DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

KONSTRUKSI IDEOLOGI DALAM WACANA KEAGAMAAN JARINGAN ISLAM LIBERAL (JIL)

.FIRMAN .FIRMAN

Abstrak


ABSTRAK

 

Firman. 2015. Konstruksi Ideologi dalam Wacana Keagamaan Jaringan Islam Liberal (JIL). Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Promotor: (1) Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd., (2) Prof. Dr. Dawud, M.Pd., (3) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd.

 

Kata Kunci: konstruksi, ideologi, wacana, kosakata, gramatika, struktur teks.

 

Wacana keagamaan dapat memuat ideologi tertentu yang bertujuan mempengaruhi pikiran pembacanya. Pemahaman tersebut selaras dengan pandangan wacana kritis bahwa wacana dapat diberdayakan untuk kepentingan tertentu, yakni ideologi. Hal ini terbukti dalam wacana keagamaan yang diproduksi oleh kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL). Dari sudut pandang ideologi, wacana keagamaan JIL digunakan membungkus kepentingan tertentu, yakni menawarkan cara berpikir inklusif, pluralis, dan liberal melalui paham pluralisme agama. Fakta tersebut dapat dikenali dari fitur-fitur kebahasaan, yakni kosa kata, gramatika, dan struktur teks yang diproduksi oleh JIL.

Dengan dasar pertimbangan tersebut, penelitian ini dimaksudkan untuk  mendeskripsikan dan menjelaskan. Pertama, konstruksi ideologi wacana keagamaan JIL melalui kosakata. Kedua, konstruksi ideologi wacana keagamaan JIL melalui gramatika. Ketiga, konstruksi ideologi wacana keagamaan JIL melalui struktur teks. Untuk mendeskripsikan konstruksi ideologi wacana keagamaan JIL tersebut digunakan pendekatan kualitatif dengan model analisis wacana kritis.

Sumber data penelitian ini berupa teks-teks yang dihasilkan dan dipublikasikan JIL melalui laman (website) www.islamlib.com yang berupa artikel, reportase, komentar, siaran pers, dan rubrik. Data yang diperoleh setelah dilacak dengan kegiatan membaca berulang dan mendalam berupa kosakata, kalimat, dan paragraf. Selanjutnya, data yang telah terkumpul diidentifikasi, dipaparkan, dan dianalisis sesuai dengan kebutuhan fokus penelitian. Hasil analisis dideskripsi, diinterpretasi, dan dieksplanasi untuk menyimpulkan hasil penelitian.

Berdasarkan hasil analisis data terhadap wacana JIL maka ditemukan fitur-fitur bahasa yang digunakan oleh penulis teks untuk mengonstruksi ideologi. Adapun fitur-fitur kebahasaan yang digunakan berupa (1) kosakata, (2) gramatika, dan (3) struktur teks. Kosakata berwujud klasifikasi, leksikalisasi, relasi makna, dan metafora. Gramatika berwujud modus kalimat, modalitas, pronomina persona, dan pemasifan. Struktur teks berwujud konvensi interaksional dengan pengontrolan partisipan dan penataan, dan pengurutan teks. Konvensi interaksional berwujud penegasan, pengarahan topik, dan formulasi. Penataan dan pengurutan teks berwujud pola umum dan pola pengembangan.

Pertama, kosakata digunakan mengonstruksi ideologi pluralisme dan liberalisme dengan kata-kata yang diperjuangkan melalui klasifikasi, leksikalisasi, relasi makna, dan metafora. Klasifikasi yang digunakan mewujud pada kosakata yaitu hak individu, kebenaran tidak mutlak, kehendak Tuhan, dan penafsiran kitab suci yang bersifat relatif. Leksikalisasi yang menunjukkan adanya pemberdayaan kosa kata yakni beragama, sekuler, teks suci, tidak suci, konstitusi, adil, dan konteks. Relasi makna yang digunakan dalam mengonstruksi ideologi JIL yakni, antonimi, sinonimi, dan hiponimi. Metafora yang digunakan dalam mengonstruksi ideologi yakni “baju”, “raja”, “tumbuh subur”, “campur tangan”, “turun tangan”, “menindas”, “dirampas”, “berkarat”, “syahwat”, “menundukkan”, “cair”, “impor”, dan “perkawinan silang”.

Kedua, gramatika yang digunakan mengonstruksi ideologi JIL melalui modus kalimat, modalitas kalimat, pronomina persona, dan bentuk pemasifan. Modus kalimat yakni deklaratif, imperatif, interogatif, dan obligatif. Modalitas kalimat yang digunakan dalam mengonstruksi ideologi JIL, yakni modalitas relasional, dan modalitas ekspresif. Pronomina persona yang digunakan dalam mengonstuksi ideologi JIL, yakni strategi kehadiran diri dalam kalimat dengan pronomina persona “saya”, dan “kita”. Bentuk pemasifan yang digunakan dalam mengonstruksi ideologi JIL, yakni verba “di-“.

Ketiga, struktur teks yang digunakan dalam mengonstruksi ideologi dalam wacana JIL yakni konvensi interaksional, dan penataan teks. Konvensi interaksional yakni pengontrolan partisipan berupa penegasan, pengarahan topik, dan formulasi. Penataan teks yang digunakan dalam mengonstruksi ideologi JIL yakni pola umum, dan pola pengembangan. Adapun pola-pola pengembangan tersebut, yakni pengembangan dengan kalimat topik, pengembangan dengan kalimat pertanyaan, pengembangan dengan definisi luas, dan pengembangan dengan kausalitas.

Keempat, praktik wacana ditunjukkan oleh JIL dengan memanfaatkan media massa sebagai penyebaran ideologi, sedangkan praktik sosial kultural ditunjukkan oleh JIL dengan mengangkat isu yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan beragama masyarakat secara kontekstual. Isu-isu yang ditemukan dalam wacana JIL, yaitu sekularisme dan liberalisme, demokrasi dalam Islam, hubungan negara dan agama, toleransi dalam beragama, perlindungan hak minoritas, kebebasan berpendapat, kesetaran jender, dan gerakan sosial.

Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas jangkauan penelitian dengan mengkaji dua objek pemeroduksi wacana yang memiliki pandangan dan ideologi yang berbeda. Dengan demikian, akan diperoleh bentuk konstruksi ideologi yang menjadi ciri dan karakteristik kelompok yang memproduksi wacana keagamaan melalui media yang berbeda.10.