DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengembangan Pembelajaran Kolaboratif dengan Asesmen Portofolio pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia (Kesusastraan). (Tesis)

Mohamad Saifudin

Abstrak


Saifudin, Mohamad. 2010. Pengembangan Pembelajaran Kolaboratif dengan Asesmen Portofolio pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia (Kesusastraan). Tesis, Jurusan Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Punadji Setyasari, M.Pd., Med. (II) Dr. Ir. H. Syaad Patmanthara, M. Pd.

 

Kata kunci: pembelajaran, kolaboratif, asesmen, portofolio

            Pembelajaran merupakan salah satu komponen penentu keberhasilan pendidikan. Manakala pembelajaran terlaksana dengan ‘baik', maka sangat mungkin tujuan pembelajaran yang telah dicanangkan sebelumnya akan tercapai pula. Sayang sekali, kondisi pembelajaran ideal sebagaimana di atas, belum terwujud. Sampai saat ini dalam pembelajaran, guru sangat jarang, atau belum mampu memaksimalkan potensi siswa; bahkan justru dimungkinkan guru berpotensi menjadi penghambat kreativitas siswa. Itulah sebabnya, tidak mengherankan apabila tujuan pendidikan sebagaimana yang telah diundangkan pun masih belum sesuai dengan harapan.

‘Kesejahteraan' siswa dalam pembelajaran belum menjadi perhatian guru. Pembelajaran yang mencekam, menegangkan, bahkan menakutkan masih sering mewarnai. Siswa masih sering dianggap sebagai ‘botol kosong' yang boleh ‘diisi' dan diperlakukan sekehendak guru. Tidak jarang siswa kehilangan motivasi akibat kurangnya perhatian dan penghargaan guru terhadap usaha serta kinerja siswa. Guru sering memposisikan siswa sebagai ‘kambing hitam' atas gagalnya pembelajaran. Terlihat dengan jelas dalam pembelajaran, bagaimana guru terlalu mendominasi pembelajaran (‘teacher centered'), sehingga muncul sindiran dari para pakar pendidikan, bahwa pendidikan hanya untuk kepentingan penyelenggara pendidikan, dan bukan untuk kepentingan siswa.

            Paradigma pembelajaran sebagaimana di atas telah ‘mengakar' di benak mayoritas pelaku pendidikan di Indonesia, sehingga untuk mengubahnya perlu kerja keras, pembuktian, dan pembiasaan yang berkelanjutan oleh penentu kebijakan. Dengan cara itulah, masyarakat luas secara perlahan akan menyadari, memahami, dan mengubah paradigma pembelajaran yang selama ini dianutnya.

            Salah satu cara mematahkan dan mengubah paradigma pembelajaran sebagaimana di atas sekaligus menggali potensi siswa dan meningkatkan motivasi belajar siswa adalah dengan menerapkan pembelajaran kolaboratif yang dibarengi dengan asesmen portofolio. Strategi pembelajaran inilah yang akan memberikan wadah bagi siswa untuk mencermati dan memahami materi secara mendalam sekaligus menumbuhkan kebermaknaan pembelajaran dan meningkatkan tingkat retensi siswa.

            Dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya materi kesusastraan dibutuhkan pembahasan yang mendalam, diperlukan penafsiran-penafsiran dan peningkatan apresiasi siswa yang berkelanjutan. Dengan meningkatnya apresiasi siswa, maka diantaranya akan menumbuhkan kepekaan, kekritisan, dan kreativitas siswa, yang pada gilirannya akan tergali dan berkembang pula potensi siswa.

            Dalam pembelajaran kolaboratif antar siswa diberikan kesempatan bekerjasama, saling bantu, dan bukan bersaing, saling jegal, dalam mencapai tujuan pembelajaran. Secara tidak langsung, siswa akan belajar memahami kekurangan dan kelebihan orang lain. Fokus dari strategi pembelajaran kolaboratif adalah ‘keberhasilan individu harus seiring dengan keberhasilan kelompok'.

