DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Representasi Latar Sosial Dalam Citraan dan Majas Puisi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Malang; Kajian Sosiologi Sastra

Khumaidi Abdillah

Abstrak


ABSTRAK

 

REPRESENTASI LATAR SOSIAL DALAM CITRAAN DAN MAJAS PUISI SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 MALANG: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA

 

Khumaidi Abdillah

 Pendidikan Bahasa Indonesia-Universitas Negeri malang

Jl. Semarang 5 Malang. Email: yas_maidi@yahoo.com

 

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) representasi latar sosial dalam citraan puisi siswa kelas VII SMP Negeri 2 Malang, (2) representasi latar sosial dalam majas puisi siswa kelas VII SMP Negeri 2 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari antologi puisi siswa yang merepresentasikan latar sosial terhadap penggunaan citraan dan majas. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan (1) representasi latar sosial memengaruhi penggunaan citraan dalam puisi siswa; (2) representasi latar sosial memengaruhi penggunaan majas dalam puisi siswa.

 

Kata kunci: representasi latar sosial, citraan dan majas puisi, sosiologi sastra

 

Puisi, dan juga teks sastra lainnya, sudah sejak lama dianggap sebagai fakta kemanusiaan, fakta sejarah, dan kesadaran kolektif kebudayaan. Karena itu, puisi difungsikan sebagai sejarah intelektual atau pemikiran yang di dalamnya dapat ditemukan cara penyikapan, pemahaman, dan cara kreasi individu terhadap lingkungan atau perubahan di sekitarnya. Dengan kata lain, puisi (dan sastra pada umumnya) merupakan “literature is an exspreesion of society“ atau ungkapan perasaan masyarakat (Wellek dan Warren, 2014:99). Caute (dalam Junus, 1986:8) secara lebih rinci mengungkapkan bahwa realitas yang digambarkan dalam karya sastra (termasuk puisi) ditentukan oleh pikiran penulisnya. Karenanya, dalam penciptaan karya sastra, campur tangan penulis sangat menentukan. Imbasnya, realitas yang digambarkan dalam karya sastra seringkali bukanlah realitas apa adanya, tetapi realitas seperti yang diidealkan pengarang. Dengan kata lain, puisi dapat disebut sebagai cerminan dari pengarang, baik dari segi pemikiran, imajinasi, maupun realita yang berpadu dan melengkapi kelahiran suatu karya yang utuh.

Hal tersebut kemudian dapat dilihat sebagai suatu paradigma, bahwa struktur sosial pengarang memengaruhi penciptaan bentuk (dalam hal ini, puisi), atau dengan kata lain, suatu karya sastra tidak dapat lepas dari pengaruh sosial budaya pengarangnya (Wiyatmi, 2006:98). Pendapat senada disampaikan Winarni (2013:186) yang menyebutkan bahwa latar belakang pengarang tersebut juga dapat menjadi teknik (gaya bercerita) dan isi karya yang merupakan sumber penciptaannya. Konteks pengarang yang demikian itu, seperti dikatakan Wellek dan Warren (2014:100), meliputi sosiologi pengarang, profesi pengarang, dan institusi sastra. Masalah yang berkaitan di sini adalah dasar ekonomi produk sastra, latar belakang sosial, status pengarang, serta ideologi pengarang yang terlihat dari berbagai kegiatan pengarang di luar karya sastra.

Dengan fokus agak berbeda, Damono (1979:3-4) menyebutkan bahwa konteks sosial sastrawan atau pengarang ada hubungannya dengan posisi sosial mereka dalam masyarakat dan kaitannya dengan masy arakat pembaca. Hal  tersebut termasuk (a) bagaimana sastrawan mendapatkan matapencaharian; apakah ia menerima bantuan dari pengayom atau dari masyarakat secara langsung atau bekerja rangkap, (b) profesionalisme dalam kepengarangan yang membahas sejauh mana sastrawan menganggap pekerjaannya sebagai suatu profesi, serta (c) masyarakat yang dituju oleh sastrawan, karena hal itu akan menentukan bentuk dan isi karya sastra mereka. Menurut Wellek dan Warren (2014:101), latar belakang sosial pengarang merupakan keadaan sosial pengarang di lingkungan sekitar tempatnya tinggal, baik secara genetik maupun keberadaan pengarang sebagai bagian dari masyarakat. Latar belakang sosial tersebut tentunya berkaitan erat dengan biografi pengarang yang bersangkutan, secara pribadi, keluarga, maupun masyarakat termasuk di mana pengarang dilahirkan, tinggal, bersosialisasi, serta berkarya.

