DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengaturan Diri Belajar Bahasa Indonesia Siswa SMA

Retno Danu Rusmawati

Abstrak


ABSTRAK

 

Retno Danu Rusmawati, 2015. Pengaturan Diri Belajar Bahasa Indonesia Siswa SMA. Disertasi, Program Doktor PascaSarjana Teknologi Pembelajaran Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Punaji Setyosari, M.Pd.,M.Ed , (II) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd, (III) Dr. Dedi Kuswandi, M.Pd.

 

Kata Kunci: Pengaturan diri belajar, Pembelajaran Bahasa Indonesia

 

Salah satu aspek yang menentukan kualitas dan keberhasilan pembelajaran Bahasa Indonesia siswa, adalah pengaturan diri belajar Bahasa Indonesia. Keberhasilan belajar Bahasa Indonesia bukan hanya kemampuan menguasai pengetahuan, kemampuan teknis, dan kognisinya (hard skill) saja, namun juga ditentukan oleh kemampuan mengelolaan diri belajar dan orang lain (soft skill) dari siswa sendiri. Untuk itulah Peneliti melakukan penelitian/ kajian tentang pengaturan diri belajar Bahasa Indonesia Siswa SMA. Peneliti memfokuskan aspek metakognisi, aspek motivasi, aspek perilaku siswa dalam pengaturan diri belajar (SRL) Bahasa Indonesia.

Tujuan Penilitian secara rinci adalah (1) Mendeskripsikan pengaturan diri belajar (SRL) Bahasa Indonesia Siswa SMAN 20 Surabaya aspek metakognitif, (2) Mendeskripsikan pengaturan diri belajar (SRL) Bahasa Indonesia Siswa SMAN 20 Surabaya aspek motivasi, (3) Mendeskripsikan pengaturan diri belajar (SRL) Bahasa Indonesia Siswa SMAN 20 Surabaya aspek perilaku/ lingkungan, (4) Mendeskripsikan hasil analisis fenomenologis dan dokumentatif struktur dasar kemandirian pengaturan diri siswa  SMAN 20 Surabaya  belajar  Bahasa Indonesia dan keunikannya, (5) Mendeskripsikan  Menemuan rumusan bangunan keilmuan  Struktur dasar  kemandirian pengaturan diri belajar Bahasa Indonesia khususnya aspek metakognitif, aspek motivasi, aspek perilaku siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMAN 20 Surabaya, (6) Mendeskripsikan rumusan proposisi-proposisi dalam rangka tarikan teori dan grand teori kemandirian pengaturan diri dalam upaya mengungkap ada tidaknya atau sejauh mana aspek metakognitif, aspek motivasi, aspek perilaku Siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMAN 20 Surabaya.penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologis dari Strauss dan Cobin (1998). Penelitian dilaksanakan pada semesrter genap 2013/2014 dan semester ganjil 2014/2015 di SMAN 20 Surabaya. Fokus penelitian adalah  kemandirian pengaturan diri belajar Bahasa Indonesia Siswa SMAN 20 Surabaya. Instrumen pengumpul data menggunakan kuisioner, dokumentasi, observasi, dan wawancara. Subyek penelitian adalah Kepala Sekolah, Guru Bahasa Indonesia, Siswa.

