DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Bagian Pembahasan dalam Artikel Penelitian Berbahasa Inggris dan Berbahasa Indonesia yang Ditulis oleh Penulis Indonesia

Lulus Irawati

Abstrak


ABSTRAK

 

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti bagian pembahasan dalam artikel penelitian berbahasa Inggris dan berbahasa Indonesia yang ditulis oleh penulis Indonesia. Untuk itu, ada tiga permasalahan dalam penelitian ini antara lain (1) Seperti apakah pola retorika sub bagian pembahasan dalam artikel penelitian berbahasa Inggris dan berbahasa Indonesia yang ditulis oleh penulis Indonesia (2) Perbedaan dan persamaan yang ada dalam sub bagian pembahasan dalam artikel penelitian berbahasa Inggris dan berbahasa Indonesia; (3) Alasan bagian pembahasan dalam artikel penelitian berbahasa Inggris dan berbahasa Indonesia tersebut berbeda atau sama. Bagian pembahasan tersebut di ambil dari artikel penelitian yang dipublikasi di jurnal terbitan Indonesia yang terakreditasi.

Penelitian ini menggunakan Move analysis dan qualitative content analysis. Untuk menjawab permasalahan pertama, peneliti menganalisis pola retorika dari 7 bagian pembahasan yang berbahasa Inggris dan 7 bagian pembahasan yang berbahasa Indonesia yang ditulis pula oleh 7 penulis Indonesia, dengan menggunakan Model Swales (1990). Untuk menjawab permasalahan kedua, peneliti mengolah data analisis secara detil. Data yang diinterpretasikan secara subyektif berdasarkan kemampuan peneliti, dengan tujuan mendeskripsi secara natural. Kemudian, peneliti menggali data melalui wawancara secara mendalam untuk menjawab permasalahan ketiga, yang mensyaratkan peneliti sebagai instrumen dalam penelitian ini. Dari 7 penulis Indonesia yang tulisannya dianalisis, hanya 5 penulis Indonesia yang bersedia diwawancarai.

Berdasarkan tujuan penelitian pertama dan kedua,  hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola retorika atau struktur move bagian pembahasan yang  berbahasa Inggris terdiri dari 5 Moves yaitu II (Statement of results), III ((Un) expected outcome), IV (Reference to previous research), V (Explanation), dan VII (Deduction and hypothesis). Move I (Background information), VI (Exemplification), dan VIII (Recommendation) hanya muncul pada 2 atau 3 bagian pembahasan yang berbahasa Inggris. Sedangkan pola retorika bagian pembahasan yang berbahasa Indonesia terdiri dari 6 Move yaitu II (Statement of results), III ((Un) expected outcome), IV (Reference to previous research), V (Explanation), VI (Exemplification), dan VII (Deduction and hypothesis). Move VIII (Recommendation) tidak muncul sama sekali dan Move I (Background information) hanya muncul sebanyak 3 kali dalam bagian pembahasan yang berbahasa Indonesia dan hanya digunakan oleh 2 penulis dari 7 penulis yang diteliti. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pola retorika bagian pembahasan yang berbahasa Indonesia dan bagian pembahasan yang berbahasa Inggris yang ditulis oleh penulis Indonesia yang sama memiliki sedikit perbedaan. Sementara itu, berdasarkan tujuan penelitian ketiga, hasil penelitian menunjukkan bahwa pilihan pola retorika atau struktur move oleh 7 penulis Indonesia bisa dikatakan berasal dari faktor pribadi penulis yang mempelajari pola retorika orang lain, mempercayai kemampuan diri sendiri, memiliki kepercayaan diri yang tinggi, memiliki pengalaman menulis yang banyak, dan memiliki kesadaran dalam penggunaan struktur isi dan pola retorika pada saat menulis sub bagian pembahasan. Para penulis Indonesia ini memiliki pandangan terbuka untuk belajar dan membaca artikel penelitian orang lain dan memutuskan apakah pola retorika tersebut sesuai atau tidak untuk diri mereka sendiri. Awal mula artikel penulis dipublikasikan, dapat membuat penulis menjadi yakin pada diri sendiri dan percaya dirinya tumbuh. Oleh karena itu, para penulis ini berkeinginan menulis artikel penelitian lagi dan membuat penulis menjadi lebih berpengalaman dan memiliki frekuensi menulis yang tinggi. Maka semakin mereka sering menulis, semakin mereka memiliki kesadaran tinggi akan penggunaan stuktur isi dan pola retorika pada saat menulis, khususnya menulis sub bagian pembahasan. Jadi, sadar atau tidak sadar, sebenarnya mereka telah membentuk pola retorika mereka sendiri pada saat menulis artikel penelitian.

Berdasarkan hasil temuan dan pembahasan, maka pertama, peneliti merekomendasi peneliti lain di masa akan datang untuk meneliti tidak hanya satu artikel penelitian yang ditulis oleh penulis yang sama, tetapi lebih dari satu artikel penelitian. Kedua, peneliti menyarankan untuk meneliti lebih dari 7 penulis artikel penelitian. Ketiga, peneliti merekomendasi untuk mewawancarai reviewer/editor dari jurnal-jurnal yang mempublikasi artikel penelitian penulis yang sedang diteliti, dalam usaha mencari informasi sejauh mana reviewer/ editor mempengaruhi pola retorika artikel penelitian tersebut. Keempat, peneliti merekomendasi untuk melaksanakan studi kasus pada penulis Indonesia yang memiliki frekuensi tinggi menulis artikel penelitian. Kelima, peneliti selanjutnya diharapkan meneliti artikel penelitian tidak hanya dilihat dari frekuensinya akan tetapi silikal struktur move dari teks. Keenam, peneliti merekomendasi peneliti lain untuk meneliti artikel penelitian dari bidang ilmu lain seperti, ilmu social, budaya, pengetahuan alam, dan sebagainya dan menyarankan untuk menganalisis artikel penelitian dari jurnal yang tidak terakreditasi juga. Akhirnya, dalam area ELT, peneliti merekomendasi guru dan dosen untuk menggunkan hasil penelitian sebagai referensi untuk mengajar Academic Writing, sedangkan mahasiswa dapat menggunakan hasil penelitian sebagai petunjuk untuk menulis artikel penelitian yang baik.