DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Nilai-nilai Moral dalam Legenda di Kabupaten Ngawi

Dani Sukma Agus Setiawan

Abstrak


ABSTRAK

 

NILAI-NILAI MORAL DALAM LEGENDA DI KABUPATEN NGAWI

(SEBUAH KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA)

 

Dani Sukma Agus Setiawan

Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang No. 5 Malang 65145

wongjowo.dani@gmail.com

Abstract: This study, entitled "The Moral Values of the Legends in Ngawi (A Sociological Study of Literature)". This research as one of the legends conservation efforts in a way of documentation  and assessment of the values that exist in the legend. The moral values were determined as follows, (1) the value of individual moral that du find tara other is the value of hard work, the value built bridges, the value of responsibility, the value of the soul knight, the value of skill, character value, the value of simplicity and humility, and the value of determination, (2) The value of social morality could be found, among others, is the value of respect and love of ladies, niali sacrifice, the value of liabilities, the value of responsibility, leadership values, the values of justice and wisdom, the value of accuracy appointments, family values, and the value of mutual help, (3) the moral value of spiritual those found among other things is the value of belief in God, the value of sincerity and submission to God, valus of  teachings of ritual beliefs, values of  belief in the occult, the value of belief in supernatural powers, the value of obedience, and the value of inner peace. Results of this study reflect community values in Java and can be used in education.

 

Keywords: moral values, legends, Ngawi

 

Abstrak: Penelitian ini berjudul“Nilai-Nilai Moral Legenda di Kabupaten Ngawi (Sebuah Kajian Sosiologi Sastra)”. Penelitian ini sebagai salah satu upaya pelestarian legenda dengan cara pendokumentasian dan pengkajian terhadap nilai-nilai yang ada dalam legenda. Nilai-nilai moral yang ditemukan adalah sebagai berikut. (1) Nilai moral individual yang ditemukan antara lain adalah nilai kerja keras, nilai kemengertian, nilai tanggung jawab, nilai jiwa kesatria, nilai kecakapan, nilai budi pekerti, nilai kesederhanaan dan kerendahan hati, dan nilai keteguhan. (2) Nilai moral sosial yang ditemukan antara lain adalah nilai hormat dan kasih sayang, nilai pengorbanan, nilai kewajiban, nilai tanggung jawab, nilai kepemimpinan, nilai keadilan dan kebijaksanaan, nilai ketepatan janji, nilai kekeluargaan, nilai kegotongroyongan, dan nilai tolong-menolong.(3) Nilai moral spiritual yang ditemukan antara lain adalah nilai kepercayaan kepada Tuhan, nilai keiklasan dan kepasrahan pada Tuhan, nilai ajaran ritual kepercayaan, nilai kepercayaan pada hal gaib, nilai kepercayaan pada kekuatan supranatural, nilai ketaatan, dan nilai ketentraman batin. Hasil temuan penelitian ini merefleksikan nilai-nilai dalam masyarakat Jawa dan dapat dimanfaatkan dalam bidang pendidikan

 

Kata Kunci: nilai moral, legenda, Kabupaten Ngawi

 

Legenda merupakan cerita prosa rakyat yang dianggap pernah benar-benar terjadi pada waktu lampau oleh penutur suatu masyarakat pemilik cerita. Legenda merupakan salah satu kekayaan sastra lisan yang terdapat di Indonesia. Taum (2011:22) mengemukakan bahwa sastra lisan adalah sekelompok teks yang disebarkan dan diturunkan secara lisan, yang secara intrinsik mengandung sarana-sarana kesusasteraan dan memiliki efek estetik dalam kaitannya dengan konteks moral maupun kultur dari sekelompok masyarakat tertentu. Beberapa legenda tersebut di antaranya berada di Kabupaten Ngawi. Beberapa legenda tersebut di antaranya adalah legenda Ki Ageng Tawun, legenda Ki Ageng Plonco, legenda Jaka Buduk, dan legenda Adipati Kertanegara

Sebagaimana pendapat Bascom (dalam Sukatman, 2012:7) bahwa sastra lisan berfungsi sebagai alat pendidikan dan pengontrol norma.  Salah satu fungsi dari legenda yakni untuk melestarikan kepercayaan atau nilai yang dipegang teguh oleh generasi lampau supaya ditularkan ke generasi berikutnya dengan cara menggiring pikiran dan perasaan generasi muda sesuai ketentuan generasi tua.

