DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penerapan Pembelajaran Kooperatif Metode STAD (Student Team-AchievementDivision) Pada Pelajaran Matematika di Kelas IV Sekolah Dasar

Syuul T Karamoy

Abstrak


Mata pelajaran matematika diajarkan di Sekolah Dasar untuk membentuk kemampuan berhitung dan bernalar siswa, dan lazim diajarkan dimulai dari hal yang konkret menuju kepada hal yang abstrak. Oleh karena itu, dalam pembelajaran matematika, siswa diarahkan agar memiliki keterampilan dalam berhitung melalui kegiatan praktis yang dilakukan sendiri oleh siswa. Salah satu materi yang harus dikuasai siswa sekolah dasar adalah materi pecahan. Akan tetapi dalam kenyataannya, sering terjadi bahwa siswa menghadapi kesulitan dalam memahami dan menyelesaikan soal-soal pecahan dalam proses pembelajaran matematika.  

           Temuan penelitian Soedjadi (1990) mengungkapkan kelemahan penguasaan materi pecahan bagi siswa sekolah Dasar. Salah satu usaha yang kali ini dilakukan

untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep pecahan dilakukan melalui

penerapan pembelajaran kooperatif metode STAD ( student  team-achievement divisions) yang diluncurkan dengan menggunakan rancangan  penelitian Tindakan

Kelas. Metode STAD mempunyai beberapa kelebihan yaitu (1) melatih siswa untuk dapat bekerjasama saling membantu dalam satu tim yang terdiri atas siswa yang

berkemampuan lebih tinggi, dan siwa yang berkemampuan rendah, dalam

melaksanakan tugas kelompok, dengan harapan bahwa melalui interaksi ini mereka

mampu mengembangkan sikap (2) saling menghargai. (3) sikap kepemimpinan, (4)

saling ketergantungan, dalam rangka mencapai tujuan elompok.

            Penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk penelitian yang bersifat

reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki atau

meningkatkan kualitas praktik-prakiek pembelajaran yang dilakukan oleh guru di

kelasnya sendiri. Dalam pelaksanaannya, ternyata penelitian ini dapat memenuhi kriteria penguasaan yang telah ditetapkan dalam 3 Siklus pembelajaran, karena meskipun pada akhir Siklus I, teramati bahwa : (a) proses kerjasama, saling membantu antara siswa yang berkemampuan lebih tinggi dan siswa yang berkemampuan lebih rendah belum nampak, (b) interaksi yang terjalin dalam kelompok sebagai satu tim juga belum nampak, akan tetapi dengan tambahan pengarahan oleh guru yang dipetik dari hasil Refleksi pada akhir Siklus 1, maka pada akhir Siklus II, teramati bahwa (a) proses kerjasama mulai nampak, demikian juga (b) proses saling membantu antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah, (c) akan tetapi mereka mengalami kesulitan dan belum bisa menentukan pecahan-pecahan yang senilai.menyederhanakan pecahan dan melakukan operasi penjumlahan pecahan dalam rangka mencapai prestasi kelompok yang maksimal, akan tetapi dengan tambahan pengarahan oleh guru yang dipetik dari hasil Refleksi pada akhir Siklus II, maka akhirnya pada akhir Siklus III, teramati bahwa (a) pada umumnya siswa telah mampu menyajikan nilai pecahan melalui gambar, membandingkan pecahan yang berpenyebut sama, (b) interaksi yang terjalin dalam kelompok sebagai satu tim mulai nampak, (c) siswa mampu menentukan pecahan-pecahan yang senilai serta menyederhanakannya, akan tetapi masih mengalami kesulitan dalam operasi penjumlahan pecahan. Dan pada akhir Siklus III, telah nampak jelas (a) proses kerjasama, saling membantu antara siswa yang berkemampuan lebih tinggi dan siswa yang berkemampuan lebih rendah yang tergabung dalam satu tim, (b) pemahaman bersama tentang konsep pecahan, membandingkan nilai pecahan, mengurutkan nilai pecahan dan operasi penjumlahan pecahan, dan telah tumbuh (c) rasa saling ketergantungan,  memiliki kepedulian terhadap teman dalam rangka mencapai prestasi kelompok yang maksimal, sehingga kriteria yang telah ditetapkan dapat dinyatakan terpenuhi.

          Oleh karena itu, berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan selama tiga siklus pembelajaran ini, diperoleh kesimpulan bahwa penerapan pernbelajaran kooperatif metode STAD dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep pecahan dan dapat membangun kerjasama siswa dalam kelompok. Proses kerjasama, saling membantu dalam satu tim antara siswa yang berkemampuan lebih tinggi dengan siswa yang berkemampuan lebih rendah telah terjalin cukup baik pada akhir Siklus III dalam pembelajaran kooperatif metode STAD ini. Dalam bekerjasama tersebut siswa benar-benar memperlihatkan keseriusan dan kesungguhan mereka untuk melaksanakan tugas dalam kelompok. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif metode STAD perlu dijadikan sebagai suatu referensi dalam kegiatan pembelajaran maternatika (materi pecahan) dan mungkin juga pada materi lain yang menekankan kerjasama,saling membantu dalam satu tim, dalam rangka menemukan konsep atau prinsip.

           Penerapan pembelajaran kooperatif metode STAD masih memerlukan perhatian dalam pengalokasian waktu. Dari hasil penelitian selama tiga siklus diperoleh indikasi bahwa pembelajaran kooperatif metode STAD memerlukan waktu lebih banyak dari pada pembelajaran konvensional. Oleh sebab itu, pengaturan waktu untuk pelaksanaan diskusi kelompok dan presentasi antar kelompok perlu dibuat secara cermat dan hatihati