DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengembangan Pertangkat Pembelajaran IPA Berpola PBMP dan TPS pada Sekolah Multietnis dan Pengaruh Penerapannya terhadap Kesadaran Matakognisi, Keterampilan Metakognisi, Kemampuan Berpikir Kritis, dan Sikap Sosial Siswa SD Kota Ternate. (Disertasi)

Ade Haerullah, Aloysius Duran Corebima, Ibrohim Ibrohim, Mohamad Amin

Abstrak


Indonesia merupakan bangsa multikultural dan multietnis. Sampai saat ini tercatat ada lebih dari 500 etnis yang menggunakan lebih dari 250 bahasa. Kekayaan kultur dan etnis seperti ini juga ditemukan di kota Ternate Provinsi Maluku Utara. Kekayaan kultur dan etnis di Provinsi Maluku Utara tergambar dari adanya kurang lebih 30 suku dengan 30 bahasa, salah satunya adalah bahasa Ternate. Kekayaan kultur, etnis dan falsafah hidup yang dimiliki oleh masyarakat kota Ternate bila didayagunakan secara baik, seyogyanya menjadi potensi dan kekayaan jatidiri bangsa bagi pembangunan nasional. Namun demikian, perlu disadari juga bahwa kemajemukan tersebut juga menyimpan potensi konflik yang dapat mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hubungan sosial di daerah pertemuan antarsuku tentunya lebih rumit karena adanya perbedaan budaya. Hal ini sedikit banyak mempengaruhi proses pendidikan di sekolah. Pembelajaran di dalam kelas multietnik lebih sukar dilaksanakan daripada kelas yang homogen etniknya. Hal tersebut dikarenakan setiap siswa yang berasal dari etnik tertentu membawa pandangan dan perilaku ciri khas budaya masing-masing dalam menerima bahan pembelajaran dan menerima teman atau guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi strategi pembelajaran PBMP, TPS, dan integrasi PBMP+TPS dalam memberdayakan kesadaran metakognisi, keterampilan metakognisi, keterampilan berpikir kritis, dan sikap sosial siswa pada sekolah multietnis di SD Kota Ternate. Penelitian terdiri dari 2 tahap, yakni tahap survai dan tahap penelitian eksperimen, untuk menguji pengaruh perangkat pembelajaran berupa Silabus, RPP dan LKS yang dikembangkan berdasarkan sintaks masing-masing strategi terhadap kesadaran metakognisi, keterampilan metakognisi, keterampilan berpikir kritis, dan sikap sosial siswa SD kelas VI. Hasil survai menunjukkan bahwa Guru SD Kota Ternate sebagian besar belum berkualifikasi sarjana (S1) tetapi rata-rata telah bertugas di atas 10 tahun. Survei juga menunjukkan bahwa para guru belum menerapakan secara maksimal strategi pembelajaran kooperatif. Demikian pula pembelajaran berpola PBMP, TPS, dan gabungan PBMP+TPS, para guru belum tahu dan belum pernah menggunakannya dalam proses pembelajaran. Selain itu, guru juga belum maksimal memberdayakan keterampilan metakognisi, dan keterampilan berpikir kritis siswa. Hasil penelitian eksperimen menunjukkan; 1) terdapat pengaruh strategi pembelajaran terhadap kesadaran metakognisi siswa pada sekolah multietnis. Rata-rata skor peningkatan kesadaran metakognisi tertinggi pada strategi PBMP+TPS sebesar 45,00%.dan terendah pada strategi TPS sebesar 6,86%, 2) terdapat pengaruh strategi pembelajaran terhadap keterampilan metakognisi siswa pada sekolah multietnis. Rata-rata skor peningkatan kesadaran metakognisi tertinggi pada strategi PBMP sebesar 96,05%.dan terendah pada strategi PBM+TPS sebesar 52,30%. 3) terdapat pengaruh strategi pembelajaran terhadap keterampilan berpikir kritis siswa pada sekolah multietnis. Rata-rata skor peningkatan kesadaran metakognisi tertinggi pada strategi PBMP sebesar 3,17%.dan terendah pada strategi konvensional sebesar 2,14%, 4) terdapat pengaruh strategi pembelajaran terhadap sikap sosial siswa pada sekolah multietnis. Rata-rata skor peningkatan kesadaran metakognisi tertinggi pada strategi PBMP sebesar 11.23% dan terendah pada strategi TPS sebesar 6.29%, 5) tidak ada pengaruh etnis terhadap kesadaran metakognisi siswa. Rata-rata skor peningkatan kesadaran metakognisi tertinggi pada etnis Ternate sebesar 29,23% dan terendah pada etnis Tidore sebesar 26,55%, 6) terdapat pengaruh etnis terhadap keterampilan metakognisi. Rata-rata skor peningkatan kesadaran metakognisi tertinggi pada etnis Makian sebesar 88,37% dan terendah pada etnis Ternate sebesar 54,43%, 7) terdapat pengaruh etnis terhadap keterampilan berpikir kritis siswa. Rata-rata skor peningkatan kesadaran metakognisi tertinggi pada etnis Makian sebesar 3,61% dan terendah pada etnis Tidore sebesar 2,14%, 8) tidak ada pengaruh etnis terhadap sikap sosial siswa, 9) tidak ada pengaruh interaksi strategi dengan etnis terhadap kesadaran metakognisi, keterampilan metakognisi, keterampilan berpikir kritis, dan sikap sosial siswa pada sekolah multietnis; 10) terdapat keunggulan masing-masing etnis atas strategi pembelajaran kooperatif PBMP, TPS, dan gabungan PBMP+TPS yang diterapkan oleh guru dalam memberdayakan kesadaran metakognisi, keterampilan metakognisi, keterampilan berpikir kritis, dan sikap sosial siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa strategi PBMP, TPS, dan PBMP+TPS dapat meningkatkan kesadaran metakognisi, keterampilan metakognisi, keterampilan berpikir kritis, dan sikap sosial siswa pada sekolah multietnis. Dengan demikian dapat disarankan bahwa, sebaiknya guru mengimplementasikan strategi ini dalam pembelajaran IPA-biologi SD. Terkait pembelajaran yang berbasis kebaragaman, disarankan agar pada penelitian berikutnya dilakukan pengukuran terhadap faktor-faktor lain (misalnya, sosial ekonomi dan msotivasi) yang dapat mempengaruhi capaian hasil belajar berupa kesadaran metakognisi, keterampilan metakognisi, keterampilan berpikir kritis, dan sikap sosial siswa.

 

Kata kunci: berpikir kritis, metakognisi, multietnis, PBMP, sikap sosial TPS.