DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2012

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengetahuan Lokal Masyarakat Suku Dayak Ngaju dalam Memanfaatkan Tumbuhan Sebagai Bahan Kajian Untuk Pengintegrasian Etnobotani Pada Kurikulum Sekolah Dasar di Wilayah Pedalaman Kalimantan. (Disertasi)

Siti Sunariyati

Abstrak


ABSTRAK

Siti Sunariyati, 2012. Pengetahuan Lokal Masyarakat Suku Dayak Ngaju dalam Memanfaatkan Tumbuhan Sebagai Bahan Kajian Untuk Pengintegrasian Etnobotani Pada Kurikulum Sekolah Dasar di Wilayah Pedalaman Kalimantan. Disertasi, Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. H. Yusuf Abdurrajak., (II) Dr. Agr. Moh. Amin, M.Si., (III) Luchman Hakim, SSi. M.AgrSc., Ph.D.

Kata kunci: pengetahuan lokal, etnobotani, suku Dayak Ngaju, sekolah dasar pedalaman.

Pengetahuan lokal adalah pengetahuan yang dikembangkan berdasarkan pengalaman yang telah diuji penggunaannya selama berabad-abad, telah diadaptasikan dengan budaya dan lingkungan setempat (lokal) serta bersifat dinamis. Saat ini masih banyak pengetahuan lokal yang belum digali. Pengetahuan lokal akan hilang bila tidak terpelihara, sehingga perlu dikaji dan dikomunikasikan. Untuk menggali pengetahuan lokal masyarakat tentang tumbuhan dapat dilakukan melalui studi etnobotani. Etnobotani adalah studi yang mempelajari interaksi antara manusia dengan tumbuhan. Menggali pengetahuan lokal masyarakat tentang tumbuhan yang ada di lingkungan sekitar merupakan suatu kegiatan pengumpulan kearifan lokal bersama masyarakat setempat.

Masyarakat suku Dayak Ngaju yang ada di wilayah Kapuas Tengah Kalimantan Tengah memanfaatkan tumbuhan hutan untuk berbagai keperluan hidup. Pemanfaatan tumbuhan selain untuk keperluan pangan, industri dan obat-obatan dapat juga dimanfaatkan sebagai indikator dalam bidang pertambangan. Berdasar pengalaman para penambang emas terdapat jenis tumbuhan yang digunakan dalam bidang pertambangan. Keyakinan masyarakat yang berkembang dalam sistem budaya merupakan pengetahuan lokal yang perlu dikaji secara ilmiah melalui etnobotani.

Tujuan penelitian ini secara rinci adalah (1) mempelajari pengetahuan etnobotani masyarakat suku Dayak Ngaju di wilayah penambangan emas Kapuas Tengah, (2) menginventarisasi dan mengidentifikasi beberapa jenis tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat sebagai indikator terdapatnya emas, (3) menganalisis kandungan Au pada spesimen tumbuhan di wilayah penambangan yang diduga sebagai penunjuk adanya emas, dan (4) mengembangkan kurikulum dan buku bermuatan etnobotani sekolah dasar untuk pembelajaran etnobotani.

Kegiatan penelitian ini terdiri dari tiga tahap: Tahap I adalah penelitian etnobotani dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Untuk menggali pengetahuan lokal digunakan metode observasi partisipatif dan wawancara mendalam (indepth interview). Tahap II adalah identifikasi jenis-jenis tumbuhan di wilayah penambangan emas yang diyakini penduduk setempat sebagai indikator keberadaan emas. Untuk pembuktian ilmiah dilakukan analisis laboratorium dan diverifikasi dengan pengetahuan masyarakat di wilayah penambangan emas. Tahap III merupakan tahap implementasi hasil penelitian, setelah dilakukan analisis kebutuhan (SD di wilayah pedalaman), selanjutnya akan digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan kurikulum dan buku bermuatan etnobotani.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 52% informan memanfaatkan informasi etnobotani sebagai indikator terdapatnya emas, 36% menggunakan ciri-ciri jenis tanah tertentu, yaitu jenis tanah dimana pada lapisan atas berupa tanah pasir yang berwarna putih atau kuning, dibawahnya terdapat kerikil/koral dan granit. Beberapa informan ada yang menyatakan tidak menggunakan kedua ciri tersebut (17,5%), yaitu melalui coba-coba dengan cara tes hasil secara tradisional.

