DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2011

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penerapan Pembelajaran Melalui Pengalaman pada Perkuliahan Konseling Multibudaya. (Disertasi)

Muslihati Muslihati

Abstrak


Muslihati. 2011. Penerapan Pembelajaran Melalui Pengalaman pada Perkuliahan Konseling Multibudaya. Disertasi, program Studi Bimbingan dan Konseling, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Johana E. Prawitasari, Ph.D, (II) Prof. Dr. Marthen Pali, M.Psi., dan (III) Dr. Dany M. Handarini, M.A.

Kata kunci: Pembelajaran melalui pengalaman, kualitas perkuliahan, kesadaran multibudaya

Penelitian ini bertujuan menerapkan pembelajaran melalui pengalamanuntuk meningkatkan kualitas perkuliahan konseling multibudaya yang berorientasi pada pengembangan kesadaran multibudaya calon konselor. Penelitian dilaksanakan sebagai upaya peningkatan kualitas proses pembelajaran konseling multibudaya melalui pemberian pengalaman belajar bermakna yang mengembangkan kesadaran multibudaya calon konselor. Proses penelitian ini bersifat self-study pengajar dalam melaksanakan, merefleksi dan membenahi langkah-langkah pembelajaran.

Dengan menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas, penelitianini dilaksanakan pada perkuliahan konseling multibudaya. Perkuliahan diikuti oleh 38 orang mahasiswa kelas B Prodi BK angkatan 2008/2009 jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi. Mereka terdiri dari 11 orang mahasiswa laki-laki dan 27 orang mahasiswa perempuan. Setiap pertemuan berdurasi 100 menit. Penelitian terlaksana dalam empat siklus pembelajaran dengan mengintegrasikan tujuh kontinum kesadaran multibudaya Locke (Locke dalam Brown dan Srebalus, 1986) menjadi beberapa tema perkuliahan. Ketujuh kontinum tersebut yaitu, kesadaran diri, kesadaran budaya diri, kesadaran pada rasisme, seksisme dan masalah kemiskinan, kesadaran pada perbedaan individual, kesadaran pada budaya yang berbeda, kesadaran pada keragaman dan ketrampilan intervensi konseling.

Pada siklus pertama, tindakan pembelajaran melalui pengalaman diterapkan untuk membantu mahasiswa memahami konsep-konsep konseling multibudaya. Pada siklus keduaaktivitas perkuliahan ditujukan untuk mengasah kesadaran diri dan kesadaran budaya diri dan kesadaran pada rasisme, seksisme dan masalah kemiskinan. Pada siklus ketiga aktivitas pembelajaran ditujukan untuk mengembangkan kesadaran pada perbedaan individual, kesadaran pada budaya yang berbeda, kesadaran pada keragaman. Pada siklus keempat dilakukan pengembangan dan pelatihan ketrampilan intervensi multibudaya dalam konseling.

Secara umum penerapan pembelajaran melalui pengalaman terlaksana dengan baik dalam empat siklus. Pada siklus pertama penerapan pembelajaran melalui pengalaman belum terlaksana dengan baik pada seluruh tahapan. Pada siklus ini hanya dapat diterapkan tahapan pengalaman konkrit untuk menelusuri konsep-konsep kunci Konseling Multibudaya. Pada siklus kedua, melalui aktivitas pembelajaran berupa telaah makna budaya pada nama, telaah budaya daerah asal, membaca karya sastra dan pemutaran film semua tahapan pembelajaran melalui pengalaman yaitu pengalaman konkrit, refleksi pengalaman, penyimpulan pemahaman dan penerapan hasil belajar dapat dilaksanakan namun belum maksimal karena mahasiswa masih pasif dan belum mampu memenuhi tugas sesuai rancangan pembelajaran. Pada siklus ketiga, melalui metode yang lebih menarik dan interaktif dalam aktivitasmenelaah pengalaman sebagai korban dan pelaku prasangka dan strereotip, dialog dengan figur dan telaah keragaman budaya Indonesia, semua tahapan pembelajaran melalui pengalaman yaitu pengalaman konkrit, refleksi pengalaman, penyimpulan pemahaman, dan penerapan hasil belajar dapat dilaksanakan namun tahap penerapan hasil belajar hanya dalam bentuk komitmen dan belum maksimal mencapai bentuk tindakan. Pada siklus keempat melalui aktivitas latihan pengembangan instrumen dan praktik Konseling Multibudaya seluruh tahapan pembelajaran melalui pengalaman yaitu pengalaman konkrit, refleksi pengalaman, penyimpulan pemahaman, dan penerapan hasil belajar dapat dilaksanakan dengan baik.

Penerapan pembelajaran melalui pengalaman dapat meningkatkan kualitas perkuliahan konseling multibudaya yang berorientasi mengembangkan kesadaran multibudaya calon konselor. Aktivitas pembelajaran melalui pengalaman juga dapat mengembangkan pengetahuan multibudaya, sikap positif dan mengembangkan kesadaran diri, kesadaran budaya diri dan budaya, kepekaan pada perbedaan dan keragaman budaya, serta perbedaan individual. Yang lebih penting, penerapan pembelajaran melalui pengalaman memberikan pengalaman belajar bagi peneliti dalam menerapkan aktivitas pembelajaran eksperiensial, melakukan refleksi kinerja diri dalam dalam memfasilitasi pembelajaran dan melakukan tindakan baru yang bertujuan membenahi kekurangan dalam pembelajaran sebelumnya. Peneliti ini menginspirasi peneliti untuk menjadikan proses perkuliahan sebagai kancah penelitian yang potensial.