Sementara, sumber ekonomi (profesionalisme) pengarang menyangkut keberadaan ekonomi pengarang itu sendiri, apakah dia menjadikan karyanya sebagai sumber penghasilan utama atau sekadar selingan. Lebih lanjut, mengutip dari Ian Watt, Damono (1979:3) mengemukakan sumber ekonomi pengarang berkaitan dengan bagaimana seorang pengarang mendapatkan mata pencahariannya; apakah dia mendapatkannya dari pengayom (patron), atau dari masyarakat secara langsung, atau dari kerja rangkap.

Adapun ideologi pengarang merupakan ide atau gagasan yang dikemukakan pengarang lewat karya-karyanya. Saraswati (2003:120) yang mengutip Dijk, mengungkapkan bahwa ideologi berhubungan dengan sistem kepercayaan atau gagasan, baik sosial, politik, atau agama yang digunakan bersama-sama oleh kelompok atau gerakan sosial tertentu. Ideologi tersebut pada akhirnya merupakan cara memandang sesuatu secara umum yang berniat untuk menawarkan perubahan.

Bertolak dari uraian di atas, penelitian ini akan mengkaji: (1) bagaimana pengaruh aspek sosiologi pengarang, dalam hal ini siswa-siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Malang, terhadap bentuk citraan puisi siswa?, (2) bagaimana pengaruh aspek sosiologi pengarang, dalam hal ini siswa-siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Malang, terhadap bentuk majas puisi siswa?. Puisi karya siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Malang dipilih karena latar belakang sosial siswa yang beragam, ditengarai memengaruhi proses kreatif mereka dalam menulis puisi, terutama dari penggunaan citraan dan majas. Selain itu, latar belakang sosial tersebut nantinya juga dapat memengaruhi ideologi mereka tentang lingkungan yang dapat ditelusuri melalui puisi yang mereka tuliskan. Konteks sosiologi pengarang dalam penelitian ini dibatasi pada sisi latar belakang sosial pengarang dan sumber ekonomi (profesionalisme) pengarang. Hal ini dikarenakan pengarang merupakan siswa-siswa yang masih duduk di bangku sekolah lanjutan tingkat menengah pertama.

Penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan mayoritas menghubungkan sosiologi pengarang dengan prosa, seperti yang dilakukan oleh Wahdiyatul Masruroh (2013) dengan judul Tinjauan Sosiologi Pengarang Novela “Adinda Kulihat Beribu-ribu Cahaya di Matamu“ karya Ayu Sutarto. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa latar belakang pengarang yang merupakan penyuka wayang tercermin melalui nama karakter tokoh utama di dalam novela. Selain itu, profesi pengarang yang merupakan pendidik dan hanya menjadikan kegiatan menulis sebagai hobi juga tercermin pada tingkah laku tokoh utama dalam novela yang ingin mendirikan peduli dengan pendidikan dengan impian mendirikan sekolah gratis. Sementara ideologi pengarang tentang perempuan juga diwujudkan dalam tokoh cerita yang merupakan perempuan istri sekaligus ibu yang baik. Adapun integritas pengarang dalam kehidupan bermasyarakat juga tercermin dari sikap tokoh utama yang pandai bergaul dengan berbagai kelas sosial.

 

METODE

Dilihat dari cara kerja dan hasil yang ingin dicapai, penelitian ini dilaksakan dengan menggunakan cara kerja metode deskriptif kualitatif. Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2000:3) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati. Jadi, sebagai penelitian deskriptif kualitatif, penelitian ini memiliki karateristik, yaitu (1) hasil penelitian berupa kata-kata, (2) peneliti memiliki tujuan mengembangkan atau meningkatkan pemahaman terhadap teks, (3) penelitian ini dilakukan untuk menghasilkan deskripsi, (4) interprestasi dan kesimpulan disampaikan dalam bentuk kata-kata, dan (5) hasil penelitian bersifat terbuka bagi peneliti lanjutan.

