DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

MANAJEMEN PROGRAM ADIWIYATA SEKOLAH (Studi multi kasus pada SMA Global Islamic Boarding School Kabupaten Barito Kuala, SMPN 4 Martapura Kabupaten Banjar, dan SDN Pengambangan 5 Kota Banjarmasin

AGUS RIFANI SYAIFUDDIN

Abstrak


ABSTRAK

 

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam proses berbicara maupun dalam proses belajar. Dalam prosesnya, manusia senantiasa menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi sehari-hari dengan sesamanya terlepas dari kepentingan pribadi. Selain itu, bahasa merupakan kebutuhan manusia yang bersifat absolut, karena bahasa merupakan wahana komunikasi antarmanusia.

Bahasa sebagai gejala sosial ditentukan oleh faktor linguistik dan faktor nonlinguistik. Hal itu sejalan dengan pendapat Suwito (1982:3) yang menyatakan bahwa bahasa sebagai gejala sosial dalam pemakaiannya bukan saja ditentukan oleh faktor linguistik, tetapi juga ditentukan oleh faktor-faktor nonlinguistik, misalnya faktor sosial dan situasional. Faktor sosial yang mempengaruhi pemakaian bahasa, misalnya status sosial, tingkat pendidikan, umur, tingkat ekonomi, jenis kelamin, dan sebagainya. Faktor situasional yang mempengaruhi bahasa, yaitu siapa berbicara, dengan siapa berbicara, dan masalah apa yang dibicarakan.

Pada umumnya, masyarakat Indonesia menguasai dua bahasa, yaitu bahasa daerah (bahasa ibu) dan bahasa Indonesia, misalnya seorang yang berasal dari suku Madura, selain menguasai bahasa Madura juga dapat bertutur bahasa Indonesia dengan baik. Situasi demikian menyebabkan terjadinya kontak bahasa pada diri seorang penutur dalam tindak berbahasanya sehingga gejala ketergantungan dalam tindak berbahasanya dapat dihindari. Suwito (1983:39-40) menyatakan bahwa kontak bahasa terjadi dalam situasi kontak sosial, yaitu situasi pada saat seseorang belajar bahasa kedua di dalam masyarakat.

Situasi pemakaian bahasa bermacam-macam, dimulai dari suasana percakapan dalam keluarga, antarkeluarga, antartetangga, dalam interaksi jual-beli di pasar, suasana diskusi ilmiah, suasana pidato di alun-alun, sampai dengan ceramah di kecamatan.

Studi mengenai pemakaian bahasa pada masyarakat yang berlatar belakang multilingual mempunyai daya tarik tersendiri. Salah satu kasus multilingualisme di Indonesia yang menarik perhatian peneliti adalah masyarakat etnik Arab. Di samping itu, kedudukan masyarakat etnik Arab sebagai golongan etnik keturunan asing yang berasal dari budaya dan bahasa yang berbeda.

Studi multilingualisme berangkat dari adanya beberapa faktor keganjilan berbahasa pada masyarakat etnik Arab Dusun Kauman Kelurahan Kalimas Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo. Dalam berbagai situasi, masyarakat etnik Arab Kauman dalam berinteraksi sesama etniknya lebih banyak menggunakan bahasa Madura yang disisipi unsur bahasa Arab, daripada menggunakan bahasa Arab yang sesuai dengan identitas mereka dalam masyarakat. Alasan utamanya adalah faktor lingkungan sosial mereka yang berdekatan dengan penduduk lokal.

Penduduk lokal di sekitar Dusun Kauman Kelurahan Kalimas Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo adalah masyarakat Madura dan bahasa yang digunakan adalah bahasa Madura. Sebagai masyarakat minoritas, etnik Arab menyadari penuh situasi kebahasaan mereka. Untuk mengatasi masalah situasi kebahasaan tersebut masyarakat etnik Arab mencoba mengubah cara berkomunikasi. Perubahan komunikasi yang dilakukan masyarakat etnik Arab adalah mencampurkan salah satu unsur bahasa Arab ke dalam bahasa Madura. Tujuan pencampuran dua bahasa itu dimaksudkan sebagai media penghubung sosiokultural mereka yang sama sekali jauh berbeda terutama dalam hal kebahasaan dan hubungan sosial lainnya. Masyarakat etnik Arab paham betul dengan dampak pencampuran bahasa tersebut, apalagi bahasa yang mengalami perubahan tutur adalah bahasa Madura. Di samping dapat merusak struktur bahasa Madura, juga dapat berakibat buruk pada proses pelestarian bahasa Arab sendiri sebagai identitas sosial mereka. Namun, masyarakat etnik Arab mengambil semua resiko tersebut demi tercapainya situasi sosial kebahasaan yang guyub.

Semakin jarangnya pemakaian bahasa ibu, seperti yang terjadi pada masyarakat etnik Arab Kalimas di Dusun Kauman merupakan fenomena yang biasa terjadi. Bila suatu kelompok datang ke tempat lain dan bercampur dengan kelompok setempat, akan terjadi pergeseran bahasa. Kelompok pendatang akan melupakan sebagian bahasanya dan (terpaksa) memperoleh bahasa setempat (Alwasilah, 1985:33).

Terkait hal di atas jelaslah bahwa masyarakat Arab termasuk dalam kelompok masyarakat dwibahasawan. Sebagai masyarakat minoritas, etnik Arab menggunakan bahasa Arab sebagai bukti yang menunjukkan identitas bahwa mereka itu ada. Menurut Oksaar (1972:478), kedwibahasaan tidak hanya milik individu tetapi kedwibahasaan harus juga diperlukan sebagai milik kelompok, sebab bahasa itu tidak terbatas sebagai alat penghubung antarindividu, tetapi juga alat komunikasi antarkelompok. Lebih lanjut, Oksaar (1972:478) menjelaskan bahwa alat penghubung tersebut merupakan faktor utama dalam menunjukkan identitas kelompok. Biasanya dalam masyarakat dwibahasawan terdapat beberapa masalah, salah satunya adalah masalah pemilihan bahasa. Kapan mereka menggunakan bahasa yang satu dan kapan menggunakan bahasa yang lainnya.

