DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Sosok Manusia Toraja dalam Cerita Rakyat Toraja

Berthin Simega

Abstrak


ABSTRAK

 

Simega,Berthin. 2015 Sosok Manusia Toraja dalam Cerita Rakyat Toraja. Disertasi, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing  (I) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd.,  Pembimbing  (II) Prof. Dr. Maryaeni, M.Pd.,  Pembimbing  (III) Dr. Yuni Pratiwi, M.Pd.

 

Kata Kunci:  manusia Toraja, cerita rakyat Toraja, hermeneutika

 

Cerita Rakyat Toraja (CRT) belum dimanfaatkan secara optimal oleh segenap masyarakat Toraja. Terabaikannya CRT berarti terabaikannya pula salah satu produk budaya masyarakat yang di dalamnya mengandung kearifan lokal yang merepresentasikan identitas diri manusia Toraja. Cerita Rakyat Toraja dapat diposisikan sebagai bacaan penting yang berfungsi sebagai bagian dari sumber pengetahuan generasi muda Toraja. Dengan demikian; pengembangan,pembinaan, dan perlindungan terhadap sastra daerah dengan merujuk pada PP Nomor 157 Tahun 2014 dapat berjalan dengan semestinya.Berdasrkan landasan pemikiran tersebut, kajian ilmiah terhadap CRT penting dilakukan.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan untuk mengungkapkan makna fenomena budaya yang terdapat dalam CRT digunakan pendekatan hermeneutika. Data penelitian ini berupaunit-unit teks yang menyatakan  pemikiran-pemikiran, sikap,  dan  tindakan-tindakan para tokoh cerita dalam CRT yang sesuai dengan fokus masalah.Sumber data  penelitianadalahjuru cerita. Data  dikumpulkan melalui teknik (1) observasi dan (2) wawancara mendalam. Analisis data dilakukan berdasarkan pandangan Huberman dan Millesdengan  tiga tahap kegiatan, yaitu reduksi data, penyajian analisis data dan penarikan kesimpulan.

Temuan penelitian ini berupa gambaran (sosok) manusia Toraja sebagai tokoh cerita yang diidentifikasi melalui orientasi budaya, pandangan dunia dan pandangan hidup, sikap hidup dan gaya hidupnya. Orientasi budaya  manusia Toraja yang ditemukan dalam CRT adalah orientasi budaya spiritual, orientasi budaya tradisional, dan orientasi budaya mitis. Orientasi budaya spiritualmanusia Toraja ditemukan  pada ketaatannya terhadap aluk, ada’ na pemali  (AAP),sikap pasrah pada nasib, dan upaya hidup harmonis dengan alam melalui kesepakatan yang disebut basse.Orientasi budaya tradisional ditemukan melalui sikap tunduk pada  kesepakatan kombongan.Orientasi budaya mitis ditemukan melalui kepercayaannya  padapemali (pantangan/larangan), juga melalui kepercayaan pada fenomena alam yang dapat menyatakan nasib mereka, dan percaya pada keunikan anggota tubuh manusia sebagai pertanda malapetaka.

Pandangan dunia dan pandangan hidup manusia Toraja dalam CRT dikaji dengan melihat hubungan manusia dengan Tuhan/Dewa, dengan alam, dan dengan sesama manusia. Berdasarkan analisis  ditemukan bahwa manusia Toraja percaya kepada Puang Matua (Tuhan Pencipta);kemudian kepada Deata-deata(Dewa-Dewa)yang meliputi Deata Tangnga Langi’menguasai langit dan cakrawala,Deata Kapadangan menguasai seluruh isi permukaan bumi, Deata Tangnga Padangmenguasai segala isi tanah, sungai dan laut;dan percaya kepada To Membali Puang yakni arwah leluhur yang sudah menjadi Deata. Pandangan dunia tersebutmerepresentasikan hierarki spiritualitas yang diyakini manusia Toraja. Manusia Toraja percaya bahwa alam raya (kosmos) melingkupi manusia dan manusia adalah bagian dari alam.  Pandangan dunia seperti ini bersifat kosmosentris. Dalam masyarakat Toraja terdapatkelompok sosial berkedudukan tinggi seperti tominaa, toparengnge’, serta  ambe’ tondok dan pengambilan kebijakan dalam masyarakat dilaksanakan secara musyawarah dan mufakat melalui kombongan. Pandangan dunia manusia Toraja seperti ini bersifat linear—vertikal. Meskipun demikian,  kebijakan atau keputusan dalam memecahkan masaalah  dilakukan dengan cara musyawarah. Tongkonan dipandang oleh manusia Toraja sebagai pusat kegiatan keluarga dan masyarakat. Pandang dunia tersebut bersifat holistik dan integratif.

Manusia Toraja sebagai tokoh dalam CRT berpandangan hidup bahwaAluk, ada’, na Pemali (AAP) adalah tiga pedoman hidup yang perlu dijaga kelestariannya melalui ketaatan manusia Toraja melaksanakan norma-norma yang diatur di dalamnya. Apabila AAP dijalankan dengan baik maka keberhasilan dan kedamaian akan didapatkan, sebaliknya jika AAP dilanggar maka manusia akan mendapatkan malapetaka dalam kehidupannya. Kombongandipandang sebagai lembaga musyawarah tertinggi yang patut dipercayasehingga keputusan yang diambil melalui kombonganharus dilaksanakan oleh setiap manusia Toraja.Tongkonandipandang sebagai lambangkebanggaan keluarga maupun masyarakat sebab harkat keluarga dan masyarakat terikat pada tongkonan.Oleh sebab itu, manusia Toraja wajib menjaga dan memelihara tongkonannya.

Sikap hidup dan gaya hidup manusia Toraja melalui sikap para tokoh cerita dalam CRT jika dihubungkan dengan sikapnya terhadap Tuhan, alam, dan sesama manusia; ditemukan bahwa manusia Toraja menerima AAP sebagai pedoman dalam menjalani kehidupannya. Implementasi nampak pada keaktifan melaksanakan ritus aluk rambu solo’ dan ritus aluk rambu tuka’. Manusia Toraja  memiliki perasaan kagum dan bersikap peduli terhadap tongkonan. Hal ini  diwujudkan melalui keikutsertaan dalam pembangunan dan pelestarian tongkonan. Sikap percaya dan menempatkan kombongan sebagai wadah musyawarah tertinggi diwujudkan melalui sikap menerima dengan pasrah setiap keputusan kombongan. Manusia Toraja menghormati rampanan kapa’(pernikahan) sebagai ritus yang sakral sehingga setiap pasangan yang sudah menikah harus menjaga keutuhan rumah tangganya melalui kesetiaan pada pasangan.

Manusia Toraja sebagai tokoh dalam CRT menekankan gaya hidup mitologis. Hal ininampak melaluisikap takut dan cemas terhadap tanda-tanda alam. Gaya hidup solidaritas, nampak pada tindakan bekerja sama dan saling mendukung. Gaya hidup komunal ditandai dengan hadirnya kelompok atau kelas sosial tertentu dengan peran masing-masing.