DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PEROLEHAN KALIMAT BAHASA INDONESIA DALAM KARANGAN NARASI SISWA KELAS III SEKOLAH DASAR NEGERI 2 PURWANEGARA, PURWOKERTO UTARA, BANYUMAS

Kuntoro Kuntoro

Abstrak


ABSTRAK

 

 

PEROLEHAN KALIMAT BAHASA INDONESIA

DALAM KARANGAN NARASI SISWA KELAS III

 SEKOLAH DASAR NEGERI 2 PURWANEGARA,

PURWOKERTO UTARA, BANYUMAS

 

Kuntoro*; H. Suparno; H. Abdul Syukur Ibrahim; dan Sunaryo HS

Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana Universitas Negeri Malang

*Universitas Muhammadiyah Purwokerto

 

Abstrak: Penelitian ini memaparkan: perolehan kalimat bahasa Indonesia siswa kelas

III Sekolah Dasar Negeri 2 Purwanegara, Purwokerto, Banyumas dengan fokus pada:

(1) perolehan kalimat tunggal dan (2) perolehan kalimat majemuk. Data penelitian ini

adalah satuan gramatikal: kalimat dan klausa yang terdapat pada wacana/teks

karangan siswa kelas III SD Negeri 2 Purwanegara, Purwokerto. Sumber data

penelitian ini adalah karangan narasi siswa kelas III SD Negeri 2 Purwanegara,

Purwokerto. Data dikumpulkan dengan teknik simak dan catat (baca dan catat), yakni

membaca karangan siswa dengan cara saksama dan dilanjutkan dengan mencatat data

dalam kartu data. Data dianalisis dengan menggunakan metode (a) metode padan dan

(b) metode agih. Perolehan kalimat bahasa Indonesia siswa mencakup penguasaan (1)

kalimat tunggal meliputi (a) pola dasar kalimat tunggal mayor dan (b) pola turunan

kalimat mayor, (c) pola kalimat minor dan (2) kalimat majemuk mencakup (a)

penguasaan pola kalimat majemuk setara, (b) kalimat majemuk bertingkat, dan (c)

kalimat majemuk campuran. 

 

        Kata Kunci: perolehan, kalimat, siswa kelas tiga sekolah dasar

 

Abstract: The research described the acquisition of Indonesian sentences among the

third graders of Sekolah Dasar Negeri 2 Purwanegara, Purwokerto Utara, Banyumas,

focusing on: (1) acquisition of simple sentences, (2) acquisition of complex sentences.

The data of this research were grammatical units: sentence and clause contained in

discourse/text composition written by the elementary school students of the third

grade in Purwokerto. The data source was the narrative composition made by the

students of that school. The data were collected through techniques of reading and

note-taking, namely reading the composition carefully and taking notes on data cards.

The data was analyzed by using the methods of: (1) comparing method, i.e

determining the identity of lingual units by referring to a certain constituent: (a)

referrential, (b) addressee; (2) distribution method, a basic distribution of immediate

constituents, by (a) deletion technique, (b) substitution technique, (c) extention

technique, (d) invertion technique, and (e) modification technique. The acquisition of

Indonesian sentences includes simple and complex sentence. The acquisition of

simple sentences includes: (a) basic pattern of major simple sentence and (b) derived

pattern of major simple sentence, and (c) minor sentence. The acquisition of complex

sentence includes (1) acquisition of compound sentence, (2)  acquisition of complex

sentence, and (3) acquisition of compound-complex sentence.

 

Key Words: acquisition, sentence, narrative writing, the third graders of an elementary school  

1

 

Perolehan kalimat bahasa Indonesia siswa kelas tiga Sekolah Dasar Negeri

2 Purwanegara, Purwokerto, Banyumas merupakan wujud kemampuan siswa

dalam membentuk kalimat tunggal maupun kalimat majemuk. Pembentukan

kalimat tersebut berupa pola-pola kalimat, tidak hanya pola fungsi tetapi pola

fungsi maupun peran. Oleh karena itu, penelitian berfokus pada (1) perolehan

kalimat tunggal dan (2) perolehan kalimat majemuk. Perolehan kalimat tunggal

mencakup (a) pola kalimat tunggal mayor dan (b) pola kalimat tunggal minor.