Seorang multilingual/bilingual tidak dapat melepaskan diri dari proses alih kode (code switching) dan campur kode (code mixing) yang di dalamnya terdapat serpihan-serpihan bahasa yang digunakan oleh penutur dalam penggunaan bahasa lainnya. Serpihan-serpihan bahasa yang diambil dari bahasa lain itu biasanya berupa kata-kata, tetapi juga dapat berupa frase atau unit bahasa yang lebih besar.

Penggunaan bahasa oleh seorang bilingual, terkait masyarakat etnik Arab Kalimas tidak terikat oleh aturan yang baku. Yang terpenting dalam tindak laku berbahasa itu dapat berjalan secara komunikatif. Sikap bahasa cenderung mengacu pada bahasa sebagai sistem (langue), sedangkan perilaku tutur lebih cenderung merujuk pada pemakaian bahasa yang konkret (parole) (Soewito, 1982:57).

Campur kode terjadi akibat percampuran proses penguasaan bahasa kedua, karena adanya perbedaan sistem antara bahasa pertama dan bahasa kedua dari penutur. Nababan (1984:32) menyatakan bahwa campur kode adalah gejala pencampuran dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindakan bahasa yang dalam situasi berbahasa itu mendapat percampuran dua bahasa tersebut. Campur kode yang diteliti adalah campur kode bahasa Arab terhadap bahasa Madura yang digunakan oleh sesama etnik Arab di Kecamatan Besuki.

Masyarakat yang menjadi objek penelitian adalah masyarakat etnik Arab yang berdomisili di sekitar Dusun Kauman Kelurahan Kalimas Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo. Di Dusun Kauman tersebut, terdapat sekurang-kurangnya dua suku bangsa pribumi, yaitu suku Madura dan Jawa. Selain itu, ada lima golongan etnik keturunan asing, yaitu etnik Arab, Cina, India, Pakistan, dan Yaman.

Keanekaragaman penduduk Dusun Kauman tersebut menjadi salah satu hal yang menyebabkan sebagian masyarakatnya bilingual/multilingual. Secara umum, mereka menguasai dan mempergunakan dua bahasa, yaitu bahasa Madura dan bahasa Indonesia. Secara khusus, masyarakat etnik Arab juga menguasai dan mempergunakan bahasa Arab dan bahasa Madura.

Pemakaian lebih dari satu bahasa menimbulkan warna bahasa pada penuturnya yaitu variasi bahasa. Hal itu disebabkan oleh pemakaian bahasa yang saling dominan pemakaiannya antara bahasa satu dengan bahasa lain, semuanya ini terjadi secara tidak sadar oleh penuturnya dalam mengadakan komunikasi.

Masyarakat etnik Arab yang berdomisili di Dusun Kauman Kelurahan Kalimas Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo pada umumnya menguasai dan menggunakan bahasa Madura yang di dalamnya terdapat unsur bahasa Arab yang dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari. Bahasa Madura merupakan bahasa pengantar dalam berbagai kegiatan komunikasi yang bersifat nonformal di daerah tersebut, karena memang rata-rata penduduk Dusun Kalimas berasal dari etnik Madura sehingga etnik lainnya harus dapat menyesuaikan diri.

Keberadaan bahasa Arab di daerah Dusun Kauman Kelurahan Kalimas Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo juga tidak dapat dihapuskan. Dalam pergaulan sehari-hari, baik etnik Arab maupun etnik lainnya seperti Madura dan Jawa dalam penggunaan bahasa Madura maupun bahasa Indonesia selalu muncul kata-kata bahasa Arab. Penggunaan bahasa Arab di Dusun Kauman Kelurahan Kalimas Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo, dalam pergaulan sehari-hari terbatas pada kata-kata tertentu saja. Masyarakat etnik Arab sendiri dalam menggunakan bahasa Arab jarang yang sesuai dengan tata bahasa Arab yang baku, bahasa Arab biasanya digunakan bercampur dengan bahasa Madura atau bahasa Indonesia.

1.2 Ruang Lingkup Masalah

Ruang lingkup yang akan diteliti sehubungan dengan proses campur kode bahasa Arab terhadap bahasa Madura yang digunakan oleh sesama etnik Arab (asli dan campuran) yang berdomisili di Dusun Kauman Kelurahan Kalimas, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo adalah seputar ragam interaksi antaranggota keluarga dan antartetangga. Dari uraian di atas peneliti dapat memformulasikan beberapa pokok permasalahan yang menjadikan alasan mengapa penelitian peristiwa campur kode menarik bagi peneliti. Alasan yang utama adalah timbulnya campur kode bahasa Arab ke dalam bahasa Madura pada masyarakat etnik Arab yang pada hakekatnya menggunakan bahasa Arab untuk berkomunikasi sesama etnik. Namun, kenyataan di lapangan bahasa Madura-lah yang mereka ujarkan, yang di dalamnya terdapat beberapa unsur bahasa Arab yang disisipkan ke dalam bahasa setempat (bahasa Madura) dalam bentuk kata dasar, frasa, klausa. Selain itu juga, faktor yang menjadi latar belakang masyarakat etnik Arab lebih sering menggunakan bahasa kedua (bahasa Madura) dalam berkomunikasi daripada bahasa Arab yang merupakan ciri khas etnik mereka, dan dampak peristiwa campur kode dalam proses komunikasi antaretnik Arab.

Konsep etnik diartikan sebagai pertalian dengan kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, bahasa, dan sebagainya, sedangkan konsep etnik Arab merujuk pada konsep etnik tertentu, yaitu Arab

Di Indonesia pengertian etnik Arab dilihat dari berbagai aspek, terutama yang menandai keberadaan etnik tersebut baik secara fisik maupun perbedaan kekerabatan atau budayanya. Dikatakan masyarakat etnik Arab karena mereka hidup secara berkelompok dalam berbagai kolektiva yang mendiami ”pemukiman Arab” di berbagai kota di Indonesia, salah satunya di Dusun Kauman kelurahan Kalimas kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Mendeskripsikan bentuk-bentuk campur kode dalam bahasa Arab (B.Ar) terhadap bahasa Madura (BM) dalam ranah antarkeluarga dan antartetangga ,

2) Mendeskripsikan faktor-faktor yang melatarbelakangi terbentuknya campur kode bahasa Arab (B.Ar) terhadap bahasa Madura (BM) dalam ranah antarkeluarga dan antartetangga, dan

3) Mendeskripsikan dampak-dampak campur kode dalam kaitannya dengan proses komunikasi antaretnik Arab dan pemakai non-Arab.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian dalam skripsi ini adalah memberikan sumbangan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan teori kebahasaan yang sahih terutama dalam bidang sosiolinguistik. Selain itu, hasil penelitian campur kode bahasa Arab terhadap bahasa Madura dapatnya dijadikan acuan bagi penelitian kebahasaan di masa mendatang khususnya Ilmu Sosiolinguistik dan nantinya hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai panduan umum penggunaan bahasa Arab terhadap bahasa Madura baik bagi masyarakat etnik Arab (asli dan campuran).

