DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Wacana Tujaqi pada Prosesi Adat Perkawinan Masyarakat Suwawa di Provinsi Gorontalo. (Disertasi)

Fatmah AR Umar

Abstrak


Umar, Fatmah AR. 2010. Wacana Tujaqi pada Prosesi Adat Perkawinan Masyarakat Suwawa di Provinsi Gorontalo. Disertasi.Program Studi Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Ahmad Rofi'uddin, M.Pd, (II) Prof. Dr. H. Dawud, M.Pd, dan (III) Dr. Maryaeni, M. Pd.

 

Kata Kunci: wacana tujaqi, prosesi adat perkawinan, masyarakat Suwawa.

Penuturan wacana tujaqi pada prosesi adat perkawinan masyarakat Suwawa provinsi Gorontalo sekarang ini sudah meluas dan merakyat. Akan tetapi apa, bagaimana, dan untuk apa belum dipahami secara mendalam oleh sebahagian pemiliknya. Wacana tujaqi merupakan salah satu wacana budaya masyarakat Suwawa provinsi Gorontalo yang merepresentasikan ideologi budaya, baik melalui untaian kata-katanya, tata cara penuturannya, personil aktornya, tugas dan posisi aktornya, tindakan aktornya, serta simbol adat yang menyertainya, baik pada tahap motolobalango,tahap momanato, maupun tahap moponikah.

Penelitian ini bertujuan menjelaskan hakikat wacana tujaqi pada prosesi adat perkawinan masyarakat Suwawa, yang meliputi (1) skema, (2) aktor, (3) latar, dan (4) tema. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Data penelitian adalah kata-kata tujaqi dan tindakan para aktor serta simbol adat yang menyertainya. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan perekaman, pengamatan berperan serta, studi dokumen, dan wawancara. Instrumen utama adalah peneliti sendiri dan pedoman pengumpulan data. Untuk menjaga kesahihan data dilakukan triangulasi terhadap sumber data dan metode pengumpulan data. Analisis data menggunakan teknik analisis wacana kritis dengan menggunakan model interaktif yang di dalamnya terdapat kegiatan reduksi, penjajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi.

Hasil penelitian menunjukkan, pertama skema penuturan wacana tujaqi pada prosesi adat perkawinan masyarakat Suwawa menggunakan alur maju bertahap dari awal, tengah, dan akhir, baik pada tahap motolobalango, momanato, maupun moponikah. Skema tahap motolobalango bagian awal adalah (i) menyapa audiens, (ii) menghormati pemimpin, (iii) memaklumkan, (iv) memohon maaf, (v) memohon izin, (vi) mengagungkan asma Allah SWT, (vii) menunjung tinggi nabi Muhammad SAW, (viii) mengecek kehadiran audeisn, (ix) memperjelas identitas utoliya wolato, dan (x.) menyerahkan dan menerima simbol adat. Skema tahap motolobalango bagian tengah adalah (i) mencari informasi tentang calon mempelai perempuan , (ii) melamar calon mempelai perempuan, (iii) menyerahkan dan menerima simbol adat pelamaran. Skema tahap motolobalango bagian akhir adalah (i) memperjelas pembicaraan awal, (ii) berjabatan tangan. Skema tahap momanato bagian awal adalah (i) mempersiapkan hantaran harta, (ii) membawa hantaran harta, (iii) membawa masuk hantaran harta ke rumah mempelai perempuan, (iv) menghidangkan hantaran harta, dan (v) membuka dan memperlihatkan hantaran harta kepada audiens. Skema tahap momanato bagian tengah adalah (i) memohon menyerahkan hantaran harta, dan (ii) menyerahkan dan menerima hantaran harta. Skema tahap momanato bagian akhir adalah (i) berjabatan tangan, dan (ii) menyerahkan mahar dan tapagola kepada mempelai perempuan di kamar wadaka (adat). Skema tahap moponikah bagian awal adalah (i) memaklumkan dan memohon izin, (ii) menuntun mempelai laki-laki turun dari kenderaan adat , (iii) menuntun mempelai melangkah ke gapura rumah mempelai perempuan, (iv) menuntun mempelai laki-laki memasuki halaman rumah mempelai perempuan, (v) menuntun mempelai laki-laki menaiki tangga adat rumah mempelai peremuan , (vi) menuntun mempelai laki-laki memasuki rumah mempelai perempuan, dan (vi) menuntun mempelai laki-laki duduk di kursi kerajaan. Skema tahap moponikah bagian tengah adalah (i) memaklumkan dan memohon izin, (ii) membaeat, (iii) menikahkan, dan (iv) membatalkan air wudlu. Skema tahap moponikah bagian akhir adalah berdoa.

