenologi yang digunakan untuk menginterpretasi teks Kroenik Van Kutai. Sumber datanya berupa manuskrip Kroenik Van Kutai yang diambil melalui katalog Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan nomor Mat. Hs. K. B. G. No. 461. Data penelitian berupa unit-unit teks yang terdapat dalam manuskrip KVK yang mengandung unsur wujud keyakinan dan kepercayaan, wujud pola sikap dan wujud pola prilaku raja. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah peneliti sendiri sebagai instrumen kunci dan tabel pengumpul data. Teknik analisis dilakukan dengan menggunakan model analisis dari Miles dan Huberman.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wujud kearifan lokal pada keyakinan dan kepercayaan terdiri atas (1) percaya kepada dewa sebagai sumber kekuasaan dan kekuatan yang berwujud (a) menghormati dan menjalani ritual kepada Dewa, (b) memosisikan raja Aji Batara Agung Dewa Sakti dan Puteri Karang Melenu sebagai titisan dari langit, (c) menjaga kehormatan raja Aji Batara Agung Dewa Sakti dan Puteri Karang Melenu dengan menciptakan mitos, (d) memercayai pesan atau wahyu dari dewa untuk melaksanakan erau. (e) Percaya mimpi sebagai sumber bimbingan dari dewa yang berwujud melalui  mimpi akan melakukan perintah secara taat, (f) mimpi untuk menamai anak sesuai dengan perintah dalam mimpi, (g) mimpi mencari jodoh sesuai dengan kriteria,  (h) mendapatkan jodoh sesuai dengan kriteria, (i) mimpi sebagai pesan terakhir saudara yang meninggal. Pengetahuan budaya terdiri atas candi sebagai tempat penguburan jasad raja-raja Kutai Kertanegara dan adanya upacara erau sebagai tradisi

Fokus wujud kearifan lokal pada bentuk perilaku raja terdiri atas (1) bentuk perilaku raja dalam pemerintahan ditunjukkan dengan bentuk perilaku raja Maharaja Sulton dalam memperluas wilayah kerajaan, bentuk perilaku raja Maharaja Sulton bersama saudaranya dalam membentuk sistem pemerintahan, (2) bentuk perilaku raja dalam keluarganya ditunjukkan dengan bentuk perilaku raja Aji Batara Agung Dewa Sakti dalam menikahi wanita, bentuk perilaku raja Aji Batara Agung Dewa Sakti dalam mendapatkan pewaris tahta (3) bentuk perilaku raja Maharaja Sulton dalam memenuhi kebutuhan keluarga

Fokus wujud kearifan lokal pada bentuk sikap raja terdiri atas (1) bentuk sikap raja dalam pemerintahan ditunjukkan melalui kesaktian raja Aji Batara Agung Dewa Sakti sebagai penunjukkan kekuasaan dalam pemerintahan, bentuk tanggung jawab raja Maharaja Sulton terhadap kerajaan (2) sikap terhadap rakyat ditunjukkan melalui bentuk sikap ramah raja Aji Batara Agung dan Puteri Karang Melenu kepada rakyat dalam pesta perkawinan, bentuk sikap dermawan raja Aji Batara Agung Dewa Sakti kepada rakyat (3) bentuk sikap terhadap kerajaan lain ditunjukkan melalui bentuk sikap ramah raja Maharaja Sulton kepada raja dari kerajaan lain, bentuk sikap hormat raja Maharaja Sakti kepada tamu kerajaan (4) bentuk sikap raja terhadap keluarga inti ditunjukkan melalui bentuk sikap selektif raja Aji Batara Agung Dewa Sakti untuk mencari istri, meninggalkan  anak dan istri karena lebih memilih urusan kerajaan (5) bentuk sikap raja  terhadap keluarga besar ditunjukkan melalui bentuk sikap adil raja Maharaja Sulton dalam memilih keluarga sebagai pejabat pemerintahan (6) bentuk sikap raja terhadap pekerja/abdi dalem ditunjukkan melalui bentuk sikap percaya raja Aji Batara Agung Dewa Sakti kepada pekerja atau abdi dalem (7) bentuk sikap raja dalam mempertahankan keyakinan beragama ditunjukkan melalui bentuk sikap penolakan raja Maharaja Mahkota untuk masuk Islam.

Nilai-nilai kearifan lokal kerajaan Kutai yang tergambar melalui manuskrip KVK menunjukkan bahwa terdapat adanya keyakin dan kepercayaan dalam lingkungan kerajaan yang mempercayai adanya dewa sedangkan mimpi dijadikan sebagai penanda dan petunjuk dalam menjalankan kehidupan, selain itu dalam hal mengenang raja masyarakat membuat candi, serta pelaksanaan erau dilakukan sebagai upacara tradisi penanda bahwa anak sudah mulai dewasa. Pada wujud sikap raja tergambar adanya sikap adil, ramah, berbagi, selektif sebagai penanda bahwa seorang pemimpin haruslah memiliki kriteria dan kemampuan tertentu dalam mengatur pemerintahan dan keluarganya. Bentuk penaklukkan negeri, musyawarah, penolakan atas agama Islam, menikahi wanita untuk mendapatkan pewaris merupakan perwujudan tindakan raja menangani masalah-masalah yang ada dalam lingkungan kerajaan dan keluarganya.

Terdapat temuan urutan raja yang memerintah Kerajaan Kutai Kertanegara dalam manuskrip KVK, berupa : (1) Aji Batara Agung Dewa Sakti, (2) Aji Batara Agung Paduka Nira, (3) Maharaja Sultan, (4) Raja Madarsyah, (5) Pangeran Tumenggung, (6) Raja Mahkota, (7) Aji Dilanggar, (8) Pangeran Sinum Aji Mendapa, (9) Pangeran Dipati Agung Ing Martapura, (10) Pangeran Dipati Maja Kusuma Ing Martapura, (11) Aji Rami bergelar Ratu Agung, (12) Pangeran Dipati Tua Ing Martapura, (13) Pangeran Anum Panji Mendapat Ing Martapura bergelar Marhum Pamarangan, (14) Sultan Muhammad Idris, (15) Sultan Muhammad Maslihudin. Selain itu, melalui hasil analisis data dalam manuskrip KVK, tidak dapat ditemukan adanya penyebutan tahun kejayaan dan masa pemerintahan dari raja-raja yang memerintah di Kerajaan Kutai Kertanegara.