Legenda mempunyai peluang bertahan dan juga punah. Untuk itu penelitian ini penting untuk dilakukan sebagai upaya menjaga kelestarian legenda. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Hutomo (1991:13-14) bahwa satra lisan terancam punah oleh beberapa faktor seperti perkembangan media yang meninggalakan tradisi lisan, berkurangnya penutur atau ahli cerita, dan kurangnya kesadaran masyarakat akan fungsi budaya sebagai sarana pendidikan.

Masyarakat Indonesia perlu melakukan upaya untuk melakukan pencegahan akan peluang terjadinya kepunahan sastra lisan. Cara yang dapat dilakukan oleh kalangan akademisi untuk melestarikan warisan sastra lisan di antaranya dengan mendokumentasikan dan membuat kajian terhadap hal tersebut. Penelitian terhadap legenda di Kabupaten Ngawi ini termasuk salah satu cara untuk melestarikan dan mempertahankan salah satu warisan sastra lisan. Keunikan yang berupa nilai-nilai kehidupan yang terdapat dalam cerita-cerita tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan pada bidang pendidikan terutama pengajaran.

Penelitian ini berjudul“ Nilai-Nilai Moral Legenda di Kabupaten Ngawi (Sebuah Kajian Sosiologi Sastra)”. Penelitian ini sebagai salah satu upaya pelestarian legenda dengan cara pendokumentasian dan pengkajian terhadap nilai-nilai yang ada dalam legenda. Selain untuk kelestarian legenda, peneliti berharap kajian akan bermanfaat bagi guru dan pendidik dalam pengembangan bahan ajar dengan berbasis budaya dan kearifan lokal menggunakan legenda di Kabupaten Ngawi.

 

METODE

Penelitian ini difokuskan pada: (1) nilai moral individual,(2) nilai moral sosial, dan (3) nilai moral spiritual dalam legenda Ki Ageng Tawun, legenda Ki Ageng Plonco, legenda Jaka Buduk, dan legenda Adipati Kertanegara di Kabupaten Ngawi.  Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Data penelitian merupakan informasi verbal yang berupa transkrip hasil wawancara, catatan observasi, dokumentasi verbal dan non verbal (data pendukung) dari berbagai sumber data tentang isi cerita legenda di Kabupaten Ngawi. Sumber data ada dua macam yakni sumber data utama dan tambahan. Sumber data utama adalah penutur yang memiliki dan memahami tradisi lisan legenda tersebut. Ada tiga sumber data utama, yakni tokoh masyarat (kepala desa, tokoh adat, atau tetua yang memahami legenda), local genuin (pewaris atau keturunan dari tokoh dalam legenda), dan kuncen (juru kunci/ penjaga situs legenda). Sumber data tambahan merupakan dokumen-dokumen tentang legenda yang di dapat dari dinas pariwisata setempat dan dokumentasi yang berupa foto dari observasi lapangan tentang situs yang menjadi bukti keberadaan legenda.

Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan beberapa tahap yakni (1) obeservasi, (2) wawancara mendalam, (3) dokumentasi, (4) pengolahan data (transkrip data ke dalam teks cerita, dan penerjemahan teks cerita ke dalam bahasa Indonesia).

Prosedur pengolahan data dilakukan dengan tahp-tahap sebagai berikut. (1) Tahap transkrip, yakni mentranskrip data dari wawancara maupun dari data pendukung lainnya kedalam teks wawancara. (2) Tahap terjemahan, data yang masih berbentuk bahasa Jawa diterjemahkan ke dalam teks bahasa Indonesia. (3) Tahap konstruksi, hasil transkrip yang telah diterjemahkan tersebut selanjutnya diubah ke dalam bentuk teks atau naskah legenda. (4) Tahap telaah teks, teks yang telah dikonstruksi menjadi naskah selanjutnya ditelaah bersama informan untuk klarifikasi hasil interpretasi dari peneliti. (5) Tahap perbaikan, yakni teks yang ditelaah oleh informan diperbaiki apabila ada kesalahan penafsiran dari peneliti. (6) Tahap telaah akhir, yakni hasil perbaikan naskah diklarifikasikan kembali kepada informan. Tahap telaah teks dapat diulangi apabila konstruksi kedalam teks naskah legenda belum tepat.