Berdasarkan hasil penelitian disampaikan saran kepada pengelola pembelajaran (dosen) konseling multibudaya dan matakuliah jurusan BK pada umumnya agar dapat menciptakan proses pembelajaran yang menarik, berpusat pada mahasiswa, dan kondusif bagi pengembangan kompetensi konselor. Untuk itu, model pembelajaran melalui pengalaman dapat menjadi salah satu pilihan yang dapat diterapkan. Mengingat arti penting kompetensi multibudaya maka LPTK yang belum memiliki matakuliah Konseling Multibudaya diharap untuk menyediakan matakuliah yang berorientasi pada pengembangan kompetensi multibudaya atau mengintegrasikannya dalam matakuliah yang relevan. Hal ini menjadi begitu penting karena kompetensi multibudaya diperlukan untuk mengurangi potensi prejudis dan stereotip yang ditengarai ada pada siapapun termasuk calon konselor dan calon guru. Bagi organisasi Profesi Konselor Pendidikan (ABKIN) diharap menyediakan pengembangan kompetensi multibudaya bagi konselor karena kemungkinan adanya potensi sikap prasangka dan berstereotip pada budaya tertentu. Peneliti selanjutnya dapat mengkaji pembelajaran melalui pengalaman dan Konseling Multibudaya melalui rancangan penelitian yang berbeda.

 

ABSTRACT

Muslihati. 2012. Implementation of Experiential Learningin Multicultural Counseling Course. Dissertation, Guidance and Counselling Studies, Graduate Program, State University of Malang. Supervisor: (I) Prof. Johana E. Prawitasari, Ph.D., (II) Prof. Dr. Marthen Pali, M. Psi., And (III) Dr. Dany M. Handarini, M.A.

Key words: Experiential learning, the quality of learning, multicultural awareness
This aims of study is to improve the quality of multicultural counseling courses oriented to the development of multicultural awareness counselor candidatesby implementingexperiential learning. The action was conducted as an effort to improve the quality of the learning process through the provision of multicultural counseling meaningful learning experiences that develop student's multicultural awareness. This research process is a self-study teacher in carrying out, reflect and reorganize the steps of learning.

The purpose of the research is to foster multicultural awareness of the student of counseling departement through implementationof the experiential learning model (Kolb, 1984). Experiential activities is arranged and conducted based on four step of experiential learning that are; concrete experience, reflective observation, abstract conceptualization, active experimentation.

Classroom action research is utilized as the research design. This research is conducted in the class of multicultural counseling course.38 students of counseling department (11 male and 27 female) were involved the course that has 2/4 sks/js. The schedule was twice a week with 100 minutes for each meeting. The research were held in four cycles. Each cycle consist of four untill eight meetings depend on the topic of lecture. The lecture has main syllabus of multicultural counseling course, and multicultural awareness continuum by Locke was being integrated as themes of several experiential learning activities.

In the first cycle,experiential learning activity is applied to facilitate students understand the concepts of multicultural counseling. In the second cycle of lectures is intended to facilitate students' fostering their self-awareness and awareness of their own culture and awareness of racism, sexism and poverty. In the third cycle of the learning activities aimed to develop awareness of individual differences, awareness of different cultures, awareness of diversity. The fourth cycle conducted to develop the counseling skills multicultural counseling.

In general, the implementation of experiential learning performing well in four cycles. In the first cycle of the application of learning through experience has not been performing well in all phases. In this cycle activity that can only be applied to trace the stages of concrete experience of the key concepts Multicultural Counseling. In the second cycle, through a study of the learning activities of cultural significance in the name, place of origin of cultural studies, reading literature and film, all the steps of experiential learning (concrete experience, reflective observation, abstract conceptualization dan active experimentation) can be implemented but it is not maximized because students are passive and have not been able to meet the appropriate design of the learning task. In the third cycle, through a method that is more interesting and interactive experience in reviewing activities as victims and perpetrators of prejudice and stereotype, dialogue with the figure and the study of cultural diversity of Indonesia, all the step of experiential learning (concrete experience, reflective observation, abstract conceptualization dan active experimentation can be implemented but the implementation stage of learning outcomes only in the form of commitments and have not been up to achieve the kind of action. In the fourth cycle through training activities and development of Multicultural Counseling instruments and practicing multicultural counseling, all phases of experiential learning (concrete experience, reflective observation, abstract conceptualization dan active experimentation) can be implemented properly.
The implementation of experiential learning can improve the quality of multicultural counseling courses. Learning activities can also develop multicultural knowledge, positive attitude and develop self-awareness, awareness of own cultur, sensitivity to difference and diversity, as well as individual differences. More important, the application of experiential learning provide a learning experience for researchers in applying experiential learning activity, reflect performance in facilitating learning and doing new measures that aim to fix the flaws in previous learning. Researchers are inspired researchers to make the lecture as an arena of potential research.

Based on the research results presented suggestions to lecturer of multicultural counseling and other guidance and couseling course in general in order to create an interesting learning process, student-centered, and conducive learningto facilitate student learning. To that end, the model of learning through experience can be one option that can be applied. All guidance and counseling department is expected to provide multicultural counseling course. Multicultural competencies needed to reduce the potential for prejudice and stereotypes that exist in anyone suspected including counselors and teachers. For the Indonesia Association of Guidance and Counselling (ABKIN) is expected to provide the program to development multicultural competencies of counselors because of the possibility of potential bias and berstereotip stance on a particular culture. For futher reseachers, they can study about experiential learning and Multicultural Counseling by different study design.