Bertolak dari pendapat tersebut, penelitian ini mencoba mengkaji representasi sosiologi pengarang dalam puisi karya siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Malang, terutama dalam penggunaan citraan dan majas untuk menyampaikan tema atau gagasan. Selain dideskripsikan, data-data yang terkumpul nantinya juga akan diinterprestasikan sesuai dengan landasan teori yang telah diuraikan pada bab sebelumnya.

 

HASIL

Berdasarkan analisis teks data ditemukan bahwa bentuk citraan pada puisi siswa kelas VIII merupakan cermin kompleksitas imajinasi dan skemata siswa. Puisi yang diciptakan oleh siswa-siswa ini bertema binatang. Citraan puisi dibentuk dari ruang imajinasi siswa melalui sebuah kata, yakni berupa gambaran pengalaman indera yang terdiri dari gambaran mental dan mampu menggugah indera yang lain. Kemampuan dalam memakai citraan hingga pemilihan kata-kata baik kata umum maupun kata khusus pada puisi-puisi merupakan penanda kemampuan siswa untuk memadupadankan satu informasi dengan informasi lain yang relevan dan berkaitan logis sehingga penggunaan citraan yang muncul pada larik-larik puisi tersebut merupakan hasil representasi sosial siswa.

Puisi yang mengandung unsur citraan berdasarkan latar sosial pengarang, meliputi: kondisi lingkungan siswa, pekerjaan orang tua, dan pendidikan orang tua. Data diklasifikasikan hanya pada larik-larik puisi yang mengandung citraan untuk kemudian dianalisis berdasarkan 7 profesi atau jenis pekerjaan orang tua siswa yang dijadikan acuan dalam hal menginterpretasikan larik-larik puisi tersebut. Di antaranya adalah: latar sosial keluarga TNI, Wiraswasta, Guru, Karyawan, Fisioterapis, Buruh Pabrik, dan Sopir. Puisi-puisi tersebut kemudian diinterpretasikan berdasarkan temuan citraan dan majas yang terdiri 196 citraan penglihatan, 92 kali citran gerak, 17 citraan perabaan, 14 citraan pendengaran, dan 2 kali citraan penciuman. Citraan penglihatan digambarkan melalui kata gagah yang diulang-ulang untuk menegaskan kegagahan burung elang. Kata atau frase warna yang sangat menarik memberi kesan visual. Pembaca diajak untuk membayangkan warna-warna burung love bird. Dalam bayangan pembaca terbangun kesan visual itu. Selain kegagahan dan keindahan yang dicitrakan ditemukan citraan yang lain pada puisi ini. Pada citraan gerak kata-kata yang sering muncul adalah kata khusus. Hal ini terbukti pada kata mekar, melintasi, melayang, menjelajah, mengarungi, dan berenang. Sedangkan kata umum yang muncul adalah terbang, berjalan, berburu. Sedangkan citraan pendengaran muncul kata khusus yakni suara yang indah dan sunyi.

 

PEMBAHASAN

Representasi Latar Sosial Dalam Citraan Puisi Siswa Kelas VIII

Berdasarkan latar sosialnya, puisi dalam antologi puisi siswa ini akan dianalisis meliputi citraan yang memiliki representasi latar sosial pengarang.  Berdasarkan data dari 36 puisi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Malang, akan diuraikan berdasarkan representasi latar sosial siswa, kecenderungan penggunaan citraan dan majaas. Citraan yang muncul diharapkan menggambarkan realitas subyektif pengarang berbentuk puisi dari apa yang pernah dilihat oleh siswa.