Perolehan pola kalimat tunggal mayor mencakup (i) pola dasar kalimat tunggal

mayor dan (ii) pola turunan kalimat tunggal mayor. Perolehan kalimat majemuk

mencakup (1) pola kalimat majemuk setara, (2) pola kalimat majemuk bertingkat

dan (3) pola kalimat majemuk campuran. Pola kalimat majemuk setara mencakup

(a) pola kalimat majemuk setara rapatan dan (b) pola kalimat majemuk setara tak

rapatan.    

Dalam konteks penelitian ini, yang dimaksud kalimat adalah bagian ujaran

yang tidak menjadi bagian dari bentuk yang lebih besar atau dalam posisi absolute

(Bloomfield, 1933), atau bagian ujaran yang didahului kesenyapan awal dan diikuti

kesenyapan akhir serta intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah

lengkap dan selesai (Keraf, 1983). Fungsi adalah tempat kosong yang diisi oleh

kategori sebagai pengisi bentuk dan peran sebagai pengisi makna. Fungsi

mencakup subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan (Verhaar, 1978;

Sudaryanto (Ed.), 1991). Peran pengisi fungsi dari segi makna (Verhaar, 1978).

Pembentukan kalimat tunggal tersebut berkaitan dengan (1) pengisian fungsi

sintaktis dengan kategori dan peran tertentu, (2) pengisian dua, tiga, atau empat

fungsi wajib hadir dalam kalimat, (3) pengisian peran pada predikat verba sebagai

penentu kehadiran fungsi lain, serta penentu (a) hubungan antara predikat dengan

subjek, dan (b) hubungan antara predikat dengan objek, (4) pengisian peran pada

predikat nonverba sebagai penentu hubungan antara predikat dengan subjek.

Pembentukan kalimat majemuk berkaitan dengan kemampuan: (1) menggabungkan

dua klausa atau lebih, (2) penggunaan konjungsi sebagai pembangun hubungan

2

 

baik hubungan koordinatif, subordinatif, maupun hubungan koordinatif dan

subordinatif, (3) penempatan dan urutan klausa koordinatif dan subordinatif.

 

METODE

 

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Hal ini didasarkan

pada (1) data penelitian ini adalah kalimat yang dihasilkan siswa dalam

penggunaan bahasa alamiah, yakni  bahasa tulis karangan narasi, (2) analisis data

dilakukan dengan menekankan pada fenomena penggunaan atau perolehan kalimat,

yakni (a) perolehan kalimat tunggal baik kalimat tunggal mayor maupun kalimat

minor dan (b) perolehan kalimat majemuk baik kalimat majemuk setara, majemuk

bertingkat, maupun majemuk campuran.

Data penelitian ini adalah satuan gramatikal: kalimat dan klausa yang

terdapat pada wacana/teks karangan siswa kelas tiga Sekolah Dasar Negeri 2

Purwanegara, Purwokerto. Sumber data penelitian ini adalah karangan narasi siswa

kelas tiga Sekolah Dasar Negeri 2 Purwanegara, Purwokerto.

