DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penuntasan Wajib Belajar Sembilan Tahun di Kota Mataram, NTB. (Tesis)

Nada Nazopah, Nurul Ulfatin, Bambang Budi Wiyono

Abstrak


The implementation of Compulsory Basic Education Program is part of education policy in Indonesia in achieving education for all. This program is important to do because education is one of the ways to enhance human intelligence and skill. Therefore, the quality of people dependens on the quality of their education. Mataram is the largest percentage of illiterate population which is the second region after Papua from 33 regions in Indonesia and the gross enrollment rate (GER) below the national average (BPS RI, 2009). The lowest score of the Gross Participation Rate (GPR) SD/MI Mataram is 105, 51 percent which is under the GER districts/cities in Nusa Tenggara Barat Province (Pocket Books Government of West Nusa Tenggara Province in Academic Year, 2010/2011). Children do not go to school and the dropout age are 7 to 15 years almost evenly spread in each sub-districts in the city of Mataram. The problems studied were as follows: (1) How is a general implementation of the nine-year compulsory education completion in Mataram? (2) How are the problems faced, and (3) What is an alternative to overcome the problem? The research method used is qualitative description methods. Mataram city is used as a research location where Mataram is the municipality as well as the capital city of Nusa Tenggara Barat Province. Mataram is divided into six districts, namely Ampenan, Cakranegara, Mataram, Sandubaya, Selaparang, and Sekarbela districts. Sample technique taken was purposive sampling technique in which the key informant used as the main subject in this study were a group of children in aged 7 up to 15 years old who were not and/or have dropped out of school. The numbers of the children as the research subject were 30 children who were taken 5 children at every district in the city of Mataram. Data were collected by using observation techniques, interviews, documentation, and FGD. Data analysis was performed with a descriptive qualitative techniques. The results of this study are as follows: (1) The overview of the implementation of the nine-year compulsory education completion in Mataram is uneven. (2) The problems faced are found six factors, namely the lack of families/parents’s attention to their children, the own child factor who suffers disability as well as their indolence in accepting the lesson, economic/cost factor concerning with the education cost in which should be paid by the parents’ of children to support the teaching and learning process, the environment/community factor which is lack to support the process of education, the teachers/school factor which is lack to give attention to the children who have dropped out and will be dropped out, and the government factor concerning with the education means and infrastructures. (3) the alternatives to overcome of the problems undertaken by the government of the Mataram City, DIKPORA of Mataram City, the school and the community are in the following: ABSANO and ADONO Program, namely zero illiteracy rate program and zero dropout rate which derive from the government of Nusa Tenggara Barat province, Junior Open School as the government program, which gives the service of grouping independent learning and chooses the main school, the scholarship as the distribution to the children which derives from the central government, territory government, and the community, Life Skills Education as skill education program which is given to the member of the society, especially the people who are jobless and in basic school age, Fish For Schools as the program which gives the seed of the fish and makes the fishpond for the school which are able to maintain them, Inclusive Education as the program who gives service to the children in special need by regular schools assigned, Guidance learning to the certain course which is given before national examination, and Kejar Paket A and Paket B. As the implementation of the research results to the Completion of the Nine-Year Compulsory Education in Mataram, NTB, it is suggested to the related parties: (a) School age children, parents, and families, (b) School / teacher, and (c) Community, and (d) The Government, working together to find the alternative so that the children can complete their primary education maximally.

 

