DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Analisis Implementasi KTSP Dalam Pembelajaran Kimia di SMA Negeri 2 dan SMA Negeri Siwalima Ambon. (Tesis)

Herlina Labobar

Abstrak


Herlina Labobar, 2010. Analisis Implementasi KTSP Dalam Pembelajaran Kimia di SMA Negeri 2 dan SMA Negeri Siwalima Ambon, Tesis, Jurusan Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Prof. Srini M. Iskandar, M.Sc., Ph.D., (II) Prof. Suhadi Ibnu, M.A., Ph.D.

 

Kata Kunci : Implementasi KTSP, Pembelajaran Kimia, SMA.

            KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh setiap sekolah, dan dikembangkan sesuai tuntutan otonomi pendidikan. KTSP menuntut perubahan paradigma dalam pendidikan dan pembelajaran. Mengingat perubahan kurikulum sering terjadi, maka perlu dilakukan analisis terhadap implementasi KTSP. Analisis implementasi ini dapat berkaitan dengan kemampuan dan unjuk kerja guru sebagai pelaksana kurikulum, dalam hal penyusunan perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran serta tindak lanjut, dalam kegiatan pengembangan kurikulum di sekolah, yang didalamnya termasuk komponen pendukung dan penghambat pembelajaran kimia di sekolah, serta pandangan guru terhadap perubahan kurikulum.

            Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau memaparkan implementasi KTSP dalam pembelajaran Kimia dengan menggunakan guru mata pelajaran Kimia dan Kepala Sekolah sebagai informan kunci. Objek penelitian adalah SMA Negeri 2 dan SMA Negeri Siwalima Ambon. Data dikumpulkan dengan menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan 2 cara yaitu ketekunan pengamatan dan triangulasi. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap yaitu reduksi, penyajian data dan verifikasi atau kesimpulan akhir sebagai temuan penelitian.

            Temuan hasil penelitian antara lain: (1) kesuksesan implementasi KTSP tergantung pada jumlah, latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar, beban mengajar, rasio guru dan siswa, serta minat guru dalam mengembangkan profesinya; (2) pemahaman guru dari kedua sekolah terhadap penyusunan perencanaan pembelajaran berupa penyusunan silabus dan RPP masih sangat rendah; (3) dalam pelaksanaan pembelajaran, guru kimia mengalami kesulitan karena tidak didukung dengan sarana prasarana yang memadai, bahan ajar dan media yang terbatas, serta strategi/pendekatan/metode pembelajaran yang digunakan guru kurang bervariasi; (4) dari segi penilaian pembelajaran, guru kimia mengalami kesulitan pada ranah-ranah penilaian afektif dan psikomotor; (5) faktor-faktor pendukung implementasi KTSP adalah profesionalisme guru; kerjasama dan kekompakan guru kimia dalam pelaksanaan tugas; sarana prasarana, lingkungan sosial siswa dan kebijakan sekolah; (6) faktor-faktor penghambat implementasi KTSP antara lain: keterbatasan kemampuan guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran; belum adanya kesepahaman diantara guru dalam menerapkan KTSP; kurangnya kegiatan sosialisasi dan workshop yang dapat menjawab kebutuhan guru dalam pelaksanaan KTSP; terbatasnya sarana prasarana; intensitas keterlibatan siswa dalam aktivitas ekstra-kurikuler yang tinggi; kesibukan guru akibat tugas ganda; kekurangan guru mata pelajaran kimia (SMAN Siwalima Ambon); jumlah rombongan belajar sangat besar (SMAN 2 Ambon); (7) pandangan guru; KTSP baik untuk pengembangan pendidikan di Indonesia; dan (8) kegiatan sosialisasi KTSP dan pengembangannya oleh guru akan lebih efektif bila dilakukan melalui MGMP.

