DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENGARUH BLENDED LEARNING STATION-ROTATION (KOOPERATIF VS KOMPETITIF) DAN GAYA KOGNITIF, TERHADAP KETERAMPILAN INTELEKTUAL MANAJEMEN KONSTRUKSI

Gde Agus Yudha Prawira Adistana

Abstrak


ABSTRAK

 

PENGARUH BLENDED LEARNING STATION-ROTATION (KOOPERATIF VS KOMPETITIF) DAN GAYA KOGNITIF, TERHADAP KETERAMPILAN INTELEKTUAL MANAJEMEN KONSTRUKSI

 

Gde Agus Yudha Prawira Adistana

Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya

Email: gdeadistana@unesa.ac.idNo. HP 081945193599

 

Abstract

 

The purpose of this study was to test the efficacy of blended learning station-rotation model, to examine the cognitive style influenceand interaction between blended learning station-rotation model and cognitive style on intellectual skills learning acquisition. The results showed there are differences in the acquisition learning of intellectual skills of construction management between students who use the blended learning station-rotation cooperative model and the blended learning station-rotation competitive model. There is no difference between students who have the cognitive style field dependence and field independence andthere is no interaction effect between blended learning station-rotation models and cognitive style.

 

Kata Kunci: Blended learning, kooperatif, kompetitif, gaya kognitif, keterampilan intelektual

 

Abstrak

 

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji keampuhan model blended learning stationn-rotation, menguji pengaruh gaya kognitif dan interaksi antara blended learning station-rotation dan gaya kognitif pada perolehan belajar keterampilan intelektual. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan dalam perolehan keterampilan intelektual manajemen konstruksi antara kelompok mahasiswa yang menggunakan model blended learning station-rotation kooperatif dan blended learning station-rotation kompetitif. Tidak ada perbedaan antara mahasiswa yang memiliki gaya kognitif field dependence dan gaya kognitif field independence dan tidak ada efek interaksi antara model blended learning station-rotation dan gaya kognitif.

 

Kata Kunci: Blended learning, kooperatif, kompetitif, gaya kognitif, keterampilan intelektual

Sebagai sebuah model pembelajaran, blended learning berkembang sejalan dengan semakin meningkatnya penggunaan internet. Blended learning itu sendiri menurut definisinya secara umum adalah merupakan perpaduan antara pembelajaran di kelas secara tatap muka (tradisional) dengan pembelajaran yang memanfaatkan media online. Pada perkembangannya muncul beberapa model blended learning ditinjau dari segi bagaimana cara dalam melaksanakan pembelajaran online pada sebuah kelas.

Model Pembelajaran blended learning station-rotation, merupakan salah satu dari beberapa jenis model blended learning yang telah dikembangkan. Melalui model blended learningstation-rotation ini pebelajar dirotasi untuk melalui minimal satu pos belajar online, disamping pos belajar lainnya yang telah ditetapkan. Tampaknya melalui model pembelajaran ini, pebelajar akan medapatkan lebih banyak sumber belajar yakni dari dua lingkungan belajar yang berbeda karakteristiknya. Lingkungan belajar yang pertama adalah lingkungan belajar terbimbing (tatap muka) dan lingkungan belajar yang kedua adalah lingkungan belajar online.Masing-masing lingkungan pembelajaran ini memiliki kelebihan dan kekurangan yang bertolak belakang satu dengan lainnya. Oleh karena itu, ketika kedua lingkungan belajar ini digabung menjadi satu lingkungan belajar, diharapkan antara keduanya dapat saling melengkapi.

Pemenuhan kebutuhan pebelajar dengan karakteristik yang berbeda, merupakan sebuah isu fundamental pada pembelajaran, khususnya pembelajaran yang terkait dengan pemakaian teknologi informasi. Duncan (2008:545), mengungkapkan: “To make the best use of current and future technology opportunities it would be helpful to perform further research on cognitive and affective traits to identify which students benefit most from the different delivery method”. Pernyataan Duncan itu, dapat diartikan bahwa untuk mendapatkan hasil yang optimal dari implementasi blended learning, maka pembelajar perlu memiliki informasi tentang kognisi dan sikap pebelajar, sehingga pembelajar dapat mengidentifikasi pebelajar mana yang memperoleh manfaat paling banyak dari sebuah sistem penyampaian pembelajaran (delivery system). Secara khusus diharapkan pembelajar atau pendesain pembelajaran memiliki wawasan atau bahan pertimbangan yang cukup untuk mendesain sebuah model blended learning yang optimal. Graff (2003), Magoulas et al. (2003), dan Snow (1997), juga sejalan dengan pernyataan Duncan, bahwa untuk dapat mengoptimalkan sebuah sistem penyampaian pembelajaran (delivery system) yang bermediasi online, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan mempertimbangkan kebutuhan pebelajar. Informasi tentang kebutuhan pebelajar ini, bisa diperoleh dengan mengetahui keunggulan dan kelemahan yang dimiliki masing-masing karakteristik pebelajar.

