DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Hubungan Perilaku Kepemimpinan Kepala Sekolah, Keaktifan Komite Sekolah, dan Lingkungan Kerja terhadap Kedisiplinan Guru SMP Negeri di Kota Malang. (Tesis)

Bambang Tri Budiono

Abstrak


            Disiplin merupakan sikap mental yang harus ditingkatkan dalam upaya mencapai produktivitas sebuah organisasi. Peningkatan kedisiplinan para guru menjadi tanggung jawab pribadi guru dan kepala sekolah sebagai pemimpin di sekolah. Mantja (2007) dan Mulyasa (2005) menyatakan bahwa untuk menciptakan iklim sekolah yang kondusif, kepala sekolah dituntut untuk mampu menciptakan semangat kerja guru yang tinggi (Mantja, 2007). Pernyataan keduanya sejalan dengan pendapat Tilaar (2007) yang menyatakan bahwa salah satu karakteristik kepemimpinan yang efektif adalah kemampuannya mewujudkan kedisiplinan tenaga kependidikan.             Pendekatan perilaku kepemimpinan banyak membahas keefektifan gaya kepemimpinan yang dijalankan oleh seorang pemimpin.

            Dalam kaitannya dengan kompetensi untuk mengadakan hubungan dengan masyarakat di sekitarnya, kepala sekolah dituntut untuk mampu membina dan mengembangkan hubungan kerja sama yang baik dengan masyarakat. Hubungan ini dapat terwujud antara lain lewat dewan sekolah, komite sekolah, paguyuban orang tua/wali siswa, dan sebagainya. Keefektifan sekolah juga sangat dipenga- ruhi oleh lingkungan kerja yang mencakup lingkungan kerja secara fisik, serta kemampuan manusia dan produktivitas kerja dipengaruhi oleh faktor fisik, kimia, biologis, fisiologis, mental, dan sosial ekonomi. Jika lingkungan kerja di sekolah tidak kondusif baik secara fisik maupun nonfisik akan berakibat negatif pada produktivitas sekolah. Dengan perilaku kepemimpinan kepala sekolah yang efektif, keaktifan komite sekolah, dan lingkungan kerja yang kondusif akan terwujud kedisiplinan guru. Kedisiplinan guru ini pada akhirnya diharapkan akan mampu mendukung tercapainya produktivitas sekolah.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (a) gambaran tingkat kedisiplinan guru SMP Negeri di Kota Malang, (b) gambaran perilaku kepemimpinan kepala sekolah SMP Negeri di Kota Malang, (c) gambaran keaktifan komite sekolah SMP Negeri di Kota Malang, (d) gambaran lingkungan kerja SMP Negeri di Kota Malang, (e) ada tidaknya hubungan antara perilaku kepemimpinan kepala sekolah dengan kedisiplinan guru di SMP Negeri di Kota Malang, (f) ada tidaknya hubungan antara keaktifan komite sekolah dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kota Malang, (g) ada tidaknya hubungan antara lingkungan kerja dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kota Malang, dan (h) ada tidaknya hubungan secara bersama-sama antara perilaku kepemimpinan kepala sekolah, keaktifan komite sekolah, dan lingkungan kerja dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kota Malang.

Penelitian ini merupakan penelitian ex post facto karena tidak memerlukan pengendalian atau manipulasi variabel secara langsung oleh peneliti. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasional. Variabel-variabel penelitian ini adalah kedisiplinan guru sebagai variabel terikat, dan perilaku kepemimpinan kepala sekolah, keaktifan komite sekolah, dan lingkungan kerja sebagai variabel bebas. Sampel penelitian ini berjumlah 211 orang yang diambil secara acak dari 20% jumlah seluruh guru PNS SMP Negeri yang ada di Kota Malang (1054 orang). Analisis hasil penelitian dilakukan dengan bantuan SPSS versi 15.0. Jenis analisis yang dilakukan mencakup analisis deskriptif, analisis statistik inferensial, dan uji hipotesis. Uji hipotesis mencakup uji t untuk mengetahui korelasi antar variabel secara parsial, dan uji F untuk mengetahui korelasi variabel secara bersama-sama.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (a) kedisiplinan guru SMP Negeri di Kota Malang termasuk dalam kategori sangat tinggi, (b) perilaku kepemimpinan kepala sekolah SMP Negeri di Kota Malang termasuk kategori sangat tinggi, (c) tingkat keaktifan komite sekolah SMP Negeri di Kota Malang termasuk tinggi, (d) lingkungan kerja SMP Negeri di Kota Malang termasuk kategori tinggi, (e) terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku kepemimpinan kepala sekolah dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kota Malang. Besarnya berpengaruh perilaku kepemimpinan kepala sekolah terhadap kedisiplinan guru adalah 46.2%, (f) terdapat hubungan antara keaktifan komite sekolah dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kota Malang. Besarnya hubungan yang menunjukkan pengaruh tersebut adalah sebesar 14.1%, (g) terdapat hubungan antara lingkungan kerja dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kota Malang. Besarnya hubungan lingkungan kerja terhadap kedisiplinan guru adalah 19.9%, (h) secara bersama-sama perilaku kepemimpinan kepala sekolah, keaktifan komite sekolah, dan lingkungan kerja berpengaruh terhadap kedisiplinan guru SMP Negeri di Kota Malang. Besarnya pengaruh tersebut adalah 38.8%.

Implikasi hasil penelitian ini adalah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional maka kedisiplinan guru harus terus ditingkatkan. Untuk meningkatkan kedisiplinan guru dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas perilaku kepemimpinan kepala sekolah, keaktifan komite sekolah, serta kualitas dan kuantitas lingkungan kerja. Peningkatan perilaku kepemimpinan kepala sekolah dapat dilakukan dengan cara kepala sekolah menitikberatkan perilaku kepemimpinannya pada tiga orientasi yaitu orientasi tugas, hubungan, dan perubahan. Komite sekolah juga dituntut untuk terus meningkatkan peran aktifnya di sekolah terutama dalam memberikan masukan serta menyediakan dana di sekolah. Dengan demikian kedisiplinan guru akan dapat ditingkatkan. Sekolah, dalam hal ini kepala sekolah harus berupaya menyediakan ligkungan kerja yang memadai untuk mendukung kinerja guru dengan cara memenuhi fasilitas seperti media dan sumber pebelajaran yang dibutuhkan oleh guru, serta menciptakan hubungan sosial yang baik antara warga sekolah.