BAB 2. METODE PENELITIAN

Metode dan teknik mempunyai hubungan yang sangat erat. Secara umum metode yang dipakai dalam skripsi ini adalah metode deskriptif komparatif. (Sudaryanto, 1992:62). Metode deskriptif adalah penelitian dilakukan semata-mata hanya berdasarkan pada fakta yang ada atau fenomena yang memang secara empiris hidup pada penutur-penuturnya, sehingga yang dihasilkan atau yang dicatat berupa perian bahasa dikatakan seperti paparan seperti apa adanya. Metode deskriptif tidak mempertimbangkan benar salahnya penggunaan bahasa oleh penutur-penuturnya dan metode sebagai cara kerja harus dijabarkan sesuai dengan alat dan sifat alat yang dipakai (Sudaryanto, 1986:62). Metode komparatif adalah metode atau cara kerja dengan membandingkan data yang satu dengan data yang lainnya, sehingga dapat diperoleh ilustrasi yang jelas mengenai data yang terdapat dalam objek permasalahan. Dengan metode komparatif akan dapat diketahui ada tidaknya kesamaan dan perbedaan dalam penggunaan bahasa (Sudaryanto, 1992:63). Metode komparatif digunakan untuk mengetahui apakah unsur serapan dalam pemakaian campur kode berasal dari bahasa Arab atau bahasa Madura.

Metode deskriptif komparatif adalah penelitian yang dilakukan semata-mata hanya berdasarkan pada fakta yang ada atau fenomena yang memang secara empiris hidup pada penutur-penuturnya, diharapkan dengan adanya fakta tersebut dapat diperoleh ilustrasi yang jelas mengenai data yang terdapat dalam objek permasalahan tentang ada tidaknya kesamaan dan perbedaan dalam penggunaan bahasa. Jadi, penelitian masalah campur kode bahasa Arab (B.Ar) terhadap bahasa Madura (BM) ini ditekankan pada fenomena yang memang terdapat di setiap percakapan dalam masyarakat etnik Arab.

Secara khusus, metode yang dipakai dalam penelitian ini dijabarkan dalam teknik-teknik. Teknik merupakan cara kerja yang dijabarkan sesuai dengan alat dan sifat alat yang dipakai. Ada tiga cara penanganan bahasa menurut tahapan strateginya (Sudaryanto, 1984:57) meliputi:

1) metode atau teknik penyediaan data,

2) metode atau teknik analisis data, dan

3) metode dan teknik pemaparan hasil analisis data.

2.1 Metode dan Teknik Penyediaan Data

Metode penyediaan data peneliti menggunakan metode simak atau penyimakan, yaitu metode yang dilakukan dengan menyimak secara langsung fakta kebahasaan yang muncul dalam sumber data. Metode penyimakan tersebut menggunakan teknik dasar berupa sadap, yaitu menyadap penggunaan bahasa. Penyadapan dilakukan dengan berpartisipasi dalam menyimak. Dalam hal ini peneliti terlibat dalam dialog atau ikut serta dalam proses pembicaraan. Metode tersebut dibantu dengan teknik pencatatan. Pencatatan yaitu mencatat semua yang diucapkan oleh penutur dan lawan bicara.

2.2 Metode dan Teknik Analisis Data

Metode analisis data adalah cara mengolah data yang telah terkumpul. Analisis data yang digunakan melalui prinsip analogi, yaitu menganalogikan tuturan dalam konteks verbal. Dalam analisis data peneliti menggunakan metode agih dan metode komparatif. Metode agih adalah metode analisis yang alat penentunya bagian dari bahasa yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993: 15). Alat penentu yang dimaksud adalah unsur bahasa dari objek penelitian yang digunakan untuk membuktikan ada tidaknya variasi campur kode dalam komunikasi lisan yang dilakukan oleh masyarakat etnik Arab Dusun Kauman Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo.

Teknik lanjutan yang dipakai adalah teknik ganti atau teknik substitusi.. Menurut Sudaryanto (1993: 48) teknik ganti adalah teknik yang digunakan untuk mengetahui kadar kesamaan kelas atau kategori unsur yang terganti, dan pengganti tersebut merupakan unsur yang menjadi pokok permasalahan dalam analisis ini. Teknik ganti dilakukan dengan cara mengganti salah satu unsur kalimat yang diketahui sebagai bentuk importasi dari bahasa Arab. Pengklasifikasian data berdasarkan asal bahasa digunakan bukti padanan kata, yaitu dari Kamus Arab – Indonesia (1973). Dengan demikian, dapat diketahui apakah bentuk kalimat itu mengalami campur kode bahasa atau tidak. Contoh penerapan metode Agih dapat dilihat sebagai berikut:

1. mara rah seteppa’, be’na lah hazwaj apa gi’ lanceng

[mararahsēteppa?, bē?nalahhazwajapagi?lancēŋ]

Ayo mana yang tepat, anda sudah nikah apa masih bujang?

Data di atas menurut teknik ganti atau substitusi terdiri atas sembilan unsur kata, yaitu mara/ rah/ seteppa’/ be’na/ la/ hazwaj/ apa/ gi’/ lanceng. Kalimat tersebut terdapat peristiwa campur kode yaitu masuknya unsur bahasa Arab dalam bahasa Madura. Dengan teknik ganti dapat diketahui bahwa campur kode di atas dari bahasa Arab hazwaj dapat diganti dengan bahasa Madura kabin (kawin), sehingga kalimat di atas menjadi;

1a. mara rah seteppa’, be’na lah kabin apa gi’ lanceng

[mararahsēteppa?, bē?nalahkabInapagi?lancēŋ]

Ayo mana yang tepat, anda sudah nikah apa masih bujang?