Menurut Morrison (2003), isu dan tantangan lainnya dalam implementasi blended learning dewasa ini adalah, adanya kecenderungan pemikiran bahwa hanya pembelajaran tatap muka (face to face), yang dapat mengajarkan pengetahuan dan keterampilan yang sifatnya kompleks, sementara pembelajaran online hanya cocok untuk penyaluran dan pengajaran pengetahuan pada level rendah. Terkait dengan isu ini, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar. Pengetahuan dan keterampilan yang kompleks, dapat juga diajarkan secara online, bila lingkungan pembelajaran itu didesain berdasarkan pada pertimbangan ilmu pengajaran tentang pebelajar, proses pembelajaran, dan konten pembelajaran (Hofmann, 2001; Morrison, 2003). Pernyataan dengan esensi yang sama juga diungkapkan oleh Degeng (2013), bahwa kualitas pembelajaran selalu terkait dengan penggunaan model pembelajaran yang optimal, untuk mencapai tujuan pembelajaran di bawah kondisi pembelajaran tertentu.

Secara operasional penelitian ini adalah untuk menguji keampuhan model pembelajaran blended learningstation-rotation, menguji adanya pengaruh gaya kognitif, dan  menguji adanya interaksi antara model pembelajaran blended learningstation-rotation dan gaya kognitif terhadap perolehan belajar keterampilan intelektual manajemen konstruksi. Capaian belajar berupa keterampilan intelektual bidang manajmen konstruksi ini menjadi penting karena dalam mempelajari manajemen konstruksi, pemahaman tentang konsep-konsep abstrak dalam bidang manajemen konstruksi dan prosedur-prosedur yang terkait atau aplikasi kaidah-kaidah adalah sangat diperlukan yang digunakan untuk memecahkan permasalahan yang ada pada bidang manajemen konstruksi. Dengan kata lain, untuk dapat memecahkan masalah dengan benar, maka pebelajar perlu menguasai bagaimana mengaplikasikan dua pengetahuan yaitu pengetahuan konseptual dan pengetahuan prosedural. Penegasan tentang pentingnya kedua jenis pengetahuan ini juga ditekankan oleh (Surif et al., 2012) yang menyatakan bahwa pengetahuan prosedural adalah merupakan sebuah pemahaman bagaimana mengaplikasikan konsep-konsep yang telah dipelajari dalam suatu situasi pemecahan masalah. Gagne (1985), memberikan sebuah definisi yaitu keterampilan intelektual terhadap kapabilitas belajar berupa penggunaan simbol-simbol untuk mendiskriminasi, membentuk konsep, dan kaidah, serta memecahkan masalah. Menurut Degeng (2013), kapabilitas belajar berupa keterampilan intelektual dari Gagne ini bersifat kontinum dari sederhana ke tingkat yang lebih kompleks. Selain itu, keterampilan intelektual (diskriminasi, konsep, kaidah, kaidah tingkat lebih tinggi) memiliki hubungan yang bersifat hirarkis, yang berarti bahwa keterampilan intelektual yang lebih rendah menjadi prasyarat untuk mempelajari keterampilan yang lebih tinggi.

 

METODE PENELITIAN

 

Rancangan Penelitian

Variabel penelitian terdiri dari: (1) variabel bebas yaitu model blended learning station-rotationsecara kompetitif dan kooperatif; (2) variabel moderator yaitu gaya kogntitif yang terdiri dari field dependence dan field independence; (3) variabel tergantung yaitu keterampilan intelektual manajemen konstruksi. Berdasarkan pada konfigurasi variabel bebas dan variabel moderator yang dipakai maka penelitian ini dilaksanakan dengan memakai rancangan faktorial (2x2) versi non equivalent control design.