Kedua, aktor yang terlibat dalam penuturan wacana tujaqi pada prosesi adat perkawinan adalah (i) aktor abstrak, (ii) aktor sebagai narator, (iii) aktor terlibat, (iv) aktor sasaran utama, dan (v) aktor sebagai kreator. Aktor (i) berada pada posisi yang mendominasi dan menghegemoni, sedangkan aktor (ii - v) di sisi lain berada pada posisi yang mendominasi dan menghegemoni, tetapi di sisi lain mereka juga berada pada posisi yang didominasi dan dihegemoni. Tindakan para aktor adalah (i) tindakan sesuai aturan, (ii) tindakan taktik, (iii) tindakan move, dan (iv) tindakan heuristik.

 Ketiga, latar penuturan wacana tujaqi adalah (i) latar terpola, dan (ii) latar spontanitas. Latar terpola meliputi (a) latar agama, dan (b) latar budaya dan adat istiadat, (ii) latar spontanitas, meliputi (a) latar waktu, (b) latar situasi, dan (c) pengalaman nyata.

Keempat, tema khusus pada tahap motolobalango adalah (1) ketauhidan, (ii) kepemimpinan, (iii) kesusahan, (iv) kesungguhan dan keberanian, (v) ketawudluaan, (vi) kesatuan dan persatuan, (vii) kehadiran, (viii) kedemokratisan, (ix) kesepakatan awal, (x.) kearifan dan kebijaksanaan, (xi) ketangguhan, (xii) kegelisahan, (xiii) perencanaan awal, (xiv) kejujuran, (xv) kecekatan dan ketelitian, (xvi) keyakinan, (xvii) kewaspadaan, (xviii) kepercayaan diri, (xix) kehormatan diri, (xx) keikhlasan, (xxi) keraguan, (xxii) kesaksian, (xxii) kedisiplinan.Tema umumnya adalah perjuangan. Tema khusus tahap momanato adalah (i) penjagaan dan pengamalan adat istiadat, (ii) pemenuhan hak dan kewajiban, (iii) kesabaran, (iv) keadilan, dan (v) kepedulian. Tema umumnya adalah pengorbanan. Tema khusus tahap moponikah adalah (i) kepemimpinan, (ii) ketauhidan, (iii) keterbatasan, (iv) ketaatan, ((v) pedoman dan pegangan, (vi) peradaban, (vii) pembaeatan, (viii) pengakuan, dan (ix) pengukuhan.Tema umumnya adalah pengakuan dan pengukuhan.

Berdasarkan temuan tersebut dapatlah disimpulkan bahwa wacana tujaqi pada prosesi adat perkawinan masyarakat Suwawa pada hakikatnya bukan sekedar hiburan dan pemecah kesunyian. Akan tetapi di dalamnya terdapat berbagai ideologi budaya yang dapat dijadikan pedoman dan pandangan hidup dalam berbagai sendi kehidupan bukan saja oleh kedua mempelai tetapi juga oleh seluruh audiens yang terlibat di dalamnya. Untuk itu perlu ditemukan, digali, dipelihara dan dilestrikan secara terus menerus oleh semua pihak yang terkait di dalamnya.

 

ABSTRACT

 

Umat, Fatmah AR. 2010. Tujaqi Discourse at Traditional Wedding Ceremony of Suwawa People in Gorontalo. Dissertation. Indonesian Department, Post Graduate Program, State University of Malang. Advisors: (1) Prof. Dr. H. Ahmad Rofi'udin, M.Pd, (II) Prof. Dawud, M.Pd, and (III) Dr. Maryaeni, M.Pd.

 

Key Words: Tujaqi Discourse, Procession of Married Culture, Suwawa Society.

            Descendant of tujaqi discourse in the procession of married culture in Suwawa province of Gorontalo today has been spread and popular in society. But, what. How and what for not understand yet for part of their owner. Tujaqi discourse is one of culture discourse of Suwawa in province of Gorontalo who present culture ideology, not only by string of words, the way of their descendant, personal, and duty position of their actor, but also symbol of culture, in the stage of motolobalango, momanato, and moponikah.