2.3 Metode dan Teknik Pemaparan Hasil Analisis Data

Metode pemaparan hasil analisis data adalah penyajian hasil pengolahan dari data atau penyajian handal. Pemaparan hasil analisis data ada dua macam, yaitu metode penyajian formal dan metode penyajian informal. Penyajian formal adalah penyajian kaidah berupa perumusan dengan tanda dan lambang-lambang yang ada, sedangkan penyajian informal adalah penyajian kaidah bahasa berupa perumusan dengan kata-kata biasa yang dijelaskan oleh Sudaryanto (1993:144-146). Metode dan pemaparan hasil analisis data adalah upaya peneliti dalam menangani langsung masalah yang bersangkutan dengan cara-cara tertentu.

2.4 Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di sebuah dusun yang dikenal dengan sebutan ”Kauman”. Dusun tersebut terletak di bagian barat Kelurahan Kalimas Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo. Kelurahan Kalimas terdiri atas 9 RW dan 23 RT. Daerah tersebut didiami oleh mayoritas (etnik Madura), Arab, Jawa, Cina, India, peranakan Pakistan dan Yaman. Khusus etnik Arab banyak bermukim di RT 03/RW 03, sebagian di RT 04/RW 03 dan di RT 01/RW 04. Lokasi penelitian ditentukan di RT 03, RT 04 dan RW 03 yang merupakan daerah unsur patrilineal ke-arabannya masih terjaga, etnik Arab berkumpul menjadi satu kesatuan, sedangkan RT 01 RW 04, merupakan daerah yang unsur ke-arabannya sudah bercampur dengan masyarakat setempat atau peranakan hasil pernikahan antaretnik.

2.5 Data dan Sumber Data

Data merupakan bahan yang diolah dalam suatu penelitian. Sudaryanto (1990: 3) menyatakan bahwa data merupakan bahan jadi dari pemilihan dan pemilahan aneka macam tuturan. Jelaslah bahwa data memberikan informasi yang memungkinkan terhadap objek yang hendak diteliti. Data dalam penelitian ini adalah campur kode bahasa Arab terhadap bahasa Madura yang digunakan oleh sesama etnik Arab dalam situasi santai ranah antartetangga dan antarkeluarga dalam masyarakat etnik Arab Dusun Kauman Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo.

Sumber data menurut Arikunto (1989:102) adalah subjek dari mana data diperoleh. Jenis sumber data yang dijadikan objek penelitian tentu saja harus objektif. Hal itu sebagai syarat mutlak akurasi pembahasan. Dengan demikian, relevansi data dengan pokok permasalahan dapat terjaga.

Sumber data dapat dibedakan atas sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer adalah data yang diperoleh untuk keperluan analisis. Sumber data sekunder merupakan acuan dalam kegiatan analisis. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah ujaran-ujaran atau kata-kata dalam bahasa Madura yang tercampuri oleh bahasa Arab pada ranah interaksi nonformal antaranggota keluarga dan antartetangga yang memunculkan gejala campur kode. Sedangkan sumber data sekundernya adalah buku-buku linguistik dan buku-buku penunjang lainnya.

2.6 Populasi dan Sampel

2.6.1 Populasi

Populasi merupakan keseluruhan objek yang diperlukan dalam penelitian. Sudaryanto (1988:21) menyatakan bahwa populasi adalah objek yang sudah ada atau yang diadakan baik yang kemudian terpilih sebagai sampel maupun tidak. Populasi dalam penelitian ini adalah bentuk tuturan campur kode yang terjadi pada proses interaksi nonformal antaranggota keluarga dan antartetangga. Tuturan itu dilakukan oleh orang-orang yang terlibat dalam komunikasi antaranggota keluarga dan antartetangga.

2.6.1 Sampel

Dalam suatu penelitian sampel memiliki peranan penting. Sudaryanto (1988:21) menyatakan bahwa sampel adalah objek dari penelitian yang diambil sebagian saja yang dipandang penting dan dapat mewakili secara keseluruhannya. Sampel merupakan bagian yang lebih kecil dari populasi.

Pengambilan sampel penelitian menggunakan metode random. Menurut Hadi (1980:75). Random sampel adalah pengambilan sampel secara random atau tanpa pandang bulu. Dalam sampel semua individu dalam populasi baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama diberi kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Sampel dapat digunakan jika populasi terdiri atas kelompok-kelompok yang mempunyai susunan bertingkat. Kelompok-kelompok yang mempunyai susunan bertingkat tersebut menunjukkan adanya strata atau lapisan-lapisan. Tiap-tiap strata harus mewakili sampel (Hadi, 1980:82). Diharapkan dengan adanya data campur kode yang berupa kata dasar, frasa, dan klausa dalam komunikasi akan menunjukkan strata atau lapisan tertentu dalam perstiwa tutur. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah random sampling. Pengambilan data yang dilakukan mulai Maret 2007 sampai dengan September 2007.

BAB 3. TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

3.1 Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka menjadi landasan yang mendasar dalam suatu penulisan skripsi. Selain untuk memantapkan dan menguatkan konsep, tinjauan pustaka dilakukan untuk menghindari adanya hasil skripsi yang ganda atau hasil skripsi yang sama. Tinjauan pustaka hasil skripsi itu mengacu pada peristiwa campur kode. Skripsi yang pernah dihasilkan akan dipaparkan sebagai berikut.

Skripsi pertama ditulis oleh Koesmianto (1994) yang berjudul Campur Kode Lesksikal Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan Bahasa Jawa dalam Kumpulan Sketsa Slilit Sang Kiai karya Emha Ainun Nadjib. Skripsi tersebut mendeskripsikan bentuk campur kode dan menghitung jumlah serta presentase unsur campur kode berdasarkan bidang atau istilah sosial dan politik, keagamaan dan budaya. Hasil skripsi itu menunjukkan bahwa presentase penggunaan campur kode bahasa Jawa mendominasi. Hal tersebut disebabkan pengarang berlatar belakang sebagai orang Jawa.

