DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2011

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengembangan Modul Pembelajaran Matematika Kelas XI Yang Bercirikan Kontekstual Pada Program Keahlian Jasa Boga di SMK Negeri 2 Malang. (Tesis)

Tri Candra Wulandari

Abstrak


Wulandari , Tri Candra. 2011. Pengembangan Modul Pembelajaran Matematika Kelas XI Yang Bercirikan Kontekstual Pada Program Keahlian Jasa Boga di SMK Negeri 2 Malang. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Cholis Sa'dijah, M.Pd, M.A (II) Drs. Tjang Daniel Chandra, M.Si, Ph.D

Kata Kunci : Pengembangan, Modul SMK, Program Linier

Kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif tidak semata-mata langsung muncul pada diri siswa, tetapi perlu proses yang harus senantiasa ditanamkan sejak dini, seperti cara berfikir kritis dan kreatif. Menurut Traherne (dalam NCTM, 2000:31), berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpendapat dengan cara yang terorganisasi. Berpikir kreatif adalah kegiatan mental yang memupuk ide-ide asli dan pemahaman-pemahaman baru. Berpikir kreatif dan kritis memungkinkan siswa untuk mempelajari masalah secara sistematis, menghadapi berjuta tantangan dengan cara yang terorganisasi, merumuskan pertanyaan inovatif, dan merancang solusi yang asli.

Menurut Hudojo (2001:23 ), ketrampilan memecahkan masalah harus dimiliki siswa. Dalam pelajaran matematika masalah yang dihadapi siswa berupa pertanyaan yang diberikan kepada siswa yang biasanya disebut soal. Menurut Polya (dalam Hudojo, 2001:31), ada dua macam masalah matematika, yaitu (1) masalah untuk menemukan, dapat teoritis atau praktis, abstrak atau konkret, termasuk teka-teki. (2) masalah untuk membuktikan, yaitu untuk menunjukkan bahwa suatu pertanyaan itu benar atau salah. Namun, untuk matematika elementer masalah untuk menemukan lebih ditekankan (Polya dalam Hudojo, 2001:34).

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara penulis dengan siswa di SMK Negeri 2 Malang, masalah-masalah matematika elementer banyak ditemukan pada siswa. Masalah tersebut terjadi disebabkan siswa merasa kesulitan dalam belajar matematika, antara lain (1) siswa tidak mandiri dalam belajar, (2) siswa hanya mencatat materi dan contoh soal yang terbatas, (3) siswa tidak tahu kemampuan diri sendiri. Salah satu kesulitan siswa adalah pada pokok bahasan Program Linier.

Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan bahan ajar. Menurut National Center for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency Based Training (dalam depdiknas, 2004) bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas baik berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Bahan ajar disusun dengan tujuan: (a) Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan siswa, yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial siswa, (b) Membantu siswa dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh, (c) Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran (Depdiknas, 2008).

Paket pembelajaran telah dinilai oleh ahli materi, ahli teknologi pembelajaran, ahli pemrograman dan guru matematika. Setelah dilakukan revisi, selanjutnya diujicobakan ke siswa SMKN 2 Malang. Berdasarkan hasil angket penilaian Ahli modul dengan persentase rata-rata 87,5%, hal ini berarti pada tahap format modul berada pada kualifikasi sangat baik, sehingga modul tidak perlu direvisi, (2) Isi modul dengan persentase rata-rata 92,86%, hal ini berarti pada tahap isi modul berada pada kualifikasi sangat baik, sehingga modul tidak perlu direvisi, (3) Bahasa dengan persentase rata-rata 91,67% hal ini berarti bahasa yang digunakan pada modul berada pada kualifikasi sangat baik, sehingga modul tidak perlu revisi, (4) tampilan, tata letak tabel, diagram dan gambar dengan persentase rata-rata 87,5%, hal ini berarti pada tahap format modul berada pada kualifikasi sangat baik, sehingga modul tidak perlu direvisi, (5) manfaat modul dengan persentase rata-rata 87,5%, hal ini berarti pada tahap format modul berada pada kualifikasi sangat baik, sehingga modul tidak perlu direvisi. Sedangkan dari hasil uji coba kepada siswa diperoleh Rerata persentase modul pembelajaran sebesar 82,05% menunjukkan bahwa modul pembelajaran berada dalam kualifikasi baik. Spesifikasi produk yang diharapkan telah tercapai yaitu : modul Program Linier bercirikan Kontekstual yang dicetak dalam format book fold dengan tujuan mudah dibawa dan digunakan dimanapun dan kapanpun.