Penyelenggaraan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar merupakan bagian dari kebijakan pendidikan di Indonesia dalam mencapai pendidikan untuk semua (education for all). Program ini penting untuk dilakukan karena pendidikan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilan manusia. Oleh karena itu, kualitas manusia sangat bergantung pada kualitas pendidikannya. Kota Mataram termasuk daerah yang memiliki persentase penduduk buta huruf terbesar kedua setelah Papua dari 33 daerah di Indonesia serta Angka Partisipasi Kasar (APK) di bawah rata-rata nasional (BPS RI, 2009). Angka Partisipasi Kasar (APK) tingkat SD/MI Kota Mataram paling rendah yakni 105, 51 persen di bawah APK kabupaten/kota lain yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (Buku Saku Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun Pelajaran, 2010/2011). Di Kota Mataram, anak tidak dan putus sekolah usia 7˗15 tahun hampir tersebar merata di tiap kecamatan yang ada. Permasalahan yang dikaji adalah sebagai berikut: (1) Bagaimanakah gambaran umum pelaksanaan penuntasan Wajib Belajar Sembilan Tahun di Kota Mataram? (2) Bagaimanakah permasalahan yang dihadapi, dan (3) Bagaimanakah alternatif mengatasi masalah? Metode penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Kota Mataram sebagai lokasi penelitian di mana Kota Mataram merupakan kotamadya sekaligus ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kota Mataram terbagi atas 6 kecamatan, yaitu Kecamatan Ampenan, Cakranegara, Mataram, Sandubaya, Selaparang, dan Sekarbela. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dimana informan kunci yang dijadikan subjek utama dalam penelitian ini adalah kelompok anak usia 7-15 tahun yang tidak dan/atau mengalami putus sekolah sebanyak 30 orang anak dimana tiap kecamatan di Kota Mataram diambil 5 orang anak sebagai subjek penelitian. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan FGD. Analisis data dilakukan dengan teknik deskriptif kualitatif. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) Gambaran Umum pelaksanaan penuntasan Wajib Belajar Sembilan Tahun di Kota Mataram belum merata. (2) Permasalahan yang dihadapi ditemukan 6 faktor penyebab yakni faktor kurangnya perhatian keluarga/orang tua terhdap pendidikan anak, faktor dari diri anak yang memiliki kekurangan secara fisik dan/atau mental serta kelambanan dalam menerima pelajaran, faktor ekonomi/biaya berkaitan dengan biaya pendidikan yang harus di keluarkan orang tua siswa dalam menunjang kegiatan belajar mengajar, faktor lingkungan/masyarakat yang kurang memberikan dukungan terhadap keberlangsungan pendidikan, faktor guru/sekolah yang kurang memperhatikan siswa yang sudah dan berpotensi untuk putus sekolah, dan faktor pemerintah berkaitan dengan kurangnya sarana dan prasarana pendidikan. (3) Alternatif mengatasi masalah dilakukan oleh Pemerintah Kota Mataram, DIKPORA Kota Mataram, Sekolah, dan Masyarakat, antara lain yakni; Program ABSANO dan ADONO yakni program Angka Buta Aksara Nol dan Angka Drop Out Nol yang berasal dari Pemerintah Provinsi NTB, SMP Terbuka merupakan program pemerintah yang memberikan pelayanan pendidikan belajar mandiri berkelompok dan memiliki sekolah induk, Beasiswa merupakan pemberian bantuan kepada siswa baik yang berasal dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun masyarakat, Pendidikan Kecakapan Hidup merupakan sebuah program pendidikan keterampilan yang di berikan kepada anggota masyarakat khususnya yang tidak bekerja dan tidak sedikit dari pesertanya merupakan anak usia pendidikan dasar, Ikan untuk Sekolah merupakan program pemberian bibit ikan dan pembuatan kolam ikan untuk sekolah-sekolah yang berpotensi dalam memelihara ikan, Pendidikan Inklusi merupakan sebuah program pendidikan yang memberikan pelayanan pendidikan kepada anak berkebutuhan khusus oleh sekolah-sekolah reguler yang sudah di tunjuk, Bimbingan Belajar untuk mata pelajaran tertentu yang diberikan menjelang Ujian Nasional, dan Kejar Paket A dan Paket B. Sebagai implementasi dari hasil penelitian tentang Penuntasan Wajib Belajar Sembilan Tahun di Kota Mataram, NTB disarankan kepada pihak-pihak terkait: (a) Anak usia pendidikan dasar, orang tua, dan keluarga, (b) Sekolah/guru, dan (c) Masyarakat, dan (d) Pemerintah, secara bersama-sama bekerjasama untuk mencari alternatif agar anak dapat menyelesaikan pendidikan dasarnya dengan maksimal.