DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Representasi Kesantunan Berbahasa Mahasiswa dalam Wacana Akademik: Kajian Etnografi Komunikasi di Kampus Universitas Negeri Makassar. (Disertasi)

Muhammad Saleh

Abstrak


Representasi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik merupakan realitas komunikasi bahasa yang terikat konteks sosiokultural. Pentingnya penelitian ini dilandasi oleh tiga landasan filosofis, yakni ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Penelitian ini berangkat dari masalah penelitian tentang kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik melalui tiga fokus utama, yakni: (1) wujud kesantunan berbahasa, (2) fungsi kesantunan berbahasa, dan (3) strategi kesantunan berbahasa. 

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan mengeksplanasi kesantunan berbahasa mahasiswa melalui: (1) wujud kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik; (2) fungsi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik; dan (3) strategi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan ancangan teori etnografi komunikasi, teori tindak tutur, dan teori kesantunan berbahasa. Data penelitian terdiri atas data tuturan dan catatan lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik perekaman, observasi, wawancara, dan transkripsi. Analisis data dilakukan melalui empat prosedur utama, yakni: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan/verifikasi.

Berdasarkan analisis data, ditemukan keragaman wujud, fungsi, dan strategi kesantunan berbahasa sebagai berikut. Wujud  kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik secara deskriptif direpresentasikan melalui dua wujud penggunaan bahasa. Pertama, penggunaan diksi, meliputi: (1) penamaan diri, (2) penggunaan kata ganti, (3) penggunaan gelar, (4) penggunaan respon mengiyakan, dan (5) penggunaan diksi informal. Kedua, penggunaan tuturan, meliputi: (a) tuturan dengan modus deklaratif; (b) tuturan dengan modus imperatif; dan (c) tuturan dengan modus interogatif.

Fungsi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik direpresentasikan secara deskriptif melalui empat tindak penggunaan bahasa. Pertama, fungsi kesantunan dalam tindak asertif, meliputi: (1) fungsi mengemukakan pendapat; (2) fungsi mempertahankan pendapat; (3) fungsi mengemukakan alasan; (4) fungsi menyatakan penolakan;       (5) fungsi menjawab pertanyaan, (6) fungsi memberi penjelasan, (7) fungsi menunjukkan, (8) fungsi memberikan klarifikasi, dan (9) fungsi me-nyampaikan laporan. Kedua, fungsi kesantunan dalam tindak direktif, meliputi: (1) fungsi permintaan, (2) fungsi permohonan, dan (3) fungsi pertanyaan. Ketiga, fungsi kesantunan dalam tindak komisif, meliputi: (1) fungsi menyatakan kesiapan, (2) fungsi menyatakan kesediaan, (3) fungsi menyatakan persetujuan, (4) fungsi menyatakan janji. Keempat, fungsi kesantunan dalam tindak ekspresif, meliputi: (1) fungsi permohonan maaf, (2) fungsi mengungkapkan terima kasih, (3) fungsi mengungkapkan kepuasan, (4) fungsi mengakui kesalahan, (5) fungsi mengungkapkan perhatian.

Strategi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik direpresentasikan secara deskriptif melalui tiga kategori strategi. Pertama, strategi kesantunan positif, direpresentasikan melalui: (1) strategi peng-hormatan; (2) strategi memberi penghargaan; (3) strategi memenuhi ke-inginan mitra tutur; (4) strategi meminta pertimbangan; (5) strategi ber-tanya; (6) strategi melipatgandakan simpati; (7) strategi memberi perhati-an; (8) strategi mencari persetujuan; dan (9) strategi merendahkan diri. Kedua, strategi kesantunan negatif, direpresentasikan melalui: (1) strategi menghindari perselisihan; (2) strategi bertanya balik; (3) strategi membiar-kan mitra tutur; (4) strategi bersikap pesimis; (5) strategi impersonalitas atau jarak; (6) strategi bersikap patuh; (7) strategi menghindari berasumsi; dan (8) strategi meminta maaf. Ketiga, strategi off-record, direpresentasikan melalui: (1) strategi bertutur samar-samar; (2) strategi memberi isyarat; (3) strategi bertanya retoris; dan (4) strategi menghindari pemaksaan.

Representasi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik secara aksiologis memiliki dua implikasi utama. Pertama, implikasi teoretis, meliputi: (1) implikasi terhadap teori etnografi komunikasi; (2) implikasi terhadap teori kesantunan berbahasa; (3) implikasi terhadap teori pragmatik; (4) implikasi terhadap teori tindak tutur; (5) implikasi terhadap teori sosiolinguistik; dan (6) implikasi terhadap teori wacana. Kedua, implikasi praktis, meliputi: (1) implikasi terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia; (2) implikasi terhadap pengembangan model pembelajaran; (3) implikasi terhadap pendidikan damai.

Berdasarkan hasil penelitian, dikemukakan kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik direpresentasikan melalui beragam wujud, fungsi, dan strategi kesantunan berbahasa. Kedua, wujud kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik direpresentasikan secara beragam melalui penggunaan diksi dan penggunaan tuturan. Ketiga, fungsi kesantunan berbahasa dalam wacana akademik direpresentasikan secara beragam melalui tindak tutur asertif, direktif, komisif, dan ekspresif. Keempat, strategi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik direpresentasikan secara beragam melalui strategi kesantunan positif, kesantunan negatif, dan kesantunan off-record. Keenam, representasi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik dieksplanasi secara eklektik melalui teori etnografi komunikasi, teori tindak tutur, teori kesantunan berbahasa, teori pragmatik, teori sosio-linguistik, dan teori kajian wacana. Ketujuh, hasil penelitian tentang kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik dengan beragam wujud, fungsi, serta strateginya membawa implikasi baik secara teoretis maupun secara praktis.        

Berdasarkan temuan penelitian, pembahasan, serta simpulan hasil penelitian, dikemukakan beberapa saran kepada pihak-pihak yang terkait. Saran-saran penelitian ini antara lain ditujukan secara akademik kepada: (1) peneliti lanjut sebagai pemerhati, dalam rangka pendalaman, perluasan, dan pengembangan penelitian kesantunan berbahasa; (2) dosen sebagai pembina kesantunan berbahasa mahasiswa; (3) mahasiswa sebagai subjek penelitian; (4) para pimpinan universitas sebagai penentu kebijakan (rektor, dekan, dan ketua jurusan/program studi; dan (5) orang tua/ lingkungan keluarga sebagai peletak dasar karakter anak didik.