DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penggunaan Tindak Direktif Bahasa Jawa dalam Upacara Serah-serahan Pengantin Masyarakat Lamongan. (Tesis)

Iib Marzuqi, Abd. Syukur Ibrahim, Sunaryo Sunaryo

Abstrak


The problem of underlying this study is the difference of the form and the nature of speech Java language in junk wedding ceremonies community. For example, speech-shaped function declarative but imperative. In this case the speakers using a direct strategy. Said to be an indirect form of speech if not in accordance with the speech function. When this happens, the speakers use indirect strategies. Of the problem, the purpose of this study was to decrypt the use of follow-directive form of the Java language, follow the directive function of the use of Java language, and strategies for follow-directive use of the Java language in a deliverables hand-over ceremony of the bride Lamongan. To achieve this, this study used a qualitative approach. This research includes studies with the pragmatic speech act theory, namely by placing the act within the scope of the directive speech act. In an effort to obtain data, researchers used a technique of documentation, observation, and interviews. Language transfer of junk in the Javanese wedding ceremony can be assessed in the study of speech acts (speech acts), as contained in the Java language measures said to expect partners to do something. In the Java language there is follow-locutions, ilocutions, and perlocutions. Mainly on the follow ilocution, which refers to the meaning implied in a speech, such as telling the (declarative), commanding (imperative), and asking (interrogative). ilocution follow the directive can be either action, the statement is intended to allow the listener to do something. Based on the findings of research on the use of a form of follow directive language deliverables on the hand-over ceremony the bride Lamongan Java, there are three modes of speech, namely (1) the use of speech with the declarative mode, (2) the use of speech with the imperative mode, and (3) the use of speech with interrogative mode. The findings about the function of the use of directive language to deliver a follow-submitted descriptions of the deliverables, which include (1) the use of speech with the declarative mode, namely (a) messenger function, (b) request function, (c) the function of the prohibition, and (d) acceptance function, (2) the use of speech with the imperative mode, namely (a) messenger function, (b) request function, and (c) the function of the prohibition, and (3) the use of speech with interrogative mode, namely (a) messenger function, (b) request function, and (c) the function of the prohibition. The findings about the use of strategies to deliver a follow-directive language deliverables shown that the use of strategies to deliver a follow-directive language deliverables with the strategy expressed directly and indirectly. Speak directly with a speech that embodied the pattern of imperative to rule or ordered, namely messenger strategy, request strategy, and prohibition strategy. Speak indirectly realized by speech that shaped declarative, namely messenger strategy, request strategy, prohibition strategy, and acceptance strategy. And speak indirectly realized by speech that shaped interrogative, namely messenger strategy, request strategy, and prohibition strategy. There are a few suggestions that may be considered by the parties directly related to this research, namely (1) for speaker, surrender, and the recipient, it is expected that the speak (giving a speech) to draft the language more interesting and fun. This is caused when delivering a speech using the language of interest, said the partners will not feel bored or tired. While an attractive language, the relationship can be harmony between the narrator said the partners and (2) for subsequent research, this study can be used as a reference to see the linguistic activity that occurs in the bridal procession transfer of deliverables associated with the use of directive acts. As a suggestion for subsequent research, to examine the same topic but rather to develop the speech of another procession, such as the procession spray, Panggih (Javanese language), or procession snakes in Javanese language.

 

 

