DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Strategi Pembelajaran Agama Islam Di Pondok Pesantren Mohammad Kholil I Bangkalan-Jawa Timur). (Disertasi)

Suhudi Suhudi

Abstrak


Suhudi. 2010. Strategi Pembelajaran Agama Islam Di Pondok Pesantren Mohammad Kholil I Bangkalan-Jawa Timur). Disertasi, Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Moh. Dimyati, (II) Prof. Dr. I Wayan Ardhana, MA dan (III) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng M.Pd.

 

 Kata Kunci: Islam, bandongan, sorogan, pondok pesantren, instructional, kiyai, ustadz, students and tabarruk.

 

Teknologi pembelajaran adalah studi dan praktek secara etis untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan cara menciptakan, menggunakan, dan mengelola proses dan sumberdaya teknologi yang sesuai. Ada sebuah tradisi pembelajaran yang sudah sejak lama dilaksanakan di pondok pesantren salafiyah yaitu pembelajaran dengan metode bandongan dan sorogan yang dilakukan dengan prinsip tabarruk. Dimana strategi pembelajaran tersebut secara empirik terbukti sangat efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Fokus penelitian ini adalah tentang bagaimana strategi pembelajaran yang digunakan di pondok pesantren syaikhona Mohammad Kholil I Bangkalan, bagaimana prilaku kiyai, ustadz dan santri, dan apakah dampaknya terhadap santri/pebelajar.

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan secara komprehensif tentang proses pembelajaran dengan prinsip tabarruk melalui strategi Bandongan dan Sorogan di Pondok Pesantren Syaikhona Mohammad Kholil I Bangkalan.

Metode penelitian pondok pesantren salafiyah Syaikhona Mohammad Kholil I Bangkalan ini menggunakan pendekatan fenomenologi yang di dalam pandangan sosiologi Ritzer masuk pada kuadran keempat yaitu mikro-subyektif. Dan oleh karena itu maka menggunakan analisa data kualitatif dengan menggunakan data primer dan sekunder yang didapatkan melalui wawancara dengan informan inti dan informan biasa serta pengamatan berkali-kali tentang kehidupan di pondok pesantren.

Berdasarkan data penelitian yang ditemukan, pesantren ini menyelenggarakan pendidikan agama Islam ke dalam dua program pendidikan dengan tujuan untuk membentuk santri yang beriman, bertaqwa dan berakhlaq al-karimah. Kedua program tersebut ialah ma'hadiyah dan madrasiyah. Dalam kedua program pendidikan ini buku rujukan pembelajaran hampir semuanya menggunakan kitab kuning, kecuali mata pelajaran Aswaja (Ahlussunnah Wal Jamaah), yang dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran al-Qur'an dan al-Hadist, fiqh, tauhid, akhlaq, bahasa Arab dan sejarah Islam.

Strategi pembelajaran yang digunakan adalah strategi konvensional dan modern, yaitu strategi kooperatif, inkuiri dan strategi pembelajaran langsung dengan metode sorogan dan bandongan, dimana kemudian strategi ini berkembang menjadi strategi muhawarah, majlis ta'lim dan mudzakkarah. Pada semua strategi pembelajaran tersebut di atas ada prinsip yang melekat yaitu prinsip tabarruk. Prinsip tabarruk yang selalu melekat pada setiap strategi dan metode pembelajaran adalah karena didasarkan pada keyakinan yang mendalam bahwa pelajaran agama Islam bisa masuk pada kognisi si belajar, lalu menimbulkan penghayatan dalam hati sehingga menjadi sikap dan terejawantahkan ke dalam bentuk prilaku si belajar hanya dengan barokah dari Allah.

 Untuk memperoleh barokah ini santri harus patuh kepada ajaran agama Islam yang diwujudkan menjadi ketaatan kepada nabi Muhammad, sebagai pesuruh Allah, kemudian, kepada sahabat dan para pengikutnya, yaitu ulama (orang ahli agama; bisa disebut kiyai, tuan guru dan sebagainya). Ketundukan pada ulama ditunjukkan dengan ketundukan pada peraturan pesantren dan cinta kepada kyai (ulama) yang dipercaya memiliki karomah. Wujud daripada cinta dan tunduk kepada ulama juga diwujudkan si belajar (santri) dalam kehidupan keseharian di pesantren dengan tirakat yaitu menahan lapar dan amarah serta hidup prihatin selama berada di pesantren.

Dalam pelakasanaan pembelajaran agama Islam, di pesantren ini tidak dikenal dengan adanya dokumen kurikulum sebagaimana pendidikan formal lainnya di Indonesia, juga tidak dikenal adanya sistem evaluasi belajar dan kenaikan kelas oleh guru atau pengasuh. Penilaian hasil belajar dan kenaikan kelas ditentukan sendiri oleh santri dengan melakukan evaluasi sendiri apakah dia mampu membaca dan memahami kitab-kitab yang dipelajari atau tidak.

