DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Nyanyian Rakyat Bugis (Kajian Bentuk, Fungsi, Nilai, dan Strategi Pelestariannya). (Disertasi)

Amaluddin Amaluddin

Abstrak


            Nyanyian Rakyat Bugis (NRB) merupakan produk budaya etnik Bugis. Nyanyian rakyat tersebut, diwariskan secara lisan (verbal) dari generasi ke generasi Bugis. Sebagai produk budaya, NRB digunakan sebagai media ekspresi seni untuk menyampaikan berbagai hal tentang kehidupan manusia Bugis, di samping sebagai media hiburan rakyat.

            Penelitian ini berusaha memerikan hal-hal yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini memerikan empat aspek, yakni (1) bentuk, (2) fungsi, (3) nilai, dan (4) strategi pelestarian. Pada aspek bentuk, meliputi:  (a) pemaknaan terhadap kategori diksi yang digunakan dalam NRB yang berhubungan dengan  ruang persepsi  kehidupan masyarakat Bugis yang sangat substansial dan fundamental, (b) pemaknaan terhadap bentuk  kalimat yang digunakan NRB dalam kaitannya dengan  eksistensi siri' dan  pêsse sebagai inti budaya Bugis, (c) dan pemaknaan   gaya bahasa dalam NRB yang mendeskripsikan tentang sifat-sifat manusia Bugis. Kemudian aspek fungsi, meliputi: (a) fungsinya sebagai sarana kritik sosial dalam masyarakat Bugis, (b) fungsinya sebagai pengawas norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Bugis,  dan (c) fungsinya sebagai alat pendidikan  bagi generasi muda manusia Bugis. Aspek nilai, meliputi: (a) nilai  filosofis, (b) nilai religius,  dan (c) nilai sosiologis. Aspek strategi pelestarian  NRB, meliputi:  (a) strategi langsung yang dilaku­kan oleh pemerintah dan (b) strategi tidak langsung yang dilakukan oleh masyarakat.

            Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif yang menggunakan ancangan hermeneutika. Data penelitian berupa teks lisan NRB  Makkacaping dan Elong asli dalam bahasa Bugis, serta data primer lainnya yang terkait dengan NRB. Pengumpulan data dilakukan melalui perekaman, observasi, wawancara, dan studi/kaji dokumen NRB. Dalam pengumpulan data, peneliti bertindak sebagai instrumen kunci dilengkapi dengan format catatan lapangan, pedoman/panduan wawancara, instrumen penjaring data,  dan dilengkapi dengan alat perekam elektronik (handycam, tape recorder, dan kamera digital). Analisis data sudah dilakukan sejak awal pengumpulan data, oleh sebab itu ketika pengumpulan data, peneliti melakukan identifikasi data, klasifikasi data terpilih, penyajian data, interpretasi, dan penarikan simpulan atau verifikasi data. Semua proses itu didasari  oleh pandangan etik dan emik dalam studi budaya. Analisis data penelitian dilakukan secara hermeneutis dengan model interaktif-dialektis. Maksudnya, pengumpulan data dan analisis data dilakukan secara serentak, bolak-balik, dan berkali-kali atau sesuai dengan prinsip lingkaran hermenutika (hermeuti circle) dengan mengikuti model hermeneutika Recouer, yakni pemahaman secara cermat melalui level semantik, level refleksif, dan level eksistensial.  Untuk memverifikasi semua temuan penelitian, dilakukan trianggulasi temuan kepada pakar bahasa Bugis, ahli lontara' Bugis, dan Budayawan Bugis. 

            Berdasarkan analisis data ditemukan beberapa hal berikut. Dari aspek pemaknaan bentuk diksi untuk mengekspresikan beragam muatan budaya yang sarat dengan makna kehidupan manusia,  ditemukan penggunaan diksi kategori (1) being,  meliputi: (a)  assimêllêrêng dan  siakkamasêang, (b) atongêngêng), (c) asipaka­tau­ngêng,  (d) apaccingêng, (e) alêbbirêng, (f) adele' (g) assicocokêng/ asalêwangêng, (h) alempurêng, (i) acenningêngati, dan  (j) apatorêng. (2) terresterial, meliputi:  kosakata  (a) galung,(b)  sepe',(c)  salo', (d) dare', dan  (e) ale', (3 living, meliputi kosa kata: (a) batakkaju, (b) taneng-taneng, dan  (c) bua', (4)  annimate,  meliputi kosa kata: (a) dongi',(b)  manu', (c) meong, dan sebagainya. Kemudian jenis kalimat yang digunakan dalam tradisi lisan NRB untuk mendeskripsikan patêttong  penegakan budaya siri' dan pêsse dalam masyarakat Bugis, yakni (1) kalimat deklaratif, (2) kalimat imperatif, dan (3)  kalimat interogatif. Gaya bahasa dalam NRB, meliputi  (1)  hiperbola, (2) simile, (3) personifikasi, (4) metafora, dan (5) repetisi.