Latar sosial keluarga TNI didapati 4 puisi, masing-masing berjudul Burung Love bird, Elang yang Gagah, Singa Perkasa, dan Lumba-lumba yang Cerdik. Dalam puisi-puisi tersebut, citraan yang digunakan berbeda dengan puisi yang lain. Perbedaan itu terletak pada kata dan kelompok kata. Mulai dari citraan yang rumit sampai citraan yang mudah, yakni citraan penglihatan. Frasa suara yang indah memperlihatkan bagaimana pengarang mengenal burung love bird sebagai burung peliharaan yang memiliki suara dan warna bulu yang indah. Pada puisi tersebut tidak merepresentasikan latar sosial pengarangnya sebagai seorang anak TNI. Berbeda dengan puisi yang berjudul Elang Yang Gagah. Puisi ini memiliki citraan yang merepresentasikan latar sosial pengarangnya. Ini terdapat pada kata Gagah. Kata tersebut sering menggambarkan seorang tentara. Lalu kata menjelajah, perkasa merepresentasikan sikap dari seorang tentara. Tentara diajarkan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tergambarkan di kata maupun kelompok kata pada puisi siswa, seperti pada kata berburu. Karena pengarang memiliki latar  sosial keluarga TNI, hal tersebut tanpa disadari memengaruhi terhadap pilihan kata dalam penulisan puisinya. Kata lubangi, kubunuh, usir, mencari memberi kesan gerak kepada pembaca. Kata bunuh juga merupakan perwujudan dari kebiasaan seorang tentara yang membunuh musuhnya ketika berperang. Selain citraan gerak dalam klausa Kubunuh kau bila bertemu menggambarkan ancaman, ini menegaskan juga pada citra visual.

Puisi yang berlatar sosial keluarga karyawan dalam penggunaan citraan juga merepresentasikan latar sosialnya. Puisi di latar sosial karyawan ini menggambarkan citraan penciuman. Pembaca diajak menggunakan indera penciuman terhadap bau yang dihasilkan lalat. Seperti pada frasa makanan yang busuk  di samping memiliki citra visual, juga memiliki citra penciuman. Kata busuk membuat pembaca seolah-olah membau suatu aroma busuk melalui hidungnya. Selanjutnya, citraan visual pada kata tubuh tetap gemuk. pembaca diajak melihat tubuh lalat yang gemuk. Representasi tersebut dipengaruhi oleh pemahaman dan pengetahuan siswa dari lingkungan keluarganya. Sehingga kecenderungan citraan penglihatan menjadi citraan yang paling mudah bagi siswa dalam menciptakan puisi.

Puisi yang berlatar sosial keluarga guru banyak menggunakan citraan penglihatan. Kata besar merepresentasikan bagaimana seorang guru memiliki jiwa besar dalam  mendidik siswanya. Ini tidak disadari oleh pengarang. Kesan visual berupa bentuk tubuh kelinci. Kemudian kata terlahir juga merepresentasikan bahwa seorang guru akan melahirkan generasi selanjutnya seperti halnya kesan bagaimana kelinci itu sebelum besar adalah kecil dan ini memerlukan didikan agar kelak besar menjadi orang yang bermanfaat. Kata mungil, menggemaskan pada kata-kata khusus tersebut mengajak pembaca merepresentasikan latar sosial pengarang. Guru merupakan seorang pendidik yang selalu bergaul dengan muridnya yang memiliki tingkah beragam. Siswa ibarat makhluk mungil dan menggemaskan yang membutuhkan perawatan. Perubahan-perubahan ini memberi kekuatan kesan visual. Sedangkan puisi yang berlatar sosial karyawan memiliki ciri khas dalam pemilihan diksi sehingga memunculkan citraan yang mampu menggugah imajinasi pembaca. Seperti Puisi berjudul Burung Elang. Pada larik ketiga, Suaranya menggelegar membelah angkasa merepresentasikan Terdapat dua citraan. Frasa suaranya menggelegar diserap melalui indra pendengaran dan frasa membelah angkasa memberi kesan penglihatan mengenai langit yang terbelah. Citraan gerak yang terdapat pada kata terbanglah, mengejarmu, kepakkan, dan lewati. Pada kata-kata tersebut membangun bayangan gerak dalam ruang imajinasi pembaca sehingga tergolong citraan kinestik. Kata terbanglah memberikan kesan gerak sayap seekor burung dari tempat rendah ke tinggi. Hal ini bisa jadi merepresentasikan bahwa seorang karyawan harus memiliki keinginan yang kuat untuk maju dan berkembang. Kata mengejarmu memberikan gambaran gerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Tanpa disadari pengarang, kata mengejarmu mengandung motivasi agar setiap cita-cita harus dikejar dan dapat bersaing dengan yang lain. Kata-kata yang digunakan pada citraan di atas adalah kata umum kecuali kata¬ kepakkan. Kata ini merupakan bentuk kata khusus sehingga kesan yang muncul lebih spesifik pada gerak sayap. Akantetapi penggambaran burung elang tersebut berbeda dengan penggambaran terhadap hewan yang sama dari latar sosial keluarga TNI. Dalam puisi yang berlatar sosial keluarga karyawan ini, citraan yang muncul menggunakan kata ataupun kelompok kata yang merepresentasikan keluarga karyawan yang dianggap penurut terhadap atasan, selalu patuh tetapi dengan gaya bahasa yang halus. Seperti pada kutipan puisi berikut.