Skripsi kedua ditulis oleh Ashkabul Mukminin (1995) yang berjudul Campur Kode Bahasa Jawa terhadap Bahasa Indonesia sebagai Alat Politik (Tinjauan Sosiolinguistik terhadap Tulisan-tulisan Soekarno). Skripsi tersebut mendeskripsikan bentuk campur kode bahasa Jawa terhadap bahasa Indonesia dalam wujud kata, perulangan, dan idiom yang digunakan sebagai alat politik. Hasil skripsi tersebut menunjukkan bahwa bahasa yang dipergunakan oleh Soekarno dalam tulisannya yang berupa campur kode memiliki muatan politis. Dari analisis diperoleh fakta bahwa pendekatan konteks budaya merupakan teknik yang mampu menjelaskan secara detil fakta kebahasaan yang memiliki nuansa politik. Hal itu selaras dengan budaya politik yang berlaku pada masa itu yakni budaya politik yang bercorak kultur Jawa. Bentuk campur kode yang paling jelas (transparan) dalam mengemban fungsi komunikasi politik adalah bentuk campur kode yang berwujud idiom. Hal tersebut disebabkan idiom lebih mampu menjelaskan makna struktur kebahasaan secara lengkap dan secara kultural telah mengakar dalam masyarakat.

Skripsi yang ketiga ditulis oleh Muhammad Baihaqi (1997) yang berjudul Campur Kode Bahasa Jawa terhadap Bahasa Indonesia dalam Acara Aneka Ria Srimulat di Televisi Indosiar. Skripsi tersebut mendeskripsikan bentuk-bentuk ujaran campur kode kata dasar dan tingkat frekuensi kemudahan pemakaian campur kode bahasa Jawa dalam kata dasar dalam kalimat bahasa Indonesia. Selain itu Baihaqi mencoba mendeskripsikan bentuk campur kode kata ulang sebagai kata penegas untuk memberi nilai tegas terhadap tuturan yang disampaikan, bentuk baster dan mendiskripsikan faktor yang melatarbelakangi campur kode itu yaitu faktor keakraban, faktor kejelasan, dan faktor penghormatan.

Skripsi keempat ditulis oleh Darita Wulandari (1997) yang berjudul Campur Kode Bahasa Jawa pada Bahasa Indonesia dalam Iklan Radio di Kabupaten Trenggalek. Skripsi tersebut mendeskripsikan bentuk campur kode bahasa Jawa dalam bentuk imbuhan dalam tuturan di iklan radio dan bentuk campur kode yang berupa kata ulang yang berfungsi sebagai kata penegas. Fungsi penegas atau penegasan itu dimaksudkan untuk memberi nilai makna yang lebih tegas terhadap tuturan yang disampaikan.

Skripsi kelima ditulis oleh Fawzah R. Khomsah (1998) dengan judul Campur Kode Bahasa Indonesia terhadap Bahasa Sasak sebagai Alat Dakwah, Tinjauan Sosiolinguistk Pengajian Tachassus di Lingkungan Karang Buaya, Pagutan Lombok. Dalam skripsi tersebut dibahas peristiwa campur kode yang berupa kata dasar, frasa, klausa, kata berimbuhan serta faktor-faktor yang melatarbelakangi peristiwa campur kode adalah faktor keagamaan, faktor ketidaktahuan, dan faktor sosial.

Skripsi keenam ditulis oleh Sarce Vantin Ros (2002) dengan judul Campur Kode Bahasa Jawa terhadap Bahasa Indonesia pada Persidangan di Pengadilan Negeri Jember. Pada analisis yang dilakukan terhadap peristiwa campur kode yang berupa kata dasar, kata berimbuhan, kata ulang dan frasa serta faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa campur kode, diketahui bahwa idsentifikasi peran, kedwibahasaan, kegunaan untuk menjelaskan dan menafsirkan menjadi beberapa penyebabnya.

Skripsi yang ketujuh ditulis oleh Annisa Sari (2003) dengan judul Campur Kode Bahasa Arab terhadap Bahasa Indonesia di Lingkungan UKKI Universitas Jember, menjadi tinjauan pustaka berikutnya. Skripsi tersebut membahas tentang bentuk campur kode dan faktor-faktor yang melatarbelakangi campur kode bahasa Arab terhadap bahasa Indonesia di lingkungan UKKI Universitas Jember. Hasil penelitiannya yaitu bentuk-bentuk campur kode bahasa Arab terhadap bahasa Indonesia di lingkungan UKKI Universitas Jember didominasi bentuk kata yang terdiri atas kata ganti orang, kata kerja dan kata benda, sedangkan faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya campur kode adalah faktor identitas, faktor belajar, faktor kekeluargaan dan faktor ketidaktahuan.

Skripsi yang kedelapan ditulis oleh Windy Fitria Sari (2004) yang berjudul Campur Kode Bahasa Jawa terhadap Bahasa Indonesia dalam Kumpulan Tulisan dari Pojok Sejarah (Perenungan Perjalanan) dan Gelandangan di Kampong Sendiri karya Emha Ainun Nadjib. Skripsi tersebut mendeskripsikan bentuk-bentuk campur kode pada presentase masuknya kosakata bahasa Jawa ke dalam kalimat bahasa Indonesia. Campur kode ke dalam disebut juga sebagai gejala peminjaman dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia.

Skripsi yang kesembilan ditulius oleh Maharani Prihatiningsih Hidayatullah (2005) yang berjudul Campur Kode Bahasa Inggris terhadap Bahasa Indonesia dalam Novel Lupus karya Hilman Hariwijaya. Skripsi itu membahas tentang bentuk campur kode bahasa Inggris terhadap bahasa bahasa Indonesia dalam novel Lupus karya Hilman Hariwijaya didominasi bentuk kata kerja, frasa, klausa dan sejumlah idiom, sedangkan faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya campur kode adalah faktor kekerabatan, faktor ketidaktahuan dan faktor sengaja melucu.

Dari sembilan skripsi yang penulis paparkan tersebut di atas, terdapat persamaan dan perbedaan jika dibandingkan dengan skripsi yang penulis susun sekarang. Perbedaan dan persamaan tersebut dapat penulis paparkan sebagai berikut.

Persamaan antara skripsi-skripsi yang telah dihasilkan dengan skripsi yang disusun sekarang adalah sebagai berikut.