Hasil inventarisasi dan identifikasi diperoleh 11 jenis tumbuhan yang diyakini oleh penambang emas sebagai tumbuhan indikator terdapatnya emas, yaitu, Tristaniopsis merguensis (Griff)., Tristania obovata R.Br., Syzygium zeylanicum (L) DC., Dillenia excelsa Gilg., Ganua motleyana (de Vriese) Pierre., Calophyllum hosei Ridl., Dipterocarpus octovus King., Agrostistachys sessilifolia (Kurz) Pax&Hoffm., Swintonia glauca Engl., Combretocarpus rotundatus Miq., dan Memecylon myrsinoides Blume. Berdasar hasil penghitungan melalui pendekatan kuantitatif nilai kepentingan spesies (Fidelity level ), nilai pemanfaatan/penggunaan spesies (Use Value), dan pemanfaatan relatif (Relative Use Value), menunjukkan nilai FL tertinggi adalah Katune (Agrostistachys sessilifolia (Kurz) Pax&Hoffm) dengan nilai kepentingan 48,48% ini berarti nilai kepentingan Katune lebih tinggi dibanding yang lain. Demikian juga nilai guna (Use Value), untuk Katune (Agrostistachys sessilifolia (Kurz) Pax&Hoffm) lebih tinggi dibanding Katiau 22,5%, Katumbu 20%, Rangas 20%, Kayu lalas 17,5%, Tumih 17,5%, Belawan/Pelawan 15%, Kayu emas 15%, Galam tikus 12.5%, Kapur naga 10%, Karuing bukit 5%.

Hasil analisis laboratorium pada 11 jenis tumbuhan yang ditemukan, dapat mengakumulasi Au di dalam jaringan akar,batang dan daunnya dengan kadar yang bervariasi. Kadar rata-rata tertinggi terdapat di batang sebesar 135,81 ppb, di daun 88,81 ppb dan terendah di akar dengan rata-rata 67,81 ppb. Hasil analisis korelasi menunjukkan adanya akumulasi Au pada tumbuhan berkorelasi positif dengan terdapatnya Au di dalam tanah. Hal ini menunjukkan bahwa kebenaran pengetahuan lokal dapat dibuktikan secara ilmiah.

Pengetahuan etnobotani masyarakat tentang pemanfaatan berbagai jenis tumbuhan merupakan kekayaan intelektual yang penting untuk didokumentasikan agar tidak punah, oleh sebab itu perlu diajarkan pada generasi penerus. Salah satu cara penyampaian pengetahuan lokal masyarakat dapat ditempuh melalui jalur pendidikan formal dengan cara mengintegrasikan materi etnobotani ke dalam kurikulum dan buku ajar. Mengingat pentingnya materi etnobotani untuk dibelajarkan pada siswa, maka disarankan untuk sekolah dasar yang ada di wilayah pedalaman yang karakteristik wilayahnya berada di lingkungan hutan dapat diberikan pembelajaran etnobotani sesuai dengan wilayah setempat.


 

ABSTRACT

Siti Sunariyati, 2012. Local Knowledge of the Dayak Ngaju Community in Using Plants as the Study for Curriculum Integration of Ethnobotany in Elementary Schools in Rural Areas of Kalimantan. Dissertation, Graduate Program in Biology Education, State University of Malang. Advisors (I) Prof. Dr. H. Jusuf Abdurrajak., (II) Dr. Agr. Moh. Amin, M.Si., (III) Luchman Hakim, SSi. M.Agr.Sc.Ph.D.

Key words: local knowledge, ethnobotany, Dayak Ngaju tribes, rural elementary schools.