Suaranya menggelegar membelah angkasa

Lawanlah badai yang datang

Penggalan puisi di atas memiliki citraan pendengaran dan penglihatan . Kata pada baris kedua memberi kesan ada sesuatu yang mendekat. Kata ataupun kelompok kata yang digunakan merepresentasikan latar sosial keluarga karyawan. Menggambarkan perlawanan terhadap tantangan-tantangan dalam pekerjaan.

Puisi selanjutnya berjudul Kupu-kupu. Puisi karya Fitria Ramadhani ini lebih banyak menggunakan citraan penglihatan. Berikut puisinya.

Yang menjijikkan

Kini kau begitu menakjubkan

Tubuhmu yang kecil

Sayapmu yang cantik

Warnamu yang sangat indah

Kau menghiasi tamanku

Kau lengkapi indah tamanku

Kata-kata menjijikan, menakjubkan, kecil, cantik, dan indah. Memberi kesan penglihatan. Kata menjijikkan di samping memiliki citra penglihatan juga memiliki citra penciuman seolah-olah pembaca membau suatu aroma busuk melalui hidungnya. Kata menakjubkan memberi kesan ada perubahan pada tubuh kupu-kupu dari hal yang tidak indah menjadi indah dan enak untuk dipandang. Puisi di atas seperti narasi yang menggambarkan perubahan kepompong menjadi kupu-kupu. Kata-kata pada puisi tersebut merepresentasikan pengarang yang berlatar sosial karyawan.

Berikutnya puisi berjudul Kelinci karya Fidya Prahesti.

Bulumu halus bagai kain sutera

Matamu bercahaya bak intan berlian

Bentukmu yang lucu dan mungil

Mampu membuatku tertawa

Kau melompat kesana kemari

Tertawa bercanda dengan temanmu

Yang selalu kuat dengan beban di hidupmu

Puisi di atas memakai beberapa citraan. Kata bercahaya, lucu, mungil, dan kuat merupakan citraan penglihatan yang menggambarkan bagian-bagian dabn bentuk dari seekor kelinci. Sedangkan frasa Bulumu halus memiliki citra perabaan. Selain itu terdapat citraan gerak pada kata tertawa, melompat. Pada kata tertawa di baris keempat di samping memiliki citra gerak juga memiliki citra auditif. Pembaca seolah-olah mendengarkan suara tertawa yang lebih keras dari kata tertawa pada baris ke enam.

Kau muncul di malam hari

Kau muncul di malam yang tenang ini

Yang menyinari malam yang tenang ini

Yang menyinari malam yang tenang ini

Cahayamu bagaikan mentari

Yang menyinari malam yang tenang ini

Dan kau memberikan keindahan tersendiri

Meskipun cahayamu tak setenang mentari

Kau selalu menemaniku dan bintang-bintang di malam hari

Kutipan puisi di atas merupakan puisi karya Shinta Ayu Presdita DP. Dalam puisi tersebut semuanya menggunakan citraan penglihatan. Puisi yang berjudul kunang-kunang tersebut sama citraannya dengan puisi siswa lain dengan objek puisi yang sama: kunang-kunang. Penggunaan citraan penglihatan dominan mengajak pembaca pada karakteristik kunang-kunang, yakni cahaya yang dihasilkan dari tubuh binatang itu. Sedangkan citraan gerak hanya terdapat pada bait pertama baris ke empat yakni Kau terbang kesana kemari seperti menari. Frasa terbang kesana kemari memberikan gambaran gerak sayap yang berkelanjutan seperti gerakan menari.

