DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengembangan Modul Pembelajaran Kimia Fuels for Light Vehicle System dengan Pendekatan Kontekstual untuk Siswa RSMKBI Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan. (TESIS)

Titis Eswindro, Effendy Effendy, I Wayan Dasna

Abstrak


Chemistry is an adaptive subject at Rintisan Sekolah Menengah Kejuruan Bertaraf Internasional (RSMKBI) required as basic and strengthener of productive subject. In fact, chemistry learning at RSMKBI is more focused on theoretical aspect and less related to productive subject. These make students have low motivation in studying chemistry and they regard that chemistry is not an important subject. Chemistry learning will be more meaningful, attractive, and enjoyable for RSMKBI students if it is directly related to productive subject. Light vehicle technique specialty students as an automotive technician candidates need to learn petroleum at chemistry subject which can be related to gasoline and diesel automotive fuel systems and also exhaust gas emission discussed in productive subject. Limited time allocation for chemistry learning in the class room and implementation of industrial job training program (Praktek Kerja Industri = Prakerin) make chemistry learning is difficult to connect with productive subject. One alternative solution for solving this problem is providing learning source in the form of module using contextual approach. This module may be studied by the students during the class room learning or studied independently by the the students during Prakerin. The purposes of this research are: (1) to develop Fuels for Light Vehicle System chemistry learning module for light vehicle technique specialty students; and (2) to find out the appropriateness and effectiveness of the module developed for chemistry learning. The development of the module adopts 4D models of Thiagarajan, et al. This model involves four steps of development namely define, design, develop, and disseminate. The disseminate step isn’t conducted because of limitation the use of the developed module at SMKN 1 Blitar. The module developed is assessed using module assessment instrument developed based on standard assessment of learning material formulated by Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). The assessment involves four main aspects namely content, language, presentation, and graphic appropriateness. The module developed is validated by two chemistry education lectures of State University of Malang (Universitas Negeri Malang = UM), two chemistry teachers and two automotive technique teachers of SMKN 1 Blitar. The appropriateness of the module is tried out to six students for individual test and thirty students for limited field test. Limited field test using posttest only non equivalent control group design subjected to grade XI students of TKR 4 SMKN 1 Blitar is conducted for finding the effectiveness of the module for chemistry learning. The data collected consist of qualitative and quantitative data. The qualitative data consists of comments and suggestions for improvement of the module given by chemistry education lectures, chemistry teachers, automotive technique teachers, and students. The quantitative data consists of questionnaire answer and test score. The posttest is collected using multiple choice test consists of 25 items, with content validity of 92.3% and reliability coefficient, measured using Kuder-Richardson 21 formula (K-R 21), of 0.86. Data of test score are analyzed using independent sample t test. The chemistry module developed consists of two learning activities. Each learning activity involves learning purposes, introduction, problems, early concept that organized by students, questions to explore students’ knowledge, material description, exercise, summary, and comprehension test. Competence test, key answer, feedback, glossary, and references are given at the end part of the module. The experts assessment of the module give 91.2% content appropriateness, 90.3% language appropriateness, 89.6% presentation appropriateness, and 91.7% graphic appropriateness. The students assessment for module content and presentation appropriateness give 86.7% on individual test and 87.4% on limited field test. These indicate that the module developed is appropriate to be used in chemistry learning. Trying out of the module developed gives 90.0% students obtaining score above minimum of comprehensiveness criteria (Kriteria Ketuntasan Minimal=KKM). Independent sample t test subjected to test score indicates that test score of students using this module is higher than that of students using Hydrocarbon and Petroleum module published by Depdiknas. This indicates that the module developed is effective to be used in chemistry learning. Further assessment about appropriateness and effectiveness of the module should be conducted for wider module dissemination. 

 

