DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2011

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

English as a Medium of Instruction Used by Mathematics and Science Teachers at Pre-International Standard Senior High School. (Thesis)

Reli Handayani

Abstrak


Handayani, Reli. 2011. English as a Medium of Instruction Used by Mathematics and Science Teachers at Pre-International Standard Senior High School. Graduate Program in English Language Teaching, State University of Malang. Advisors: (1) Prof. Dr. Nur Mukminatien, M.Pd and (2) Dr. Johannes Ananto Prayogo , M.A., M.Pd

Key words: English as a medium of instruction, Mathematics and Science teaching, SMAN 3 Malang.

In the implementation of International Standard School Program, many criticisms and problems occur related to the use of English as a medium of instruction (EMI). This study is then focused on describing the use of English as a medium of instruction at Pre-International Standard Senior High School 3 Malang. It includes the proportion of English used, pedagogical purposes of English used, and bilingualism features. The study is a descriptive case study with a qualitative research design. The subjects of the study are Mathematics and Science teachers of SMAN 3 Malang. Observation is the technique of data collection applied in this study. The data of this study are in the form of English words, phrases, and sentences produced by Mathematics and Science (Biology, Physics, and Chemistry) teachers.

The first finding of the study shows that the proportion of English used as a medium of instruction in SMAN 3 has not fulfilled the main characteristics of Pre-International Standard Senior High. It happens since SMAN 3 in its fifth year of the program implementation has not applied 100 % English as a medium of instruction. The average percentage of English used by the Mathematics, Biology, Chemistry, and Physics teacher is 54.7 %, 43.53 %, 33.42 %, and 26.33 %. There are some factors that determine the proportion of English used by each teacher. They are level of topic difficulty, students' background of English, class size, teacher's confidence, and length of teaching experience. The second finding of this study is that Mathematics, Biology and Chemistry teacher employ English for all pedagogical purposes. They are: organization, interrogation, explanation, and interaction that can be further categorized into giving instruction, sequencing, supervision, asking question, replying to question, metalanguage, reference, affective attitudes, and social ritual. Meanwhile, Physics teacher uses English for all pedagogical purposes, except, supervision and affective attitudes. The third finding related to bilingualism features is that interference, borrowing, mixing, and code switching are found in Mathematics and Science teachers' language.

From this research, some suggestions can be given to Mathematics and Science teachers in Pre-International Standard School in Indonesia, school management and policy makers of Pre-International Standard School Program, and the future researchers in the same field of study. First, Mathematics and Science teachers in Pre-International Standard School should aware of the effective teachers' classroom instruction and improve their delivery skill in the classroom by joining practical and intensive English training in local, regional and international level. Second, policy makers of Pre-International Standard maker should create policies and incentives to attract and encourage the teachers in developing the skills required. Third, for school management of Pre-International Standard School, it is suggested to hold periodically bilingual teaching experience sharing session and support the policy makers in terms of developing teachers' performance. Fourth, the future researchers may enlarge the investigation to broader areas with survey design or relate the effectiveness of teachers' instruction and interactional norms in bilingual classroom with the level of students' achievement with correlation design. In short, the suggested future research is significant to find out whether RSBI program which involves two kinds of instructions is effective to improve the quality of Indonesian' school graduates or not.

 

ABSTRAK

Handayani, Reli. 2011. Penggunaan Bahasa Inggris sebagai Bahasa Pengantar oleh Guru Matematika dan IPA di Rintisan Sekolah Berstandar Internasional. Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Nur Mukminatien, M.Pd and (2) Dr. Johannes Ananto Prayogo, M.A., M.Pd

Kata kunci: Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, Guru Matematika dan IPA, SMAN 3 Malang.

Program Rintisan Sekolah Berstandar Internasional dalam penerapannya menuai kritik dan menghadapi masalah yang terkait dengan penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Adapun, penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di SMAN 3 Malang yang meliputi beberapa aspek yakni porsi Bahasa Inggris yang digunakan, tujuan pedagogis penggunaan Bahasa Inggris, dan bentuk bentuk bahasa bilingual yang muncul. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini melibatkan guru Matematikan dan IPA sebagai subyek. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi. Data penelitian ini dalam bentuk kata, frase, dan kalimat Bahasa Inggris yang diucapkan oleh guru Matematika dan IPA (Biologi, Fisika, dan Kimia).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di SMAN 3 masih belum memenuhi kriteria RSBI sebab penggunaan Bahasa Inggris di SMAN 3 belum mencapai 100 %, sementara untuk durasi 5 tahun penerapan program ini seharusnya penggunaaan Bahasa Inggris sudah mencapai 100 %. Penggunaan Bahasa Inggris rata-rata oleh guru Matematika, Biologi, Kimia dan Fisika bervariasi yakni 54,7 %, 43,53 %, 33,42 %, and 26,33 %. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya penggunaan oleh Bahasa Inggris oleh tiap guru antara lain tingkat kesulitan topik, latar belakang kemampuan Bahasa Inggris siswa, jumlah siswa, tingkat percaya diri guru, dan lamanya pengalaman mengajar. Hasil kedua dari penelitian ini adalah hal yang berkaitan dengan tujuan pedagogis penggunaan Bahasa Inggris menunjukkan bahwa Bahasa Inggris digunakan untuk semua tujuan pedagogis yang meliputi antara lain organisasi, interogasi, penjelasan, dan interaksi yang dapat di kategorikan lagi menjadi memberi instruksi, sequencing, supervisi, bertanya, menjawab pertanyaan, metalanguage, reference, sikap afektif, dan ritual sosial. Semeentara itu, guru Fisika menggunakan Bahasa Inggris untuk semua tujuan pedagogis kecuali, untuk supervisi dan sikap afektif. Hasil ketiga dari penelitian ini adalah hal yang berkaitan dengan bentuk bilingual yang menunjukan bahwa interferensi, pinjaman, campur kode, dan alih kode ditemukan pada tuturan guru Matematika dan IPA.

Berdasarkan hasil temuan, beberapa saran diusulkan untuk berbagai pihak yakni guru Matematika dan IPA di RSBI, manajemen sekolah, pembuat kebijakan RSBI, dan peneliti di masa mendatang. Pertama, guru Matematika dan IPA diharapkan mempunyai kesadaran untuk menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar secara efektif dan berusaha untuk meningkatkan kemampuan mengajar dengan mengikuti berbagai pelatihan di tingkat lokal, nasional, and internasional. Kedua, bagi pembuat kebijakan RSBI diharapkan mampu membuat kebijakan yang memacu guru untuk meningkatkan kemampuannya dan memberikan insentif. Ketiga, manajemen sekolah RSBI diharapkan memberi dukungan pada semua kebijakan pemerintah yang sifatnya dapat meningkatkan kemampuan guru dan mengadakan sesi berbagi pengalaman mengajar di antara para guru. Keempat, untuk peneliti di masa mendatang diharapkan dapat melakukan penelitian serupa tapi dengan melibatkan jangkauan yang lebih luas dengan desain survey. Penelitian korelasi juga dapat diterapkan untuk mengetahui hubungan antara efektifitas instruksi guru dan interaksi di kelas bilingual dengan tingkat prestasi siswa. Dengan kata lain, penelitian mendatang penting untuk membuktikan apakah program RSBI yang melibatkan dwibahasa benar-benar efektif untuk meningkatkan kualitas siswa lulusan sekolah di Indonesia atau tidak.