Dan puisi terkahir dari siswa berlatar sosial karyawan ini adalah Kupu-kupu Kecilku karya Fitria Ramadhani. Berikut kutipan puisi yang memiliki citraan.

Yang menjijikkan

Kini kau begitu menakjubkan

Tubuhmu yang kecil

Sayapmu yang cantik

Warnamu yang sangat indah

Kau lengkapi indah tamanku

Puisi di atas memiliki citraan penglihatan dan penciuman. Kata menjijikkan mengajak pembaca menggunakan dua indranya, yakni penciuman dan penglihatan. Kata menakjubkan akan muncul kesan visual mengenai kupu-kupu yang memiliki sayap berwarna-warni setelah berproses dari kepompong. Bayangan tersebut terbangun pada ruang imajinasi penonton.

Puisi siswa yang berlatar sosial keluarga Buruh Pabrik terdapat 5 judul puisi. Puisi-puisi ini juga memiliki beragam citraan di masing-masing puisinya. Seperti pada kutipan puisi yang berjudul Singa Yang Malang berikut.

Sedang terbaring lemah

Di sebuah hutan yang ramai

Dialah yang paling ditakuti

Di gua yang sunyi

Kutipan puisi di atas memiliki citraan penglihatan yang terdapat pada kata terbaring, dan ditakuti.  Kata terbaring memberikan kesan sesosok tubuh yang lemah sedang berada di sebuah tempat, misalkan tempat tidur. Sedangkan kata ditakuti memberikan kesan sosok yang mengerikan. Kata tersebut bisa jadi merepresentasikan dari apa yang sering dilihat oleh pengarang dilingkungannya. Pengarang memiliki latar sosial keluarga buruh pabrik yang secara jenjang sosial, berkategori menengah ke bawah. Kata ramai dan sunyi menggambarkan suasana (tempat). Citraan yang muncul pada puisi di atas merepresentasikan keadaan lingkungan pengarang.

Puisi selanjutnya berjudul Singa si Raja Hutan karya Huma Antassalam. Dalam puisi ini terdapat citraan penglihatan seperti pada kutipan berikut.

Kau gagah dan jantan

Kecepatanmu bagaikan kilat yang menyambar

Cakarmu begitu panjang

Tampang wajahmu begitu kencang

Pada kata gagah dan jantan memiliki kesan yang sama, yakni menggambarkan keperkasaan singa. Kata gagah dan jantan merupakan kata umum yang memberi kesan visual terhadap cara berjalan dan perilaku singa yang suka memburu mangsanya. Kata tersebut dapat merepresentasikan latar sosial pengarang sebagai anak dari seorang buruh pabrik. Kata gagah dan jantan berbeda dengan kata dalam puisi yang berlatar sosial keluarga TNI. Kata gagah dan jantan merepresentasikan kekaguman anak kepada orang tua yang bekerja sebagai  buruh pabrik. Kata kecepatanmu disamping mengandung citra penglihatan juga mengandung citra gerak. Kata kecepatanmu berasosiasi dengan sesuatu yang melakukan pengejaran terhadap mangsa. Kata ini juga merepresentasikan kondisi pengarang sebagai anak dari seorang buruh pabrik, bahwa apa yang dihadapi dalam kehidupannya itu begitu cepat berubah.

Dari puisi yang berjudul kupu-kupu dalam latar sosial yang sama. Citraan yang dihasilkan tidak merepresentasikan latar sosial pengarangnya. Setiap kata-kata yang  digunakan cenderung termasuk kategori kata umum sehingga sulit didapati perwujudan yang dikarenakan pengaruh latar sosial pengarangnya.

