DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kemampuan Metakognitif, Sikap Ilmiah, dan Hasil Belajar Kognitif pada Pembelajaran Biologi yang Berbeda (Inkuiri, Inkuiri Terintegrasi dengan Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan, dan Pembelajaran Standar) di SMA Kota Malang

Ninik Kristiani

Abstrak


ABSTRAK

 

Kristiani, Ninik. 2015. Kemampuan Metakognitif, Sikap Ilmiah, dan Hasil Belajar Kognitif pada Pembelajaran Biologi yang Berbeda (Inkuiri, Inkuiri Terintegrasi dengan Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan, dan Pembelajaran Standar) di SMA Kota Malang. Disertasi. Program Studi Pendidikan Biologi Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc, Ph. D, (II) Prof. Dr. Aloysius Duran Corebima, M.Pd, (III) Dr. Fatchur Rohman, M.Si.

 

Kata Kunci: hasil belajar kognitif, kemampuan metakognitif, pembelajaran yang berbeda, dan sikap ilmiah

 

Pembelajaran biologi SMA di Kota Malang sebagian besar masih didominasi oleh pembelajaran yang bersifat konvensional. Pembelajaran masih berorientasi pada peningkatan hasil belajar kognitif dan belum mampu menumbuhkan potensi siswa secara optimal. Guru belum memiliki pengetahuan metakognitif sehingga penerapan metakognitif oleh siswa belum dilakukan. Hal ini berimplikasi terhadap kemampuan kognitif yang rendah.           Permasalahan lain, pembentukan sikap ilmiah sebagai moral karakter cenderung diabaikan. Akibatnya siswa yang dihasilkan adalah siswa yang hanya cerdas dalam berpikir tetapi tidak memiliki moral karakter yang baik.

Memperhatikan hal di atas, maka diperlukan model pembelajaran yang lebih efektif yang mampu mengembangkan potensi siswa termasuk kemampuan metakognitif, sikap ilmiah, dan hasil belajar kognitif. Model pembelajaran yang dianggap tepat untuk diterapkan pada siswa terutama di SMA adalah suatu pembelajaran yang berlandaskan pada pendekatan konstruktivistik. Model pembelajaran yang dapat digunakan adalah pembelajaran inkuiri dan pembelajaran pola PBMP. Diharapkan pembelajaran inkuiri yang terintegrasi dengan PBMP mampu memaksimalkan potensi keduanya dalam meningkatkan kemampuan metakognitif, sikap ilmiah, dan hasil belajar kognitif.

Tujuan penelitian ini secara rinci adalah (1) Mengetahui pengaruh model pembelajaran Inkuiri, Inkuiri-PBMP, dan Pembelajaran standar terhadap kemampuan metakognitif (kesadaran dan keterampilan metakognitif), sikap ilmiah, dan hasil belajar kognitif, (2) Mengetahui hubungan kemampuan metakognitif (kesadaran dan keterampilan metakognitif) dengan hasil belajar kognitif, dan (3) Mengetahui hubungan sikap ilmiah dengan hasil belajar kognitif.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian quasi experiment dengan desain pretest-posttest control group design. Sampel penelitian ini adalah siswa SMA Kota Malang yang diambil secara acak. Data yang dikumpulkan meliputi data kemampuan metakognitif yang terdiri dari kesadaran metakognitif dan keterampilan metakognitif, sikap ilmiah, dan hasil belajar kognitif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan Metacognitive Awareness Inventory (MAI), tes keterampilan metakognitif terintegrasi dengan hasil belajar kognitif, dan lembar observasi sikap ilmiah. Data penelitian dianalisis secara deskriptif dan inferensial dengan menggunakan analisis kovariat (ANAKOVA) dan regresi dengan taraf signifikansi 5%. Data dianalisis dengan menggunakan program SPSS 17.0 for Windows. 

Berdasarkan analisis data tersebut, diperoleh lima simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, kesadaran metakognitif antara siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Inkuiri berbeda dengan siswa yang ajar dengan menggunakan Inkuiri-PBMP, dan pembelajaran standar, keterampilan metakognitif siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Inkuiri sama dengan keterampilan siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran standar namun berbeda dengan keterampilan siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Inkuiri-PBMP. Penggunaan model pembelajaran Inkuiri-PBMP lebih unggul dari dua model pembelajaran lainnya dalam meningkatkan kesadaran metakognitif dan keterampilan metakognitif siswa.

Kedua, sikap ilmiah siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Inkuiri relatif sama dengan siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Inkuiri-PBMP, bahwa tidak berbeda signifikan dengan siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran standar. Pembelajaran Inkuiri lebih unggul dari pembelajaran standar dalam meingkatkan sikap ilmiah siswa.

Ketiga, hasil belajar kognitif antara siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Inkuiri berbeda dengan hasil belajar kognitif siswa yang ajar dengan menggunakan Inkuiri-PBMP, dan pembelajaran standar

Keempat, ada hubungan positif antara kesadaran metakognitif dengan hasil belajar kognitif siswa pada kelas yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Inkuiri sekalipun sumbangannya hanya sedikit, dan hubungan tersebut tidak ditemukan pada kelas yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Inkuiri-PBMP dan pembelajaran standar. Selanjutnya, ada hubungan positif antara keterampilan metakognitif dengan hasil belajar kognitif pada kelas yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Inkuiri, Inkuiri-PBMP, dan pembelajaran standar di mana sumbangan keterampilan metakognitif terhadap hasil belajar kognitif  pada tiga model pembelajaran tersebut besarnya tidak sama. Sumbangan terbesar terdapat pada kelas yang diajar dengan mengunakan model pembelajaran Inkuiri-PBMP dan model pembelajaran ini lebih unggul dari dua model pembelajaran lainnya dalam meningkatkan keterampilan metakognitif yang berdampak terhadap peningkatan hasil belajar kognitif siswa.

Kelima, ada hubungan positif antara sikap ilmiah dengan hasil belajar kognitif siswa pada kelas yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Inkuiri, Inkuiri-PBMP, dan pembelajaran standar di mana sumbangan sikap ilmiah terhadap hasil belajar kognitif dari tiga model pembelajaran tersebut besarnya tidak sama. Sumbangan sikap ilmiah terbesar terdapat pada kelas yang diajar dengan menggunakan pembelajaran standar. Sekalipun demikian, model pembelajaran Inkuiri-PBMP ternyata lebih unggul dari pembelajaran tersebut di samping lebih unggul juga dari model pembelajaran Inkuiri dalam melatihkan sikap ilmiah yang berdampak terhadap peningkatan hasil belajar kognitif siswa.

Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka disampaikan saran kepada semua pelaku kurikulum baik siswa, guru, Kepala Sekolah, maupun Pengawas Sekolah untuk memfungsikan kemampuan metakognitif dan memahami pentingnya sikap ilmiah. Guru agar merancang dan mengelola implementasi model pembelajaran Inkuiri dan pembelajaran standar (5M) untuk meningkatkan sikap ilmiah siswa, model pembelajaran Inkuiri-PBMP untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan metakognitif siswa. Sekalipun pembelajaran standar mampu meningkatkan sikap ilmiah siswa, namun disarankan guru mengajar berbasis model pembelajaran. Pengawas sekolah agar mengoptimalkan fungsi supervisor di sekolah binaan. Apabila peneliti lain akan mengukur kemampuan metakognitif siswa disarankan menggunakan rubrik keterampilan metakognitif yang terintegrasi dengan tes hasil belajar kognitif.

at have an interest on this subject.