Data dikumpulkan dengan teknik simak dan catat (baca dan catat), yakni

membaca karangan siswa dengan cara saksama dan dilanjutkan dengan mencatat

data dalam kartu data. Untuk menjaring data yang tepat digunakan instrumen yang

berupa parameter penentuan kalimat tunggal dan kalimat majemuk, serta penentuan

pola kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Data dianalisis dengan menggunakan

metode (1) metode padan yakni menetapkan identitas satuan lingual dengan

mengacu pada unsur penentu: (a) referensial, (b) mitra wicara, dan (2) metode agih

(metode distribusional), teknik dasar bagi unsur langsung, dengan (a) teknik lesap,

(b) teknik ganti, (c) teknik perluas, (d) teknik balik, dan (e) teknik ubah ujud.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Pola Dasar Kalimat Tunggal Mayor

Pembentukan pola dasar kalimat tunggal mayor merupakan wujud

pengisian dua, atau lebih fungsi dan peran sintaktis yang wajib hadir dalam

kalimat. Pola dasar kalimat tunggal mayor mencakup (1) pola S-P meliputi: (a)

3

 

S/ag-P/ak, (b) S/pengl-P/sta, (c) S/identr-P/identf, (2) pola S-P-O dengan pola

peran (a) S/ag-P/ak-O/ps, (3) S-P-Pel meliputi: (a) S/ag-P/ak-Pel/ps, (b) S/ag-P/akPel/lok,

(c)

S/ag-P/ak-Pel/resp,

(d)

S/ag-P/ak-Pel/reslt.

 

 

 

 

 

Pola S-P

Pembentukan kalimat dengan pola S-P mencerminkan kemampuan siswa

menyusun kalimat dengan menampilkan dua fungsi wajib, yakni subjek dan

predikat. Hal tersebut sejalan dengan perkembangan sintaksis bahasa anak, bahwa

anak-anak memulai menyusun kalimat dengan dua kata atau disebut tata bahasa

pivot, urutan kedua kata tersebut memiliki hubungan: perbuatan-pelaku, pelakuobjek,

 

perbuatan-objek. (Brown, 1973) (Dardjowidjojo, 2010:250). Pola S-P

menjadi bervariasi berkait dengan pengisian predikat oleh kategori dan peran

kalimat. Berkaitan dengan pengisian predikat tersebut, penggunaan kalimat tunggal

dengan pola dasar S-P mencakup  pengisian (1) predikat verba aktif terlihat pada

pola S/ag-P/ak, (2) predikat dengan verba statif terdapat pada pola S/pengl-P/sta,

(3) predikat dengan verba proses terdapat pada pola S/prs-P/pr, (4) predikat dengan

adjektif (kata sifat) terdapat pada pola S/pengl-P/sta, (5) predikat dengan nomina

terdapat pada pola S/identr-P/identf, (6) predikat dengan frasa preposisi (kata

depan) terdapat pada pola S/pengl-P/sta. Penyusunan kalimat dengan pola S-P

dengan predikat  tersebut dari segi kategorial mencerminkan pemolaan sebagai

berikut: (a) KB-KK, (b) KB-KS, (c) KB-KB, (d) KB-KD, (e) KB-Kbil. Pola

kategorial tersebut relevan dengan pengelompokan kalimat dasar bahasa Indonesia

(Ramlan, 2005:93; Samsuri, 1978:238-246; Keraf, 1980:147). Berkait dengan pola

peran kalimat, pola peran kalimat dasar mencakup: S/ag-P/ak, Spengl-P/sta, S/prsP/pr,

 

S/identr-P/identf relevan dengan pola peran kalimat  bahasa Indonesia.

Ramlan (2005) menyebut pengisian peran tersebut dengan makna unsur (fungsi)

kalimat.  

Kemampuan menyusun kalimat dengan pola S-P tidak hanya dengan

pengisian peran predikat ‘aktif’dan peran ‘agen’ pada subjek, tetapi pengisian

predikat verba ‘statif’ verba yang menyatakan keadaan dan subjek nomina berperan

4

 

‘pengalami’, serta pengisian predikat dengan verba ‘proses’ dan subjek dengan

nomina berperan ‘pengalami’. Dengan demikian, terbentuk pola kalimat S/penglP/sta

dan

S/prs-P/pr.

 

Kemampuan menyusun kalimat dengan pola S/identr-P/identf merupakan

kemampuan menyejajarkan nomina pengisi subjek dan nomina pengisi predikat.

