DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Keefektifan Teknik Bibliotherapy dan Cinemeducation Terhadap Peningkatan Multicultural Awareness siswa SMA

Subekti Masri

Abstrak


ABSTRAK

 

Masri, Subekti 2015 Keefektifan Teknik Bibliotherapy dan CinemeducationTerhadap Peningkatan Multicultural Awareness Siswa SMA.Disertasi, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof.Dr. Bambang Budi Widoyono, M.Pd., (II)Dr. Imanuel Hitipeuw, M.A., (III) Prof. Dr. Hj. Nur Hidayah, M.Pd.

 

Kata kunci: teknik bibliotherapy, teknik cinemeducation, multicultural awareness.

 

Kondisi yang terjadi di Indonesia dengan adanya konflik yang berhubungan dengan agama dan etnis telah membawa perubahan berbangsa dan bernegara.Masyarakat harus memilikimulticultural awareness untuk membanguncognitive,attitudes/beliefs dan skillsbudaya sehingga tercipta ketertiban dan keamanan.Oleh karena itu perlu pendidikan multicultural dilakukan di sekolah sehingga siswa sejak dini diberikan pemahaman tentang multicultural.Tujuan penelitian untuk mengetahui keefektifan teknik bibliotherapy dan cinemeducation terhadap peningkatan multicultural awareness siswa.

Penerapan teknik bibliotherapy dan cinemeducation merupakan teknik konseling yang dapat diterapkan dalam meningkatkan multicultural awareness.Bibliotherapy adalah teknik konseling yang menggunakan cerita sebagai media untuk mengubah perilaku seseorang dengan cara merefleksikan diri mereka denganisi cerita, sedangkan cinemeducation adalah teknik konseling, dimana film dijadikan mediauntuk mengubah perilaku siswa. Kedua teknik ini digunakan di SMA agar para siswa mampu berinteraksi dengan teman yang berbeda etnis dan agama, sehingga muncul perilaku multicultural awareness baik di lingkungan sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat.

Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen single-subject dengan desain multiple baseline accros subject.Subjek penelitian diberi intervensi sekaligus sebagai kontrol penelitian.Penelitian terdapat empat subjek yaitu LIP, CDN, MTA dan DMC.Subjek penelitian dipilih berdasarkan pada skor skala multicultural awareness yang memiliki tingkat kesadaran rendah selain itu juga berdasarkan hasil wawancara dengan guru.Penelitian ini menggunakan analisis visual grafik, yang terdiri dari fase baseline, intervensi cerpen dan film.Analisis dilakukan dalam kondisi dan diluar kondisi seperti pada fase baseline dan fase baseline intervensi cerpen dan film.

Hasil analisis grafik dan tabel pada kondisi baseline menunjukkan perilaku multicultural awareness pada level stabil rendah, tetapi pada intervensi cerpen dan film mengalami peningkatan perilaku secara umum pada level sedang setelah diberikan  teknikbibliotherapy dan cinemeducation. Perubahan rata-rata dari setiap subjek mengalami peningkatan yang bervariasi. Perilaku LIP untuk intervensi cerpen sebesar 29,25 poin dan 23,75 poin untuk intervensi film, sedangkan CDN mengalami peningkatan sebesar 26poin untuk intervensi cerpen dan  21,25 poin untuk intervensi film. MTA mengalami peningkatan sebesar 20poin untuk intervensi cerpen dan 27 poin untuk intervensi film dan DMC mengalami peningkatan untuk intervensi cerpen sebesar 23,5 poin dan 32,5 poin untuk intervensi film. Intervensi cerpen tertinggi ke terendah adalah LIP, CDN, MTA, DMC dan Intervensi film tertinggi ke terendah adalah DMC, MTA, LIP dan CDN sedangkan peningkatan intervensi yang diberikan teknik bibliotherapy terlebih dahulu dilanjutkan cinemeducation sebesar   25,05 poin untuk LIP dan CDN, sedangkan peningkatan intervensi yang diberikan teknik cinemeducationterlebih dahulu dilanjutkan bibliotherapy sebesar 25,75 poin untuk MTA dan DMC.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka disarankan kepada guru BK dan guru mata pelajaran untuk menerapkan teknik bibliotherapy dan cinemeducationdalam proses konseling dan proses pembelajaran. Kepada peneliti lain disarankan: (a) mencoba masalah-masalah yang baru yang berhubungan dengan multicultural, (b) menerapkan teknik konseling lain seperti teknik role playing. Learning experiential dan lain-lain, (c) menggunakan desain lain selain single subject design seperti quasiexperiment. (d) penelitianditindak lanjuti di sekolah selain tingkat SMA, (e) menggunakan media lain selain cerpen dan film seperti bermain game, gambar dan lain-lain  dan (f) menyertakan variabel-variabel moderator untuk memperkaya penelitian.