DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Mahalabiu dalam Interaksi Masyarakat Banjar. Disertasi. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana.

Noorbaity . Noorbaity

Abstrak


ABSTRAK

 

Noorbaity. 2015. Mahalabiu dalam Interaksi Masyarakat Banjar. Disertasi. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M. Pd., (2) Prof. Dr. Suyono, M. Pd., (3) Prof. Dr. Rustam Effendi, M.Pd.

 

Kata Kunci: mahalabiu, interaksi, masyarakat Banjar

 

Dalam interaksi masyarakat Banjar terdapat suatu fenomena yang cukup menarik untuk diteliti, yaitu mahalabiu. Mahalabiu merupakan tuturan yang maknanya menyimpang dari makna sebenarnya karena penggunaan homonimi atau ungkapan yang bermakna baru, permainan bahasa, dan plesetan untuk mengecoh lawan tutur. Selain itu, mahalabiu juga dimunculkan oleh pengguna bahasa Banjar untuk bergurau (berkelakar) atau memberi warna agar menarik dalam berinteraksi.

Fokus penelitian ini adalah eksplorasi dan mengkaji bentuk tuturan mahalabiu dalam wacana interaksi masyarakat Banjar, konteks mahalabiu dalam wacana interaksi masyarakat Banjar, dan fungsi mahalabiu dalam wacana interaksi masyarakat Banjar.  Dari segi teoritis penelitian ini berguna untuk memaparkan bentuk seni berbahasa dalam bahasa Banjar yang berhubungan dengan etnografi komunikasi dan bersifat pragmatis. Manfaat praktis dapat menjadi bahan pembelajaran pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah, khususnya  muatan lokal tentang seni berbahasa dalam bahasa Banjar. 

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dengan ancangan etnografi komunikasi dan pragmatik. Etnografi komunikasi, menyoroti tuturan mahalabiu yang merupakan fenomena budaya etnis Banjar. Prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif seperti ucapan, tulisan, atau prilaku yang diamati dari orang-orang yang diteliti. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri ditambah bantuan orang lain.

Mahalabiu dalam wacana interaksi masyarakat Banjar  termasuk tradisi lisan yang berfungsi sebagai media pendidikan nilai dan media komunikasi budaya bagi masyarakat Banjar. Bentuk mahalabiu tersebut meliputi   (1) ambiguitas meliputi (a) ambiguitas tingkat fonetik, (b) ambiguitas tingkat gramatikal, (c) ambiguitas dalam tataran frasa dan ambiguitas dalam tataran kalimat; (2) homonim meliputi (a) homonim antarkata, (b) homonim antarfrasa, (c) homonim antar kalimat; (3) tebak-tebakan meliputi (a) pertanyaan cerdik (clever question), (b) tebak-tebakan permasalahan (problem of puzzle), (c) tebak-tebakan perangkap (catch question), (d) tebak-tebakan berupa lelucon (riddle joke); (4) mahalabiu dibentuk dengan bahasa daerah meliputi (a) bahasa Kapuas, (b) bahasa Jawa, (c) bahasa Betawi, (d) bahasa Sunda, (e) bahasa Batak; (5) mahalabiu dibentuk dengan bahasa Indonesia, (6) mahalabiu dibentuk dengan bahasa asing meliputi (a) bahasa Arab, (b) bahasa Inggris, (c) bahasa Cina dan (d) bahasa Jepang; (7) mahalabiu dibentuk dengan idiom bahasa Banjar; (8) mahalabiu dibentuk dengan karmina bahasa Banjar; (9) mahalabiu dibentuk dengan desiksis meliputi (a) deiksis persona, (b) deiksis waktu, dan (c) deiksis tempat; (10) mahalabiu dibentuk dengan plesetan meliputi (a) permainan kata, (b) plesetan oposisi; (11) mahalabiu dibentuk dengan gaya bahasa meliputi (a) gaya bahasa sinisme dan (b) gaya bahasa personifikasi.

Konteks mahalabiu  meliputi (1) konteks pendidikan agama, (2) konteks yang berhubungan dengan profesi, (3) konteks yang berhubungan dengan nama, (4) konteks yang berhubungan dengan sandang, (5) konteks yang berhubungan dengan pangan (makanan), (6) konteks yang berhubungan dengan tempat, (7) konteks yang berhubungan dengan binatang, (8) konteks yang berhubungan dengan tumbuhan (buah-buahan), (9) konteks yang berhubungan dengan telur, (10) konteks yang berhubungan dengan matematika, (11) konteks sindiran, (12) konteks khawatir, (13) konteks mempersilakan, (14) konteks bertanya, (15) konteks saran, (16) konteks yang berhubungan dengan kesehatan, (17) konteks yang berhubungan dengan kelahiran, (18) konteks erotis, dan (19) konteks yang berhubungan dengan makhluk halus.

Fungsi mahalabiu meliputi (1) sarana pendidikan agama, (2) sebagai media pendidikan, (3) sebagai pencerahan masyarakat, (4) sebagai sarana mempererat budaya, (5) sarana menambah keakraban, (6) sarana menguji kemampuan, (7) menanamkan nilai budaya, (8) sebagai media pendidikan, dan (9) berfungsi untuk menghibur.