Dari beberapa uraian tentang citraan yang dihasilkan dari puisi siswa, keseluruhan citraan merepresentasikan latar sosial pengarang, meski ada beberapa yang tidak merepresentasikan dikarenakan keterbatasan skemata dan kosakata dalam melihat realitas. Representasi tersebut terdapat pada beberapa citraan dari setiap puisi siswa. Baik dalam kata maupun kelompok kata.

 

Representasi Latar Sosial Dalam Majas Puisi Siswa Kelas VIII

Merepresentasikan latar sosial pengarang bedasarkan empat puisi yakni burung elang,  kelinci, kunang-kunang, dan kupu-kupu kecilku. Puisi pertama berjudul burung elang, yang memiliki 3 majas di dalamnya. Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas simile, metafora, dan personifikasi. Hal ini ditandai dengan adanya kata bagai. Majas tersebut membandingkan dua hal yang sama sekali tidak berkaitan yang membandingkan tatapan mata yang tajam dan ragu seperti pisau memecah air. Perbandingan ini didasarkan pada satu hal, yakni kesia-siaan atau ketidakbergunaan. Hal ini karena orang yang berusaha memecah air dengan pisau tidak akan pernah berhasil. Sama dengan tatapan mata yang tajam, namun masih terdapat keraguan di dalamnya. Pada kata tajamkan, majas tersebut membandingkan dua hal yang sama sekali berbeda, yakni menajamkan (biasanya pisau) dan penglihatan (mata). Satu korelasi yang dapat ditarik adalah peningkatan hasil dari sebelum ditajamkan dan setelah ditajamkan. Hal ini merepresentasikan latar sosial pengarang yang memberikan gambaran sifat manusia sebagai benda mati. Badai dalam kutipan tersebut disebutkan untuk dilawan serta angin memiliki sifat jahat, yang biasanya terdapat pada manusia. Bahwa apa yang dialami oleh pengarang bisa jadi merupakan representasi pendidikan yang dialami di lingkungan rumahnya. Dalam frasa dengan temanmu dan kuat dengan beban di hidupmu. kutipan  tersebut memberikan sifat kemanusiaan terhadap objek puisi, yakni kelinci. Sifat yang dimaksud adalah kelinci diibaratkan dapat bercanda dengan temannya. Selain itu, kelinci juga diibaratkan menanggung beban hidup yang besar seperti yang dialami oleh manusia.

Citraan yang digunakan pada puisi memiliki frekuensi yang berbeda. Ada citraan yang frekuensi kemunculannya sering, sementara ada citraan yang hanya beberapa kali muncul.

 

Tabel 4.1 Frekuensi Penggunaan Gaya Bahasa Citraan

No.Latar Sosial  Citraan

PenglihatanGerak            Perabaan             Pendengaran     Penciuman

1.Keluarga  TNI  29           23           1              2              -

2.Keluarga   wiraswasta 61           31           5              4              1

3.Keluarga  guru               2              14           -              3              -

4.Keluarga  karyawan     24           11           1              1              -

5.Keluarga  fifioterapis   10           3              1              3              -

6.Keluarga  buruh pabrik               18           8              5              -              -

7.Keluarga  sopir               22           12           4              -              -

 

Berdasarkan data yang muncul, dapat dilihat bahwa dari tujuh latar belakang sosial siswa, enam latar sosial siswa menunjukkan penggunaan citraan penglihatan lebih tinggi dibandingkan citraan-citraan yang lain. Hal ini dapat terjadi karena kemudahan penggunaan citraan penglihatan dibanndingkan citraan-citraan yang lain. Meskipun memiliki kecenderungan yang sama, yakni frekuensi penggunaan citraan pengllihatan yang tinggi, pada dasarnya citraan penglihatan yang ada pada tiap-tiap latar sosial berbeda. Sebagai citraan penglihatan yang ada pada latar social TNI dan buruh pabrik. Dalam puisi berlatar social keluarga TNI, lebih banyak muncul citraan penglihatan yang berhubungan dengan kegagahan dan kekuatan, yang merepresentasikan tentara. Sementara pada puisi berlatar sosial keluarga buruh pabrik, terdapat

 