Mata pelajaran kimia merupakan mata pelajaran adaptif di Rintisan Sekolah Menengah Kejuruan Bertaraf Internasional (RSMKBI) yang diperlukan sebagai dasar dan penguat pada mata pelajaran produktif. Pada kenyataannya pembelajaran kimia di RSMKBI lebih menekankan aspek teoritis dan kurang dikaitkan dengan pelajaran produktif. Hal ini menyebabkan siswa cenderung kurang termotivasi untuk belajar kimia dan beranggapan bahwa pelajaran kimia kurang penting. Pembelajaran kimia akan menjadi lebih bermakna, menarik, dan menyenangkan bagi siswa RSMKBI jika dikaitkan secara langsung dengan mata pelajaran produktif. Siswa Teknik Kendaraan Ringan (TKR) sebagai calon teknisi otomotif perlu mempelajari topik minyak bumi pada pelajaran kimia yang dikaitkan dengan sistem bahan bakar bensin dan diesel serta emisi gas buang yang dibahas pada pelajaran produktif. Keterbatasan alokasi waktu pembelajaran di kelas dan adanya program Praktek Kerja Industri (Prakerin) membuat pembelajaran kimia selama ini kurang dihubungkan dengan materi produktif. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menyediakan sumber belajar berupa modul yang menggunakan pendekatan kontekstual.  Modul tersebut dapat digunakan oleh siswa pada pembelajaran di kelas dan belajar mandiri saat Prakerin. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengembangkan modul pembelajaran kimia Fuels for Light Vehicle System untuk siswa Teknik Kendaraan Ringan (TKR); dan (2) untuk mengetahui kelayakan dan efektifitas modul pengembangan pada pembelajaran kimia. Pengembangan modul mengadopsi model pengembangan 4D dari Thiagarajan, dkk. Model ini meliputi empat tahap pengembangan yaitu  pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran. Tahap penyebaran tidak dilakukan karena modul pengembangan digunakan terbatas di lingkup SMKN 1 Blitar. Modul pengembangan dinilai menggunakan instrumen penilaian modul yang dikembangkan berdasarkan standar penilaian bahan ajar yang dirumuskan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Penilaian modul meliputi empat aspek yaitu kelayakan isi, bahasa, sajian, dan kegrafisan. Modul pengembangan dinilai oleh dua dosen pendidikan kimia FMIPA UM, dua guru kimia, dan dua guru teknik otomotif SMKN 1 Blitar. Kelayakan modul diujicobakan terhadap enam siswa pada uji perorangan dan 30 siswa pada uji lapangan terbatas. Uji coba lapangan terbatas menggunakan posttest only non equivalent control group design dilakukan pada siswa kelas XI TKR 4 SMKN 1 Blitar untuk mengetahui efektifitas modul pada pembelajaran kimia. Data yang dikumpulkan terdiri dari data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif terdiri dari komentar dan saran untuk perbaikan modul dari dosen pendidikan kimia, guru kimia, dan guru teknik otomotif serta siswa. Data kuantitatif terdiri dari hasil penilaian kuesioner dan skor tes. Postes dilakukan dengan menggunakan soal pilihan ganda yang terdiri dari 25 soal, dengan validitas isi 92,3% dan koefisien reliabilitas, diukur dengan menggunakan rumus Kuder-Richardson 21 (K-R 21), sebesar 0,86. Data skor tes dianalisis menggunakan independent sample t test.Modul pengembangan terdiri dari dua kegiatan belajar. Masing-masing kegiatan belajar meliputi tujuan pembelajaran, pendahuluan, rumusan masalah, konsep awal yang disusun oleh siswa, pertanyaan untuk mengeksplorasi pengetahuan siswa, deskripsi materi, latihan soal, rangkuman, dan uji pemahaman. Uji kompetensi, kunci jawaban, umpan balik, glosarium, dan daftar pustaka diberikan di akhir bagian modul. Hasil penilaian ahli menunjukkan kelayakan isi 91,2%, kelayakan bahasa 90,3%, kelayakan penyajian 89,6%, dan kelayakan grafis 91,7%. Hasil penilaian kelayakan isi dan penyajian modul oleh siswa pada uji perorangan adalah sebesar 86,7% dan uji lapangan terbatas adalah sebesar 87,4%. Hal ini menunjukkan bahwa modul pengembangan layak untuk digunakan pada pembelajaran kimia. Hasil uji coba modul pengembangan menunjukkan bahwa 90,0% siswa mencapai skor di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Uji t yang dilakukan terhadap skor tes siswa menunjukkan bahwa skor tes siswa yang belajar menggunakan modul pengembangan lebih tinggi daripada skor tes siswa yang belajar menggunakan modul Hidrokarbon dan Minyak Bumi yang diterbitkan oleh Depdiknas. Hal ini menunjukkan bahwa modul pengembangan efektif untuk digunakan pada pembelajaran kimia. Penilaian lebih lanjut tentang kelayakan dan efektifitas modul sebaiknya dilakukan dengan penyebaran modul lebih luas. 

 

Keywords: chemistry module, light vehicle system, contextual approach, RSMKBI