Berdasarkan hasil penelitian  yang dilakukan dari aktivitas Siswa di SMAN 20 Surabaya diketahui bahwa aktivitas-aktivitas kognitif Siswa SMAN 20 Surabaya baik kelas X, XI maupun XII dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia belum optimal. 1). Aktivitas-aktivitas kognitif Siswa yang belum optimal tersebut diantara adalah mengingat, mendeksripsikan, mengkategorikan berpikir dan memecahkan masalah. Dalam aktivitas mengingat, Siswa seringkali lupa dengan materi yang telah diberikan sebelumnya sehingga ketika Pembelajar menanyakan kembali materi yang telah diberikan dan Siswa sering tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. 2). Aspek motivasi baik instrinsik dan ekstrinsik hanya sebagian kecil yang memiliki kemandirian pengaturan diri belajar dari aspek motivasi untuk itu perlu diwujudkan secara aplikatif terus menerus bentuk-bentuk motivasi baik ekstrinsik dan intrinsik untuk seluruh siswa yang mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia, karena tidak semua siswa menyimak dan menyadari semua motivasi yang ada dan yang telah diberikan. 3).  Aspek perilaku siswa SMAN 20 Surabaya belum maksimal mempunyai kemampuan berperilaku  mengatur waktu, mengatur lingkungan fisik, memanfaatkan orang lain/teman sebaya dan orang-orang sekolah dalam upaya meningkatkan proses dan hasil pembelajaran Bahasa Indonesia. Indikator dalam perilaku meliputi kemampuan mengatur waktu, kemampuan mengatur lingkungan fisik serta kemampuan dalam memanfaatkan teman, Pembelajar serta orang lain dalam membantu proses belajar Bahasa Indonesia, belum tertampakkan secara jelas dan merata. Memang telah ada beberapa siswa yang memiliki kemampuan berperilaku tersebut namun hanya sedikit sekali. 4) Keunikan hasil analisis fenomenologis dan dokumentatif struktur dasar kemandirian pengaturan diri siswa  SMAN 20 Surabaya  belajar  Bahasa Indonesia adalah seharusnya pengaturan diri belajar/ Self Regulated Learning mengikuti siklus “ Rencanakan, Kerjakan, Pelajari, Lakukan (RKPL) yang dikembangkan oleh ahli manajemen terkemuka W. Edward Deming (1994), namun yang terjadi adalah siklus kerjakan, lakukan (KL), sehingga kebiasaan merencanakan nyaris tidak ada, yang ada hanya beberapa sebagian kecil siswa yang memiliki kemampuan Rencanakan (R), sedangkan siklus Pelajari (P) juga demikian sering tidak dilakukan dahulu oleh siswa.  5) Rumusan bangunan keilmuan  Struktur dasar  kemandirian pengaturan diri belajar Bahasa Indonesia khususnya aspek metakognitif, aspek motivasi, aspek perilaku siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMAN 20 Surabaya, perlu diwujudkan karena kemandirian pengaturan diri belajar Bahasa Indonesia Siswa SMAN 20 Surabaya masih pada siklus Kerjakan, lakukan belum melalui siklus Rencanakan, Kerjakan, Pelajari, lakukan (RKPL). 6) Setelah dilakukan analisis dari sudut pandang dan kajian keilmuan TEP, konsep kemandirian pengaturan diri (SRL) Bahasa Indonesia Siswa SMAN 20 Surabaya yang terungkap dalam penelitian ini adalah cocok untuk bentuk pembelajaran bahasa Indonesia di SMA, hal ini tercermin dari temuan penelitian, bahwa (1) Siswa diperlakukan sebagai individu yang memiliki kebutuhan dan minat, (2) Siswa diberi kesempatan berpartisipasi aktif dalam penggunaan bahasa secara komunikatif dalam berbagai aktivitas,  (3) Secara sengaja Siswa dimotivasi memfokuskan pembelajaran Bahasa Indonesia kepada bentuk, keterampilan, dan strategi untuk mendukung proses pemerolehan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, (4) Siswa sebagai peserta didik disebarkan dalam data sosiokultural dan pengalaman langsung dengan budaya Indonesia menjadi bagian dari bahasa Indonesia sasaran, (5) Siswa menyadari akan peran dan hakikat bahasa Indonesia dan budaya Indonesia, (6) Siswa untuk kemajuan belajarnya diberi umpan balik yang tepat dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

 

Retno Danu Rusmawati, 2015. Self-Learning Indonesian Language in High School Students. Dissertation, Doctoral Degree, Learning Technology Program, State University of Malang. Advisors: (I) Prof Dr. H. Punaji Setyosari, M.Pd., M.Ed, (II) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, Pd, (III) Dr. Dedi Kuswandi, M.Pd.

 

Keywords: self-regulated learning, learning Indonesian

 

One of the aspects that determine the quality and success of students learning Indonesian, is the self-regulation. Indonesian learning success is not only the ability to master the knowledge, technical skills, and cognition (hard skills), but also determined by the ability to manage self-study and others (soft skills) by themselves. Therefore researcher conduct the research / studies on self-regulation of learning Indonesian in High School Students. Researcher focuses on aspects of metacognition, motivational aspects, aspects of student behavior in the self-regulation of learning (SRL) Indonesian Language.

