DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

STRUKTUR GERAK DALAM WACANA INTERAKSI KELAS DI KELAS X BAHASA SMA NEGERI 5 MALANG

KIFTIAN HADY PRASETYA

Abstrak


ABSTRAK

 

Prasetya, Kiftian Hady. 2015. Struktur Gerak Dalam Wacana Interaksi Kelas di Kelas X Bahasa SMA Negeri 5 Malang. Tesis, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd, (II) Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd.

 

Kata kunci: wacana, interaksi kelas, struktur gerak, fungsi tuturan.

 

Wacana interaksi kelas pada merupakan suatu peristiwa komunikasi dengan corak yang khas dengan didasari oleh konteks interaksi yang melatarinya dan menyebabkan munculnya wacana lisan dengan ciri-ciri tertentu. Wacana interaksi kelas dibentuk oleh rangkaian struktur yang berjenjang. Jenjang atau peringkat struktur tersebut adalah pelajaran (lesson), transaksi (transaction), pertukaran (exchange), gerak (move), dan tindak (act). Pelajaran merupakan peringkat struktur tertinggi dalam interaksi kelas yang terdiri dari rangkaian transaksi. Transaksi meliputi pembukaan, inti, dan penutup dalam pembelajaran yang memuat beberapa pertukaran. Pertukaran merupakan satuan komunikasi yang ditandai dengan adanya gerak pembukaan, gerak penjawaban, dan gerak tindak lanjut yang terdiri atas beberapa tindak yang terefleksikan dalam bentuk-bentuk ujaran.

Fokus penelitian yang dikaji dalam penelitian ini yaitu struktur gerak (gerak pembukaan, gerak penjawaban, dan gerak tindak lanjut) dan fungsi tuturan (fungsi menyatakan, menanyakan, memerintah, dan mengungkapkan) yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam interaksi kelas. Penelitian ini memiliki kepentingan untuk mengetahui bagaimana penggunaan bahasa dan penataan informasi dalam tuturan guru dan siswa yang terimplikasi pada pola-pola struktur gerak dan fungsinya dalam wacana interaksi kelas yang layak dikaji dan menarik untuk dikaji karena memiliki karakteristik yang khas dan berbeda pada tiap interaksi di kelas.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah guru mata pelajaran Bahasa Indonesia Titik Wulandari, S.Pd dan 38 orang siswa kelas X Bahasa SMA Negeri 5 Malang tahun akademik 2014/2015. Data penelitian ini adalah teks dalam konteks. Teks yang dimaksud adalah ujaran atau tuturan guru dan siswa (berupa kata, klausa, dan kalimat yang digunakan dalam berinterkasi) yang terjadi dalam konteks situasi (dalam hal ini pembelajaran di kelas X Bahasa SMA Negeri 5 Malang) dengan berlatar konteks budaya masyarakat Jawa. Data penelitian ini diperoleh dengan menggunakan alat bantu rekam yang berupa handycam dan audio recorder serta catatan lapangan yang selanjutnya ditranskrip, dikelompokkan sesuai dengan fokus penelitian, dimasukkan dalam instrumen pengumpulan data, dan kemudian dianalisis dengan menggunakan ancangan analisis wacana.

Berdasarkan penganalisisan data, ditemukan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, struktur gerak dalam wacana interaksi kelas pada penelitian ini adalah gerak pembukaan, gerak penjawaban, dan gerak tindak lanjut. Gerak pembukaan memuat beberapa tindak tuturan yang berupa pertanyaan sesungguhnya, pertanyaan semu, permintaan manajemen langsung, permintaan manajemen tak langsung, permintaan disiplin langsung, permintaan disiplin tak langsung, informatif partisipan, informatif nonpartisipan, metastatemen, dan ekspresif.

Gerak penjawaban memuat beberapa tindak tuturan yang berupa jawaban partisipan, jawaban nonpartisipan, reaksi verbal, reaksi nonverbal, ucapan terima kasih, pengulangan, dan pemicu ulang. Kemudian, struktur gerak tindak lanjut memuat beberapa tindak tuturan yang berupa penerimaan, penghargaan, pembetulan, komentar, pengulangan, dan parafrase. Kedua, fungsi tuturan berupa (1) fungsi menyatakan yang meliputi fungsi menyatakan informasi dan fungsi menyatakan penjelasan, (2) fungsi menanyakan yang meliputi fungsi pertanyaan untuk inisiasi/ pemicu, fungsi pertanyaan untuk negosiasi/ penawaran, dan fungsi pertanyaan untuk elisitasi/ konfirmasi, (3) fungsi memerintah yang meliputi fungsi menyuruh, fungsi menuntut, fungsi menganjurkan, fungsi melarang, dan fungsi memberi nasihat, serta (4) fungsi mengungkapkan yang meliputi fungsi mengungkapkan rasa senang, mengungkapkan rasa tidak senang, mengungkapkan permintaan maaf, dan mengungkapkan terima kasih.

Dari analisis struktur gerak dan fungsi tuturan tersebut, dibahas mengenai relevansi struktur gerak, dominasi struktur gerak pembukaan, dan hilangnya tindak tuturan yang terjadi dalam wacana interaksi kelas di kelas X Bahasa SMA Negeri 5 Malang. Relevansi struktur gerak dibahas untuk mengetahui penggunaan struktur gerak sebagai penjalin keterhubungan suatu interaksi. Dominasi struktur gerak pembukaan dibahas untuk mengetahui upaya guru dalam mengontrol jalannya suatu interaksi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirancang. Hilangnya tindak tuturan dibahas untuk mengetahui penggunaan tindak tuturan seperti tindak ucapan terima kasih pada gerak penjawaban dan tindak penghargaan pada gerak tindak lanjut yang tidak digunakan oleh guru maupun siswa dalam penelitian ini.

Simpulan akhir, dengan ada dan tidaknya tindak tuturan pada masing-masing struktur gerak yang memiliki fungsi tuturan, hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tindak tuturan pada struktur gerak didasarkan pada (1) perkembangan proses pembelajaran, (2) perkembangan kogintif siswa, dan (3) perilaku dan kebiasaan guru dan siswa. Ada beberapa perilaku berbeda dari guru dalam memusatkan dan mengontrol proses pembelajaran dengan mengalihkan fokus pembelajaran saat pembahasan materi pelajaran sebagai upaya untuk memberikan refleksi kepada siswa agar pembelajaran yang berlangsung tidak terasa kaku dan membosankan. Selain itu, perlu dilakukan penelitian lain untuk memberikan perbandingan pada subjek yang berbeda seperti pelakuan pada dua guru atau lebih dalam kelas yang sama.