            Therefore, the purpose of this research is to explain essence of tujaqi discourse in procession of married in Suwawa, including (1) scheme, (2) actor, (3) setting, and (4) theme. Approach used I this research is qualitative approach. The data of research is words of Tujaqi and action of actors and symbols culture. Collecting data done by using recording, observation, document study and interview. Main Instrument is the researcher and guidelines of collecting data. To keep the validity of data done triangulation toward source of data and method of collecting data. Data analysis uses technique of analysis of critical discourse and use interactive model that including reduction, presentation of data, making conclusion and verification.

            The result of this research shows, first, scheme of descendant of Tujaqi discourse in procession of married culture in Suwawa is using forward plot, have stage from beginning, middle and finish, either in stage of motolobalango, momanato or moponikah. Scheme of beginning of motolobalango stage are (i) greet the audience, (ii) honor to the leader, (iii) declare, (iv) ask forgiveness, (v) permission, (vi) praise to Alloh SWT, (vii) praise to prophet Nabi Muhammad SAW, (viii) present the audience, (ix) make clear the identity of utoliya wolato, and (x.) take and give symbols of culture. The scheme the stage of motolobalango in the middle stage are (i) search the information about candidate of woman bride, (ii) propose married to candidate of woman bride, (iii) take and give symbol of propose marriage culture. The scheme of motobalango stage in the last part are (i) make clear the first speech, (ii) shake hands. The beginnings of scheme momanato are (i) prepare dowry, (ii) bring dowry, (iii) bring the dowry to the woman bride's house, (iv) serve the dowry and (v) open and show the dowry to the audience. The middle part of scheme of momanto are (i) ask for giving dowry, and (ii) taking and giving the dowry. The last scheme of momanto stage are (i) shake hands, and (ii) giving bride price and tapagola to the woman bride in wadaka room (culture). The beginning of scheme moponikah are (i) declare and permission, (ii) guide the man bride from the vehicle culture, (iii) guide the man bride to the gate of woman bride's house, (iv) guide the man bride to the field of woman brige (v) guise the man bride to go up to the house of woman bride, (vi) guide the man bride entering the woman's house, and (vii) guide the man bride sit the kingdom. The middle of scheme moponikah are (i) declare and permission, (ii) take oath, (iii) married off and (iv) revoke water for ritual ablution. The last stage of moponikah is praying.

            Second, the actor involve in descendant of tujaqi discouse in procession of wedding ceremony are (i) abstract actor,(ii) actor as narrator, (iii) involved actor, (iv) the main actor, and (v) actor as creator. Actor (i) in the domination and hegemony position, while actor (ii-v) in other side in domination and hegemony position, but in other side they also in the potion that dominated and got hegemony. The actions of actors are (i) action as a rule, (ii) tactic action, (iii) move action, and (iv) heuristic action.

            The third, settings of descendant of tujaqi discourse are (i) system setting and (ii) spontaneous setting. System setting includes (a) setting of religion, and (b) culture and custom setting; (ii) spontaneous setting includes (a) time setting, (b) situation setting, and (c) factual experience.

            The fourth, special theme in motolobalango stage are (i) Oneness (ii) leadership, (iii) difficulty, (iv) seriousness and braveness, (v) prescribed ablution before ritual, (vi) unity and integrity, (vii) presentation, (viii) democratization, (ix) first agreement, (x.) wisdom, (xi) strength, (xii) restlesment, (xiii) first planning, (xiv) honesty, (xv) correctness, (xvi) conviction, (xvii) vigilance, (xviii) be self convident, (xix) self honorable, (xx) sincerity, (xxi) hesitancy, (xxii) witnesses, (xxiii) discipline. The general theme is struggle. Special theme of momanto stage are (i) keeping and doing of good deeds of custom, (ii) fulfillment of rights and obligation, (iii) be patient, (iv) judgment, and (v) take care. It general theme is sacrifice. Special theme in moponikah stage are (i) leadership, (ii) oneness, (iii) limitation, (iv) loyalty, (v) guidance and hold, (vi) civilization, (vii) oath, (viii) confession and (ix) strengthening. The general theme are confession and strengthening.

            Based on it finding, we can conclude that tujaqi discourse in procession of wedding ceremony in Suwawa, actually not as entertainment. But inside of it has many culture ideology, it can be guidance and lifestyle in live, not only by the bride but also to all the audience. For those, we need to find, keep and perpetuate in continuo by all people involved.