Subjek Penelitian

Adapun subjek penelitian ini adalah mahasiswa Politeknik Negeri Malang jurusan teknik sipil semester IV tahun pembelajaran 2014-2015. Subjek penelitian terdiri dari 4 kelas yang terbagi menjadi 2 kelas eksperimen sejumlah 49 partisipan dan 2 kelas kontrol dengan 48 partisipan. Dengan demikian subjek penelitian adalah berjumlah 97 partisipan. Kelas eksperimen adalah kelompok yang menerima perlakuan dengan menggunakan model blended learning station-rotation kooperatif, sedangkan kelas kontrol adalah kelompok yang menerima perlakuan dengan menggunakan model blended learning station-rotation kompetitif.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan unutk menguji hipotesis penelitian adalah dengan menggunakan Analysis of Variance (ANOVA).

 

HASIL PENELITIAN

 

Hasil penelitian menunjukkan tiga hal. Pertama, ada perbedaan perolehan belajar keterampilan intelektual manajemen konstruksi antara mahasiswa yang menggunakan model blended learning station-rotation kooperatif dan model blended learning station-rotation kompetitif. Penggunaan model blended learning station-rotation kooperatif secara statistik signifikan lebih baik daripada penggunaan model blended learning station-rotation kompetitif (F = 11,481; p=0,001). Kedua, tidak ada perbedaan perolehan belajar keterampilan intelektual manajemen konstruksi antara mahasiswa yang memiliki gaya kognitif field dependence dan field independence (F = 0,199; p=0,658). Ketiga, tidak ada pengaruh interaksi antara model blended learning station-rotation (kooperatif dan kompetitif) dan gaya kogntiif (field dependence dan field independence). Ketiadaan pengaruh interaksi berarti bahwa gaya kognitif tidak mengubah hubungan model blended learning station-rotation terhadap perolehan belajar keterampilan intelektual manajemen konstruksi (F = 0,795; p=0,377).

 

DISKUSI

 

Berdasarkan hasil uji hipotesis diketahui bahwa ada perbedaan perolehan belajar keterampilan intelektual manajemen konstruksi antara mahasiswa yang diajar dengan menggunakan model blended learning station-rotation secara kooperatif dan mahasiswa yang diajar dengan menggunakan model blended learning station-rotation secara kompetitif. Hasil ini didukung pula dengan perhitungan uji deskriptif yang menunjukkan bahwa perlakuan dengan model pembelajaran blended learning station-rotation secara kooperatif diperoleh skor rata-rata perolehan belajar keterampilan intelektual manajemen konstruksi yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan model pembelajaran blended learning station-rotation secara kompetitif.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran blended learning station-rotation secara kooperatif memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap perolehan belajar keterampilan intelektual manajemen konstruksi dibandingkan dengan penerapan model pembelajaran blended learning station-rotation secara kompetitif. Temuan pada penelitian ini membuktikan bahwa proses belajar yang dilakukan dengan menekankan pada model kooperatif dengan membentuk kelompok-kelompok belajar adalah lebih baik bila dibandingkan dengan proses belajar yang menekankan model kompetitif atau individu. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Escurado et al. (2013), yang menemukan bahwa proses pembelajaran pada lingkungan virtual yang dilakukan dengan membentuk kelompok dalam mengerjakan tugas memberikan kinerja belajar yang lebih baik bila dibandingkan dengan pengerjaan tugas yang dilakukan secara individu. Escurado et al. (2013) menyiratkan bahwa pembelajaran jarak jauh (online) yang dilakukan tanpa cukup adanya interaksi antar pebelajar maka sangat kecil peluang pebelajar untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang bersifat kompleks. 

Begitu pula dengan hasil penelitian yang ditemukan oleh Yaman & Graf (2010), yang menemukan bahwa blended learning dengan aktivitas kelompok didalamnya lebih efektif dibandingkan dengan blended learning yang menekankan kemampuan individual pebelajar. Penelitian oleh Azis (2013), menemukan bahwa penggunaan kelompok dalam sebuah lingkungan pembelajaran blended learningternyata memiliki hasil belajar yaitu kemampuan pemahaman konsep fungsi linear yang cenderung lebih baik bila dibandingkan dengan blended learning secara individu. Azis (2013) menjelaskan bahwa pada pembelajaran secara  kelompok, perolehan belajar yang lebih baik cenderung dihasilkan karena adanya kesempatan pebelajar untuk bertanya kepada pebelajar lainnya melalui kegiatan diskusi, sehingga bagi pebelajar yang kurang memiliki pengetahuan dasar yang kuat cenderung untuk menyerap informasi dari pebelajar lain dalam kelompoknya yang memiliki latar belakang yang berbeda.