Kedua nomina itu memiliki nilai yang sama, atau menyatakan maujud yang sama,

yakni subjek sebagai satuan yang diidentifikasi dan predikat sebagai satuan yang

mengidentifikasi. Moeliono (Ed.), (1988:268) menyebutkan kalimat yang

predikatnya nominal disebut kalimat ekuatif.  

 Pengisian predikat dengan kategori verba  (bukan pasif) berkaitan dengan

penggunaan kalimat (1) kalimat intransitif (tak transitif), (2) kalimat transitif:

kalimat ekatransitif dan kalimat dwitransitif, (3) kalimat semitransitif (Moeliono,

(Ed.), 1988:271). Oleh karena itu, berkaitan dengan pengisian predikat verba, pola

kalimat dasar  dikembangkan menjadi (1) S/KB-P/KK, (2) S/KB-P/KK-O/KB, (3)

S/KB-P/KK-O/KB-O/KB (Parera, 1980: 19-20).

Dengan demikian, kemampuan menyusun pola S/ag-P/ak berkaitan

dengan kemampuan memilih verba intransitif, yakni verba sebagai pengisi predikat

yang tidak memerlukan kehadiran fungsi pendamping kanan (objek atau

pelengkap); kemampuan memilih verba transitif, yakni verba sebagai pengisi

predikat yang memerlukan kehadiran pendamping kanan (objek atau pelengkap);

dan kemampuan memilih verba semitransitif, yakni verba yang  memunculkan

kehadiran pendamping kanan bersifat manasuka.  

 

Pola S-P-O

Penyusunan kalimat tunggal dengan pola dasar S-P-O mencerminkan

penguasaan siswa menyusun kalimat transitif dengan tiga fungsi wajib hadir, yakni

subjek, predikat, dan objek. Pola S-P-O terdapat pada S/ag-P/ak-O/ps. Objek

dengan peran ‘pasien’ pada kalimat adalah objek yang wajib hadir. Peran ‘aktif’

sebagai pengisi predikat biasanya berdampingan dengan ‘agen’ sebagai pengisi 

5

 

subjek (Sudaryanto, Ed. 1991:151). Peran selain ‘pasien’ sebagai pengisi objek

tidak terdapat dalam karangan siswa. 

Pola S-P-O1-O2 dengan objek berperan ‘benefaktif’ dan objek berperan

‘agen’ tidak muncul dalam karangan siswa. Akan tetapi, muncul dalam kalimat

bentuk pasif dengan subjek berperan ‘benefaktif’ atau ‘reseptif’. 

 

Pola S-P-Pel

Penggunaan kalimat tunggal dengan pola dasar S-P-Pel,  meliputi: (iia)

S/ag-P/ak-Pel/ps, (iiib) S/ag-P/ak-Pel/lok, (iiic) S/ag-P/ak-Pel/resp, (iiid) S/agP/ak-Pel/reslt.

 

Pengisi peran pada pelengkap pada pola S-P-Pel meliputi peran

‘pasien’, ‘lokatif’, ‘reseptif’, dan ‘resultatif’.  

 

Pola Turunan Kalimat Tunggal Mayor

Pola Perluasan dengan Penambahan Keterangan

Penyusunan kalimat tunggal turunan dapat dilakukan dengan: (1)

memperluas kalimat dasar dengan menambah fungsi keterangan, (2) pembentukan

pasif, dan (3) penghilangan unsur wajib yang lain atau hanya menghadirkan satu

unsur inti . Pola dasar kalimat tunggal dengan predikat verba (Parera, 1980: 19-20)

sebagaimana tersebut di atas, dapat dijadikan dasar perluasan (pembentukan)

kalimat turunan. 

Penyusunan pola turunan kalimat tunggal mayor berkaitan dengan

kemampuan: (1) memperluas kalimat dasar tunggal dengan menambahkan unsur

keterangan, (2) memodikasi urutan atau mempermutasikan fungsi keterangan; (3)

mengubah  bentuk aktif ke dalam bentuk pasif.