Pelaksanaan stategi bandongan dan sorogan dilakukan dengan kiyai atau ustadz sebagai pemberi informasi utama dan tanpa adanya tanya jawab dan interaktif. Sedangkan pembahasan hasil pembelajaran dari sorogan dan bandongan di lakukan santri dengan strategi lain yaitu musyawarah, muhawarah dan muhadloroh. Dimana kegiatan tersebut dilakukan sesama santri dengan dipandu oleh ustadz atau santri senior, yang diadakan di musholla atau seramb-serambi pondok.

Fakta tersebut memperlihatkan bahwa pesantren ini merupakan lembaga pendidikan yang berorientasi pada pembentukan santri yang memiliki kemampuan ilmu agama dan mampu mengejawantahkan ilmunya ke dalam bentuk perbuatan sehingga dapat menjadi Muslim yang beriman, bertaqwa dan berakhlaq al-karimah (bermoral baik).

 

 

ABSTRACT

Suhudi. 2010. Instructional Strategies of Islam Religion in Pondok Pesantrren Syaikhona Mohammad Kholil I Bangkalan East-Java. Dissertation, Instructional Technology Study Program, Graduate Program, State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Dr. H. Moh. Moh. Dimyati, (II) Prof. Dr. I Wayan Ardhana, MA and (III) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng M.Pd.

 

Keywords: Islam, bandongan, sorogan, pondok pesantren, instructional, kiyai, ustadz, students and tabarruk.

            Instructional technology is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources. There is a tradition of learning that has long been applied in pondok pesantren that is bandongan and sorogan which is committed to the principle of Tabarruk. In this principle strategy is empirically proven very effectively for achieving learning objectives.

            The focus of this research is about: (1) how the learning strategies used in the Pondok Pesantren Syaikhona Mohammad Kholil I, Bangkalan, (2) how the behavior of kyai, ustadz and santri, and (3) how the teaching and learning strategy could affect on the students learning achievement.

            The purpose of this study is to describe comprehensively the learning process within the principle of tabarruk through bandongan and sorogan strategies at Pondok Pesantren Syaikhona Mohammad Kholil I, Bangkalan.

            The research method uses a phenomenological approach that implements the view of Ritzer's sociology particularly one that is belonging to the fourth quadrant of micro-subjective. And therefore, the use of qualitative data analysis using primary and secondary data obtained through interviews with key informants, regular informants and many observations about the life of Islamic traditional pondok pesantren were applied in this research.

            Based on research data found, the Islamic religious education at pondok pesantren in the two programs of education is intended to form students who believe in the Supreme of God and having akhlaq-ul karimah attittudes. Two programs are applied, those are: ma'hadiyah and madrasiyah. In both programs the educational reference books use the so-called yellow books or classical books, except Aswaja subjects (Ahl al-Sunnah Wal Jamaat). Other subjects learned are the holy al-Qur'an and al-Hadith, fiqh, theology, morality, and Arabic Islamic history.

            The learning strategies use both conventional and modern strategies, namely cooperative strategies, inquiry and direct instructional strategies, and bandongan sorogan method, which later developed into this strategy of muhawarah strategies, mudzakkarah (study groups) and Majlis Ta'lim. In all the above learning strategies are inherent with the principle of Tabarruk. Tabarruk principle means that strategies are always attached to the profound conviction of Islamic religion so that instruction should enter the appreciation of the students' hearts so that it becomes attitude and behavior form the implementation the study with the blessing of God .

            To obtain this blessing students must adhere to the teachings of Islam that translate into obedience to the prophet Muhammad, as a messenger of God. Then, to prophet's friends and his followers they are the ulama (religious experts; could be called a kyai, master teacher and so on). Submission on scholars indicated by regulatory compliance of all boarding and love of religious scholars (ulama) who is believed to have karomah. Loving the cleric also manifested by the students in daily life in pondok pesantren with tirakat or puasa and concerning of life during their stay at the seminary (pondok/asrama).

            In the conduct of the implementation of Islamic religious learning in pondok pesantren, the curriculum document as other formal education in Indonesia is not known. The system of evaluation of learning and students' achievements in classroom are conducted by the teacher or caregiver. Assessment of learning outcomes and class upgrading is determined solely by students. They conduct their own evaluation whether a student is able to read and understand the books being studied or not.

            The implementation sorogan and bandongan strategies are done by kiyai or ustadz as the primary information giver and without any questioning and interacting. While the discussion in bandongan and sorogan strategies are done by the students with the deliberation, muhawarah and muhadloroh. In these strategies, activities are carried out by fellow students and guided by ustadz or senior students, which held at the mosque or its terrace of boarding.

            This fact shows that these schools are traditional educational institutions oriented to the formation of students who have the ability of religious knowledge and being able to embody their knowledge in the form of action so it can be a good Muslem, faithful and berakhlaq al-karimah (having good morality).