Pembelajaran yang dilakukan secara kelompok bila dikaitkan dengan teori belajar yang diberikan oleh Vygotsky (Tudge, J. 1990), yang menyatakan bahwa para pebelajar akan mengkonstruksi konsep dan pengetahuan mereka berdasarkan pengetahuan yang didapatkan dari lingkungan pembelajaran kooperatif, sehingga membentuk para pebelajar itu menjadi peserta belajar yang aktif dalam sebuah proses pembelajaran. Dengan belajar dalam sebuah tim atau kelompok, para pebelajar memiliki kesempatan untuk belajar berdiskusi dan berusaha mewujudkan tujuan belajarnya melalui pengetahuan yang diperoleh secara sosial dengan pebelajar lainnya. Selain itu, dalam proses pembelajaran secara kelompok, pebelajar juga memiliki kesempatan untuk meningkatkan kemampuan bekerja secara tim, serta memperbaiki keterampilan kepemimpinan, komunikasi dan keterampilan interpersonal melalui presentasi dan hubungan sosial dengan pebelajar lain dalam kelompoknya.

Johnson& Johnson (2003), menyatakan bahwa meskipun belajar dalam sebuah kelompok, pebelajar memiliki semacam kesadaran untuk mengambil atau bertanggung jawab dan termotivasi untuk bersikap kooperatif dengan pebelajar anggota kelompoknya. Pada situasi seperti ini maka pebelajar itu akan cenderung mengambil peran sebagai pemberi informasi daripada sebagai penerima informasi, sedangkan pembelajar dalam hal ini akan cenderung mengambil peran sebagai fasilitator yang memberikan arahan dan konsultasi bagi para pebelajar tersebut. Pernyataan Johnson & Johnson (2003) ini menguatkan proses apa yang terjadi dalam lingkungan pembelajaran blended learning station-rotationkooperatif yang dilakukan pada penelitian ini yang memberikan dampak yang signifikan pada kebutuhan sosial pebelajar dalam bekerja secara tim dan berkomunikasi secara efektif antar pebelajar dalam kelompoknya.

Temuan penelitian ini juga sejalan dan konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Vanicharoenchai, V. & Toskulkaew, T (2010), yang menemukan bahwa model blended learning adalah merupakan sebuah model yang efektif untuk melakukan pembelajaran. Perolehan skor keterampilan intelektual manajemen konstruksi secara statistik yang signifikan lebih tinggi pada pebelajar yang belajar pada kelompok eksperimen yakni dengan perlakuan model pembelajaran blended learning station-rotation kooperatif melalui pembentukan kelompok-kelompok, dibandingkan pebelajar yang belajar dengan perlakuan model pembelajaran blended learning station-rotation kompetitif menjelaskan bahwa proses belajar kooperatif dalam sebuah kelompok-kelompok kecil mendorong pebelajar untuk belajar secara aktif.

Proses belajar secara aktif ini dapat terjadi karena lingkungan pada model pembelajaran blended learning station-rotation kooperatif ini menyediakan situasi bagi pebelajar untuk mengkonstruksi pengetahuannya secara mandiri dengan melakukan analisis terhadap masalah yang dihadapi. Selanjutnya pebelajar distimulasi untuk mencari solusi melalui media online, dan memiliki kesempatan atau waktu untuk melakukan sharing terhadap apa yang ditemukannya. Pada tahap ini akan terjadi saling tukar informasi, saling memberikan opini melalui diskusi kecil antara pebelajar satu dengan lainnya sehingga terjadi proses asimilasi informasi yang menghasilkan informasi baruyang memiliki keakuratan yang lebih tinggi dalam menyelesaikan masalah atau persoalan.