 

ABSTRACT

Wulandari , Tri Candra. 2011. Module Development Learning Mathematics On Linear Programming With Contextual characterized in SMK Negeri 2 Malang. Thesis, Mathematics Education Studies Program, Postgraduate Program, State University of Malang. Advisor: (I) Dr. Cholis Sa'dijah, M. Pd, M.A (II) Drs. Tjang Daniel Chandra, M. Si, Ph.D

Keyword : Development, Module, Linear Programming

Ability to obtain, manage, and utilize the information to survive in the ever-changing circumstances, uncertain and competitive does not directly appear solely on students, but necessary process that must be constantly inculcated early on, such as how to think critically and creatively. According Traherne (in NCTM, 2000:31), Critical thinking is the ability to think in an organized manner. Creative thinking is a mental activity that fosters original ideas and new insights. Creative and critical thinking allows students to study the problem systematically, faces immense challenges in an organized manner, formulate questions, innovative and original design solutions.

According to Hudojo (2001:23), problem-solving skills students should possess. In math problems facing students in the form of questions given to students who are usually called matter. According to Polya (in Hudojo, 2001:31), there are two kinds of mathematical problems, namely (1) problem to find, can be theoretical or practical, abstract or concrete, including the puzzle. (2) issue to prove, namely to show that a question is true or false. However, for elementary math problems to find more emphasized (Polya in Hudojo, 2001:34).

Based on observations and interviews with student writers at SMK Negeri 2 a, elementary math problems commonly found in students. These problems occur because students feel difficulty in learning mathematics, among others (1) students are not independent in learning, (2) students only recorded material and example problems are limited, (3) the student does not know oneself. One of the difficulties students are on the subject of Linear Programming.

One way to overcome this problem is to use teaching materials. According to the National Center for Vocational Education Research Ltd / National Center for Competency Based Training (the Ministry of Education, 2004) teaching materials are all forms of materials used to assist the teacher or instructor in conducting classroom teaching and learning materials either written or unwritten material.

Materials prepared with the aim of: (a) Provide instructional materials to suit the demands of the curriculum taking into account the needs of students, the teaching materials according to the characteristics and the setting or the social environment of students, (b) Assist students in obtaining alternative teaching materials in addition to the book- textbooks are sometimes difficult to obtain, (c) Facilitating the learning of teachers in implementing the (MONE, 2008).

Learning package has been assessed by a matter experts, instructional technology specialist, expert programming and math teachers. After the revision, then tested the students SMKN 2 Malang. Based on the results of expert assessment questionnaire module with an average percentage of 87.5%, this means that at this stage of the module format is very good in qualifying, so the module does not need to be revised, (2) Fill in modules with an average percentage of 92.86%, this means that at this stage of the content of the module is in very good qualifications, so that the module does not need to be revised, (3) language with an average percentage of 91.67% this means that the language used on the module is in very good qualifications, so that the module does not need revision, (4) appearance, layout tables, diagrams and images with an average percentage of 87.5%, this means that at this stage of the module format is very good in qualifying, so the module does not need to be revised, (5) benefits by the percentage of modules average of 87.5%, this means that at this stage of the module format is in very good qualifications, so that the module does not need to be revised. While the trial results to be obtained The mean percentage of students learning modules for 82.05% indicates that the learning modules are in a good qualifying. The expected product specifications have been met, namely: Linear Programming module characterized by Contextual printed in book fold format with the goal of portability and use anywhere and anytime.