            Begitu juga dengan permasalahan kedua, pengembang berasumsi bahwa untuk menumbuhkan kinerja dan motivasi belajar siswa, diperlukan penghargaan dan pengakuan lebih dari seorang guru. Pada dasarnya setiap siswa mempunyai potensi yang siap dikembangkan. Yang diharapkan siswa dari seorang guru adalah kemauan dan kemampuan memicu, memacu dan mengakui potensi yang dimilikinya. Hal tersebut harus dilakukan guru sejak awal sampai dengan akhir proses belajar. Berdasar dari pernyataan-pernyataan itulah yang menguatkan asumsi pengembang bahwa pengakuan-pengakuan terhadap potensi siswa sangat mungkin dilaksanakan guru melalui asesmen portofolio.

            Model pengembangan perangkat pembelajaran dalam penelitian ini menggunakan 8 langkah desain pembelajaran Degeng (1993), yang pada akhirnya dikelompokkan menjadi 3 langkah, yakni (1) analisis kondisi pembelajaran, (2) pengembangan strategi pembelajaran, (3) pengukuran hasil pembelajaran. Sedangkan untuk desain evaluasi pembelajaran dengan asesmen portofolio, pengembang mengadopsi pendapat Reigelut dan Merill (1979) yang dilengkapi oleh Degeng dan Miarso (1993), sehingga menghasilkan 7 (tujuh) indikator, meliputi: (1) kecermatan penguasaan perilaku, (2) kecepatan unjuk kerja, (3) kesesuaian dengan prosedur, (4) kuantitas unjuk kerja, (5) kualitas hasil kerja, (6) tingkat alih belajar, (7) tingkat retensi. Ketujuh indikator tersebut tidak digunakan secara serentak pada setiap tahapan, namun dipilih sesuai dengan aspek-aspek yang ingin diukur.

            Hasil penelitian yang dilakukan pengembang di SMA Negeri 1 Ponggok pada tahun 2010 terhadap Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, bagian kesusastraan, membuktikan bahwa pengembangan perangkat pembelajaran kolaboratif dengan asesmen portofolio yang terdiri dari RPP), Materi Pembelajaran, (LKS), dan format asesmen portofolio, didapat beberapa kelebihan. Diantara kelebihan penggunaan perangkat pembelajaran tersebut adalah: (1) mampu memberikan keleluasaan kepada guru dalam menyusun skenario pembelajaran, (2) pembelajaran menjadi lebih bermakna, (3) pembelajaran menjadi lebih menarik, efektif, dan efisien, (4) mampu meningkatkan keterampilan berbicara siswa, (5) mampu meningkatkan keterampilan bekerjasama antar siswa dan atau antar kelompok, (6) mampu meningkatkan rasa tanggung jawab, dan kepekaan sosial.

            Bukan sebuah kelemahan, namun lebih tepat dipandang sebagai beberapa konsekuensi logis dari penggunaan perangkat pembelajaran kolaboratif dengan asesmen portofolio, yaitu: (1) bahwa persiapan guru menjadi lebih lama dan lebih serius; (2) aktivitas guru dalam pembelajaran menjadi lebih padat; (3) ada kemungkinan bagi siswa tertentu aktivitasnya menjadi asal-asalan, karena akan dengan mudah mengandalkan teman atau kelompok; (4) bagi guru, yang harus dihindari adalah kecenderungan memberikan tugas yang berlebih kepada siswa.

            Mudah-mudahan pengembangan ini menjadi awal dari pengembangan-pengembangan berikutnya, sehingga kualitas pembelajaran semakin meningkat.

 

ABSTRACT

 

Saifudin, Mohamad. 2010. Developing collaborative instructional with portofolio assessment on Indonesian language Subject. Thesis. Instructional Technology Department. Post graduate Program. State University of Malang. Advisors (I) Prof. Dr. H. Punaji Setyasari, M.Pd. M. Ed. (II) Dr. Ir. H. Syaad Patmanthara, M.Pd.