Temuan pada hasil penelitian ini juga dapat dijelaskan dengan model didaktik yang diungkapkan oleh Kerres & de Witt (2003).  Model didaktik yang ditemukan oleh Kerres & de Witt memiliki 3 komponen yaitu: (1) konten, (2) komunikasi, dan (3) konstruksi. Komponen konten memiliki pengertian yang menjelaskan tentang bagaimana sebuah materi ajar dapat didapatkan oleh pebelajar. Sebagai contoh pada penelitian ini, konten disediakan melalui pemanfaatan learning object berupa media online, CD interaktif (offline). Selanjutnya ada komponen komunikasi yang menjelaskan bagaimana pebelajar dapat mengkonstruksi pengetahuan melalui hubungan sosial dengan pebelajar lain atau dengan pembelajar melalui komunikasi. Terakhir komponen konstruksi berbicara mengenai komponen yang memfasilitasi dan menuntun kegiatan-kegiatan baik yang bersifat individu maupun kelompok dalam pengerjaan tugas.Sebagai contoh pada penelitian ini, kegiatan-kegiatan dikelas dikonstruksi atau difasilitasi dengan penggunaan lembar kerja mahasiswa (LKM).

Semua komponen dari model didaktik Kerres & de Witt ini tersedia pada model pembelajaran blended learning station-rotation yang diterapkan pada penelitian ini. Komponen didaktik yang memiliki pengaruh paling besar pada perbedaan hasil antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada penelitian ini adalah komponen komunikasi. Pada kelas kontrol (blended learning station-rotation kompetitif) komunikasi terjadi hanya antara pebelajar dan pembelajar, sedangkan komunikasi antar pebelajar itu sendiri dalam arti kegiatan sharing pengetahuan, diskusi tidak diakomodasi pada kelas kontrol ini. Kondisi ini berbeda pada kelas eksperimen (blended learning station-rotation kooperatif) dimana komunikasi juga terjadi diantara pebelajar. Komunikasi antar pebelajar ini menjadi sebuah keunggulan yang menjelaskan mengapa kelompok eksperimen memiliki perolehan belajar yang lebih baik daripada kelas kontrol.

Teori konstruktivisme juga menjelaskan temuan yang diperoleh pada penelitian ini. Menurut Vygotsky peristiwa belajar juga terjadi melalui hubungan sosial dengan pebelajar yang lainnya melalui kegiatan diskusi, dialog, kerjasama, berbagi informasi, dan interaksi dengan pebelajar yang lain. Teori dari Vygotsky diperkuat oleh Bruner (1996), yang memiliki pandangan bahwa sebuah pembelajaran perlu mempertimbangkan aspek sosial dan kultural melalui aktivitas bersama. Hubungan sosial dengan pebelajar yang lainnya dalam bentuk peristiwa belajar seperti: kegiatan diskusi, dialog, kerjasama, berbagi informasi, dan interaksi dengan yang lainnya.

Pernyataan dari Slavin (2005) juga sejalan dengan temuan dari penelitian ini, dimana Slavin menjelaskan bahwa pebelajar lebih mudah mengkonstruksi kemampuan pemahaman konsep dan penerapan prosedur apabila kegiatan belajar yang dilakukan adalah sebuah diskusi. Selain itu dijelaskan pula bahwa pembelajaran dengan pembentukan kelompok-kelompok dapat membantu meningkatkan pemikiran dan pemahaman terhadap perubahan konsep. Bila dikaitkan dengan temuan pada penelitian ini, maka artinya bahwa model pembelajaran yang diterapkan pada kelas eksperimen yaitu blended learningstation-rotation kelompok, memfasilitasi pebelajar untuk dapat memiliki keterampilan mengelaborasi suatu konsep sehingga dapat menghasilkan suatu pemahaman konsep lebih dalam dan mempunyai kemampuan penerapan prosedur yang lebih tinggi.

 

SIMPULAN DAN SARAN

 

Simpulan

Berdasarkan deskripsi hasil penelitian, pengujian hipotesis dan pembahasan, maka dapat diuraikan beberapa simpulan penelitian sebagai berikut:

1.Perolehan belajar keterampilan intelektual manajemen konstruksi antarapebelajar yang diajardengan model blended learning station-rotation kompetitif, dan model blended learning station-rotationkooperatif menunjukkan adanya perbedaan. Penggunaan model blended learning station-rotation kooperatif secara signifikan lebih unggul dari model blended learning station-rotation kompetitif dalam memberikan perolehan belajar keterampilan intelektual manajemen konstruksi.