Pola perluasan dengan penambahan fungsi keterangan tampak pada: (a)

perluasan pola S/ag-P/ak dengan (1) penambahan satu fungsi keterangan yakni

keterangan ‘temporal’, ‘lokatif’, dan ‘cara’ sebagaimana pola: (ia) S/ag-P/akKet/tem,

 

(ib) S/ag-P/ak-Ket/lok, (ic) S/ag-P/ak-Ket/cr; (2) penambahan dua fungsi

6

 

keterangan, sebagaimana pola (iia) S/ag-P/ak-Ket/cr-Ket/tem, (iib) S/ag-P/akKet/lok-Ket/cr;

 

 

Sesuai dengan ciri fungsi keterangan yang dapat dipermutasikan secara

bebas, pembentukan kalimat turunan siswa dilakukan dengan menambah

keterangan pada letak kiri predikat (iii) S-Ket-P, yakni (iiia) S/ag-Ket/tem-P/ak,

letak kiri dan kanan predikat (iv) S-Ket-P-Ket, yakni (iva) S/ag-Ket/lok-P/akKet/tem,

 

(ivb) S/ag-Ket/lok-P/ak-Ket/cara, (ivc) S/ag-Ket/lok-P/ak-Ket/lok, letak

kanan pelengkap (v)S-P-Pel-Ket, yakni (va) S/ag-P/ak-Pel/ps-Ket/tem; letak kiri

subjek (vi) Ket-S-P-Pel, yakni (via) Ket/tem-S/ag-P/ak-Pel/ps, (vii) Ket-S-P-PelKet,

yakni

 

(viia)

Ket/tem-S/ag-P/ak-Pel/ps-Ket/cr;

(viii)

Ket-S-P-Ket,

yakni

(viiia)

 

Ket/lok-S/ag-P/ak-Ket/cr,

 

(viiib) Ket/tem-S/ag-P/ak-Ket/lok (viiic) Ket/tem-S/agP/ak-Ket/cara;

(ix)

Ket-S-P-Ket-Ket,

yakni

(ixa)

Ket/tem-S/ag-P/ak-Ket/lok-Ket/cr.

 

(b)

Perluasan

Pola

S/pengl-P/sta

meliputi

(i)

S-Ket-P.

(ia)

S/pengl-Ket/lok-P/sta.

 

(ii)

Ket-P-S.

(iia)

Ket/lok-P/sta-S/pengl.

(iib)

Ket/tem-P/sta-S/pengl.

(c)

Perluasan

 

S/ag-P/ak-O/ps.

meliputi

(i)

S-P-O-Ket,

(ia)S/ag-P/ak-O/ps-Ket/lok,

(ii)

S-Ket-P-O,

 

(iia)

 

S/ag-Ket/lok-P/ak-O/ps, (iii) Ket-S-P-O, (iiia) Ket/lok-S/ag-P/ak-O/ps, (iiib)

Ket/tem-S/ag-P/ak-O/ps, (iv) Ket-S-P-O-Ket, (iva) Ket/tem-S/ag-P/ak-O/psKet/lok.

 

 

 

 

Pola Turunan Kalimat Tunggal Mayor dengan Pembentukan Pasif

Pemakaian bentuk pasif tersebut dapat dilihat dari dua segi, yakni dari segi

bentuk dan dari segi pengisian peran subjek. Dari segi bentuk, terdapat pemakaian

pasif bentuk di- dan pasif bentuk persona (Dardjowidjojo, 2015). Pemakaian

bentuk di- pada karangan siswa di antaranya terdapat pada pola S/ps-P/psf-O/ag;

data (076y) Saya disega ayah., (05i) Saya diganti Rizaldi. Pada subjek ‘benefaktif’

pada pola  S/benef-P/psf-O/ps data (07l) Aku senang dibelikan boneka., seharusnya

muncul objek berperan ‘agen’ tetapi agen tersebut tidak dimunculkan. Bila objek

‘agen’ dimunculkan sebagaimana pola S/benef-P/psf-O1/ps-O2/ag data (016g) Aku

dibelikan sepeda oleh ayah. disertai oleh; struktur S/benef-P/psf-O1/ag-O2/ps

((016g) Aku dibelikan ayah sepeda.  Dari segi pengisian peran terdapat pengisian

7

 

