DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Budaya Populer dalam Cerpen Kompas Minggu Terbitan 2012

Bangkit Adi Swasono,

Abstrak


ABSTRAK

 

Swasono, Bangkit Adi. 2015. Simbol Budaya Populer dalam Cerpen Kompas Minggu Terbitan 2012. Disertasi, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, (II) Prof. Dr. Djoko Saryono, (III)            Dr. Mujianto, M.Pd.

 

Kata Kunci: simbol, budaya populer, bentuk, makna, fungsi, hermeneutika

 

Berdasarkan eksistensi dan fungsinya, sastra merupakan media penyaluran ide, media yang merepresentasikan sistem lambang dan budaya. Nilai yang terkandung dalam karya sastra diteliti secara menyeluruh dan hasilnya bisa dimanfaatkan dalam kehidupan. Cerpen mempunyai unsur genre, di antaranya naratif. Setiap genre mempunyai register (karakteristik bahasa yang digunakan), mulai dari pilihan kata, frasa, gaya bahasa, dan struktur teks yang berbeda. Sementara itu, peran genre dan register adalah sebagai wahana merealisasikan nilai budaya. Aspek-aspek perkembangan budaya dalam cerpen merupakan masalah mendasar yang penting dan bernilai dalam kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa cerpen berkaitan erat dengan nilai-nilai budaya karena keberadaan dan kedudukannya merepresentasikan sistem simbol yang berisi nilai-nilai budaya dalam konteks dan proses dialektika budaya.

Penelitian Simbol Budaya Populer dalam Cerpen Kompas Minggu Terbitan 2012 memiliki tiga fokus penelitian, yaitu (1) bentuk simbol budaya populer yang berupa kata, frasa, dan kalimat; (2) makna simbol budaya populer yang berupa kata, frasa, dan kalimat; dan (3) fungsi simbol budaya populer yang berupa kata, frasa, dan kalimat. Berdasarkan kajian hermeneutika Ricoeur (1985:2002), bentuk, makna, dan fungsi simbol tersebut dikategorikan menjadi tiga, yaitu (1) simbol konvensional ialah simbol natural; (2) simbol aksidental ialah simbol sosial; dan (3) simbol universal ialah simbol esensial. Analisisnya terbagi menjadi menjadi tiga tahap, yaitu (1) tahap semantik, (2) tahap reflektif, dan (3) tahap eksistensial.

Hasil analisis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa simbol budaya populer dalam kumpulan cerpen Kompas memiliki bentuk yang berupa kata, frasa, dan kalimat. Bentuk simbol yang berupa kata dapat diklasifikasi menjadi tiga macam, yaitu (1) bentuk konvensional yang meliputi simbol gaya hidup instan, simbol kehidupan, simbol bangunan mewah; (2) bentuk aksidental yang meliputi simbol gaya hidup modern, simbol gaya hidup bebas; dan (3) bentuk universal yang meliputi simbol tempat hiburan dan simbol teknologi informasi. Bentuk simbol yang berupa frasa dapat diklasifikasi menjadi tiga macam pula, yaitu (1) bentuk konvensional yang meliputi wanita pendatang, simbol kekuasaan; (2) bentuk aksidental yang hanya satu jenis, yaitu simbol angkutan modern dan (3) bentuk universal yang meliputi simbol tradisi dan simbol petunjuk hidup. Bentuk simbol yang berupa kalimat juga dapat diklasifikasi menjadi tiga macam, yaitu (1) bentuk konvensional yang meliputi klausa (S+P), kalimat sederhana (S+P), dan kalimat kompleks (S1-P1+S2-P2+S3-P3); (2) bentuk aksidental yang meliputi klausa (S+P), kalimat sederhana (S+P), dan kalimat kompleks (S1-P1+S2-P2); dan (3) bentuk universal yang meliputi klausa (S+P), kalimat luas (S+KT+P), dan kalimat kompleks (S1+P1+P2).

Makna simbol budaya populer dalam kumpulan cerpen Kompas, baik pada simbol yang berbentuk kata, frasa, maupun kalimat, dapat dibagi menjadi tiga macam makna, yaitu (1) makna konvensional, (2) makna aksidental, dan (3) makna universal. Makna konvensional diekspresikan melalui (1) Catering, restoran, sovenir, hotel, kafe; (2) frasa gadis keturunan spanyol, koki restoran, revolusi bludru, bandara internasional, pakaian setengah jadi, anggrek hitam; dan (3) kalimat Gadis-gadis kini tak sungkan lagi mengenakan pakaian setengah jadi. Makna aksidental diekspresikan melalui (1) kata ngefan, touris, pemabuk, dansa, idola, skenario, superhero; (2) frasa klub-klub malam, ruko-ruko berderet, korden jendela, telepon seluler, dan (3) kalimat Suara-suara beragam bahasa dunia menerobos masuk melalui jendela kamar hotel yang kita biarkan lebar terbuka, dan kalimat Teluk Duka Cita, begitu orang-orang di kota ini menyebutnya. Makna universal diekspresikan melalui (1) kata bioskop, property, salon, kampus,  pesawat; (2) frasa (pesta dansa, turis lokal, pemuda idola, sekretaris ekskutif, burung besi, buah impor,  bir dan wisky, lampu sorot, klab malam, burung besi; dan (3) kalimat “Etnis yang tak punya tradisi memfermentasi karbohidrat, atau gula menjadi alkohol, ketika mengenal jenis minuman ini memang akan ketagihan.

Fungsi simbol budaya populer dalam kumpulan cerpen Kompas ternyata bermacam-macam sesuai dengan maknanya. Pertama, simbol yang bermakna konvensional memiliki fungsi, meliputi fungsi sebagai tanda untuk mengabadikan peristiwa penting; fungsi kultural, fungsi metaforis dalam semua aspek kehidupan; fungsi filosofis peristiwa dan fenomena, fungsi fungsi komersial, metaforis, prestise, dan konsumtif, fungsi metaforis menggunakan gaya bahasa, ekspansi prilaku sebagai mode, fungsi estetik, fungsi kultural penggunaan bahasa daerah dan peradaban moderen, fungsi metaforis, dan fungsi filosofis interferensi budaya barat. Kedua, simbol yang bermakna aksidental memiliki fungsi, fungsi universal pesta, fungsi metaforis cita rasa kenikmatan, fungsi filosofis interferensi budaya, fungsi universal mencari popularitas, fungsi filosofis gaya hidup modern, fungsi sara amoral gaya hidup barat, fungsi fungsi estetik, fungsi metafora kehidupan, fungsi esensial berbagai makna; fungsi metaforis perilaku manusia, fungsi filosofis mobilitas kehidupan, fungsi estetis personifikatif, fungsi metaforis makna tersirat dan figuratif, fungsi filosofi; fungsi kultural daerah. Ketiga, simbol yang bermakna universal memiliki fungsi, meliputi fungsi universal, fungsi metaforis tanda kemewahan, fungsi status kelas sosial, fungsi kultural peradaban moderen; fungsi metaforis tanda kemewahan, fungsi status kelas sosial; fungsi universal persembahan, fungsi kultural kebiasaan masyarakat, fungsi universal masa depan; fungsi reflektif situasi dan peristiwa, fungsi metaforis perumpamaan dan gambaran, fungsi filosofis gagasan dan pemecahan masalah.

Beberapa saran ditujukan kepada berbagai pihak. Salah satunya, kepada guru Bahasa Indonesia disarankan menggunakan hasil penelitian ini untuk materi pembelajaran sastra di sekolah.