1) Kesembilan skripsi tersebut secara umum memiliki topik yang sama dengan skripsi ini, yaitu menelaah dan mengamati gejala bahasa yang disebut campur kode

2) Skripsi yang disusun oleh Fawzah R Khomsah, Sarce Vantin Ros, dan Annisa Sari dilakukan di lapangan, penelitian tersebut ilaksanakan di Lingkungan Karang Buaya, Pagutan Lombok, di Pengadilan Negeri Jember, dan UKKI di lingkungan Universitas Jember. Namun, pengamatan yang dilakukan pada skripsi ini dilakukan pada komunitas masyarakat etnik Arab di Kelurahan Kalimas Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo.

Perbedaan skripsi-skripsi tersebut dengan skripsi ini adalah sebagai berikut.

1) Beberapa skripsi yang telah dihasilkan mengambil sumber data dalam bentuk tulisan, yakni Ni Luh Ramayani (1991) dan Maharani Prihatiningsih Hidayatullah (2005) yang mengambil data dari novel Lupus, Koesmianto (1994) dan Windy Fitria Sari (2004) mengambil data dari tulisan karya Emha Ainun Nadjib, Muhammad Baihaqi (1997) mengambil data dari tayangan acara Ria Srimulat di Televisi Indosiar, Darita Wulandari (1997) mengambil data dari iklan radio di kabupaten Trenggalek, dan Ashkabul Mukminin (1995) mengambil data dari tulisan-tulisan politis Soekarno, sedangkan skripsi ini mengambil data dari pengamatan di lapangan,

2) Campur kode yang dibahas pada penelitian itu adalah bahasa Arab dan bahasa Madura, sedangkan campur kode beberapa skripsi lainnya bersinggungan dengan percampuran bahasa Sasak, bahasa Inggris, bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.

3.2 Landasan Teori

Sebelum mengkaji peristiwa campur kode terlebih dahulu harus mengetahui yang dimaksud campur kode. Campur kode merupakan gejala penggunaan unsur bahasa yang satu ke dalam penggunaan bahasa yang lain dari penutur yang menyebabkan munculnya dislokasi. Campur kode terjadi sebagai akibat adanya ketidakmampuan penutur menguasai sistem bahasa pertama dengan baik sehingga menyebabkan masuknya unsur-unsur atau sistem bahasa kedua. Teori-teori yang mendukung pembahasan penelitian sebagai berikut.

3.2.1 Variasi Bahasa

Variasi bahasa yang ada dalam masyarakat merupakan hal yang wajar, sebab tipe dan status sosial yang ada dalam merupakan cerminan adanya stratifikasi sosial. Demikian pula sebaliknya, variasi bahasa tumbuh dan berkembang karena kebutuhan penutur terhadap variasi.

Suwito (1983:29), berpendapat bahwa variasi bahasa adalah sejenis ragam yang pemakaiannya disesuaikan dengan situasi dan fungsinya, tanpa mengabaikan kaidah pokok yang berbeda dalam bahasa yang bersangkutan. Berdasarkan pengertian tersebut, masalah variasi bahasa sangat bergantung pada dua faktor, yaitu faktor linguistik dan faktor nonlinguistik. Hal-hal yang terkait dengan faktor linguistik terwujud dalam norma-norma internal bahasa, baik sistem bunyi, sistem kata, maupun sistem kalimat. Hal-hal yang terkait dengan faktor nonlinguistik berupa pemakaian bahasa yang disesuaikan dengan situasi dan fungsi bahasa yang bersangkutan.

Secara praktis variasi bahasa digunakan sebagai alat komunikasi yang pemakaiannya disesuaikan dengan situasi pembicaraan. Variasi bahasa yang terdapat dalam masyarakat menimbulkan ragam bahasa yang berbeda-beda. Salah satu faktor yang dapat menimbulkan variasi bahasa adalah faktor tempat, sehingga variasi bahasa yang dipakai oleh seorang penutur di tempat tertentu, berbeda dengan variasi yang dipakai di tempat lain. Perbedaan tersebut tidak dibentuk manasuka tetapi mengikuti kaidah spesifik yang berlaku pada tempat tersebut. Variasi bahasa meliputi bidang fonologi, leksikal, morfologi dan sintaksis.

3.2.2 Kedwibahasaan

Istilah kedwibahasaan adalah istilah yang pengertiannya bersifat nisbi (relative). Kenisbian terjadi karena batas seseorang untuk dapat disebut dwibahasawan itu bersifat arbitrer dan hampir tidak dapat ditentukan secara pasti. Kenisbian juga terjadi karena sulitnya mengukur tingkat kemampuan berbahasa dari seseorang. Hal itu disebabkan pandangan terhadap dwibahasawan didasarkan kepada batas kemampuan dwibahsaan seseorang (Suwito, 1983:40).

Pada mulanya kedwibahasaan diartikan sebagai penguasaan yang sama baiknya terhadap dua buah bahasa (Rusyana, 1984:50). Kemudian, dwibahasaan diartikan sebagai penggunaan dua buah bahasa secara bergantian oleh seorang pembicara. Pandangan para ahli bahasa terhadap pengertian kedwibahasawan berbeda-beda. Nababan (1984:27) menyatakan bahwa kedwibahasaan ialah kebiasaan menggunakan dua bahasa dalam interaksi dengan orang lain. Suatu masyarakat yang anggotanya menggunakan lebih satu bahasa disebut masyarakat bilingual atau berdwibahasa. Apabila seseorang dapat menguasai bahasa lebih dari satu bahasa dan dapat menguasai serta memahami apa yang dikatakan dan ditulis dalam bahasa tersebut disebut dwibahasawan.

Dalam hal kedwibahasaan, dwibahasawan tidak perlu menggunakan dua bahasanya, tetapi cukup mengetahui kedua bahasa tersebut dan dwibahasawan tersebut harus sanggup melahirkan tuturan bermakna yang lengkap dengan bahasa lain (Rusyana, 1984:50). Menurut Mackey (dalam Suwito, 1983:42), salah satu ciri utama kedwibahasaan adalah dipergunakannya dua bahasa (atau lebih) oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi kedua bahasa itu tidak mempunyai peranan sendiri-sendiri di dalam masyarakat pemakai bahasa.

Dalam hubungannya dengan hal tersebut, Samsuri (1994:55) membagi dwibahasawan menjadi dua macam yaitu: (1) kedwibahasaan sejajar, yaitu kedwibahasaan yang dipakai oleh pemakai bahasa yang terpelajar dan mempunyai penguasaan yang sama dengan penguasaan bahasa pertama dan kedua (bahasa ibu), dimana kedua bahasa itu dapat digunakan secara bergantian tanpa menimbulkan dislokasi struktur, dan (2) kedwibahasaan bawahan yaitu kedwibahasaan yang dipakai oleh pemakai bahasa yang kurang terpelajar, sehingga penggunaan bahasa pertama atau bahasa ibu akan semakin besar pengaruhnya terhadap bahasa kedua.

3.2.3 Pengertian Campur Kode

Campur kode terjadi akibat percampuran proses penguasaan bahasa kedua, karena adanya perbedaan sistem antara bahasa pertama dan bahasa kedua dari penutur. Nababan (1984:32) menyatakan bahwa campur kode adalah gejala pencampuran dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindakan bahasa yang dalam situasi berbahasa itu mendapat percampuran dua bahasa tersebut. Jadi, campur kode merupakan percampuran dua bahasa atau lebih yang dilakukan oleh penutur. Campur kode dilakukan oleh penutur diwarnai oleh latar belakang sosial, ras, keagamaan, tingkat pendidikan, dan usia.

Dalam teori yang lain (Suwito, 1983:69) campur kode atau code mixing terjadi akibat dari kontak bahasa dalam masyarakat bilingual atau multilingual. Ciri yang menandai campur kode adalah adanya ketergantungan bahasa. Dalam campur kode, fungsi kontak bahasa dan relevansi dalam situasi merupakan ciri ketergantungan dalam berbahasa. Maksudnya, dalam campur kode ditandai oleh:

1) masing-masing bahasa dipertahankan fungsi tersendiri sesuai dengan konteksnya, dan

2) masing-masing bahasa yang digunakan sesuai dengan situasi yang relevan dengan perubahan konteks. Ciri-ciri tersebut unit-unit kontekstual atau contecstual units.

Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa campur kode menunjukkan suatu gejala adanya saling ketergantungan antara fungsi kontekstual dengan situasi relevansional di dalam pemakaian dua bahasa atau lebih.

3.2.4 Latar Belakang terjadinya Campur Kode

Pada dasarnya latar belakang terjadinya campur kode disebabkan oleh dua hal, yaitu hal yang berlatar belakang kebahasaan dan hal yang berlatarbelakang nonkebahasaan. Di samping kedua latar belakang tersebut, Suwito (1983:77) mengemukakan tiga aspek yang melatarbelakangi terjadinya campur kode yaitu: (a) identifikasi peran, (b) identifikasi ragam, dan (c) keinginan menjelaskan dan memaparkan.

Ketiga latar belakang yang dimaksud Suwito sangat erat hubungannya sehingga tidak dapat dipisahkan. Pengertian dari identifikasi peranan adalah lingkungan sosial. Identifikasi ragam ditentukan jika seseorang melakukan campur kode dapat mengidentifikasikan dirinya dalam strata sosial tertentu. Artinya seseorang dengan bercampur kode dengan bahasa tertentu dapat dicarikan ciri penanda latar belakang status sosial orang tersebut. Keinginan untuk menjelaskan sikap dan hubungan orang lain dengan dirinya.

3.2.5 Wujud Campur Kode

Campur kode mempunyai bermacam-macam bentuk. Suwito (1983:72) berpendapat bahwa campur kode berdasarkan unsur kebahasaan yang terlibat di dalamnya dapat dibedakan menjadi beberapa macam, antara lain: penyisipan unsur-unsur berupa kata, frase, kata ulang, kata ungkapan atau idiom dan berupa klausa. Dalam proposal penelitian ini wujud campur kode yang dianalisis meliputi empat bentuk saja, yaitu penyisipan unsur berwujud kata dasar, frase, dan klausa.

3.2.5.1 Penyisipan Campur Kode Berwujud Kata Dasar

Kata merupakan morfem bebas terkecil. Sebagai satuan gramatikal terkecil, kata dapat berupa kata dasar dan kata berimbuhan, misalnya kita indah, tenteram, sepi, bagus dan rapi berupa kata dasar, sedangkan kata keindahan, ketentraman, kesepian, kebagusan dan kerapian merupakan morfem bebas yang berupa kata berimbuhan (Keraf, 1987:56). Pada umumnya pengertian kata dasar merupakan kata yang belum mengalami proses morfologis, misalnya kata indah, tentram, sepi, bagus dan rapi. Demikian sebaliknya kata kompleks ialah kata yang telah mengalami perubahan bentuk karena adanya proses afiksasi, perulangan (reduplikasi), dan pemajemukan.

Penyisipan unsur-unsur berwujud kata dasar oleh seorang dwibahasawan ke dalam bahasa lain dapat dilihat pada contoh dalam bahasa Jawa ’neddho’, merupakan bentuk dasar atau kata dasar. Campur kode berupa kata dasar dimaksud dengan pemakaian campur kode yang menggunakan kata dasar dalam tuturannya. Contoh dalam kalimat

1) Anda sudah neddho Mas?

Kata neddho di atas termasuk kata dalam bahasa Jawa. Kalimat di atas merupakan kalimat dalam bahasa Indonesia yang di dalamnya terdapat kata bahasa Jawa neddho yang berarti ’makan’ (dalam bahasa Indonesia). Kalimat di atas dapat di ubah bentuknya menjadi bentuk yang benar dalam bahasa Indonesia sebagai berikut.

1a. Anda sudah makan Mas?

3.2.5.2 Penyisipan Campur Kode Berwujud Frasa

Frase adalah satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa (Ramlan, 1987:151). Secara umum frase dapat dibedakan menjadi dua, yaitu frase endosentrik dan frase eksosentrik. Frase endosentrik merupakan frase yang mempunyai distribusi yang sama unsur-unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu unsur-unsurnya (Ramlan, 1987:155) contoh guru baru. Frase eksosentrik merupakan frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsur-unsurnya, contoh: di kantor.

