DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

KESANTUNAN BERBAHASA DALAM DISKUSI KELAS SISWA SMP NEGERI 17 MALANG

Chusnaini .

Abstrak


ABSTRAK

 

Chusnaini. 2015. Kesantunan Berbahasa dalam Diskusi Kelas Siswa SMP Negeri 17 Malang. Tesis. Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd., (II) Dr. Sunoto, M.Pd.

 

Kata kunci: kesantunan berbahasa, maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, maksim simpati, diskusi kelas.

Pembelajaran bahasa Indonesia bertujuan untuk membentuk kompetensi komunikatif pada siswa. Kompetensi komunikatif berkaitan  dengan penguasaan konteks berbahasa agar tercapai tujuan komunikasi. Penguasaan konteks berbahasa siswa salah satunya tampak dalam penggunaan kesantunan berbahasa. Kesantunan berbahasa dalam pelaksanaan diskusi kelas memiliki kekhasan tersendiri karena direpresentasikan berbeda-beda oleh setiap siswa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (a) pemenuhan dan (b) penyimpangan kesantunan berbahasa dalam diskusi kelas siswa SMP Negeri 17 Malang.

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan ancangan teori pragmatik. Data diperoleh secara alamiah, yakni berupa rekaman peristiwa diskusi kelas siswa SMP Negeri 17 Malang. Penelitian ini mempunyai dua jenis data, yakni data verbal berupa tuturan siswa dan data catatan lapangan. Data tuturan siswa diperoleh melalui rekaman handycam, sedangkan data catatan lapangan diperoleh melalui observasi. Sumber data  siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Malang tahun pelajaran 2014/2015, berjumlah 95 siswa. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan  menggunakan alat bantu yang berupa handycam dan tabel kisi-kisi pengembangan instrumen kesantunan berbahasa. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi empat langkah yakni (a) pengumpulan data, (b) reduksi data, (c) penyajian data, serta (d) penyimpulan, dan verifikasi data. Analisis data dalam penelitian ini digunakan teori pragmatik Leech yang terdiri atas (a) maksim kearifan, (b) maksim kedermawanan, (c) maksim pujian, (d) maksim kerendahan hati, (e) maksim kesepakatan, dan (f) maksim simpati.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa SMP Negeri 17 Malang telah menggunakan kesantunan berbahasa dalam pelaksanaan diskusi. Pemenuhan kesantunan berbahasa dalam diskusi kelas siswa SMP Negeri 17 Malang tampak dengan digunakannya maksim-maksim kesantunan berbahasa. Dalam hal maksim kearifan (1) penggunaan kata santun "mohon", (2) penggunaan kata "harap", (3) penolakan pendapat secara tidak langsung, (4) penggunaan kata "maaf", (5) penggunaan kata "tolong", (6) tidak adanya pemaksaan dalam lalu lintas diskusi, dan (7) pemenuhan hak dan kewajiban yang sama. Dalam hal maksim kedermawanan tampak ketika (1) memerintah dengan tuturan tidak langsung atau menggunakan kata "silakan" dan (2) penggunaan ucapan "terima kasih. Dalam hal maksim pujian (1) pujian atas presentasi makalah, (2) pujian pertanyaan yang muncul saat diskusi, dan (3)  pujian kepada pelaksana diskusi (moderator, pemateri, dan peserta diskusi). Dalam hal maksim kerendahan hati (1) tidak menonjolkan kelebihan diri sendiri dan (2) berprasangka baik kepada peserta diskusi. Dalam hal maksim kesepakatan (1) pemberian dukungan pada pendapat yang benar dan (2) penerimaan pendapat orang lain. Dalam hal maksim simpati (1) pemberian rasa simpati pada orang lain dan (2) mengisi kekosongan untuk memperoleh simpati.

Penyimpangan kesantunan berbahasa dalam diskusi kelas siswa SMP Negeri 17 Malang tampak ketika tidak dipenuhinya maksim-maksim kesantunan berbahasa. Dalam hal maksim kearifan (1) adanya pemaksaan dalam lalu lintas diskusi (2) penolakan pendapat secara langsung, dan (3) menyela pembicaraan orang lain tanpa menggunakan kata "maaf". Dalam hal maksim kedermawanan ketika memberikan perintah secara langsung kepada pemateri. Dalam hal maksim pujian ketika dalam diskusi ada kecaman secara langsung terhadap pelaksana diskusi. Dalam hal maksim kerendahan hati dalam diskusi kelas ketika (1) menonjolkan kelebihan diri sendiri dan (2) prasangka buruk kepada peserta diskusi. Dalam hal maksim kesepakatan dalam diskusi kelas ketika tidak memberi dukungan pada pendapat yang benar. Dalam hal maksim simpati tampak ketika tidak memberikan simpati pada orang lain.

Berdasarkan hasil penelitian, diajukan beberapa saran yang ditujukan kepada pihak-pihak yang terkait dengan penelitian ini. Bagi Kepala Sekolah untuk menekankan kesantunan berbahasa ketika supervisi agar kesantunan berbahasa menjadi budaya dalam interaksi belajar mengajar. Bagi guru, khususnya guru bahasa Indonesia dapat digunakan sebagai strategi sekaligus menjadi model bagi siswa cara berbahasa yang santun ketika mengemukakan pendapat, menolak pendapat, dan bertanya. Bagi siswa, penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk berbicara santun ketika melaksanakan diskusi kelas ketika mengemukakan pendapat, menolak pendapat, dan bertanya. Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam penelitian sejenis tentang kesantunan berbahasa, tetapi dengan konteks, metode, dan teori berbeda. Penelitian yang bisa dilakukan, misalnya meneliti tentang kesantunan berbahasa dalam diskusi kelas, dengan  teori kesantunan berbahasa yang dikemukan Brown and Levinson. Dengan demikian akan memperkaya kajian pragmatik, khususnya tentang kesantunan berbahasa.