‘pasien’, ‘benefaktif’, dan ‘reseptif’ pada subjek. Dari segi pengisian peran, verba

pasif di- memerlukan kehadiran subjek berperan ‘pasien’ dan objek berperan

‘agen’,  verba pasif di-kan memerlukan kehadiran subjek berperan ‘benefaktif’,

‘reseptif’ dan objek berperan ‘agen’. Akan tetapi, dalam penggunaan kalimat pasif

terdapat kalimat yang tidak menghadirkan peran ‘agen’ seperti pada S/ps-P/psfKet/ins

 

(019d) Aku dilempar pakai bata. (09j) Aku dilempar dengan sabuk., pada

S/benef-P/psf-O/ps (017l) Aku senang dibelikan boneka., pada S/resp-P/psf-O/ps

(05m) Saya diberkahi air minum gratis.  Penghilangan objek berperan ‘agen’

tersebut terjadi karena ‘agen’disebut (diketahui) dalam kalimat sebelumnya yakni

masing-masing kalimat (019c) Orang gila itu marah; (09h) Ayah langsung keluar

dari kamar dan mengambil sabuk di celana kerja ayah. ((017j) Setiap hari

keluargaku membelikan boneka beruang di toko boneka.

Penggunaan bentuk persona terdapat pada pola S/resp-P/psf-Pel/ps data

(015j) Ibu aku kasih dua bungkus. Pada bentuk persona, peran ‘agen’  melekat pada

bentuk persona aku atau ku.

Data tersebut menunjukkan bahwa siswa telah memanfaatkan sarana

kebahasaan khususnya penggunaan bentuk pasif dalam karangan. Oleh karena itu,

meskipun penyusunan kalimat pasif bagi anak lebih sulit dibandingkan dengan

menyusun kalimat  aktif atau kalimat bukan pasif yang lain, siswa telah dapat

menggunakan kalimat pasif (Dardjowidjojo, 2000:238).

Pola turunan kalimat tunggal mayor dalam bentuk pasif (1) S-P-O: (a)

S/ps-P/psf-O/ag, (b) S/benef-P/psf-O/ps, (c) S/benef-P/psf-O1/ps-O2/ag, (2) S-PKet:

 

(a) S/ps-P/psf-Ket/sb. (b) S/ps-P/psf-Ket/ins, (3) S-P-Pel: (a) S/resp-P/psfPel/ps,

(4)

 

Ket-S-P: (a)Ket/lok-S/ps-P/psf, (5) Ket-S-P-Pel: (a) Ket/lok-S/ps-P/psfPel/ag,

(6)

Ket-S-P-O-Ket:

(a)

Ket/tem-S/ps-P/psf-O/ag-Ket/tuj.

 

 

 

Pola Kalimat Minor

Kalimat minor merupakan kalimat yang hanya terdiri dari satu fungsi.

Kalimat minor umumnya berupa (1) kalimat seru (eksklamatori), (2) kalimat

perintah, dan (3) kalimat fragmen atau kalimat yang merupakan jawaban suatu

8

 

pertanyaan dan kalimat aforistis (Bloomfield, 1933:176-177). Kalimat minor yang

digunakan siswa dalam karangan mencakup pola (1) P/sta, (2) P/ak, dan (3) Pel/ps.

Pola P/sta terdapat pada kalimat (07l) Sakit. , yang merupakan pelesapan subjek

saya; dan kalima