SIMPULAN & SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa ditemukan citraan yang berupa citraan penglihatan, gerak, penciuman, perabaan, pendengaran. Dari kelima jenis citraan tersebut, citraan penglihatan menjadi citraan yang paling banyak muncul dibandingkan keempat citraan lainnya. Hal ini disebabkan oleh kemudahan penggunaan citraan penglihatan tersebut dibandingkan dengan cittraan yang lain. Sebab lainnya adalah luasnya akses terhadap objek citraan penglihatan. Dari temuan citraan dan majas tersebut tidak didapati citraan dan majas yang merepresentasikan latar sosial siswa. Penggunaan citraan penglihatan cukup dominan karena indera yang paling sering digunakan adalah indera penglihatan, sehingga siswa memiliki banyak ide untuk diungkapkan dalam puisi yang ditulis. Hal serupa juga terjadi pada citraan gerak yang menjadi citraan paling banyak digunakan setelah citraan penglihatan. Sisi psikomotorik siswa yang cukup menonjol memudahkan untuk menuangkan ide tentang citraan gerak ke dalam puisi. Sementara citraan perabaan, pendengaran, dan penciuman sedikit digunakan karena terbatasnya kosakata yang dimiliki siswa terkait dengan citraan-citraan tersebut sehingga siswa kesulitan menuangkannya ke dalam puisi.

Penggunaan majas dalam penelitian ini ditemukan kecenderungan penggunaan majas pengulangan. Hal ini dikarenakan kemampuan siswa yang terbatas dalam melihat dan menggunakan subjek puisi yakni binatang. Selanjutnya, penggunaan majas hanya berupa kata-kata kias masih dirasa kurang variatif dikarenakan kurangnya kosakata yang diperoleh di lingkungan rumah maupun sekolah.

 

Saran

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada (1) guru untuk menggunakan sastra anak dalam pembelajaran apresiasi sastra khususnya dalam mengajarkan nilai-nilai Islam kepada anak-anak, (2) pembaca, diharapkan dapat memberi gambaran tentang nilai pendidikan keimanan Islam yang harus diberikan orang tua kepada anak-anaknya, dan (3) peneliti berikutnya yang melakukan penelitian yang sejenis, diharapkan dapat menggunakan penelitian ini sebagai dasar atau referensi penelitian sastra anak lebih lanjut tentang nilai-nilai pendidikan keimanan Islam yang terdapat dalam cerita anak lainnya untuk ditemukan pola yang tepat dalam mengajarkan nilai keimanan pada anak-anak yang tidak menggurui.

 

DAFTAR RUJUKAN

Aminuddin. 2011. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Yogyakarta: Rineka Cipta.

Cole, Camille dan Andrew Smithberger. 1931. On Poetry. New York: Doubleday, Doran & Company, Inc.

Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra: Epistomologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.

Kusumawati, Elfitria. 2012. Karakteristik Puisi Karya Siswa Kelas VIII SMP Negeri 8 Malang. Skripsi tidak diterbitkan: Universitas Negeri Malang.

Moleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nur'aini. 2014. Karakteristik Puisi Karya Siswa Kelas VIII Akselerasi SMPN 5 Malang. NOSI, Volume 2, No. 1, Februari 2014: 23-36.

Perrine, Laurence. 1974. Sound and Sense: An Introduction of Poetry. New York: State University of New York Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1987. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2002. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Roekhan. 1991. Menulis Kreatif: Dasar-dasar dan  Petunjuk Penerapannya. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh Malang.

Sansom, Clive. 1960. The World of Poetry. London: Phoenic House.

Sarumpaet,  Riris K. Toha. 2002. Apresiasi  Puisi Remaja: Catatan  Mengolah Cinta. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo).

Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo).

Tarigan, Henry Guntur. 1984. Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Tjahjono, Tengsoe. 2011. Mendaki Gunung Puisi ke Arah Kegiatan Apresiasi. Malang: Bayumedia Publishing.

Waluyo, Herman J. 1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Winarni, Retno. 2013. Kajian Sastra. Surakarta: Widya Sari Press.

Windiatmoko, Doni Uji. 2014. Kajian Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel “The Lost Java“ karya Kun Geia. Tesis tidak diterbitkan: Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta.

Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka (Kelompok Penerbit Pinus).

_______. 1989. Ensiklopedi Nasional Indonesia. Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka.