DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENGARUH METODE PRAKTIKUM BERBANTUAN REPRESENTASI GANDA PADA MATERI SISTEM KOLOID TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF DANHASIL BELAJAR BERPIKIR TINGKAT TINGGI

indyah Kusdarini

Abstrak


ABSTRAK

 

PENGARUH METODE PRAKTIKUM BERBANTUAN REPRESENTASI GANDA PADA MATERI SISTEM KOLOID TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF DAN HASIL BELAJAR BERPIKIR TINGKAT TINGGI PESERTA DIDIK KELAS XI

 

Indyah Kusdarini

 

Tujuan penelitian adalah untuk menguji: (1) perbedaan hasil belajar kognitif, (2) perbedaan hasil belajar berpikir tingkat tinggi, (3) perbedaan hasil belajar kognitif yang kemampuan awal berbeda, (4) perbedaan hasil belajar berpikir tingkat tinggi yang  kemampuan awal berbeda, (5)  interaksi antara kemampuan awal dengan metode praktikum berbantuan representasi ganda  terhadap hasil belajar pemahaman, dan (6)  interaksi antara kemampuan awal dengan metode praktikum berbantuan representasi ganda terhadap hasil belajar berpikir tingkat tinggi. Penelitian merupakan penelitian eksperimental semu (quasi experimental design). Subjek penelitian adalah peserta didik SMAN 4 Malang kelas XI IPA-4 dan  XI IPA-5 semester genap tahun pelajaran 2012/201, yang terdiri dari 31 peserta didik setiap kelasnya. Kelas eksperimen yaitu kelas XI IPA-4 proses pembelajarannya menggunakan metode praktikum berbantuan representasi ganda, sedang kelas kontrol yaitu kelas XI IPA-5 menggunakan metode praktikum tanpa berbantuan representasi ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ada perbedaan hasil belajar kognitif antara peserta didik  yang dibelajarkan dengan  metode praktikum berbantuan  representasi ganda dengan rata-rata 77,4 dan peserta didik  yang dibelajarkan dengan metode praktikum tanpa berbantuan representasi ganda dengan rata-rata 75,6, (2) ada perbedaan  hasil belajar berpikir berpikir tingkat tinggi antara peserta didik  yang dibelajarkan dengan  metode praktikum berbantuan  representasi ganda dengan rata-rata 78,1  dan peserta didik  yang dibelajarkan dengan  metode praktikum tanpa berbantuan  representasi ganda dengan  rata-rata 68,1, (3) ada perbedaan hasil belajar kognitif antara peserta didik kelompok atas dan kelompok bawah, rata-rata hasil belajar kelompok atas adalah 79,1  untuk kelas eksperimen dan 65 untuk kelas kontrol, sedang rata-rata hasil belajar kelompok bawah 75,4  untuk kelas eksperimen, serta  79,3 untuk kelas kontrol (4) ada perbedaan hasil belajar berpikir tingkat tinggi antara peserta didik kelompok atas dan kelompok bawah,  rata-rata hasil belajar berpikir tingkat tinggi  kelompok atas adalah 82,3 untuk kelas eksperimen dan  66,5 untuk kelas kontrol, sedang rata-rata hasil belajar berpikir tingkat tinggi kelompok bawah 78,3  untuk kelas eksperimen dan  70,7 untuk kelas kontrol, (5) terdapat  interaksi antara kemampuan awal dengan metode praktikum berbantuan representasi ganda  terhadap hasil belajar kognitif,  dan (6) tidak  terdapat interaksi antara kemampuan awal dan metode praktikum berbantuan representasi ganda  terhadap hasil belajar berpikir tingkat tinggi.

 

Kata kunci: sistem koloid,  representasi ganda, hasil belajar berpikir

Tingkat tinggi.

 

The purpose of this study is to examine: (1) the differences of cognitive learning outcomes, (2) the differences of higher order thinking learning outcomes, (3) the differences of cognitive learning outcomes has differences  prior knowledge, (4) the differences of higher order thinking learning outcomes has differences  prior knowledge, (5) the interaction between prior knowledge with multiple representation-aided experiment method on cognitive learning outcomes, and (6) the interaction between the prior knowledge with multiple representation-aided experiment method on higher order thinking learning outcomes.

The design used in this study is descriptive and quasi-experiment. The study subjects are students from two science classes of grade XI in SMAN 4 Malang, school year 2012/2013 which are consisted of 31 students each. The experiments groups using multiple representation-aided experiment method, control groups using non- multiple representation-aided experiment method. The results of the study showed that: (1) there are differences in cognitive  among students who learned with multiple representation-aided experiment method to an average of 77.4 and the students who learned with non-multiple representation-aided experiment method by an average of 75.6, (2) there are differences in higher order thinking among the students who learned with multiple representation-aided experiment method with average of 78.1 and students who learned with non- multiple representation-aided experiment method by an average of 68.1, (3) there are differences of cognitive learning outcomes has differences  prior knowledge.The average outcomes of the upper study group is 79.1 for the experimental group and 65 for the control group. While the average outcomes of the lower study group is 75.4, and 79.3 for the control group (4) there are differences of higher order thinking learning outcomes has differences  prior knowledge, While the average outcomes of higher order thinking learning upper group is 82.3 for the experimental group and for the control group is 66.5, and the average of the learning outcomes of higher order thinking  lower group is 78.3 for the experimental group and for the control group is 70.7. (5) there is an interaction between prior knowledge with multiple representation-aided experiment method on cognitive learning, and (6) there is no interaction between prior knowledge and multiple representation-aided experiment method on higher order thinking learning.

 

Keywords: colloid system, multiple representation, cognitiveachievement,

                               high order  thinking learning outcomes.

 

I.PENDAHULUAN

 

Mata pelajaran kimia SMA diberikan untuk tujuan yang lebih khusus yaitu membekali peserta didik pengetahuan, pemahaman, dan ketrampilan, sebagai syarat untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, serta untuk mengembangkan ilmu dan tehnologi. Koloid adalah salah satu materi pokok dalam kimia yang harus dipelajari peserta didik di kelas XI semester II yang mencakup empat indikator. Konsep-konsep materi sistem koloid sebagian bersifat abstrak dan sebagian bersifat konktrit.

Berdasarkan karakteristik materi sistem koloid, dan memperhatikan kelemahan-kelemahan metode yang sudah dilakukan para peneliti, maka perlunya materi sistem koloid diberikan dengan metode praktikum berbantuan representasi ganda, dengan metode praktikum  peserta didik akan mendapatkan pengalaman yang konkrit, tidak hanya sekedar memverifikasi. Dengan pengalaman konkrit peserta didik akan memperoleh memory of event, yaitu gambaran pengalaman yang memiliki efek jangka panjang (White, 1996), sedangkan bantuan representasi ganda terutama untuk  materi sistem koloid yang abstrak diantaranya,  mengelompokkan koloid berdasarkan fase terdispersi dan pendispersi, sifat-sifat koloid, koloid liofob dan liofil. Representasi ganda sangat diperlukan dalam pembelajaran kimia, hal ini sesuai pernyataan (Gilbert, 2009:56) bahwa, konsep-konsep sains (salah satunya kimia) sangat penting diekspresikan dengan berbagai mode representasi yang berbeda, karena karakteristik konsep-konsep sains secara semiotik bersifat multi-modal. Ainsworth (dalam Treagust, 2008) menyatakan bahwa representasi ganda dapat berfungsi sebagai instrumen yang  memberikan dukungan dan memfasilitasi terjadinya belajar bermakna (meaningful learning) dan/atau belajar yang mendalam (deep learning) pada peserta didik.

Kebermaknaan belajar dapat direfleksikan dengan kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah. Kemampuan pemecahan masalah, ketrampilan menganalisis data yang terkait dengan representasi seperti: menganalisis gambar fenomena alam yang berkaitan dengan sistem koloid, menganalisis sifat-sifat koloid, serta merancang praktikum sederhana untuk penjernihan air sebagai aplikasi sifat koagulasi dan absorbsi. Berdasarkan uraian ini bahwa pembelajaran dengan metode praktikum berbantuan representasi ganda dapat memperangaruhi hasil belajar kognitif maupun hasil belajar berpikir tingkat tinggi, karena berpikir tingkat tinggi merupakan operasi kognitif yang banyak dibutuhkan pada proses-proses berpikir yang terjadi dalam short-term memory. Berdasarkan taksonomi Bloom, terdapat tiga aspek dalam ranah kognitif yang menjadi bagian dari hasil belajar berpikir tingkat tinggi atau higher-level thinking yaitu aspek analisa, evaluasi dan aspek mencipta, sedangkan tiga aspek lain dalam ranah yang sama, yaitu aspek mengingat, memahami, dan aplikasi, masuk dalam bagian intilektual berpikir tingkat rendah atau lower-order thinking. Indikator-indikator  untuk berpikir tingkat tinggi adalah memecahkan masalah, menginvestigasi, mengidentifikasi masalah, mengidentifikasi pernyataan, dan menyimpulkan.

Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar kognitif dan hasil belajar berpikir tingkat tinggi pada pokok bahasan sistem koloid peserta didik kelas XI SMA Negeri 4 Malang dengan melibatkan variabel kemampuan awal dan media representasi ganda. Fakta  hasil penelitian  menyatakan bahwa kemampuan awal dan model representasi ganda dapat meningkatkan hasil belajar kognitif dan hasil belajar berpikir tingkat tinggi mata pelajaran kimia pada umumnya, dan diharapkan dapat diterapkan pada pembelajaran materi sistem koloid koloid. Penggunaan representasi ganda diharapkan dapat mendorong peserta didik melakukan analisis dan evaluasi terhadap fakta-fakta sistem koloid yang ada disekitar peserta didik sehingga hasil belajar berpikir tingkat tinggi peserta didik meningkat.  Berdasarkan teori-teori yang berlaku dan hasil-hasil penelitian di atas peneliti meramalkan bahwa kemampuan awal dan penggunaan representasi ganda akan meningkatkan hasil belajar  kognitif maupun hasil belajar berpikir tingkat tinggi, sehingga dapat mengatasi rendahnya nilai UN yang diperoleh dari hasil pemetaan dua tahun terakhir pada pokok bahasan sistem koloid.

 

II.METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental semu (quasy eksperiment) yang melibatkan satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol dengan teknik pemilihan non random. Pada kelas pertama digunakan motode pembelajaran praktikum berbantuan representasi ganda, sedangkan kelas kedua digunakan motode pembelajaran praktikum tanpa berbantuan representasi ganda.

                Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA  di SMA Negeri 4 MALANG tahun Pelajaran 2012/2013 yang terdistribusi dalam 5 kelas. Subjek penelitian  telah terditribusi dalam kelas, yang diambil non random. Anggota sampel ditentukan oleh guru pengajar di  kelas tersebut. Penelitian ini melibatkan beberapa variabel penelitian yaitu satu variabel bebas, dua variabel terikat, dua variabel kontrol dan satu variabel moderator. Variabel bebas dari penelitian ini adalah pembelajaran dengan metode praktikum berbantuan representasi ganda, sedang variabel terikatnya adalah hasil belajar kognitif dan hasil belajar berpikir tingkat tinggi peserta didik. Variabel kontrolnya adalah materi sistem koloid dan peneliti sebagai pengajar,  sedangkan variabel moderatornya  adalah kemampuan awal peserta didik. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan dua instrumen yaitu  instrument perlakuan dan instrument  pengukuran. Instrumen perlakuan yang digunakan adalah silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Lembar Kerja Siswa (LKS), sedangkan instrumen pengukuran yang digunakan  untuk  mengukur hasil belajar kognitif dan hasil belajar berpikir tingkat tinggi adalah tes tulis dan lembar RTOP.  Jenis tes tulisnya adalah pilihan ganda dengan 5 pilihan jawaban sebanyak 25 butir soal, dan mengacu pada taksonomi Bloom. Tes tulis yang digunakan untuk mengukur hasil belajar kognitif adalah ranah pemahaman C1-C3  (ada 15 soal), sedangkan untuk hasil belajar berpikir tingkat tinggi  ranah pemahamannya  adalah C4-C6 (ada 10 soal).  Sebelum digunakan, kedua insterumen tersebut terlebih dahulu dikonsultasikan dengan pakar untuk menentukan validitas isi instrumen,kemudian dilakukan uji empiris terhadap kedua instrumen untuk mengetahui validitas butir,reliabilitas, dan tingkat kesukaran instrument. Semua uji diatas dilakukan dengan bantuan program SPSS16.0 of Windows. Dari proses tersebut instrumen yang dinyatakan valid dengan reliabilitas 0,823 (sangattinggi).

Penelitian dilakukan sebanyak delapan kali pertemuan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Data yang diperoleh diuji dengan menggunakan ANOVA dua jalur (two way ANOVA) dengan bantuan program SPSS 16.0 0f window. Sebelum pengujian hipotesis dilakukan pengujian prasyarat hipotesis, yaitu 1) uji normalitas, 2)  homogenitas varians  3) uji homogenitas matriks varian/covarian 4) linieritas. Semua uji dilakukan dengan SPSS versi 16 pada taraf signifikansi 5%.

 

III.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan  analisis data, diperoleh hasil sebagai berikut: bahwa rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi dibanding kelas kontrol, dimana kelas ekspeimen mempunyai rata-rata 77.4, dan  kelas kontrol mempunyai rata-rata 75.6, ini artinya bahwa bantuan reprentasi ganda atau penggunaan reprentasi ganda pada materi koloid membantu peserta didik  dalam memahami materi koloid lebih baik sehingga peserta didik  memiliki hasil belajar yang lebih baik. Menurut  Ainsworth (dalam Treagust, 2008)  representasi ganda dapat berfungsi sebagai instrumen yang  memberikan dukungan dan memfasilitasi terjadinya belajar bermakna (meaningful learning) dan/atau belajar yang mendalam (deep learning) pada pebelajar,  representasi ganda  juga merupakan tools yang memiliki kekuatan untuk menolong peserta didik mengembangkan pengetahuan ilmiahnya, Farida (2010) menyatakan penggunaan representasi berbeda dan model pembelajaran berbeda dapat membuat konsep-konsep menjadi lebih mudah dipahami dan menyenangkan (intelligible, plausible & fruitful) sehingga dapat meningkatkan motivasi peserta didik untuk belajar sains.

                Pembelajaran sistem koloid dengan  representasi ganda ini menggunakan metode pembelajaran praktikum, dengan metode praktikum peserta didik menjadi termotivasi, selain itu metode  praktikum mengembangkan keterampilan dasar melakukan eksperimen, dan menjadi wahana belajar pendekatan ilmiah yang akan menunjang materi pelajaran, hal ini diungkapkan oleh Woolnough dan Allsop (dalam Rustaman, 2003). Sedangkan sebaran nilai hasil belajar kognitif materi sistem koloid baik kelas eksperimen maupun kontrol tersaji pada  gambar  dibawah ini:

 

Gambar  Grafik Persentase Sebaran Hasil belajar kognitif

 

Berdasarkan hasil analisis, rata-rata hasil belajar  berpikir tingkat tinggi kelas eksperimen juga lebih tinggi dibanding kelas kontrol yaitu sebesar 78,1, sedangkan untuk  kelas kontrol rata-rata hasil belajar berpikir tingkat tingginya hanya 68,1 lebih rendah dibanding hasil belajar kognitif, rincian sebaran hasil belajar berpikir tingkat tinggi tersaji paada gambar dibawah ini:

 

Gambar  Grafik Sebaran Hasil Belajar Berpikir Tingkat Tinggi

 

Pada penelitian ini pembelajaran yang diterapkan baik di kelas eksperimen maupun kontrol memiliki langkah-langkah yang dapat meningkatkan  hasil belajar berpikir tingkat tinggi, karena  hasil belajar berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu modal dasar atau modal intelektual yang sangat penting bagi setiap orang, (Howe, 1989), dan merupakan bagian yang fundamental dari kematangan manusia (Penner 1995 dalam Liliasari, 2007). Namun dari grafik di atas menunjukkan bahwa hasilnya tidak maksimal, terutama pada kelas kontrol, salah satu faktor yang menyebabkan tidak maksimal hasilnya bahkan kurang untuk kelas kontrol adalah kurangnya waktu pembelajaran yang disediakan, sehingga peserta didik kurang dapat mengembangkan  pernyataan-pernyataan yang berhubungan dengan koloid.

Pada penelitian juga ditemukan, bahwa kemampuan awal  memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar kognitif, ditunjukkan dengan nilai signifikansi kurang dari 0,05 yaitu 0,001. Pada kelas eksperimena rata-rata hasil belajar  untuk kelompok atas adalah 79,1  dan 65 pada kelas kontrol, sedang rata-rata hasil belajar kognitif kelompok bawah pada kelas eksperimen adalah 75,4, kelas kontrol sebesar 79,3. Berdasarkan data-data pada penelitian ini, ditemukan bahwa pada kelompok atas  untuk  materi sistem koloid lebih cocok dibelajarkan dengan menggunakan metode  pembelajaran praktikum berbantuan representasi ganda. Sedangkan untuk hasil belajar berpikir tingkat tinggi, penguasaan konsep untuk kelompok atas kelas eksperimen sebesar 82,3 dan 66,5 untuk kelas kontrol. Sedang rata-rata persentase penguasaan konsep untuk kelompok bawah kelas eksperimen adalah 78,3 dan kelompok bawah kelas kontrol sebesar 70,7. Hal ini berarti bahwa, dalam rangka membentuk  hasil belajar berpikir tingkat tinggi dengan menggunakan  metode pembelajaran praktikum berbantuan representasi ganda dan metode pembelajaran praktikum tanpa berbantuan representasi ganda dapat diterapkan  baik kelompok atas maupun kelompok bawah.

 

IV.PENUTUP

      Berdasarkan  hasil  analisis  data,  permasalahan  penelitian,  temuan  dan pembahasan  sebagaimana  telah  dikemukakan  pada  bab  sebelumnya,  maka  dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1.Ada perbedaan hasil belajar kognitif antara peserta didik yang dibelajarkan dengan  metode pembelajaran praktikum berbantuan representasi ganda dengan peserta didik yang dibelajarkan dengan metode pembelajaran praktikum tanpa berbantuan representasi ganda, hasil belajar kognitif untuk kelas eksperimen lebih tinggi dibanding kelas kontrol.

2.Ada perbedaan hasil belajar berpikir tingkat tinggi antara peserta didik yang dibelajarkan  dengan metode pembelajaran praktikum berbantuan representasi ganda  dengan peserta didik yang dibelajarkan dengan metode pembelajaran tanpa berbantuan representasi ganda, hasil belajar berpikir tingkat tinggi untuk kelas eksperimen lebih tinggi dibanding kelas kontrol.

3.Ada perbedaan hasil belajar kognitif antara peserta didik yang mempunyai kemampuan awal berbeda, hasil belajar kognitif untuk kelompok atas lebih tinggi dibanding kelompok bawah.

4.ada perbedaan hasil belajar berpikir tingkat tinggi antara peserta didik yang mempunyai kemampuan awal berbeda, hasil belajar berpikir tingkat tinggi kelompok atas lebih tinggi dibanding kelompok bawah.

5.Ada interaksi antara kemampuan awal dengan  metode pembelajaran praktikum berbantuan representasi ganda dan metode pembelajaran praktikum tanpa berbantuan representasi ganda terhadap hasil belajar kognitif.

6.Tidak ada interaksi antara kemampuan awal dengan  metode pembelajaran praktikum berbantuan representasi ganda da nmetode pembelajaran praktikum tanpa berbantuan representasi ganda terhadap hasil belajar berpikir tingkat tinggi.

 

Implikasi dari penelitian ini adalah Metode pembelajaran praktikum berbantuan representasi ganda dapat meningkatkan hasil belajar kognitif, maupun hasil belajar berpikir tingkat tinggi pada materi sistem koloid. Untuk materi kimia yang mempunyai  karakteristik sama dengan sistem koloid disarankan dapat menggunakan metode pembelajaran praktikum berbantuan representasi ganda agar memperoleh hasil yang optimal, selain itu perlu penambahan waktu pembelajaran pada materi sistem koloid untuk lebih dapat memperoleh hasil yang optimal.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ainsworth, S. 1999. The functions of multiple representations. Computers &

Education, 33, 131-152.

 

Ardac, D. Akaygun, S. 2004. Effectiveness of Multimedia-Based Instruction That  Emphasizes  Molecular  Representations on Students_Understanding  of  Chemical Change. Journal of  Research in Science Teaching. 41 (4). 317- 337.

 

Arifin, M. 2003. Common Textbook Strategi Belajar Mengajar Kimia. Bandung: Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI.

 

Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta

Rineka Cipta.

 

Arikunto, S. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Bowen, C.W. (1998). “Item Design Considerations for Computer-Based Testing of Student Learning in Chemistry”. Journal of Chemical Education. 75. (9). 1172-1175.

 

BSNP.  2006. Kurikulum  Tingkat  Satuan  Pendidikan  (KTSP).  Jakarta:

Departemen Pendidikan Nasional.

 

Chiu, M.H & Wu, H.K. 2009. The roles of multimedia in the teaching and learning of the triplet relationship in chemistry. In: J.K. Gilbert & D.Treagust (Eds.). Multiple Representations in Chemical  Education: Models and Modeling in Science Education.

Dordrecht: Springer. pp. 251-283

Dabutar, J. 2007.  Strategi Pembelajaran Quantum Teaching dan Quantum Learning, [on line] tersedia: butar_lbt@yahoo.co.id. (akses tanggal: 5

 Desember 2012).

 

Dahar, R. W. 1996. Teori-teori Belajar. Jakarta: Penerbit Erlangga.

 

Dasna, I. W & Sutrisno (ed). 2005. Metode-metode Pembelajaran Konstruktif

dalam Pengajaran Sains/Kimia. Malang: FMIPA UM.

 

Depdiknas 2006. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian.

Jakarta:  Depdiknas.

 

Depdiknas 2003.  Kurikulum 2004, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Kimia

Sekolah Menengah Atas, Jakarta: Depdiknas.

 

 Devetak, Iztok. 2004.  Submicroscopic representations as a tool for

                 evaluating students’ chemical conceptions. Acta Chim. Slov., 51, (4),

                799:814.

 

Deventak, I., Vogrinc, J., & Glazar, S.A. 2007. Assesing 16-Year-Old- Students’

Understanding of Aqueous Solution at Submicroskopic Level. Research In Science Education. Vol 39, 157-179.

 

Djamarah, S.B., Zain A. 2006. Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta ,

Bandung.

 

Duron, R., Limbach, B., Waugh, W. 2006. Critical Thinking Framework For Any Discipline. International Journal of Teaching and Learning in Higher Education, (Online), (http://www.isetl.org/ijtlhe/pdf/IJTLHE55.pdf, diakses 4 Agustus 2012).

 

Effendy. 2009. Chemistry For Senior High School Student Based On KTSP and Cambridge Curriculum.

 

Ennis. 1996. Critical Thinking, New Jersey: Prentice Hall, Upper Saddle  River

 

Oktavianty, E. 2012.  Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Dengan

Pendekatan Multipel Representasi Pada Topik Fluida Statis Untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif Dan Keterampilan Berpikir   Kritis. Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu.

 

Farida,  I.  2010. The Importance Of Development Of Represetational  Competence  In Chemical Problem Solving Using Interactive Multimeedia. Jurnal Pendidikan Universitas Gunung Djati Bandung (on-line)         (http://cheminterconnected.spaces.live.com, diakses 4 September 2013)

 

Farida, I. 2012 Interkoneksi Multipel Level Representasi Mahasiswa pada

 Kesetimbangan dalam Larutan melalui Pembelajaran Berbasis Web. Disertasi.

 

Fitri, H. R. 2013,  Pembelajaran Kimia Berbasis Multiple Representasi Ditinjau

                dari Kemampuan Awal terhadap Prestasi  Belajar Laju Reaksi Siswa SMA Negeri 1 Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012 Jurnal

            Pendidikan Kimia (JPK), Vol. 2 No. 2 Tahun 2013.

 

 Gilbert, J. K. &  Treagust, D.F. 2009. Introduction: Macro, sub-micro and  symbolic representations and the relationship between them: Key models

in chemical education. In: J. K. Gilbert &  D. Treagust (Eds.). Multiple Representations in Chemical Education:Models and Modeling in Science Education. Dordrecht: Springer.1-8.

 

Hipitieuw, I. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Malang: UM.

 

Hinton, M.E. & Nakhleh, M.B. 1997. Students’ Microscopic, Makroscopic and

Symbolic Representations of Chemical Reactions. Chemical Educator,

4(5): 158-167).

Howe. 1989. Teaching Critical Thinking Though Environmental Education, [on line] tersedia: http://ericae.net/edo/ED3241193.htm. (akses tanggal: 10 Desember 2012)

 

Kelly, R.M., Phelps, A.J. & Sanger, M.J. 2004. The effects of a Computer

Animation on Students’ Conceptual Understanding of a Can-Crusing

demonstration at the Macroskopic, Microskopic, dan symbolic levels. The Chemical Educator, 9 (3): 184-188.

Liliasari. 2007. Pembelajaran berbasis TI untuk mengembangkan keterampilan generic Sains dan Berpikir tingkat tinggi pebelajar, Laporan Penelitian Hibah Pascasarjana, Jakarta DIKTI.

        

Saukah, A., Rofi’uddin, Susilo, H., Hasan, A. S. K., Degeng, I. N. S., Sukarnyana,

                I. W., Syafi’ie, I., Ibnu, S. 2000. Pedoman Penulis Karya Ilmiah.

                Malang: UM.

Setiawan, N.C. 2011. Pengaruh Model Pembelajaran dan Kemampuan Awal Terhadap Hasil Belajar dan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Kelas XI IPA SMAN 1 Turen pada Materi Kesetimbangan Kimia. Tesis Universitas Negeri Malang.

 

Soesanto, H.2011. Pembelajaran Sistem Koloid dengan Multipel Representasi

untuk meningkatkan berpikir Kritis Siswa. Tesis UPI

 

Sugalayudhana, 2006. Model Pembelajaran Berbasis Masalah pada Topik

                 Koloid untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis, Penguasaan

                 Konsep dan  Keterampilan Proses Sains Siswa SMA. Tesis, Bandung,

                 UPI: tidak  dipublikasikan.

 

Sujianto, A. E. 2009. Aplikasi Statistik dengan SPSS 16.0. Jakarta: Prestasi

Pustaka.

Treagust, David F.  &  Chandrasegaran, (2009). The efficacy of an alternative instructional programme designed to enhance secondary students’ competence in the triplet relationship. In: Gilbert, J.K &  D. Treagust (Eds.). Multiple Representation in Chemical Education: Models &  Modeling in Science Education . Dordrecht: Springer. pp:151-16

Waldrip, B., Prain, V. & Carolan, J. 2006. Learning junior secondary sience  through multi-modal representation. E-Journal of Science Education,11,(1),87-107.

 

Wu, H-K. &  Shah, P. 2009. Exploring Visuospatial Thinking in Chemistry  Learning.Science Education, 88, 465-92.

Yanto,  R. 2012.  Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) Dengan

                Pendekatan Makroskopik-Mikroskopik-Simbolik Pada Materi Ikatan Kimia.