Adapun analisi data dilakukan dengan beberapa tahap, yakni (1) pembacaan teks seksama secara berulang. (2) Menandai teks yang memiliki muatan nilai-nilai moral individual, sosial, dan spiritual. (3) Klasifikasi dan kodifikasi data dengan menggunakan instrumen dan panduan analisis. (4) Interpretasi data untuk menemukan nilai-nilai moral. (5) Mengaitkan nilai-nilai moral dalam teks legenda dengan askpek ekstrinsik melalui hubungan refleksi (mimesis), yakni nilai-nilai yang ada dalam kehidupan nyata masyarakat. (6) Membahas hasil temuan dengan teori yang relevan yakni teori sastra lisan, nilai moral, teori etika, dan etika budaya Jawa. (7) Membahas hasil temuan dari aspek kebermanfaatannya bagi dunia pendidikan. (8) Melakukan penyimpulan akhir. 

 

HASIL

Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah ditemukannya nilai-nilai moral dalam legenda di Kabupaten Ngawi. Nilai-nilai moral yang ditemukan antara lain  (1) nilai moral individual yang mencakup nilai kerja keras, nilai kemengertian, nilai tanggung jawab, nilai jiwa kesatria, nilai kecakapan, nilai budi pekerti, nilai kesederhanaan dan kerendahan hati, dan nilai keteguhan. (2) Nilai moral sosial mencakup nilai hormat dan kasih sayang, nilai pengorbanan, nilai kewajiban, nilai tanggung jawab, nilai kepemimpinan, nilai keadilan dan kebijaksanaan, nilai ketepatan janji, nilai kekeluargaan, nilai kegotongroyongan, dan nilai tolong-menolong. (3) Nilai moral spiritual yang mencakup nilai kepercayaan kepada Tuhan, nilai keiklasan dan kepasrahan pada Tuhan, nilai ajaran ritual kepercayaan, nilai kepercayaan pada hal gaib, nilai kepercayaan pada kekuatan supranatural, nilai ketaatan, dan nilai ketentraman batin.

Hasil temuan tersebut selanjutnya dijabarkan secara spesifik terkait dengan sosiologi sastra dan manfatnya dalam bidang pendidikan. Berikut adalah penjabaran hasil temuan nilai-nilai moral dalam legenda di Kabupaten Ngawi.

 

Nilai Moral Individual yang Ditemukan dalam Legenda di Kabupaten Ngawi dan Manfaatnya dalam Pendidikan

Nilai moral individual merupakan nilai baik dan buruk yang menyangkut pribadi atau individu setiap orang. Nilai tersebut berhubungan dengan diri sendiri. Pandangan Nurgiyanto (2010:325) bahwa nilai moral individu menelaah hubungan antar individu dengan dirinya sendiri sebagai subjek sekaligus sebagai objek nilai.

Nilai moral merupakan sesuatu yang baik dan bersifat praktis, artinya nilai tersebut memuat pandangan atau ajaran tentang perbuatan baik yang harus dilakukan manusia dalam menjalani hidup. Sesuatu hal yang dianggap baik dalam nilai moral individual apabila hal tersebut mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan pada diri individu sendiri.  Sebagaimana prinsip moral dasar menurut Suseno (2002:130) yakni prinsip sikap baik, prinsip keadilan, dan prinsip hormat; maka nilai moral individual harus memuat ketiga prinsip tersebut dalam hubungan individu terhadap dirinya sendiri.

Dalam nilai moral individual, manusia harus bersikap baik, adil, dan menghormati dirinya sendiri. Ketiga prinsip tersebut berlaku sebagai moralitas individu yang ideal karena moralitas tersebut dapat mendatangkan kebahagiaan dan kebaikan bagi individu itu sendiri. Dalam pandangan eudomonisme—sebuah aliran filsafat moral—bahwa manusia mengejar tujuan akhir yang terbaik dalam hidupnya yakni kebahagiaan. Meskipun kebahagiaan sulit diukur, namun kebahagiaan berupa kesenangan rohani yang didasarkan atas dorongan hati nurani, akal budi, dan naluri.

                                Nilai moral individual yang di temukan dalam legenda di Kabupaten Ngawi antara lain adalah nilai kerja keras, nilai kemengertian, nilai tanggung jawab, nilai jiwa kesatria, nilai kecakapan, nilai budi pekerti, nilai kesederhanaan dan kerendahan hati, dan nilai keteguhan. Nilai moral individual tersebut ditemukan dalam legenda Ki Ageng Tawun, legenda Ki Ageng Plonco, legenda Jaka Buduk, dan legenda Adipati Kertanegara.

Nilai moral individual yang ditemukan dalam legenda di Kabupaten Ngawi tersebut memiliki hubungan refleksi dengan kenyataan yang ada atau dalam kehidupan nyata. Melalui nilai-nilai moral individual, teks legenda tersebut mampu menyajikan kenyataan moralitas dalam kehidupan yang sesungguhnya.  

Artinya nilai moral individual yang ditemukan mampu merefleksikan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat yang sesungguhnya khususnya masyarakat Jawa.

Sebagaimana yang telah dijabarkan dalam subbab sebelumnya, nilai moral individual yang ditemukan tersebut merefleksikan nilai yang dijunjung dalam masyarakat Jawa yakni dalam nilai etis dalam masyarakat Jawa. Nilai etis berkaitan dengan moral dan etiket. Moral berbicara tentang kebaikan dan keburukan, sedangkan etiket berbicara tentang kesopan-santunan. Nilai etis tersebut merupakan panduan praktis yang digunakan oleh masyarakat jawa dalam hidup dan kehidupan. Nilai etis dalam budaya Jawa oleh Saryono (2010) berisi nilai kebijaksanaan dan nilai kasih sayang—nilai  kebijaksanaan terkait kearifan, kebajikan, kecermatan, kecakapan, kecendekiaan, dan kepandaian budi dalam hidup dan kehidupan.

Selain itu, nilai moral individual yang ditemukan tersebut memenuhi kriteria prinsip moral dasar dalam kehidupan masyarakat. Prinsip moral dasar menurut Suseno (2002:130) yakni prinsip sikap baik, prinsip keadilan, dan prinsip hormat. Misalnya nilai moral individual tanggung jawab, nilai tersebut mampu mencakup sikap baik pada diri sendiri dan orang lain, adil pada diri sendiri dan orang lain, serta kehormatan diri sendiri dan orang lain.

Dengan ditemukannya nilai moral individual, membuktikan bahwa legenda sebagai sastra lisan  memiliki unsur value. Legenda merupakan bentuk dari foklor. Menurut Taum (2011:24) foklor memiliki dua unsur yakni nilai (value) dan cara (manner).

Legenda sebagai bentuk dari sastra lisan sepatutnya memiliki sifat dulce et utile, yakni indah sehingga mampu menghibur dan memiliki aspek kebermanfaat. Nilai moral individual yang ditemukan dalam legenda di Kabupaten Ngawi mencerminkan bahwa legenda tersebut sebagai sastra lisan tidak hanya memiliki keindahan unsur intrinsik saja namun dari aspek isi memiliki pesan yang bermanfaat. Nilai moral individual yang ditemukan dalam legenda di Kabupaten Ngawi dapat dimanfaatkan dalam bidang pendidikan. Sebagaimana salah satu fungsi sastra lisan memang dijadikan sebagai alat untuk mendidik generasi masyarakat pemilik sastra lisan tersebut.

Temuan nilai moral individual dalam legenda dapat dimanfaatkan oleh guru untuk mengintegrasikan dalam pendidikan bahasa dan sastra Indonesia dengan berbasis kearifan lokal. Teks legenda dapat dimanfaatkan sebagai media dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, sedangkan nilai-nilai moral individual didalamnya dapat digunakan untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang bermanfaat bagi kehidupan siswa. Menurut Sibrani (2013:17) foklor dapat dimanfaatkan sebagai sumber pendidikan karena memiliki muatan-muatan budaya yang bernilai untuk diteladani dan dinternalisasikan oleh generasi penerus sebagai bekal dasar dalam kehidupan.   

Manfaat konkrit yang dapat diterapkan oleh guru dalam pembelajaran misalnya dengan menggunakan teks legenda sebagai media dalam pembelajaran drama untuk mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Teks legenda dapat dimanfaatkan untuk bermain drama. Siswa melakukan pementasan drama yang berasal dari teks legenda. Dalam proses pementasan tersebut siswa memerankan tokoh-tokoh yang ada dalam legenda dan menghayati setiap adegan yang dimainkan. Dengan penghayatan itu siswa dapat memahami pesan-pesan moral yang terdapat dalam legenda. Sementara siswa lian yang menyaksikan pementasan bertugas untuk mengidentifikasi nilai moral individual yang ada dalam legenda. Dengan begitu, pembelajaran drama lebih bermakna dan sekaligus mengintegrasikan kearifan lokal yang berupa nilai moral individual untuk mengembangkan kemampuan afektif siswa. Tidak hanya itu saja, pemanfaatan teks legenda sebagai media juga dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa.

 

Nilai Moral Sosial yang Ditemukan dalam Legenda di Kabupaten Ngawi dan Manfaatnya dalam Pendidikan

Nilai moral sosial merupakan nilai moral yang menyangkut hubungan manusia dengan manusia lain, baik secara langsung maupun dalam bentuk kelembagaan (keluarga, masyarakat, negara), serta tanggung jawab umat manusia terhadap lingkungan hidup. Nilai moral sosial merupakan nilai yang bersumber dari norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Masyarakatlah yang menentukan sesuatu hal tersebut menjadi baik dan buruk dalam sebuah kesepakatan. Penilaian baik dan buruk yang telah menjadi kesepakatan tersebut dapat berasal dari agama tertentu, adat kebiasaan, kebudayaan tertentu, dogma ideologi tertentu, dan hati nurani manusia.

Sebagaimana ketiga prinsip moral dasar yakni sikap baik, adil, dan mengormati, maka nilai moral sosial harus mencakup ketiga prinsip tersebut dalam pandangannya. Prinsip sikap baik dalam pandangan moral sosial artinya, sebagai manusia dalam segala pikiran, ucapan, perbuatan, sikap, dan perilakunya harus didasari oleh kebaikan serta tidak merugikan orang lain. Adapun nilai kebaikan tersebut sepatutnya bermanfaat bagi orang lain dan sekitarnya. Prinsip adil dalam moral sosial juga harus memberi pandangan bahwa setiap pikiran, ucapan, perbuatan, sikap, dan perilaku manusia didasari oleh keadilan baik bagi diri sendiri, orang lain dan sekitarnya. Begitu pula dengan prinsip menghormati, yakni manusia dalam pikiran, ucapan, tindakan, sikap, dan perilakunya harus didasari oleh rasa hormat pada dirinya sendiri, orang lain, dan sekitarnya.

Pandangan utilitarisme—sebuah aliran filsafat moral—bahwa manusia dalam hidupnya harus bersikap dan berperilaku baik yang berguna dan bermanfaat bagi banyak orang. Untuk itu, sesuatu dianggap baik dari segi kemanfaatannya. Apabila sesuatu tersebut semakin baik, berguna, dan bermanfaat untuk orang lain atau kepentingan bersama, maka sesuatu tersebut dianggap semakin memiliki nilai moral yang baik. Dengan demikian, sikap dan tindakan manusia harus memiliki kegunaan untuk mencapai kebahagian umat manusia atau masyarakat secara menyeluruh. Maka dari itu, nilai moral sosial dalam pandangan utilitarisme ini merupakan nilai moral tingkat tinggi.

Nilai moral sosial yang ditemukan dalam legenda di Kabupaten Ngawi antara lain adalah nilai hormat dan kasih sayang, nilai pengorbanan, nilai kewajiban, nilai tanggung jawab, nilai kepemimpinan, nilai keadilan dan kebijaksanaan, nilai ketepatan janji, nilai kekeluargaan, nilai kegotongroyongan, dan nilai tolong-menolong. Nilai moral sosial tersebut ditemukan dalam legenda Ki Ageng Tawun, legenda Ki Ageng Plonco, legenda Jaka Buduk, dan legenda Adipati Kertanegara.

Nilai moral sosial yang ditemukan dalam legenda-legenda tersebut memiliki hubungan refleksi dengan realitas sosial-budaya masyarakat. Nilai moral sosial tersebut merefleksikan nilai moral sosial yang benar-benar ada  dalam masyarakat Jawa. Beberapa diantaranya bahkan menjadi nilai filosofis masyarakat Jawa. Misalnya nilai tolong-menolong, nilai kegotongroyong, nilai kerukunan, nilai hormat, dan nilai kekeluargaan merupakan nilai-nilai yang dijunjung tingi oleh masyarakat Jawa sebagai panduan praktis filosofi hidup. Nilai-nilai tersebut merupakan kaidah untuk menuju cita-cita masyakat Jawa dalam mewujudkan keselarasan kehidupan sosil. Suseno juga berpendapat (1988) nilai-nilai tersebut merupakan kaidah dasar yang dijunjung masyarakat Jawa dalam kehidupan sosial untuk mencapai keselarasan.

Temuan nilai moral sosial sebagaimana telah dijabarkan dalam subbab sebelumnya merupakan sebuah penanda bahwa sastra memiliki hubungan erat dengan masyarakt pemilik sastra. Dalam penelitian ini, sastra lisan yang berbentuk legenda mampu mencerminkan permasalahan sosial yang ada dalam masyarakatnya. Untuk itu, benar adanya bahwa sastra bersifat mimesis yakni meskipun bersifat fiksi namun  mampu mencerminkan realita yang pernah terjadi dalam kehidupan masyarakat. Teeuw (1984) berpendapat bahwa sastra merupakan sebuah mimesis yang artinya tiruan atau refleksi dari kehidupan nyata manusia sebagai pemroduksi sastra—dalam artian, sastra hanya berupa rekaan yang menyerupai kenyataan—namun dia mengakui bahwa sastra merupakan kenyataan dari segi sosiologi. Hal ini diperkuat oleh pendapat Estman (dalam Wellek dan Warren, 1993: 30) bahwa dalam “pemikiran sastra” kebenaran dalam karya sastra merupakan kebenaran di luar sastra.

Selain itu, nilai moral sosial yang ditemukan juga memiliki aspek kebermanfaatan. Sebagaimana sastra merupakan bagian dari seni yang seharusnya memiliki karakter decore, delectare, dan movere yang artinya memberi ajaran, keindahan, dan menggerakkan pembaca pada kegiatan yang bertanggung jawab (Teeuw, 1984:51. Dalam hal ini temuan dapat diamanfaat dalam bidang pendidikan. Salah satu manfaat konkritnya adalah mengintegrasikan temuan untuk menanamkan nilai moral sosial kepada siswa dalam pembelajaran drama pada mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

Teks legenda dan hasil temuannya dapat dijadikan sebagai media pembelajaran drama. Dalam hal ini siswa memainkan drama yang naskahnya berasal dari teks drama. Sedangkan guru mempersiapkan nilai moral sosial untuk dipahami oleh siswa dengan pengarahan. Dalam proses pembelajaran drama guru dapat menekankan nilai-nilai sosial untuk dalam adegan drama supaya lebih dihayati siswa. Sementara itu, siswa lain yang tidak memerankan dan sebagai audien bertugas untuk menemukan nilai moral sosial dalam adegan drama. Misalnya,  dalam adegan mana siswa dapat menemukan nilai gotong-royong, nilai kerukakunan, atau nilai ketepatanjanji.

Dengan mengintegrasikan nilai kearifan lokal dari sastra lisan dengan bermain drama, pembalajaran tersebut akan lebih bermakna bagi siswa. Misalnya, siswa dapat menghayati nilai ketepatanjanji dalam legenda Jaka Buduk dengan memainkan drama. Dengan memainkan peran, siswa akan memahami pesan tentang arti nilai ketepatan janji bahwa janji yang diucapkan oleh seseorang bersifat sakral dan akan berakibat buruk bila tidak ditepati.

 

Nilai Moral Spiritual  yang Ditemukan dalam Legenda di Kabupaten Ngawi dan Manfaatnya dalam Pendidikan.

Nilai moral spiritual merupakan nilai moral yang berkenaan dengan hubungan manusia dengan keyakinannya, kepercayaannya, agamanya, kereligiusannya, dan Tuhannya. Manusia sebagai mahluk yang berketuhanan dan memiliki kepercayaan berkebutuhan untuk mencapai kebaikan dangan cara yang religius. Sehubungan dengan nilai spiritual, Koentjaraningrat (1987:144) menyebutkan bahwa emosi keagamaan menyebabkan manusia itu religius; suatu keyakinan yang mengandung segala keyakinan serta bayangan manusia tentang sifat-sifat Tuhan, tentang wujud alam gaib (supranatural) serta segala nilai dan ajaran religi yang bersangkutan.

Nilai moral spiritual mempertimbangakan sesuatu menjadi baik dan buruk berdasarkan pandangan spiritual yang dapat berasal dari keyakinan tertentu, kepercayaan tertentu, agama tertentu atas perintah Tuhan. Dalam teori etika teonom pandangan-pandangan moral merupakan ajaran kebaikan yang dilihat dari kesesuaian atas kehendak Tuhan dan bersifat kodrati. Suatu perilaku dianggap baik apabila sesuai dengan perintah Tuhan pada agama tertentu. Sesuatu itu juga dianggap baik apabila sesuai dengan kodrat manusia sebagai mahluk yang berketuhanan.

Nilai moral spiritual dalam hal ini bersifat metamateri. Hal tersebut  artinya  bahwa nilai moral spiritual tidak dapat diukur dari sudut pandang materi saja, namun secara kerohaninan, kebatinan, atau spirit yang mendasari setiap tingkah laku manusia di dalam kehidupan.  Untuk itu, ajaran moral spiritual yang bersifat pragmatis tidak lepas dari pandangan metamateri dari keyakinan, kepercayaan, dan agama tertentu yang mendasarinya.

Nilai moral spiritual yang ditemukan dalam legenda di Kabupaten Ngawi antara lain adalah nilai kepercayaan kepada Tuhan, nilai keiklasan dan kepasrahan pada Tuhan, nilai ajaran ritual kepercayaan, nilai kepercayaan pada hal gaib, nilai kepercayaan pada kekuatan supranatural, nilai ketaatan, dan nilai ketentraman batin. Nilai-nilai tersebut ditemukan dalam legenda Ki ageng Tawun, Ki Ageng Plonco, Jaka Buduk, dan Adipati Kertanegara.

Seperti halnya nilai moral individual dan sosial, nilai spiritual yang ditemukan dalam legenda di Kabupaten ngawi juga memiliki hubungan refleksi dengan realitas kehidupan masyarakat dalam perihal spiritualitas. Aspek kehidupan spiritual masyarakat Jawa yang diungkapan oleh Geertz (2014) dan Suseno (1988) tercermin dalam nilai moral spiritual yang ditemukan dalam legenda-legenda di Kabupaten Ngawi. Sebagaimana sifat mimes sastra yang meniru realita dalam kehidupan nyata, sifat mimesis itu juga dimiliki oleh legenda-legenda di Kabupaten Ngawi.

Hasil temuan berkenaan dengan nilai moral spiritual tersebut dapat dimanfaatkan dalam bidang pendidikan. Nilai moral spiritual dalam legenda itu dapat digunakan untuk memperluas wawasan dan pengetahuan siswa atas keragaman dan hasanah budaya yang dimiliki oleh bangsa. Dengan bertambahanya wawasan dan pengetahuan akan kearifan lokan dan keragaman hasanah budaya melalui nilai moral spiritual dalam legenda-legenda, siswa akan lebih mencintai dan bangga akan budayanya sendiri. Tidak hanya itu, pengetahuan akan keragaman budaya dari aspek spiritual dapat mempertinggi nilai tolerasansi siswa terhadap keragaman dan perbedaan agama dan kepercayaan.

Kebermafaatan hasil temuan dapat diintegrasikan langsung dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Selain bermain drama, penerapan konkrit dapat dilakukan dalam pembelajaran membaca sastra. Teks legenda dapat digunakan sebagai sumber pembelajaran. Dalam pembelajaran membaca sastra, siswa dianjurkan untuk membaca teks legenda-legenda dan mengidentifikasi keragaman nilai spiritual yang terkandung didalamnya. Identifikasi nilai spiritual tersebut selanjutnya didiskusikan bersama guru hingga siswa mendapat pemahaman yang mendalam atas nilai-nilai spiritual tersebut. Dengan begitu, pembelajaran sastra berbasis kearifan lokal dapat dilakukan dengan memanfaatkan kekayaan sastra lisan yang ada di Indonesia.

Tidak hanya itu, pembelajaran dengan menggunakan legenda sebagai sumber belajar dapat menjaga kepunahan sastra lisan pada generasi mendatang. Sebagaimana legenda yang merupakan sebuah tradisi lisan, maka dengan menjadikan sumber pembelajaran berarti turut mentradisikan penuturan legenda ke generasi berikutnya. Upaya ini sangat memabantu dalam kelestarian legenda yang semakin bergeser dan jarang dituturkan lagi. Dengan menggunakan media foklor dalam pembelajaran, hal itu menjadi salah satu upaya pelestarian foklor sebagai bagian dari kebudayaan baik perlindungan, pemanfaatan, maupun pengembangan foklor di masa mendatang (Sibrani, 2013:9)

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Atas hasil temuan nilai-nilai dalam legenda di Kabupaten Ngawi tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa legenda-legenda di Kabupaten Ngawi sebagai sastra lisan mampu merefleksikan realitas kehidupan yang nyata. Sebagaimana sifat sastra yang mimesis yakni sebuah fiksi yang merupakan tiruan dari realitas. Begitu pula dengan legenda sebagai sastra lisan memiliki nilai sebagai realitas sosial yang pernah ada dalam masyarakat yang sesungguhnya. Hal itu terbukti dari nilai-nilai moral yang ditemukan dalam legenda mampu mencerminkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat khususnya masyarakat Jawa sebagai pemilik legenda tersebut. Melalui nilai-nilai moral tersebut, teks legenda mampu menyajikan kenyataan moralitas dalam kehidupan yang sesungguhnya baik individual, sosial, dan spiritual.

Peneliti juga menyimpulakan bahwa hasil temuan penelitian ini dapat dimanfaatkan dalam bidang pendidikan. Sebagaiman fungsi sastra dulce et utile yakni tidak hanya menghibur namun juga bermanfaat. Temuan penelitian dapat dimanfaatkan sebagai media dan sumber pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia berbasis kearifan lokal.

Berdasarkan hasil temuan penelitian, ada beberapa saran dari peneliti demi kebaikan dan kebermanfaatan penelitian. Saran-saran tersebut antara lain adalah sebagai berikut. Saran kepada guru yakni hasil penelitiaan yang berkenaan dengan nilai-nilai moral dalam legenda supaya dimanfaatkan oleh guru untuk diintegrasikan dengan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia sebagai pembelajaran berbasis budaya dan kearifan lokal. Adapun penarapan yang disarankan oleh peneliti adalah dengan menggunakan teks legenda sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai moral melalui pembelajaran drama. Siswa memainkan drama yang berasal dari teks legenda sehingga lebih menghayati dan memahami pedan moral di dalamnya. Selain itu teks legenda dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran membaca sastra. Siswa dianjurkan membaca teks legenda dan mengidentifikasi nilai moral didalamnya yangkemudian didiskusikan untuk mendapat pemahaman yang mendalam.

Saran kepada dosen pengampu mata kuliah apresiasi sastra dan sastra lisan adalah supayam model penelitian ini dimanfaatkan sebagai contoh penerapan apresiasi sastra dan analisis terhadap sastra lisan. Saran kepada peneliti selanjutnya adalah supaya penelitian ini dijadikan sebagai wacana bagi penelitian serupa terhadap legenda di Kabupaten Ngawi, mengingat masih banyaknya kekayaan budaya dan kearifan lokal yang belum digali.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Geertz, Clifford. 1960. Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi dalam Kebudayaan Jawa. Terjemahan Aswab Mahasin dan Bur Rasuanto. 2014. Depok: Komunitas Bambu.

 

Hutomo, S.S 1991. Mutiara yang Terlupakan. Pengantar Studi Sastra Lisan. Surabaya: Komisi HISKI Jatim.

Koentjaraningrat, 1987.  Sejarah Teori Antropologi. Jakarta: Penerbit Tengah

Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarya: Gajah Mada University Press.

Saryono, Djoko. 2010. Sosok Nilai Budaya Jawa: Rekonstruksi Normatif-Idealisme. Malang: Asah Asih Asuh.

Sukatman. 2012: Butir-Butir tradisi Lisan Indonesia: Pengantar Teori dan Pembelajarannya. yogyakarta: Laksbang.

Suseno, Franz Magnis. 1988. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia.

Suseno, Franz Magnis. 2002. Etika Dasar.Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral. Yogyakarta: Kanisius.

Sibarani, Robert. 2010. Kearifan Lokal: Hakikat, Peran dan Metode Tradisi Lisan. Jakata: Asosiasi Tradisi Lisan.

 

Taum, Yoseph Yapi. 2011. Studi Sastra Lisan (Sejarah, Teori, Metode, dan Pendekatan Disertai Contoh dan Penerapannya). Yogyakarta: Lamalera.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori. Jakarta: Pustaka Jaya

Wellek, Rene dan Austin, Warren. 1993. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.