Local knowledge is knowledge that is developed based on the experience that has tested its use for centuries, has been adapted to the culture and the local environment (local) as well as dynamic. While this is still a lot of local knowledge that has not been explored. Local knowledge will be lost if not preserved, so it needs to be assessed, documented and communicated. To explore the local knowledge about plant communities can be done through the study of ethnobotany. Ethnobotany is the study which studies the interaction between humans and plants. Local people gain knowledge about the plants that exist in the environment is a collection of local wisdom with local communities.

Dayak Ngaju tribal societies in the region of Kapuas, Central Kalimantan use of forest plants for various purposes of life. Use of herbs as well as for food, industry and medicine can also be used in the mining field. Based on the experience of the gold miners there are several types of plants used in the mining field. Society's belief that culture is developing in the system of local knowledge which needs to be studied scientifically through ethnobotany.

The purpose of this study in detail are (1) study the ethnobotany knowledge the Dayak Ngaju community in the gold mining region of Kapuas Tengah. (2) an inventory and identify several types of plants that used the community as an indicator of the presence of gold. (3) analyze the content of Au in plant specimens suspected as a pointer in the gold mining areas. (4) develop curricula and textbooks of ethnobotany for elementary school for teaching ethnobotany as an effort to improve the competence of students in rural areas.

The research activities consisted of three Phase: in phase I is an ethnobotany study by using qualitative and quantitative approaches. To explore local knowledge used method of participant observation and depth interviews (indepth interview). Phase II to identify the types of plants gold mining in the region are believed to locals as an indicator of the presence of gold, then to prove scientific evidence conducted laboratory analysis and verified with the knowledge society as being proven scientifically. Phase III is the implementation phase of research results, after an analysis of the needs of the community (elementary schools in rural areas), which would then be used as a basis to develop curricula and ethnobotany books.

The results showed that as many as 52% of informants utilizing information ethnobotany as an indicator of the presence of gold, 36% reported using the characteristics of a particular soil type, the type where the top layer of sand is white or yellow, underneath there is a gravel/coral and granite. Several informants stated there are two traits that do not use (17.5%), through trial and error with the test results as a traditional way.

The results of the inventory and identification there are 11 species of plants which are believed by the miners of gold as an indicator of the presence of the gold plant, which is Tristaniopsis merguensis (Griff)., Tristania obovata R.Br., Syzygium zeylanicum (L.) DC., Dillenia excelsa Gilg., Ganua motleyana (de Vriese) Pierre., Calophyllum hosei Ridl., Dipterocarpus octovus King., Agrostistachys sessilifolia (Kurz) Pax&Hoffm., Swintonia glauca Engl., Combretocarpus rotundatus Miq., And Memecylon myrsinoides Blume. Based on the results of calculations through a quantitative approach to species importance values ​​(Fidelity level), the value utilization/use of the species (Use Value), and relative utilization (Relative Use Value), showed the highest FL value is Katune (Agrostistachys sessilifolia (Kurz) Pax&Hoffm) with the interests of 48,48%, this means that of the value of the Katune interest level, higher than others. Likewise, the use value (UV), to Katune (Agrostistachys sessilifolia (Kurz) Pax&Hoffm) was higher than Katiau 22.5%, Katumbu 20%, Rangas 20%, Kayu Lalas 17.5%, Tumih 17.5%, Belawan / Pelawan 15%, Kayu emas 15%, Galam tikus 12.5% ​​, Kapur naga 10%, and Karuing bukit 5%.

The results of laboratory analysis on 11 species of plants are found, plants can accumulate Au in the roots tissue, stems and leaves with varying levels. Highest average levels found in the stem of 135.81 ppb, in the leaves 88.81 ppb and the lowest on the root with an average of 67.81 ppb. The results of correlation analysis also showed the accumulation of Au in plants correlated with the presence of Au in the soil. This suggests that local knowledge of truth can be proven scientifically.

Ethnobotanical knowledge of community about utilization of different types of plant is important to be documented intellectual property, so as not to become extinct, and therefore need to be taught the next generation. One way in which traditional knowledge society can be reached through formal education by integrating local knowledge into the curriculum and ethnobotany book. Given the importance of ethnobotany materials be taught to students, it is advisable to elementary schools in rural areas that are the characteristics of its territory located in forest environments, may be granted study ethnobotany in accordance with the local area.