 

Ke words : Collaborative Instructional, Portofolio Assesment

Learning is one component of determining the success of education. Learning when it is implemented well can easily achieve learning objectives that have been formulated previously. Unfortunately, the ideal learning conditions as stated above, has not materialized yet. The recent condition of learning, teachers are very rare, or have not been able to maximize the potential of students, even they have the great competence to become an obstacle possible teacher student creativity. That is why, it is not surprising that the goal of education as that was stated was still not in line with expectations.

 Welfare' students in learning has not been a concern of teachers. Learning a gripping, suspenseful, even frightening still often colorize the teaching learning process. Students are still often regarded as 'empty bottles' that must be filled and treated based on teachers will. That is why, the students lose motivation due to lack of attention and appreciation of the efforts of teachers and student performance.

Teachers often positioned the students as a 'scapegoat' for the failure of learning. It can be seen in learning situation, how teachers are too dominant in learning, so there is a contradiction among educational experts, that education is only for the sake of education providers, and not for the benefit of students.
Learning paradigm as described above has been 'rooted' in the minds of the majority of perpetrators of education in Indonesia, so, to change that such condition needs to work hard, evidence, and habituation sustained by policy makers. That way, the public will slowly realize, understand, and change the learning paradigm is still so far from what they expected.

One way to break and change the learning paradigm as described above as well as explore the potential of students and enhance students' motivation is to implement collaborative learning coupled with portfolio assessment. This learning strategy which will provide a place for students to observe and understand the material in depth as well as foster meaningful learning and increase student retention rates.

In the Subject Indonesian language, especially literary materials required in-depth discussion, required the interpretations and appreciation of students' continuous improvement. With increasing appreciation of the students, then such would foster sensitivity, criticality, and creativity of students, which in turn will be excavated and also develops students' potential.

In collaborative learning, students are given the opportunity to cooperate, help each other, and not competing, mutual cooperation in achieving learning objectives. Indirectly, students will learn to understand the advantages and disadvantages among others. The focus of collaborative learning strategies are 'individual success should be in line with the success of the group'.

Likewise with the second problem, developers assume that to grow the performance and student motivation, reward and recognition is needed more than a teacher. Basically, each student has a potential that is ready to be developed. Expected student from a teacher is the willingness and ability to lead, encourage and recognize its potential. It should be a teacher since the beginning until the end of the learning process. Based on the statements that reinforce the assumption that the developer that the confessions of the potential student is likely to be teachers through portfolio assessment.

 Model development of learning tools in this study using the 8 steps of instructional design Degeng (1993), which in turn are grouped into 3 steps, namely (1) analysis of learning conditions, (2) development of learning strategies, (3) measurement of learning outcomes. As for the design of the learning evaluation with portfolio assessment, the developers adopted the opinion Reigelut and Merrill (1979) which was completed by Degeng and Miarso (1993), resulting in 7 (seven) indicators, including: (1) precision control of behavior, (2) speed performance work, (3) compliance with procedures, (4) the quantity of performance, (5) quality of the work, (6) level learning control, (7) the level of retention. The seven indicators are not used simultaneously on each stage, but selected in accordance with aspects of the wish to be measured.

Results of research conducted by the developer in SMA Negeri 1 Ponggok in 2010 against Subject Indonesian language, the literature, proving that the development of collaborative learning tools with the assessment of portfolio consisting of Lesson plan), Learning Materials, Students Worksheet, and format of portfolio assessment, obtained several advantages. Among the advantages using the learning tools are: (1) to provide flexibility for teachers in learning scenarios, (2) the learning becomes more meaningful, (3) learning to be more attractive, effective, and efficient, (4) can improve students' speaking skills , (5) able to improve the skills of cooperation between the student and / or inter-group, (6) able to increase the sense of responsibility, and social sensitivity.

Not a weakness, but more appropriately viewed as a logical consequence of the use of collaborative learning tools with portfolio assessment, namely: (1) that teacher preparation is longer and more serious, (2) the activities of teachers in the learning becomes more dense, (3) there is a possibility for certain students become perfunctory activity, because it would easily rely on friends or groups, (4) for teachers, which must be avoided is the tendency to give excessive duty to students.

Hopefully this development will be the beginning of the subsequent developments, thus increasing the quality of learning in general.