The Research Objectives in detail are (1) to describe the self-regulation of learning (SRL) Indonesian of Students at SMAN 20 Surabaya, metacognitive aspects, (2) to describe the self-regulation of learning (SRL) in Indonesian Language by Students of SMAN 20 Surabaya, the aspects of motivation, (3) Describe the self-regulation learning (SRL) in Indonesian Language by Students of SMAN 20 Surabaya, the aspects of behavior / environment, (4) Describe the results of phenomenological analysis and documented, the basic structure of the independence of self-regulation of students at SMAN 20 Surabaya to learn Indonesian language and uniqueness, (5) Describe the formulation of science basic structure of self-reliance, self-regulation of learning Indonesian in particular aspects of metacognitive, motivational aspects, aspects of behavior in students in learning Indonesian language at SMAN 20 Surabaya, (6) Describe the formulation of propositions in a grand theory of the independence of self-regulation in an effort to reveal the presence or absence or the extent to which aspects of metacognitive aspect motivation, behavioral aspects in learning Indonesian Language by the students at SMAN 20 Surabaya. This research uses qualitative phenomenological method of Strauss and Cobin (1998). The experiment was conducted in the second semester of 2013/2014 and the first semester in 2014/2015, at SMAN 20 Surabaya. The focus of research is the independence of the self-regulation of learning Indonesian Students SMAN 20 Surabaya. The instrument used for collecting data using questionnaires, documentation, observation, and interviews. Subjects were Principal, Indonesian Teachers, as well as the students.

Based on the results of the research conducted on the activities of students at SMAN 20 Surabaya, it is known that the cognitive activities of Students at SMAN 20 Surabaya, especially for X, XI and XII classes in learning Indonesian wasn’t maximized. 1). Students cognitive activities that were not maximized are:  remembering, describing, categorizing, thinking and problem solving.

In the activity of remembering, students seems to not remember the material that has been given, they prefer to ask repetition for the explanation about the material, furthermore they can’t answer questions which was given to them.

2). Motivational aspects both intrinsic and extrinsic, it is shown that only few students have the independence of self-regulation learning from the aspect of motivation for it needs to be realized applicative continuously forms of motivation both extrinsic and intrinsic to all students who learn Indonesian Language, because not all the students listened and realized all the motivation that exists and that has been given.

3). Aspects of students behavior at SMAN 20 Surabaya, seems lack of  ability to manage the time, manage the physical environment, maximizing the role of other people / peers and the school in an effort to improve the processes and outcomes of learning Indonesian Language. The indicators in behavior includes the ability to manage the time, the ability to control the physical environment and the ability to maximizing the role of friends, learners and others in a way to help the process of learning Indonesian . Indeed, there have been some students who have the ability to manage their behavior well.

4) The uniqueness of the results of phenomenological analysis and independence documented the basic structure of self-regulation SMAN 20 Surabaya Indonesian study was supposed to learn self-regulation / Self-Regulated Learning to follow a cycle of "Plan, Do, Learn, Do” which developed by a leading management expert W. Edward Deming (1994), but what happens is the cycle working, doing, so that the habit of planning hardly shown, only few students who have the ability to plan, while the cycle of Study, rarely performed by the students

5) The formulation of science basic structure in term of independency to do self-regulation in learning Indonesian,  in particular aspects of metacognitive, motivational aspects, aspects of behavior by students in learning Indonesian in SMAN 20 Surabaya, needs to be realized due to the independence of self-regulation of learning Indonesian Students SMAN 20 Surabaya still on cycle “Do”, do not through a cycle of “Plan, Do, Study, do”(RKPL). 6) After the analysis of viewpoints and TEP study , the concept of the independence of self-regulation (SRL) Indonesian Students SMAN 20 Surabaya revealed in this study is appropriate for forms of learning Indonesian in high school, this is reflected in the findings of the study, that ( 1) Students are treated as individuals who have needs and interests, (2) Students are given the opportunity to participate actively in the use of language in communicative activities, (3) Intentionally Students are motivated to focus teaching Indonesian to form, skills, and strategies to support the process acquisition Indonesian is good and right, (4) students as learners positioned in the data sociocultural and direct experience with Indonesian culture become part of Indonesian targets, (5) Students are aware of the role and nature of Indonesian and Indonesian culture, (6) students for their learning progress given proper feedback in learning Indonesian language.