Masalah yang melatarbelakangi penelitian ini adalah terdapat perbedaan antara wujud penggunaan tuturan tindak direktif bahasa Jawa dalam upacara serah-serahan pengantin dengan fungsi tuturan tersebut. Misalnya, penutur menggunakan tuturan yang berwujud interogatif tetapi tututran tersebut memiliki fungsi suruhan. Perbedaan tersebut disebabkan karena konteks yang melatarbelakanginya. Perbedaan penggunaan antara wujud dan fungsi tersebut akan menimbulkan perbedaan strategi yang digunakan oleh penutur pula. Dari masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mendekripsikan wujud penggunaan tindak direktif bahasa Jawa, fungsi penggunaan tindak direktif bahasa Jawa, dan strategi penggunaan tindak direktif bahasa Jawa dalam upacara serah-serahan pengantin masyarakat Lamongan. Untuk mencapai hal tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini termasuk penelitian pragmatik dengan ancangan teori tindak tutur, yaitu dengan menempatkan tindak direktif dalam ruang lingkup tindak tutur. Dalam upaya memperoleh data, peneliti menggunakan teknik pendokumentasian, observasi, dan wawancara. Bahasa serah-serahan dalam upacara pengantin Jawa dapat dikaji dalam kajian tindak tutur (speech acts), karena dalam bahasa Jawa terkandung tindakan-tindakan yang mengharapkan mitra tutur melakukan sesuatu. Dalam bahasa Jawa terdapat tindak lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Utamanya pada tindak ilokusi, yakni mengacu pada makna tersirat dalam suatu tuturan, seperti memberitahu (deklaratif), memerintah (imperatif), dan bertanya (interogatif). Tindak ilokusi tersebut dapat berwujud tindak direktif, yaitu pernyataan yang bertujuan agar pendengar melakukan sesuatu. Berdasarkan temuan penelitian tentang wujud penggunaan tindak direktif bahasa serah-serahan pada upacara pengantin Jawa masyarakat Lamongan, terdapat tiga wujud tuturan, yaitu (1) wujud deklaratif pada berbagai tindak, yaitu (a) wujud menyatakan suruhan, (b) wujud menyatakan permintaan, (c) menyatakan larangan, dan (d) wujud menyatakan penerimaan. (2) Melalui tindakan berwujud imperatif, meliputi (a) wujud menyatakan suruhan, (b) wujud menyatakan permintaan, dan (c) wujud menyatakan larangan. (3) Tindak berwujud interogatif, meliputi (a) wujud menyatakan suruhan, (b) wujud menyatakan permintaan, dan (c) wujud menyatakan larangan. Temuan tentang fungsi penggunaan tindak direktif bahasa serah-serahan, meliputi (1) fungsi tuturan berwujud deklaratif, meliputi (a) fungsi suruhan, (b) fungsi permintaan, (c) fungsi larangan, dan (d) fungsi penerimaan, (2) fungsi tuturan berwujud imperatif, meliputi (a) fungsi suruhan, (b) fungsi permintaan, dan (c) fungsi larangan, dan (3) fungsi tuturan berwujud interogatif, meliputi (a) fungsi suruhan, (b) fungsi permintaan, dan (c) fungsi larangan. Hasil temuan tentang strategi penggunaan tindak direktif bahasa serah-serahan menunjukan bahwa strategi penggunaan tindak direktif bahasa serah-serahan diekspresikan dengan strategi secara langsung dan secara tidak langsung. Bertutur secara langsung diwujudkan dengan tuturan yang wujud imperatif untuk menyuruh, meminta, dan melarang. Bertutur secara tidak langsung diwujudkan dengan tuturan yang berwujud deklaratif dan interogatif. Strategi tidak langsung dengan wujud deklaratif digunakan untuk menyatakan suruhan, permintaan, larangan, dan menerima. Sedangkan Strategi tidak langsung dengan wujud interogatif digunakan untuk menyuruh, meminta, dan melarang. Terdapat beberapa saran yang dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh pihak-pihak yang terkait secara langsung dengan penelitian ini, yaitu (1) bagi pewara, penyerah, dan penerima, diharapkan agar dalam bertutur (memberikan sambutan) membuat rancangan bahasa yang lebih menarik dan menyenangkan. Hal tersebut disebabkan apabila dalam menyampaikan sebuah tuturan menggunakan bahasa yang menarik, mitra tutur tidak akan merasa jenuh atau bosan menyimaknnya. Sedangkan apabila menggunakan bahasa yang menarik, akan terjalin hubungan yang harmonis antara penutur dengan mitra tutur dan (2) bagi peneliti berikutnya, penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk melihat aktivitas kebahasaan yang terjadi pada prosesi serah-serahan pengantin yang berhubungan dengan penggunaan tindak direktif. Sebagai saran untuk peneliti berikutnya, agar meneliti dengan topik yang sama tetapi lebih mengembangkan pada tuturan prosesi yang lain, misalnya pada prosesi siraman, panggih, atau prosesi ular-ular.

 

Keywords: Follow directive, the Java language, hand-over ceremony the bride deliverables.