            Dari aspek fungsi, NRB mengandung  fungsi sebagai (1) sarana kritik atau protes sosial yang bertujuan untuk: (a)  memberikan kritikan terhadap ketimpangan, penyelewengan, dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyat yang dipimpinnya, (b) memberikan kritikan atau sindiran terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat Bugis, dan (c) memberikan masukan atau nasihat kepada pemimpin dalam menjalankan amanah yang diberikan oleh rakyat, (2)  pengawas norma-norma yang berlaku dalam masyarakat (sebagai fungsi  adat), yang bertujuan untuk: (a) menegakkan norma adat adê untuk memberikan hukuman kepada  orang yang melakukan kesalahan dalam masyarakat Bugis, (b) menegakkan norma adat  adê  dalam   memutuskan suatu perkara (ketetapan hukum), dan (c)  larangan melakukan  pelanggaran norma adat adê  dalam masyarakat Bugis, (3)  

sebagai  sarana pendidikan bagi generasi muda Bugis yang bertujuan untuk (a) memberikan nasihat kepada seorang anak dalam keluarga (paseng  ri wjiae), (b) mendorong agar setiap orang senantiasa  berbuat baik dalam hidupnya (ampe-ampe deceng), (c) memberikan nasihat agar setiap orang berusaha memperbanyak bekal  (bokong temmawari) akhirat berupa amal yang baik, (d) menjaga dan memelihara  perkataan yang baik dan benar (ada tongêng), (e) menumbuhkan sifat  sabar   dalam menjalani kehidupan dunia (sabbara'), (f) menumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai antar sesama manusia  (sipakatau), (g) menumbuhkan sifat  pemurah/kedermawanan (malabo'), (h) menumbuhkan semangat  etos kerja keras (rêso), dan (i) menanamkan kesadaran tenang pentingnya memiliki kepandaian/pengetahuan (amaccangêng). 

            Dari aspek nilai, NRB mengandung nilai yang sangat hakiki dalam kehidupan manusia Bugis, yaitu: (1) nilai filosofis, adalah nilai yang merepresentasi­kan pandangan hidup atau kebijaksanaan hidup manusia Bugis  untuk mengendali­kan dan mengarahkan manusia dalam bersikap, berperilaku atau perbuatan ke arah yang lebih baik, meliputi : (a) sikap teguh dalam pendirian atau memegang teguh  prinsip hidup, (b) sikap menentukan  pegangan hidup yang kokoh (sikap kepastian), dan (c) sikap kebijaksanaan, (2) nilai religius, adalah   nilai-nilai kudus (suci) yang berhubungan dimensi ke-Tuhan-an dalam aktivitas kehidupan manusia sebagai hamba Allah di muka bumi, meliputi: (a) meyakini bahwa Allah SWT Maha Kuasa dan Pelindung bagi hambanya, (b) menerima takdir (toto')  Allah SWT dengan sikap pasrah, (c) perintah memperbanyak bekal (bongkong temmawari)  akhirat,  berupa amal yang baik, (d) perintah memantapkan/ memperkokoh iman (teppe') dalam hati, dan (e) perintah menegakkan (patêttong') ibadah salat lima waktu, dan (f) perintah menjauhkan diri dari perbuatan dosa (ampesala atau adosang),  (3) nilai sosiologis, adalah nilai-nilai yang merepresentasikan  hubungan atau interaksi  manusia dengan manusia dalam masyarakat  Bugis yang direfleksikan  dalam  bentuk perilaku, sifat, kebiasaan untuk membangun hubungan timbal balik yang lebih harmonis, meliputi (a) pentingnya tolong-menolong (assiturusêng), (b) pentingnya bermusyawarah (tudassipulung) untuk menyatukan pendapat, (c) pentingnya persaudaraan (assiajingêng) dalam suka dan duka, dan (d) berdedikasi tinggi (mawatang) untuk membangun masyarakat, bangsa dan negara, dan (e) menjaga dan memelihara kerukunan hidup (asalêwangêng).

            Dari aspek pelestarian budaya NRB, ada dua strategi yang dilakukan pada masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Pertama, strategi langsung yang dilakukan oleh pemerintah untuk memelihara keberadaan tradisi lisan NRB, meliputi (a) inventarisasi dan dokumentasi, (b) dijadikan sebagai muatan lokal di beberapa sekolah, dan (c) sebagai hiburan pada acara resmi pemerintah daerah,  melalui Pembinaan tradisi lisan NRB,  perlombaan yang dilakukan setiap hari besar nasional dan hari jadi kabupaten/kota,  (3)  melalui pengembangan, yaitu diteliti dan dikembangkan oleh ilmuwan dan budayawan Bugis,  dan kedua  strategi tidak langsung yang dilakukan oleh masyarakat dalam upaya pelestarian tradisi lisan NRB, meliputi (a) pelatihan Makkacaping dan Elong, (b) pembentukan grup Kecapi NRB, (c) penyiaran dan promosi melalui media, (d) membudayakan NRB sebagai hiburan di lingkungan rumah tangga, (e) keterlibatan industri rekaman,  dan (f) menggunakan NRB sebagai hiburan masyarakat pada acara keluarga. Berdasarkan data wawancara, ditemukan pula strategi pelestarian yang seharusnya dilakukan, yaitu (a) pembinaan kepada para pelaku NRB, (b) memfasilitasi pembentukan grup NRB/simfoni kecapi, (c) Pemberian dana pembinaan, (d) seharusnya ada seksi khusus yang membidangi kebudayaan daerah,  (e) perlombaan penulisan teks NRB, dan (f) dilaksanakan seminar dan diskusi tentang pengembangan NRB.