DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

DEFRAGMENTINGSTRUKTUR BERPIKIR SISWA MELALUI PEMETAAN KOGNITIF BERDASARKAN GAYA BELAJAR UNTUK MEMPERBAIKI KESALAHAN SISWA PADA PERMASALAHAN LINGKARAN

Ahmad Ali Syihabuddin

Abstrak


ABSTRAK

 

Syihabuddin, A. Ali. 2015. Defragmenting Struktur Berpikir Siswa Melalui Pemetaan Kognitif Berdasarkan Gaya Belajaruntuk Memperbaiki Kesalahan Siswa pada Permasalahan Lingkaran. Tesis Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Toto Nusantara, M.Si. dan (II) Dr. Abdul Qohar, MT.

 

Kata Kunci : defragmenting, stuktur berpikir, pemetaankognitif, gayabelajar

 

Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki kesalahan siswa dalam menyelesaikan permasalahan lingkaran dengan cara defragmenting struktur berpikir siswa melalui pemetaan kognitif. Selain itu, mendeskripsikan defragmenting struktur berpikir berdasarkan gaya belajar yang dimiliki oleh siswa dan memperbaiki kesalahan siswa. Kesalahan siswa yang dimaksudkan merupakan jawaban salah siswa ketika menyelesaikan masalah yang diberikan,namun dalam jawaban siswa tersebut sudah menuliskan sebagian langkah-langkah penyelesaian masalah dengan benar. Defragmenting struktur berpikir siswa menggunakan strategi spatial yaitu penggunaan peta kognitif.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif eksploratif dengan subyek yang diambil dari siswa MTs. Al Islahiyah Sukobendu Mantup Lamongan. Cara mengukur gaya belajar siswa dengan VAK Learning-Style Self Assessment Questionnaire proposed by Chislett and Chapman (2005). S1 dan S2 adalah siswa dengan gaya belajar visual, siswa cenderung mudah memvisualkan gambar yang ada dalam pemikirannya, namun kesalahan yang dilakukannya adalah kesalahan konsep segitiga sehingga defragmenting yang diberikan yaitu proses memberikan stimulus dengan komunikasi atau langkah setiap tahapannya. Dan S3 dan S4 adalah siswa dengan gaya belajar auditori, siswa cenderung membaca soal dan tidak mudah dalam menvisualkan gambar yang dipikirkannya sehingga proses defragmenting yang diberikan adalah proses untuk membantu menyelesaikan permasalahan dengan cara menggambar secara perlahan setiap tahapan.

 Sehingga subyek visual memiliki ciri, lebih mudah menangkap bentuk gambar, sulit memahami soal teks dan kesalahan cenderung pada pemahaman soal, maka cara defragmenting yang digunakan adalah mengulang membaca teks soal dan menuliskan langkah-langkah dengan jelas dalam menyelesaikan soal. Sedangkan subyek auditori memiliki ciri lebih mudah membaca soal teks dan sulit memahami dan megartikan soal dalam  gambar, maka cara defragmenting yang digunakan adalah menuntun siswa memahami soal dengan menyelesaikan tahapan dengan bantuan gambar.