DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pemanfaatan Short Message Service (SMS) dalam Remedial Teaching dengan Menggunakan Scaffolding pada Materi Peluang di SMK PGRI 3 Malang. (TESIS)

Kawakibul Qamar, Purwanto Purwanto, Muchtar Abdul Karim

Abstrak


Mathematics instruction has had many models, strategies and methods. But ironically, this does not necessarily ensure high learning outcomes of all students, because they always find some students still get a low learning outcome. These results indicate that some students are still having difficulties in learning such statement of Cooney (1975) that the learning difficulties experienced not only by students who are below average or who have learning difficulties truly known, but can be experienced by students of any ability level or among any group. It is necessary for remedial teaching were organized with principles that can resolve the difficulties of students. But the conduct of remedial teaching in SMK PGRI 3 Malang constrained by time and place. To overcome these obstacles need design of remedial teaching by utilizing Short Message Service (SMS) with scaffolding method. Difficulties students which can be dealt with directly are the difficulty students that are influenced by the intellectual and pedagogical. This study focused on the difficulties students that are affected by intellectual. The use of diagnostic tests type A with knowledge structured approach is the most appropriate diagnostic techniques to determine the student's difficulties in a particular competency. Once the student's difficulties are known, then creating a design of remedial teaching that utilizes SMS. SMS is part of the Mobile Learning can be said as "anytime, anywhere learning" (Kukulska-Hulme, 2005:59). Strategies that fit with the SMS are scaffolding especially verbal scaffolding that consists of four parts: Questioning, Prompting, Cueing and Explaining. The results of analysis of the content of probability and diagnostic test showed that there are students who have not mastered basic competency 1 is about the rules about counting, permutations and combinations and also in basic competency 2 is about calculating the probability of an event. In the first cycle is concluded that remedial teaching activities beyond 60 minutes, only discuss one problem. The cause is pending SMS, and to solve this constrain by revising the duration of remedial teaching. In the second cycle is concluded that remedial teaching can be carried out well and the analysis of test results obtained by the participants remedial compliance with KKM. From interviews with all participants data showed that there was a positive response to remedial teaching, although almost all participants were constrained pending SMS. Based on the discussion, we can conclude a few things like the following: (1) design of remedial teaching that utilizes SMS to content of probability in SMK PGRI 3 Malang includes the following steps: (a) determining the location of the student's difficulties with diagnostic test type A (based on formative test), (b) conduct remedial teaching after school activity and usually night or on a holiday, and using scaffolding especially verbal scaffolding by leading question with Questioning, Prompting, Cueing and Explaining, (2) Students can cope their learning difficulties well by student's responses in remedial teaching.

 

Pembelajaran matematika telah memiliki banyak model, strategi dan metode. Namun ironisnya, hal ini tidak serta merta memastikan hasil belajar semua siswa tinggi, karena masih selalu saja ditemukan beberapa siswa yang masih mendapatkan hasil belajar yang rendah. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa beberapa siswa masih mengalami kesulitan dalam belajar seperti pernyataan Cooney (1975) bahwa kesulitan belajar tidak dialami hanya oleh siswa yang berkemampuan di bawah rata-rata atau yang dikenal sungguh memiliki learning difficulties, tetapi dapat dialami oleh siswa dengan tingkat kemampuan manapun dari kalangan atau kelompok manapun. Untuk itu perlu dilakukan remedial teaching yang disusun dengan prinsip-prinsip yang dapat menyelesaikan kesulitan siswa. Namun pelaksanan remedial teaching di SMK PGRI 3 Malang terkendala oleh waktu dan tempat. Untuk mengatasi kendala tersebut perlu desain remedial teaching yang memanfaatkan Short Message Service (SMS) dengan metode scaffolding. Kesulitan siswa yang dapat ditangani secara langsung adalah kesulitan siswa yang dipengaruhi oleh faktor intelektual dan pedagogis. Penelitian ini difokuskan kepada kesulitan siswa yang dipengaruhi oleh faktor intelektual. Penggunaan tes diagnostik tipe A dengan pendekatan pengetahuan terstruktur adalah teknik diagnosis yang paling sesuai untuk mengetahui kesulitan siswa pada kompetensi tertentu. Setelah letak kesulitan siswa diketahui, selanjutnya membuat desain remedial teaching yang memanfaatkan SMS. SMS merupakan bagian dari Mobile Learning yang dapat dikatakan sebagai “anytime, anywhere learning” (Kukulska-Hulme, 2005:59). Strategi yang sesuai dengan SMS adalah scaffolding khususnya verbal scaffolding yang terdiri dari empat bagian yaitu Questioning, Prompting, Cueing dan Explaining. Hasil analisis hasil ulangan materi peluang dan tes diagnostik diperoleh data bahwa terdapat siswa yang belum menguasai kompetensi dasar 1 yaitu tentang mendeskripsikan kaidah pencacahan, permutasi, dan kombinasi serta kompetensi dasar 2 yaitu tentang menghitung peluang suatu kejadian. Pada siklus I diperoleh kesimpulan bahwa kegiatan remedial teaching melebihi waktu yang telah ditentukan yaitu 60 menit, serta hanya dapat dibahas satu soal saja. Penyebabnya adalah SMS yang tertunda (pending), dan untuk mengatasinya adalah dengan merevisi durasi remedial teaching. Pada siklus II diperoleh kesimpulan bahwa remedial teaching dapat terlaksana dengan baik dan analisis hasil tes remedial diperoleh bahwa partisipan telah memenuhi KKM. Dari wawancara dengan semua partisipan diperoleh data bahwa ternyata ada respon positif terhadap remedial teaching, meskipun hampir semua partisipan masih terkendala SMS yang tertunda. Berdasarkan dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan beberapa hal seperti berikut, (1) Desain remedial teaching yang memanfaatkan SMS pada materi peluang di SMK PGRI 3 Malang meliputi langkah-langkah sebagai berikut: (a) menentukan letak kesulitan siswa dengan tes diagnostik tipe A (berdasarkan hasil ulangan), (b) melaksanakan remedial teaching di luar jam pelajaran dan berdasarkan kebutuhan siswa, biasanya malam hari atau pada hari libur serta menggunakan metode scaffolding khususnya verbal scaffolding yaitu pertanyaan arahan dengan Questioning, Prompting, Cueing dan Explaining, (2) Siswa dapat mengatasi kesulitan belajar dengan baik, karena kegiatan remedial teaching ini berdasarkan atas respon masingmasing siswa.

 

Keywords: SMS, Remedial Teaching, Scaffolding