Campur kode berupa bentuk frase, berarti bahwa seorang dwibahasawan menggunakan bentuk frase dalam bahasa lain dalam tuturannya, misalnya.

2. Nah karena saya sudah kadhung apik sama dia, ya saya tanda tangani

Frase kadhung apik di atas merupakan bentuk frase dalam bahasa Jawa. Bentuk frase itu digunakan dalam kalimat bahasa Indonesia, sehingga membentuk campur kode yang berupa frase. Frase kadhung apik merupakan bentuk frase endosentrik. Maksudnya, frase kadhung apik salah satu unsurnya merupakan objek dari unsur sebelumnya. Pada kalimat di atas dapat di ubah bentuknya menjadi bentuk yang benar dalam bahasa Indonesia sebagai berikut.

2a. Nah karena saya sudah terlanjur baik dengan dia, ya saya tanda tangani

3.2.5.3 Penyisipan Campur Kode Berwujud Klausa

Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat serta berpotensi menjadi kalimat (Ramlan, 1987: 167).

3. Mau apa lagi, ik heb toch iets gedaan!

[mauapalagI, IkhebtOchIētsgēdaan]

Kalimat di atas merupakan kalimat yang didalamnya terdapat klausa bahasa Belanda. Klausa bahasa Belanda yang dimaksud adalah klausa ik hen toch iets gedaan yang berkedudukan sebagai predikat. Kata tersebut mempunyai padanan kata dalam bahasa Indonesia adalah saya toh sudah berusaha. Berdasarkan konteks kalimat di atas klausa ik heb toch iets gedaan mempunyai padanan klausa saya toh sudah berusaha. Dengan demikian, klausa ik heb toch iets gedaan dalam bahasa Indonesia pada kalimat di atas dapat diganti dengan.

3a. Mau apa lagi, saya toh sudah berusaha.

BAB 4. DESKRIPSI BENTUK-BENTUK CAMPUR KODE BAHASA ARAB TERHADAP BAHASA MADURA

Peristiwa campur kode dapat terjadi akibat adanya penggunaan lebih dari satu bahasa oleh dwibahasawan. Campur kode bahasa Arab terhadap bahasa Madura adalah campur kode yang melibatkan pemakaian unsur-unsur bahasa Arab ke dalam bahasa Madura. Pembahasan campur kode bahasa Arab terhadap bahasa Madura meliputi campur kode yang berbentuk kata dasar, frase, dan klausa. Tiap-tiap bentuk campur kode akan dibahas berikut.

4.1 Deskripsi Campur Kode Berbentuk Kata Dasar

4.1.1 Deskripsi Campur Kode berbentuk Kata Dasar dalam Ranah Tetangga

Peristiwa campur kode bahasa Arab (B.Ar) terhadap bahasa Madura (BM) berbentuk kata dasar dalam ranah tetangga dapat dilihat sebagai berikut.

1) Ta’ ossa e dorob mon ampon ngako ngala’ pao

[ta?όssaedOrObmόnampόnŋakόŋala?Pao]

“tidak usah di pukul kalau sudah mengaku ambil mangga”

2) Molle ghelle’ be’en ma’ tabassum malolo, bannya’ pessena ghi..?

[mόlleghēllз?bз’ēnma?Tabassummalόlό, banηa?pēssena ghi]

“mulai tadi anda kok senyum-senyum terus, apa lagi banyak uang ya”

3) Mon e abes dhari ade’ ente, enga’ oreng se ta’ endhi’ lada’

[mόnēabзsdhāriadз?ente, ēŋa?rзŋsēta?зndhi?ladā?]

“kalau dilihat dari depan, anda seperti orang yang tidak memiliki semangat”

4) hai yek, tore faddhal sakejjek ka compo’

[haiye?, tOrεfaddhālsakejjε?kacompo?]

”hai yek, mari mampirlah dulu ke rumah”

5) Je’ qirbi’ , todus ka tetanggeh daggi’ e songghui magra’

[je? qirbi?, tōdUs ka tεtaŋgεh dāggI? e sOŋghuI magra?]

”Jangan banyak gaya, malu sama tetangga nanti dikira gila”

Kata dasar dorob pada data (1) tersebut merupakan kata dasar dalam bahasa Arab, sehingga kata tersebut merupakan wujud campur kode bahasa Arab ke dalam kalimat bahasa Madura. Kata dorob dalam (KAI, 1973: 227) bahasa Arab  (doroba) memiliki makna dasar, yaitu dipukul. Kata dasar doroba dalam bahasa Arab kemudian berubah menjadi dorob dalam bahasa Madura, disini terlihat jelas perubahan kata yang berasimilasi dengan lidah masyarakat Madura. Dengan demikian kata dorob /dOrOb/ (bahasa Arab) dapat diganti dengan kata e’ pokol /ē pokOl/ (bahasa Madura), imbuhan /-e/ tersebut merupakan kata penghubung dalam bahasa Madura yang bermakna /di-/. Berdasarkan analisis tersebut dapat dikembalikan lagi ke dalam bahasa Madura sebagai berikut.

1a) Ta’ ossa e pokol mon ampon ngako ngala’ pao

[ta?OssaepokOlmOnampOnŋakOŋala?PaO]

Kata dasar pada data (2) di atas merupakan wujud campur kode bahasa Arab terhadap bahasa Madura. Kata tabassum (KAI,1973: 65) dalam bentuk bahasa Arab تبشم memiliki makna dasar ‘tersenyum’. Kata tabassum mempunyai padanan kata dalam bahasa Madura, yaitu nyarengngi /ηareŋŋi/ ‘tersenyum’. Dengan demikian kata tabassum (B.Ar) dapat diganti dengan nyarengngi (BM). Berdasarkan analisis data tersebut kata tabassum tidak memiliki bentuk jamak lainnya seperti contoh pada data (1) di atas. Kata tabassum merupakan bentuk tunggal yang memiliki makna tersenyum dan dapat diubah dalam bentuk kata bahasa Madura, yaitu nyarengngi. Jadi, kalimat di atas dapat dikembalikan lagi ke dalam bahasa Madura sebagai berikut.

2a) Molle ghelle’ be’en ma’ tabassum malolo, bannya’ pessena ghi?

atau,