DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

EKSPRESI KEARIFAN LOKAL DALAM ELONG UGI

Abdul Kadir

Abstrak


ABSTRAK

 

Kadir, Abdul. Ekspresi Kearifan Lokal dalam Elong Ugi. Disertasi, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:  (I) Prof. Dr. Maryaeni, M.Pd., (II) Dr.Yuni Pratiwi, M.Pd., (III) Dr. Nurhadi, M.Pd.

 

Kata Kunci: kearifan lokal, elong Ugi, bentuk ekspresi, makna ekspresi, modus ekspresi, hermeneutika

 

Bahasa adalah seperangkat sistem bunyi yang disepakati (konvensi) dan digunakan di dalam suatu masyarakat. Bahasa menandai lahirnya kebudayaan. Oleh karena itu, bahasa adalah cerminan dari kebudayaan itu sendiri. Setiap kebudayaan yang tercermin melalui bahasa memiliki nilai dan karakteristik tersendiri, tidak terkecuali bahasa Bugis sebagai simbol lahirnya suku bangsa Bugis di daratan Sulawesi Selatan. Elong ugi merupakan produk bahasa Mayarakat Bugis yang dirancang sedemikian rupa dengan nilai seni yang indah serta terkandung di dalamnya kearifan lokal berupa nilai-nilai luhur sebagai kekayaan budaya seperti tradisi, adat istiadat, dan semboyan hidup.

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dan mendeskripsikan bentuk, makna, dan modus ekspresi kearifan lokal masyarakat Bugis yang terdapat di dalam elong ugi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan ancangan hermeneutik. Data penelitian ini berupa teks elong Ugi dari berbagai buku. Pengumpulan data berupa kajian dokumen (buku). Dalam pengumpulan data, peneliti bertindak sebagai instrumen kunci dibantu kawan/rekan sejawat yang memahami tentang elong Ugi. Analisis dilakukan sejak awal pengumpuan data, klasifikasi data terpilih, penyajian data, penarikan simpulan. Analisis data dikerjakan secara hermeneutik dengan model intraktif-dialektis. Maksudnya pengumpulan data dan analisis data dilakukan secara serentak, bolak balik dengan mengikuti mode hermeneutika Recouer, yakni pemahaman secara cermat melalui level semantik, refleksif, dan eksistensial. Untuk memverifikasi semua temuan penelitian, dilakukan triangulasi temuan kepada pakar bahasa Bugis, ahli sastra Bugis, dan budayawan Bugis.

Hasil penelitian ditemukan enam bentuk tuturan yang mengekspresikan KL dalam EU, yakni (1) bentuk tuturan nasihat, (2) bentuk tuturan perintah, (3) bentuk tuturan larangan, (4) bentuk tuturan penjelasan, (5) bentuk tuturan perumpamaan, dan (6) bentuk tuturan pesan. Tuturan nasihat meliputi nasihat meliputi nasihat pengharapan kepada Tuhan dan nasihat memilih pemimpin yang tepat. Bentuk tuturan perintah meliputi perintah untuk menjaga hubungan secara horizontal dan vertical. Bentuk tuturan larangan meliputi larangan untuk bermalas-malasan dan laragan saling membenci. Bentuk tuturan penjelasan dalam EU berfungsi untuk memberikan pengetahuan atau pemahaman kepada masyarakat Bugis mengenai nilai-nilai hidup yang berkaitan dengan hubungan sosial dan berbagai permasalahan hidup. Tuturan perumpamaan adalah tuturan yang mengibaratkan suatu hal yang mengacu pada kondisi sosial atau perilaku manusia. Bentuk tuturan pesan dalam EU berisi pedoman hidup masyarakat Bugis dan karakter pribadi yang dimiliki setiap pribadi masyarakat Bugis.

Ekspresi kearifan lokal masyarakat Bugis dalam elong Ugi mengandung empat macam makna, yaitu (1) makna tuturan religius, (2) makna tuturan filosofis (3) makna tuturan sosiologis, dan (4) makna tuturan edukatif. Makna tuturan religious yang mengekspresikan KL dalam EU meliputi (a) makna pengaharapan atau doa (b) makna kejujuran (malempu) dan (c) makna kesucian (mapaccing). Makna tuturan filosofis meliputi (a) makna kesetiaan (mapurenreng), dan (c)  keberanian (materuu), (d) harga diri, (e) kecerdasan (f) kesabaran (g) kasih sayang. Makna tuturan sosiologis yang mengekspresikan KL dalam EU meliputi: (a) gotong royong, (b) tolong menolong, (c) kerjasama, dan (d) keadilan. Makna tuturan edukatif dalam EU meliputi (a) pendidikan moral, (b) pendidikan keluarga, (c) pendidikan kemasyarakatan, (d) pendidikan kepemimpinan, (e) pendidikan agama.

Modus ekspresi KL masyarakat Bugis di dalam EU meliputi: (a) modus membangun identitas sosial,  (b) modus membangun komunitas sosial, dan (c) modus membangun konsep pendidikan sepanjang hayat. Modus membangun identitas sosial sebagai ekspresi kearifan lokal dalam elong Ugi meliputi lima macam modus, yaitu (1) malu (sirik), (2) etos kerja (reso temmangingi) (3) saling mengingatkan pada kebaikan (sipakaingaq), saling menghargai (sipakatau), saling menghormati (sipakalebbi) (4) ketaatan beribadah, (5) kepercayaan terhadap hari akhir.Modus membangun komunitas sosial ekspresi kearifan lokal dalam elong ugi meliputi tiga macam modus, yaitu (1) tolong-menolong (assituruseng), (2) musyawarah untuk mufakat (tudassipulung), dan (3)menjaga kerukunan (asalewangeng). Modus membangun konsep pendidikan sepanjang hayat meliputi (a) modus pendidikan moral, (b) modus pendidikan keluarga, (c) modus pendidikan kemasyarakatan, (d) modus pendidikan kepemimpinan, dan (e) modus pendidikan agama.