2.Perolehan belajar keterampilan intelektual manajemen konstruksi antarapebelajar yang memiliki gaya kognitif field dependence (FD) dengan pebelajar yang memiliki gaya kognitif field independence (FI) tidak menunjukkan adanya perbedaan.

3.Tidak ada pengaruh interaksi antarapembelajaran model blended learning station-rotation dengangayakognitifterhadapketerampilanintelektualmanajemenproyekkonstruksi. Ketiadaan pengaruh interaksi ini dapat diartikan bahwa penyertaan gaya kognitif tidak mengubah hubungan model blended learning station-rotation terhadap perolehan belajar keterampilan intelektual manajemen konstruksi.

Saran

1. Saran-Saran Pemanfaatan Hasil Penelitian

1.Mempertimbangkan simpulan yang pertama dari penelitian ini, maka bagi dosen pengampu mata kuliah manajemen konstruksi, merupakan suatu hal yang bijak untuk mempertimbangkan penggunaan model blended learning kooperatif sebagai suatu pilihan model pembelajaran, agar dapat meningkatkan keterampilan intelektual pebelajar (mahasiswa). Untuk itu, dosen pengampu mata kuliah perlu mengembangkan diri untuk mampu merancang dan mengelola model pembelajaran blended learning dengan memadukan antara komponen tatap muka dan online yang efektif dan efisien serta mampu mengakomodasi proses belajar yang bersifat kooperatif.

2.Model pembelajaran blended learningstation-rotation dapat dipakai sebagai sebuah jawaban dalam memecahkan persoalan sistem pembelajaran perguruan tinggi yang terdiri dari kegiatan tatap muka, kegiatan terstruktur, dan belajar mandiri tanpa kehadiran dosen di kelas. Rotasi antara pertemuan tatap muka (face to face) dengan kegiatan online dapat dilakukan dengan lebih luas yaitu sekali per pertemuan. Artinya bila pertemuan pertama dilakukan secara tatap muka, maka pertemuan kedua dapat dilakukan dengan kegiatan belajar mandiri (online/offline).

3.Secara teknis untuk dapat melaksanakan model blended learningstation-rotation ini perlu memanfaatkan CD interaktif, dengan pertimbangan bahwa kebutuhan data transfer (bandwidth) yang begitu besar apabila menggunakan konten pembelajaran berupa video secara online.

4.Blended learning station-rotation kompetitif dapat dipilih oleh pembelajar apabila aspek yang dipertimbangkan adalah efesiensi waktu dalam mencapai ketuntasan materi ajar.

5.Terkait dengan temuan mengenai gaya kognitif, dimana ditemukan bahwa tidak ada perbedaan perolehan belajar antara pebelajar yang memiliki gaya kognitif field dependence dan field independence, maka mahasiswa yang memiliki kecenderungan untuk belajar secara kompetitif (individual) bebas memilih disain model blended learning station-rotation yang ada. Demikian pula halnya pebelajar yang memiliki kecenderungan untuk belajar secara kooperatif.

6.Mempertimbangkan simpulan penelitian yang ketiga, bahwa tidak ada interaksi antara model blended learnig station-rotation dan gaya kognitif, maka ketika pembelajar hendak menggunakan salah satu dari model blended learning station-rotation, tidak perlu mempertimbangkan gaya kognitif pebelajar.

2. Saran-Saran untuk Penelitian Lanjutan

1.Pada penelitian ini pembagian komposisi antara pertemuan tatap muka (face to face) dengan komposisi online/offline dilakukan secara seimbang 50% berbanding 50%. Oleh karena perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang khusus menitikberatkan pembagian komposisi antar dua komponen tersebut, untuk dapat menghasilkan gambaran tentang pembagian komposisi yang paling optimal antara pertemuan tatap muka (face to face) dengan komponen online atau offline.

2.Penelitian dengan model blended learning ini dengan berbagai pertimbangan keterbatasan sarana dan prasarana tidak menggunakan komponen virtual (video conference). Untuk itu, penelitian selanjutnya dapat memasukkan komponen virtual sebagai komponen yang ditinjau guna menambah cakupan referensi model pembelajaran blended learning.

3.Penelitian ini terbatas pada tujuan untuk membandingkan perolehan belajar antar dua kelompok yang menggunakan model blended learning. Penelitian selanjutnya hendaknya dikembangkan untuk dapat lebih luas meninjau aspek-aspek lain seperti efektivitaspembelajaran dan daya tarik model blended learning ini dari sisi pebelajar.