            Berdasarkan temuan penelitian, beberapa saran yang dapat diajukan agar implementasi KTSP berjalan dengan baik antara lain: (1) mengurangi beban guru dari tugas-tugas administrasi yang menyita waktu; (2) sosialisasi KTSP yang lebih optimal; (3) pihak Dinas Pendidikan Kota Ambon maupun Provinsi Maluku serta sekolah diharapkan dapat melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan; (4) dilakukan kegiatan peningkatan kemampuan guru kimia dalam penguasaan materi pelajaran; (5) ditingkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan teknik penilaian yang dapat mengukur kemampuan siswa secara menyeluruh; (6) difungsikannya kembali MGMP sekolah maupun MGMP Kota Ambon; (7) supervisi yang dilakukan oleh Diknas tidak hanya pada kelengkapan administratif perangkat perencanaan guru, tetapi juga harus pada kontennya.

 

ABSTRACT

HerlinaLabobar, 2010. Analysis of Implementation of KTSP for Chemistry Learning in SMA Negeri 2 and SMA Negeri Siwalima Ambon, Thesis, Chemistry Education Study Program, Faculty of Graduate Study, State University of Malang, Supervisors: (I) Prof. Srini M. Iskandar, M.Sc., Ph.D., (II) Prof. Suhadi Ibnu, M.A., Ph.D.

 

Keywords: KTSP Implementation, Chemistry Learning, High School.

KTSP is known as an operational curriculum that arranged and implemented by each schools in Indonesia. It is developed to meet demands of educational autonomy. Implementation of KTSP required a paradigm adjustment in education and learning. The change curriculum is considered often, therefore the analysis towards KTSP implementation particularly on ability and capability of teacher as curriculum applicant is necessary. Several important factors in KTSP are planning, implementation, and assessment of learning aside with follow-up in development activities in school curriculum, supporting and inhibiting components in learning chemistry at school and teachers' views on changes curriculum.

            This qualitative research study explains the implementation of chemistry KTSP that involves chemical teachers and principals as key informant. Population of this research is SMA 2 and SMA Siwalima Ambon. The researcher uses instrument to collect data including interview, observation, and documentation. Data validation were checked in two ways: discipline observation and triangulation. Reduction, data serving and verification of last conclusion as result invention are activities of data analysis.

There result indicates: (1) the success of KTSP implementation depends on number, educational background, teaching experience, teaching assessment, teachers and students ratio, and teachers interested in developing their professional; (2) teachers understanding in learning plans of syllabus preparation and RPP are still insufficient; (3) the learning implementation, most of chemistry teachers have difficulties because inadequate support on complete equipment, teaching material, media, method, approach, and strategy in learning; (4) the learning assessment of affective and psychomotor are considered difficult; (5) Supporting factors of implementation of KTSP, are teacher professionalism; cooperation and cohesiveness of chemistry teachers in the implementation of tasks; equipment, student social environment; school policy; (6) Inhibit factors implementation of KTSP are teachers ability on planning learning; insufficient understanding among teachers in KTSP application; information dissemination and workshops with materials that could not be answered by the teachers who needs of KTSP; lilmited facilities; the high intensity of student involvement in extra-curricular activities; demanding teachers time due to the double task; limited available chemistry teachers (SMUN Siwalima Ambon); large number of classes (SMAN 2 Ambon); (7) teachers viewed KTSP are good for education development in Indonesia; (8) the effectiveness of KTSP socialization and its development will considered more effective if it was done by by MGMP.

Several suggestions are provided such as: (1) reducing teachers load on administrative tasks that wasting time; (2) optimizing KTSP socialization; (3) expecting to complete school equipments and providing teachers reinforcement by The Education Department of the city of Ambon Maluku province and the schools; (4) (5) expecting to develop assessment techniques that can measure overall student ability by chemical teachers; (6) making possible the role of MGMP and Ambon City MGMP; (7) supervision by The Education Department is not limited to administrative completeness of teacher teaching planning, but also on its content.