DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

DEFRAGMENTING STRUKTUR BERPIKIR SISWA IMPULSIF PADA MASALAH GEOMETRI BANGUN RUANG

Sandha Soemantri

Abstrak


ABSTRAK

 

Soemantri, Sandha. 2015. Defragmenting Struktur Berpikir Siswa Impulsif pada Masalah Geometri Bangun Ruang. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. H. Toto Nusantara, M.Si., (2) Dr. Abdul Qohar, M.T.

 

Kata Kunci: defragmenting, masalah geometri, siswa impulsif, struktur berpikir

 

Hasil survey dari PISApada tahun 2012 menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 65 negara partisipan dengan rata-rata skor matematika 375.Padahal rata-rata skor negara partisipan pada tiga edisi terakhir adalah 494, 496, dan 501.Hal ini berbanding lurus dengan kondisi siswaSMP Muhammadiyah 13Surabaya dalam menyelesaikan masalah geometri.Berdasarkan hasil tersebut, diperkirakan bahwa banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah matematika, khususnya yang membutuhkan penalaran tinggi.

Salah satu faktor yang mempengaruhi kecermatan siswa dalam menganalisa masalahadalah gaya kognitif siswa (Rozencwajg & Corroyer, 2005). Kagan (1986) mengelompokkan gaya kognitif anak menjadi 2 kelompok, yaitu: reflektif dan impulsif. Anak yang memiliki karakteristik cepat dalam menjawab masalah, tetapi kurang cermat, sehingga jawaban cenderung salah, disebut anak yang bergaya kognitif impulsif. Anak yang memiliki karakteristik lambat dalam menjawab masalah, tetapi cermat atau teliti, sehingga jawaban cenderung benar, disebut anak yang bergaya kognitif reflektif.

Penelitian ini bertujuan untukmendeskripsikan bagaimana defragmentingstruktur berpikir siswa impulsif dalam menyelesaikan masalah bangun ruang. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan kepada individu mulai dari mendiagnosis kesulitan melalui peta kognitif struktur berpikir siswa hingga upaya pemberian scaffolding. Subjek penelitian pada penelitian ini terdiri dari 6 siswayang berasal dari 3 kelompok yang berbeda.

Dengan menggunakan instrumen MFFT (Warli, 2010), siswa dikelompokkan dalam siswa reflektif atau impulsif. Untuk memperbaiki struktur berpikir siswayang mengalami kesulitan, pemberian scaffolding dilakukan secara individu dan bergantian. Fokus scaffolding yang diberikan adalah scaffolding level ketiga yaitu developing conceptual thinking(Anghileri, 2006). Pasca pemberian scaffolding, subjek yang mengalami kesulitan berhasil mengubah struktur berpikirnya ke arah yang tepat sehingga mampu mendapatkan jawaban yang tepat.

Berdasarkan hasil penelitian diatas, peneliti memberikanbeberapa saran kepada guru atau peneliti berikutnya, yaitu antara lain:(1) penjelasan langkah-langkah pengerjaan soal, terutama soal cerita, sebaiknya dipaparkan secara jelas dan lebih rinci., (2) Perlunyapemahaman gaya kognitif siswa, agar perlakuan terhadap siswa lebih tepat sasaran., (3) Membiasakan siswa agar mau berkomunikasi dengan guru atau rekan sebaya untuk mengungkapkan setiap kesulitan yang dihadapi dalam menyelesaikan suatu masalah.