DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Respon Tutur Siswa Autis terhadap Tutur Direktif Guru dalam Interaksi Pembelajaran di Kelas

Siti Robiah

Abstrak


ABSTRAK

 

Robiah, Siti. 2015. Respon Tutur Siswa Autis terhadap Tutur Direktif Guru dalam Interaksi Pembelajaran di Kelas.Tesis, Pendidikan Bahasa Indonesia,Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Abdul Syukur Ibrahim, (II) Prof. Dr. H. Ahmad Rofi’uddin, M.Pd.

 

Kata Kunci:          respon tutur, tutur direktif, tutur siswa autis, respon tutur siswa.

 

Percakapan dalam proses pembelajaran di kelas merupakan salah satu realitas komunikasi penggunaan bahasa. Komunikasi di kelas memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Hal ini terjadi karena hanya dengan adanya komunikasi yang berkesinambungan antara guru dan siswa maka proses pembelajaran dapat berjalan lancar. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa komunikasi yang terjadi di kelas dapat berlangsung apabila semua komponen yang mendukung saling berinteraksi, tidak terkecuali pada kelas anak berkebutuhan khusus, yaitu autis.

Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan kualitatif rancangan studi kasus, dengan tujuan mendeskripsikan data penelitian secara faktual dan alamiah. Data penelitian ini berupa (1) data deskriptif, yaitu tuturan siswa dan guru SLB Autis Laboratorium UM yang direkam menggunakan camera digital SONY seri DSC-W510 dan handphone ASUS seri Zenfone 4-T001 dan (2) data reflektif, berupa catatan lapangan dan catatan khusus berdasarkan observasi langsung pada penggambaran konteks yang melatarbelakangi hadirnya tuturan. Data dianalisis menggunakan teknik prosedur model analisis interaktif yang di-kembangkan oleh Miles dan Huberman dengan proses analisis model Cummings.

Hasil penelitian merujuk pada fokus penelitian yang meliputi tiga kajian pokok, yaitu (1) wujud respon tutur siswa autis terhadap tutur direktif guru pada dua kategori, yakni (a) pemroduksian respon tutur dan (b) pembagian jenis respon tutur; (2) fungsi respon tutur siswa autis terhadap tutur direktif guru pada dua kategori, yakni (a) fungsi pemroduksian respon tutur dan (b) pemrosesan terja-dinya respon tutur; dan (3) strategi respon tutur siswa autis terhadap tutur direktif guru pada dua kategori, yakni (a) faktor pembentukan respon tutur dan (b) cara penyampaian respon tutur.

Berdasarkan analisis data, diperoleh temuan penelitian sebagai berikut. Pertama, wujud respon tutur siswa autis terhadap tutur direktif guru yang direalisasikan dalam wacana interaksi pembelajaran di kelas memiliki dua kate-gori, yaitu a)pemroduksian respon tutur siswa autis terhadap tutur direktif guru meliputi respon asertif, direktif, komisif, dan ekspresif; dan b)pembagian jenis respon tutur siswa autis terhadap tutur direktif guru menurut indera yang mengamati, yaitu respon auditif, visual, dan perasa. Respon tutur tersebut diwu-judkan secara beragam melalui penggunaaan wujud tuturan dengan penggunaan jenis respon yang bervariasi melalui motif tutur direktif guru tertentu sesuai konteks yang melatari wacana interaksi kelas dan kebutuhan komunikasi serta tujuan yang hendak dicapai dalam interaksi pembelajaran di kelas.

Kedua, fungsi respon tutur siswa autis terhadap tutur direktif guru cukup bervariasi. Dalam wacana interaksi pembelajaran di kelas ini, fungsi respon tutur siswa autis terhadap tutur direktif guru diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu a) fungsi pemroduksian respon tutur siswa autis terhadap tutur direktif guru meliputi fungsi mengeluh, menyetujui, menanyakan, meminta, menyatakan sesuatu, menunjukkan, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, menegaskan, melaporkan, menyebutkan, dan menawarkan; dan b) pemrosesan terjadinya respon tutur siswa autis terhadap tutur direktif guru disebabkan oleh sebuah aksi dari guru sehingga menimbulkan reaksi dari siswa. Reaksi siswa diwujudkan dalam motif tutur direktif guru mengajak, memperingatkan, menasihati, menya-rankan, mengingatkan, meminta, mengarahkan, dan memerintah. Respon tutur yang diwujudkan melalui fungsi tutur dengan proses terjadinya respon yang bervariasi merepresentasikan beragamnya respon yang ditimbulkan melalui motif tutur direktif guru tertentu sesuai konteks yang melatari wacana interaksi kelas dan kebutuhan komunikasi serta tujuan yang hendak dicapai dalam interaksi pembelajaran di kelas tersebut.

Ketiga, strategi respon tutur siswa autis terhadap tutur direktif guru yang direalisasikan dalam wacana interaksi pada pembelajaran di kelas meliputi dua kategori, yaitu a) pembentukan respon tutur siswa autis terhadap tutur direktif guru ditentukan oleh dua faktor, yaitu internal dan eksternal; dan b) penyampaian respon tutur siswa autis terhadap tutur direktif guru disampaikan secara langsung. Disimpulkan bahwa respon tutur tersebut dilakukan dengan strategi melalui penggunaaan faktor pembentukan respon dengan cara penyampaian secara langsung melalui motif tutur direktif guru tertentu sesuai konteks yang melatari wacana interaksi kelas dan kebutuhan komunikasi serta tujuan yang hendak dicapai dalam interaksi pembelajaran di kelas.

Secara ringkas, hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dalam wacana interaksi pembelajaran di kelas, wujud respon tutur siswa terhadap tutur direktif guru direalisasikan dalam berbagai motif tutur direktif guru dengan mengemban fungsi respon yang berbeda-beda dan diekspresikan melalui strategi bertutur secara langsung. Semakin tinggi kemampuan komunikasi yang dilakukan oleh siswa, maka semakin beragam respon tutur yang dihasilkan. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah kemampuan komunikasi yang dimiliki oleh siswa, maka semakin sedikit variasi respon tutur yang dihasilkan.

Sesuai dengan hasil penelitian di atas, disarankan hal-hal sebagai berikut kepada pihak-pihak terkait. Bagi kepala sekolah, disarankan agar melakukan koordinasi kepada semua guru guna menindaklanjuti kajian ini dengan penentuan format pembelajaran yang seharusnya dilakukan agar lebih mengutamakan pengembangan perolehan bahasa siswa dalam wacana komunikasi khususnya dalam interaksi pembelajaran di kelas. Bagi guru, temuan penelitian ini dapat direkomendasikan sebagai bahan untuk mengembangkan tuturan dalam proses pembelajaran di kelas dan dapat mengembangkan potensi siswa dengan memperkaya wujud dan fungsi tuturan tersebut sehingga respon tutur siswa pun dapat beragam sesuai dengan kemampuan komunikasi dari masing-masing siswa. Bagipeneliti selanjutnya, temuan penelitian ini dapat dijadikan landasan untuk penelitian yang serupa dengan objek kajian dapat diperluas dan metodologi kajian dapat dikembangkan.