DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengembangan Perangkat Pembelajaran dengan Model Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kognitif, Afektif, dan Keterampilan Kerja Ilmiah Siswa Kelas VIII SMP 06 Diponegoro Wuluhan Jember

Imam Bukhori Muslim

Abstrak


ABSTRAK

 

Muslim, I.B, 2015. Pengembangan Perangkat Pembelajaran dengan Model Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kognitif, Afektif, dan Keterampilan Kerja Ilmiah Siswa Kelas VIII SMP 06 Diponegoro Wuluhan Jember. Tesis. Program Studi Pendidikan Biologi. Pascasarjana. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: 1) Prof. Dr. Hj. Mimien Henie Irawati Al Muhdhar, MS., 2) Dr. H. Istamar Syamsuri, M.Pd.

 

Kata Kunci:   Perangkat Pembelajaran, Inkuiri Terbimbing, Hasil BelajarKognitif, Hasil Belajar Afektif, Keterampilan Kerja Ilmiah.

 

Pemerintah selalu memperbaiki dan menyempurnakan kurikulum yang berlaku. Salah satu diantaranya dengan memasukkan model inkuiri terbimbing dalam kurikulum yang ada. Pengembangan perangkat pembelajaran dikhususkan pada permasalahan yang ada di SMP 06 Diponegoro Wuluhan. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk: 1) mengembangkan perangkat pembelajaran yang layak serta dapat digunakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas dan 2) mengetahui efektivitas penggunaan perangkat pembelajaran hasil penelitian dan pengembangan terhadap hasil belajar kognitif, afektif, dan keterampilan kerja ilmiah siswa. Prosedur pengembangan mengadaptasi model pengembangan 4D Thiagarajan (1974) yang terdiri dari tahap define, design, develop, dan disseminate. Namun untuk disseminate tidak dilaksanakan.

Hasil analisis skor penilaian silabus menunjukkan rata-rata persentase penilaian

oleh ahli materi sebesar 90%, ahli perangkat pembelajaran sebesar 76,39%, dan praktisi lapangan sebesar 86,03%. Untuk RPP oleh ahli materi sebesar 86,53%, ahli perangkat pembelajaran 81,73%, dan praktisi lapangan sebesar 86,41%. Untuk hasil penilaian alat penilaian kognitif oleh ahli materi sebesar 96,43%, ahli perangkat pembelajaran 75%, dan praktisi lapangan sebesar 93,75%. Untuk hasil penilaian alat penilaian afektif oleh ahli materi sebesar 93,18%, ahli perangkat pembelajaran 75%, dan praktisi lapangan sebesar 88,89%. Untuk hasil penilaian alat penilaian keterampilan kerja ilmiah oleh ahli materi sebesar 93,18%, ahli perangkat pembelajaran 77,63%, dan praktisi lapangan sebesar 87,5%. Sedangkan untuk hasil penilaian LKS oleh ahli materi sebesar 93,05%, ahli perangkat pembelajaran 86,54%, dan praktisi lapangan sebesar 87,5%.                          

Hasil uji validitas dan reliabilitas soal pilihan ganda sistem gerak menunjukkan soal yang valid berjumlah 17 soal dan yang tidak valid 9 soal dengan nilai koefisien reliabilitas sebesar 0,842. Pada angket self assessment sistem gerak jumlah soal yang valid 48 soal sedangkan yang tidak valid 4 soal dengan nilai koefisien reliabilitas sebesar 0,931. Pada soal pilihan ganda sistem pencernaan jumlah soal yang valid 20 soal sedangkan yang tidak valid 6 soal dengan nilai koefisien reliabilitas 0,840. Sedangkan angket self assessment yang valid 72 soal, sedangkan yang tidak valid 2 soal dengan nilai koefisien reliabilitas sebesar 0,953. Hasil penilaian terhadap LKS menunjukkan rata-rata persentase penilaian

sebesar 78,33%. 

Pada sistem gerak hasil belajar kognitif nilai efektivitasnya sebesar 60,354%, sedangkan pada sistem pencernaan sebesar 21,305%. Pada sistem gerak hasil belajar afektif nilai efektivitasnya sebesar 6,110%, sedangkan pada sistem pencernaan sebesar 9,559%. Untuk keterampilan kerja ilmiah rata-rata skor pada pertemuan 1 sebesar 86,6%, pertemuan 2 sebesar 80,02%, pertemuan 3 sebesar 80,9%, pertemuan 4 sebesar 82,64, pertemuan 5 sebesar 92,22%, dan pertemuan 6 sebesar 90%. Untuk respon siswa pada materi sistem gerak respon positifnya sebesar 95%, sedangkan sistem pencernaan sebesar 97,5%.

Penelitian ini menyarankan bahwa sebaiknya pengembangan perangkat pembelajaran selanjutnya perlu dikaji dan dikembangkan untuk seluruh materi IPA yang ada pada jenjang SMP dan perlu mempertimbangkan model pembelajaran lainnya. Selain itu, perlu adanya diseminasi produk pengembangan ini secara lebih luas oleh berbagai pihak yang berkepentingan.