DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kepemimpinan Kyai dalam Pendidikan Watak Santri. Studi Multisitus di Pondok PETA Tulungagung dan Pondok Pesantren Garuda Loncat Blitar. (Tesis)

Mujiyono Mujiyono

Abstrak


Pendidikan watak menjadi hal yang esensial dalam membangun manusia seutuhnya, yang membentuk peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pondok pesantren merupakan salah satu model pendidikan formal yang terbukti telah mampu hidup menyatu dengan masyarakat sekitarnya dan bahkan menjadi rujukan bagi masyarakat sekitarnya dalam bidang akhlak.

            Penelitian ini dilakukan pada Pondok Pesulukan Thoriqot Agung Tulungagung sebagai situs I dan Pondok Pesantren Garuda Loncat Blitar sebagai situs II, dengan tujuan: (1) ingin mendeskripsikan bagaimana pola kepemimpinan kyai dalam sistem pendidikan watak santri, (2) ingin mendeskripsikan bagaimana pandangan pengurus/ustad terhadap kepemimpinan kyai, (3) ingin mendes-kripsikan bagaimana pandangan santri terhadap kepemimpinan kyai, (4) ingin  mendskripsikan bagaimana peran kyai dalam pendidikan di pesantren, dan (5) ingin mendskripsikan faktor apa yang mendukung dan menghambat pelaksanaan pendidikan watak santri.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan rancangan multisitus, dengan jenis komparasi konstan.  Data penelitian yang berupa rangkaian kalimat-kalimat diperoleh dari tiga macam sumber, yakni diri peneliti, informan 11 orang dari Situs Pondok Pesulukan Thoriqot Agung dan 11 orang dari Situs Pondok Pesantren Garuda Loncat, serta dokumen-dokumen yang relevan. Kegiatan pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi mendalam dan dari data-data dokumen yang terkait. Instrumen yang digunakan digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia yaitu diri peneliti dan pedoman pengumpulan data serta alat perekam sebagai pelengkap. Analisis data yang digunakan adalah analisis data model interaktif yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Untuk menjaga kesahihan data penelitian dilakukan dengan perpanjangan peneliti di lapangan, triangulasi sumber dan triangulasi metode, serta dengan review informan. Kegiatan analisis data di mulai dari semenjak pengumpulan data di lapangan, berkelanjutan  hingga analisis data setelah semua data terkumpul.

            Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pola kepemimpinan yang diterapkan baik di Pondok Pesulukan Thoriqot Agung Tulungagung dan pada Pondok Pesantren Garuda Loncat Blitar adalah pola kepemimpinan karismatik-kepatuhan dan pola kepemimpinan tunggal, dengan tipologi kyai spiritual. Pandangan pengurus/ustadz terhadap kepemimpinan kyai adalah kyai sebagai pemimpin tertinggi, kyai sebagai maha guru, kyai sebagai tokoh sentral dan kyai sebagai pemimpin spiritual. Pandangan santri terhadap kepemimpinan kyai pengasuh pondok Pesulukan Thoriqot Agung adalah kyai sebagai perantara (wasilah) keberhasilan hubungan santri dangan Tuhan, sebagai orang tua santri dan kyai sebagai pelindung santri.  

            Peran kyai dalam pendidikan watak santri di Pondok Pesulukan Thoriqot Agung dan di Pondok Pesantren Garuda Loncat adalah kyai sebagai pengorganisasi dan kyai sebagai pengintegrasi sosial, penentu visi misi pesantren, sebagai motor ,sebagai supervisor, sebagai evaluator, sebagai konsultan, sebagai fasilitator dan kyai sebagai motivator. Sebagai faktor pendukung terhadap kelancaran pendidikan watak santri, yaitu nama besar pendiri pesantren, karisma kyai, adanya dukungan masyarakat dan adanya organisasi pondok. Sedangkan faktor penghambatnya  adalah keberagaman santri dimana usia dan latar belakang santri yang bervariasi. .

            Saran dalam penelitian ini 1)untuk pengasuh Pondok Pesulukan Thoriqot Agung, hendaknya mengurangi jarak dan menambah keakraban dengan bawahan, serta lebih mendorong bawahan untuk berani mengemukakan ide-ide untuk kemajuan santri maupun pesantren, dan untuk pengasuh Pondok Pesantren Garuda Loncat supaya mulai merencanakan untuk memperluas bidang pendidikan kecakapan hidup, seperti teknik perbengkelan dan agar memperluas tujuan dalam pengajaran bela diri pencak silat sebagai salah satu teknik pengajaran di pesantren meningkatkan dari membentuk santri yang mampu mengendalikan diri dan memperoleh keselamatan, menuju prastasi dalam kejuaraan resmi, sehingga lebih meningkatkan  daya tarik pada santri. 2) Bagi pengurus/ustadz Pondok Pesulukan Thoriqot Agung, hendaknya tidak takut dalam menyampaikan ide-ide untuk kemajuan pesantren, dengan tanpa mengurangi rasa mengagungkan dan menghormati kyai, dan bagi Pengurus/ustadz Pondok Pesantren Garuda Loncat, dengan kedekatan yang sudah terjalin, hendaknya terus membantu kyai dalam meluruskan motivasi (niat) santri yang tidak atau belum sesuai, sehingga mempermudah santri dalam menuntut ilmu di pesantren. 3) Bagi santri Pondok Pesulukan Thoriqot Agung, hendaknya bisa menyaring informasi penting yang dibutuhkan dari adanya teknologi komunikasi (efek globalisasi), sehingga tidak menimbulkan kemunduran moral setelah mendapat pencerahan dari kyai, dan bagi santri Pondok Pesantren Garuda Loncat, walaupun motivasi awal kedatangan ke pesantren bukan karena keinginan untuk menuntut ilmu, hendaknya bisa meluruskan dan memotivasi diri ke arah yang sesuai tujuan pesantren. 4) Bagi peneliti lain, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut khususnya di pondok pesantren salaf, mengenai pengembangan kurikulum di pondok pesantren yang mengintegrasikan antara nilai-nilai keagamaan dengan ketrampilan yang dapat menunjang kemandirian yang dibutuhkan di masyarakat (life skill), sehingga tercipta semacam kurikulum 'kebutuhan dan kecakapan hidup'.