4.Model blended learning yang dipilih pada penelitian ini adalah model station-rotation, karena itu perlu dicoba untuk menggunakan model blended learning yang lain seperti model flipped classroom, model flex atau model yang lainnya.

5.Hasil penelitian ini menemukan bahwa tidak ada interaksi antara model blended learning dengan gaya kogntiif, untuk itu disarankan apabila melakukan penelitian selanjutnya dengan model blended learning agar meninjau karakteristik pebelajar yang lainnya, misalnya: locus of control, motivasi belajar, selfefficacy dan lain-lain.

6.Penelitian ini juga ditemukan adanya nurturanteffect berupa adanya rasa tanggung jawab, motivasi, dan sikap menghargai temuan informasi oleh pebelajar lainnya, ketika pebelajar itu menjadi bagian dari sebuah kelompok pada pembelajaran kooperatif. Dengan mempertimbangkan temuan ini, maka pada penelitian selanjutnya sebaiknya mengikutkan aspek-aspek penilaian terhadap nurturant effect pada pembelajaran model blended learning station-rotation kooperatif tersebut.

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Azis, Y.M. 2013. The Effectiveness of Blended Learning, Prior Knowledge to The Understanding Concept In Economics. Educational Research International. ISSN-L: 2307-3713 Vol 2. No.2.

Bruner, J. 1966. Toward a Theory of Instruction. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Degeng, I,N.S. 2013. Ilmu Pembelajaran:Klasifikasi Variabel untuk Pengembangan Teori dan Penelitian. Bandung: Arasmedia.

Duncan, J. 2008. Learning and Study Strategies for Online Teaching. Editor Kidd, T. T. & Song , H. 2008. Handbook of Research on: Instructional System and Technology volume II. New York: information Science Reference.

Escurado, I. Leon, J. A., Perry, D., Olmos, R. & Jorge-Botana, G. 2013. Collaborative Versus Individual Learning Experiences In Virtual Education: The Effects of A Time Variable. Procedia - Social and Behavioral Sciences 83. 367 – 370.

Gagné, R.M. 1985. The Conditions of Learning and Theory of Instruction (4th Edition). New York: CBS College Publishing.

Gagne, R. M. & Brigs, L.J., Wager, R. 1985. Principle of Instruction Design. New York: Hold Rinehart and Winston.

Gagne, E.D. 1985. The condition psychology of school learning. Toronto: Little Brown & Company Limited.

Graff, M. 2003. Individual Differences in Sense of Classroom Community in a Blended Learning Environment. Journal of Educational Media, 28(4) 203-210.

 

Magoulas, G.D., Papanikolaou, K. & Grigoriadou, M. 2003. Adaptive Web-Based Learning: Accomodating Individual Differences Through System’s Adaption. British Journal of Educational Technology, 34(4), 511-527.

Morrison, D. 2003. The Search for the Holy Recipe. Diakses tanggal 25 Oktober 2013,dari,  http://www.morisonco.com/downloads/blended_learning _holy_recipe.pdf

Slavin, R.E. 2005. Educational psychology: theory and practice. Needham Heights, MA: Allyn and Bacon.

Snow, R.E. 1997. Aptitude-Treatment Interactions and Individualized Alternatives in Higher Educations. In A. S. Messick (Ed.), Individuality in Learning (pp. 268-293). San Fransisco: Jossey-Bass.

Surif, J., Ibrahim, H. N., & Mokhtar, M. 2012. Conceptual and Procedural Knowledge in Problem Solving. Procedia - Social and Behavioral Sciences 56. 416 – 425.

Tudge, J. 1990. Vygotsky, The Zone Of Proximal Development, And Peer Collaboration: Implications For Classroom Practice. Editor: Moll, L. C. Vygotsky and Education: Instructional Implications and Applications Of Socio historical Psychology. New York: Cambridge University Press.

Vanicharoenchai, V. & Toskulkaew, T. 2010. Effects of Blended Learning, Using Online Data Searches and Action Learning, Upon Academic Achievement and Searching Skills of Nursing Students. J Nurs Sci,Vol.28 No.2.

Yaman, M. & Graf, D. 2010. Evaluation of An International Blended Learning Cooperation Project in Biology Teacher Education. TOJET: The Turkish Online Journal of Educational Technology, 9 (2).